
Ceklek
" Jadi kamu suaminya?" tanya dokter Dinda yang masih duduk di ruangan itu
" Iya dokter" sahut Roni canggung
" Bisa kita bicara sebentar?" tanya dokter Dinda
" Iya dokter"
" Kalau begitu silahkan duduk" ucap dokter Dinda mempersilahkan Roni duduk
" Terima kasih dokter"
" Sebelumnya apa kamu sudah tahu bagaimana kondisi isteri kamu saat ini?" tanya dokter Dinda memastikan dan Roni menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
Dokter Dinda menghela nafasnya panjang sebelum bicara " Untuk kesekian kalinya saya mendapati kasus seperti ini, menikah disaat masih berseragam putih abu-abu, semoga saja untuk kasus kali ini kalian benar-benar sudah siap ya!"
"Siap apa maksud dokter?" tanya Roni nampak bingung
" Siap menjadi calon ayah!" terang dokter Dinda membuat Roni seketika membulatkan matanya sempurna.
" Maksud dokter isteri saya saat ini sedang hamil?" tanya Roni terbata dan dokter Dinda mengangguk pelan
" Benarkah dokter?" Roni nampak gembira
" Iya, usia kandungannya saat ini baru berjalan 2 Minggu jadi masih cukup rentan dan butuh perhatian ekstra" terang dokter Dinda menjelaskan
" Baik dokter, saya pasti akan berusaha semampu saya untuk menjaganya" ucap Roni antusias
" Syukurlah, kamu memang masih terbilang sangat muda tapi ternyata pemikiran kamu sudah jauh lebih dewasa, semoga saja kamu bisa menjaga isteri dan calon bayi kalian. terutama isteri kamu yang pasti masih sangat labil dalam menghadapi situasi seperti sekarang ini" ucap dokter Dinda
" Iya dokter, saya akan berusaha sebisa saya untuk membahagiakan dan menjaga mereka!"
" Itu bagus, sekarang temuilah isteri kamu mungkin dia sudah menunggu!"
" Baik dokter, sekali lagi terima kasih"
" Sama-sama!" ucap dokter Dinda
Dengan langkah perlahan Roni menghampiri Miska yang berada di ruang pemeriksaan, namun baru saja Roni ingin mendekati brankar Miska seorang suster sudah lebih dulu mendekatinya.
" Maaf ya mbak sama mas nya pindah ke ruang rawat inap dulu ya!" ucap suster dengan ramah
" Iya sus!" Miska pun naik ke kursi roda dengan dibantu Roni yang mendorongnya.
" Biar saya saja ya sus yang mendorong!" pinta Roni
" Oh iya silahkan mas!" ucap suster tersebut
Roni dengan perlahan dan penuh hati-hati mendorong kursi roda Miska menuju ruangan yang sudah dipersiapkan oleh mommy Sarah dan mama Rika ruangan VVIP.
" Biar aku bantu ya?" tawar Roni yang belum mendapatkan jawaban tapi sudah mengangkat Miska ke udara.
Dengan sangat hati-hati Roni menurunkan Miska ke atas tempat tidur melihat perlakuan lembut Roni membuat wanita paruh baya yang ada di antara mereka tersenyum simpul.
" Sebaiknya kita beri mereka waktu berdua, ayok!" mommy Sarah mengajak mama Rika keluar dari ruangan.
Setelah suster memastikan keadaan Miska baik-baik saja dan selang infusnya terpasang sempurna suster tersebut baru keluar dari ruangan tersebut dan meninggalkan Roni dan Miska berdua.
Sementara di luar Nicko dan yang lainnya masih setia menunggu di luar.
Ceklek
Nicko langsung menghampiri mommy dan Mama Rika saat pintu ruang rawat Miska terbuka.
" Tante bagaimana keadaan Miska? apa kami boleh menjenguknya tante?" tanya Nicko penasaran
" Kondisi Miska saat ini sudah jauh lebih baik tapi untuk sementara waktu sebaiknya kalian pulang dulu saja ya, besok saja kalian kembali lagi untuk menemuinya karena saat ini Miska butuh waktu untuk istirahat !" jawab mama Rika dengan ramah
" Tapi tante_!"
__ADS_1
" Nicko sebaiknya kita turuti apa kata mamanya Miska, ini untuk kebaikan Miska juga Ko, elo enggak boleh maksa !" ucap Billy merangkul bahu Nicko
" Tapi gue cemas dengan keadaan Miska Bill"
" Emang loe doang yang cemas, kita semua juga sama tapi walau bagaimanapun kita harus menghargai privasi orang!" tegas Billy menarik lengan Nicko mengajaknya pulang.
Dengan terpaksa Nicko mengikuti langkah Billy meninggalkan rumah sakit tersebut, tapi sebelumnya Nicko merasa ada yang janggal karena Roni tidak ikut pulang seperti mereka.
" Bill loe liat Roni enggak?" tanya Nicko dan Billy menggelengkan kepalanya
" Enggak" sahut Billy
" Sejak masuk ke ruang IGD kok gue enggak ngeliat Roni keluarnya ya dan Miska juga tau-tau udah dipindahin aja keruangan rawat inap" cerocos Nicko
" Mungkin saat tadi kita ke toilet kali tuh anak keluarnya!"
" Iya juga sih, bisa jadi!"
" Kira-kira Miska ngomong apa ya tadi sama Roni, jadi penasaran gue"
" Ah loenya aja dasar yang kepo. udah ah yuk balik gue masih ada urusan" Billy dengan cepat menarik kembali tangan Nicko
Sementara di dalam ruangan Miska, Roni nampak gugup dan jadi salah tingkah.
" Emmm... apa kamu mau minum?" tawar Roni
Miska menggeleng tapi tatapan matanya terus mengarah kepada Roni yang tengah berdiri di samping brankar nya
" Kenapa ngeliatnya kayak gitu, apa ada yang aneh?" tanya Roni
" Mari kita berpisah!"
Jlep
Roni terkejut bukan main jiwanya seakan lepas dari raga, pernyataan Miska meluluhlantakkan hatinya.
" Kenapa?" Roni menatap teduh berusaha untuk mengendalikan perasaannya yang tengah bergejolak hebat, mungkin jika Roni yang dulu sudah pasti akan marah-marah atau bahkan menyetujuinya dengan senang hati.
" Gue enggak bisa hidup bersama orang yang sudah membuat gue merasa kotor dan jijik terhadap diri gue sendiri!" jawab Miska dengan mengalihkan pandangannya.
Deg
Mendengar kata suami Miska merasa tersentil hatinya.
" Loe bilang gue ini bukan level loe dan enggak akan menyentuh gue tapi kenapa loe lakuin ini semua sama gue? loe jahat Ron, jahat.... bahkan loe gak jujur sama gue kalau loe yang udah ngalakuin itu" Miska terisak membuat Roni tidak tahan melihatnya, ingin rasanya ia tarik tubuh wanita