
Mario masuk ke dalam rumah dengan wajah yang bahagia didapati sang isteri yang tengah menggendong baby Arsal duduk manis bersama mama Maria diruang keluarga.
" Assalamu'alaikum!" ucap Mario
" Wa'alaikum salam!" jawab kompak Lia dan mama Maria
" Ets, mau ngapain?" larang Lia saat Mario ingin mendekati baby Arsal
" Mau mencium anak akulah mau ngapain lagi memangnya masa mau_!" ucapan Mario terhenti karena tangan kanan Lia yang sudah lebih dulu membungkam mulutnya.
" Sudah jangan banyak bicara sana bersih-bersih dulu baru boleh mendekati baby Arsal!" tegas Lia dan Mario pun patuh mengikuti perintah sang ratu.
" Baiklah sayang!" Mario langsung pergi menaiki anak tangga menuju kamarnya yang berada di lantai atas dan sebelum pergi ia lebih dulu menyalami punggung tangan mama Maria.
" Sayang baby Arsal sudah tidur, jangan digendong terus, sebaiknya letakan dia di box bayi!" titah sang mama
" Iya mah" sahut Lia menurut lalu beranjak dari duduknya pergi menyusul Mario ke kamar untuk meletakkan baby Arsal yang sudah tertidur pulas.
Ceklekk
Lia membuka pintu kamarnya dan tidak melihat keberadaan Mario tapi dari arah kamar mandi terdengar suara gemericik air yang menandakan sang suami tengah mandi.
Lia meletakkan baby Arsal ke dalam box bayi dengan sangat hati-hati takut terbangun dari tidurnya setelah meletakkan baby Arsal Lia berjalan menuju walk in closet mengambilkan baju ganti untuk suaminya.
Mario keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggang lalu berjalan ke arah tempat tidur yang sudah tergeletak baju ganti untuk dirinya.
Mario mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Lia namun yang ia dapati hanya ada baby Arsal yang tengah tertidur di dalam box bayi.
Setelah selesai memakai baju Mario naik ke atas tempat tidur dan duduk bersandar pada headboard seraya memangku laptopnya dan mengerjakan pekerjaan kantornya yang sengaja ia bawa pulang karena sudah sangat merindukan putra pertamanya dan juga isteri tercinta.
Disaat Mario tengah serius dengan beberapa email yang cukup menguras pikirannya pintu kamarnya terbuka dari luar dan Mario tidak sadar Lia sudah duduk di tepi tempat tidur dengan membawa nampan yang berisi makan malam untuknya.
" Pekerjaan terus sampai lupa waktu, mengabaikan anak dan isterinya!" oceh Lia membuat Mario terkesiap dan langsung menutup laptopnya lalu meletakkannya di atas nakas
" Gak seperti itu juga kali sayang" ucap Mario
" Nyatanya seperti itu" Lia cemberut
" Duh gemesin banget sih isteriku, cemburu dengan pekerjaan!" Mario menyentil hidung Lia gemas
" Io ih nyebelin!" protes Lia
" He...he... habisnya kamu tuh gemesin sih sayang!" ucap Mario cengengesan
" Sudah ah jangan banyak ngoceh ini buru di makan!" Lia memberikan nampan yang dibawanya kepada Mario.
" Kamu gak makan sayang?" tanya Mario
" Maaf ya tadi aku gak nunggu kamu pulang dan makan duluan" ucap Lia
" Gak apa-apa Sayang, kamu itukan sedang menyusui jadi memang sebaiknya seperti itu jika sudah merasa lapar kamu makan yang banyak agar produksi ASI kamu lancar terutama makan sayur-sayuran hijau!" ucap Mario membuat Lia mengulas senyumnya.
" Iya suamiku yang pekerja keras!" sahut Lia seraya terkekeh
Mario menyantap makanannya sementara Lia tengah berada di dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai makan Mario turun ke bawah untuk menaruh nampan yang berisi piring dan gelas kotor.
Lia keluar dari kamar mandi namun tidak melihat Mario, Lia dengan santai berjalan menuju walk in closet.
ceklekk
pintu kamar terbuka dan Mario melihat Lia yang tengah duduk di depan meja rias seraya mengeringkan rambutnya
" Sayang!" panggil Mario
" Hem" sahut Lia tanpa menoleh
" Aku ingin menanyakan sesuatu tapi kamu jangan salah paham ya!" pinta Mario
" Apa?" Lia menggeser badannya dan kini tengah menatap lekat Mario yang duduk di tepi tempat tidur
__ADS_1
" Apa kamu pernah bertemu dengan seorang mahasiswa yang selalu memperhatikan kamu di sekolah?" tanya Mario
" Mahasiswa? satu kampus sama kamu?" bukan menjawab Lia malah balik bertanya
" Iya" jawab Mario
" Kenapa memangnya, apa dia temanmu?" tanya Lia dengan santai
" Iya tapi aku juga belum yakin kalau cewek yang dia maksud adalah kamu sayang!" Mario merebahkan dirinya di atas kasur
" Kenapa kamu bertanya seperti itu, apa kamu merasa cemburu?" Lia berjalan ke arah Mario duduk disampingnya
" Cemburu? ya enggaklah" Mario bangun lalu mengusap rambut Lia
" Lalu?" Lia memincingkan alisnya
" Ya aku hanya baru menduganya saja tapi jika itu benar kamu sungguh kasihan dia" ucap Mario
" Apa ada ya orang yang segitunya ya yang suka sama aku" Lia tersenyum bangga
" Kenapa memangnya senang banget kayaknya ada yang suka?"tanya Mario dengan wajah datar
" Ya senanglah masa enggak itu tandanya jika kamu sampai nyakitin aku diluar sana masih ada orang yang setidaknya suka sama aku" sahut Lia dengan santai
" Jadi kalau ada pria yang menyatakan perasaannya, kamu senang dong ya?" sindir Mario
" Tentu saja, apalagi pria itu adalah laki-laki yang sangat mencintai aku" jawab Lia seraya terkekeh
Mario menatap Lia dengan tatapan dingin dan langsung beranjak dari duduknya melangkah keluar kamar
" Io mau kemana,?" tanya Lia yang sudah menghentikan Mario menarik hendle pintu.
" Mau mencari wanita yang juga ingin mengutarakan perasaannya kepada ku" sahut Mario tanpa menoleh
" Serius?" tanya Lia
" Tentu saja" Mario masih bergeming di depan pintu
" Aku mencintaimu Mario My Io, suamiku tercinta!" ucap Lia seraya melangkahkan kakinya menuju Mario yang masih berdiri mematung membelakanginya.
Mario tertawa kecil lalu menggerakkan kepalanya " Dasar kamu ini" Mario seraya tergelak
" Awas saja kalau berani mencari perhatian dari cewek lain!" Lia mencubit perut Mario membuat Mario meringis lalu tertawa
"Ampun yang gak akan aku lakuin itu karena kamu itu wanita yang paling berharga di dalam hidup aku" Mario menarik Lia kedalam pelukannya dan saat mereka hendak melakukan adegan romantis seperti yang ada di dalam novel-novel yang sering Lia baca tiba-tiba mereka diganggu dengan tangisan baby Arsal.
" Sayang baby Arsal nangis!" Lia mendorong tubuh kekar Mario
" Oh ya ampun mengganggu suasana" ucap Mario menepuk keningnya sendiri
" Io!" tegur Lia dengan tatapan tajam
" Iya maaf!" Mario cengar-cengir
🖤
Sementara di sebuah apartemen yang cukup megah seorang gadis cantik tengah duduk sambil memangku laptopnya
Ceklekk
Arta membuka pintu kamar dan mendapati Mita yang tengah duduk di atas tempat tidur bersandar pada headboard
" Kamu lagi apa ?" tanya Arta seraya melangkah ke arah tempat tidur bertanya kepada Mita yang tidak biasanya isteri kecilnya itu seserius itu didepan layar laptopnya.
" Eh?" Mita terkejut
" Kakak sudah pulang?" tanya Mita lalu menutup laptopnya beringsut dari kasur lalu menyalami punggung tangan Arta salam takzim.
" Serius banget, sedang apa sih isteriku ini?" tanya Arta mengecup kening Mita
" Gak ada kok kak cuma lagi iseng aja mengirimkan beberapa desain baju yang aku rancang ke sebuah butik!" ucap Mita
__ADS_1
" Kamu bisa mendesain baju ?" tanya Arta yang takjub dengan kemampuan sang isteri
" Sedikit kak, belum terlalu pandai" sahut Mita
" Kamu belajar dimana ?" tanya Arta yang baru tahu kemampuan yang dimiliki isterinya itu
" Aku belajar sendiri kak, ya belajar otodidak" sahut Mita
" Hebat kamu ya!" Arta mengacak-acak rambut Mita setelah itu masuk ke dalam kamar mandi
Mita berjalan ke arah lemari pakaian dan mengambilkan baju ganti untuk Arta setelah itu ia keluar kamar dan menuju dapur.
Selesai dengan ritual mandinya Arta keluar dari kamar mandi dan tersenyum melihat baju yang tertata rapih di atas tempat tidur.
Setelah memakai baju yang tadi di siapkan oleh Mita Arta keluar untuk mencari isteri tercinta
" Emmmm... harum banget, masak apa sih?" tanya Arta yang sudah melingkarkan tangannya di pinggang Mita
" Cuma masak sup ayam kampung kak, tapi jangan diledek ya kalau rasanya gak enak!" sahut Mita
" Ya enggak dong sayang, masakan kamu pasti enak dari baunya saja sudah bikin aku gak sabar untuk makan" ucap Arta
Mita menyendokan nasi dan lauk pauknya untuk Arta.
Arta mencicipi sup buatan isterinya terlebih dahulu, wajah Mita sedikit tegang saat Arta hendak mencicipi sup buatannya.
" Harus jujur ya kak gak boleh bohong, kalau gak enak jangan dimakan!" ucap Mita memperingatkan membuat Arta merasa gemas dan mengacak-acak rambut Mita.
" Iya sayang!" Arta mulai memasukkan satu sendok sup kedalam mulutnya
Sedetik dua detik tiga detik hening
" Kak, bagaimana?" tanya Mita yang terlihat begitu penasaran menunggu penilaian Arta mengenai masakannya.
" Emmmm.... bagaimana ya, sup buatan kamu ini rasanya_" Arta menjeda ucapannya
" Rasanya bagaimana kak? gak enak ya?" wajah Mita lesu
" Yang bilang gak enak siapa hem?" Arta mencubit hidung Mita
" Rasa sup buatan kamu itu enak sayang seperti masakan mama Novi" ucap Arta memuji masakan Mita yang memang terasa pas di lidahnya
" Kamu gak lagi bohongin aku kan kak?" tanya Mita
" Kamu coba saja sendiri!" Arta menyodorkan sendok berisi sup buatan Mita sendiri
" Aa..!" Mita langsung membuka mulutnya dan menerima suapan dari Arta
" Bagaimana, enak? aku tidak bohong kan?" tanya Arta
"Iya lumayan" Mita cengir kuda
Mereka berdua menikmati makan malam dengan saling menyuapi satu sama lain, Mita merasa bahagia dengan sikap lembut Arta terhadapnya namun ada rasa bersalah dalam diri Mita karena sampai saat ini ia masih belum bisa memenuhi kewajibannya sebagai seorang isteri.
" Kak!" panggil Mita dengan wajah yang tertunduk
" Ada apa hem?" tanya Arta mengangkat dagu Mita agar bisa menatap wajahnya
" Maaf!" ucap Mita terdengar begitu lirih
Maaf? maaf untuk apa sayang?" Arta membelai lembut rambut Mita yang tergerai
" Maaf karena sampai saat ini aku tidak bisa memberikan hak kakak!" ucap Mita merasa bersalah
" Ya ampun sayang, aku kira apa" Arta tertawa gemas
" Jangan pernah memikirkan hal itu sayang, aku tidak akan memaksa mu. aku akan menunggu sampai kamu siap, jangan merasa bersalah hanya karena hal itu, kau sudah menjadi isteriku saja aku sudah sangat sangat bahagia" tutur Arta
" Tapi kak_" kata-kata Mita terpotong
" Tidak ada kata tapi-tapian, seperti ini saja aku sudah sangat bahagia sayang!" ucap Arta lalu beranjak dari duduknya dan berdiri di belakang Mita merangkulnya dari belakang
__ADS_1
" Sudah jangan di pikirkan lagi!" Arta mengajak Mita untuk berdiri dan kembali ke kamar mereka
" Terima kasih ya mas!" Mita tersenyum bahagia karena perlakuan lembut sang suami.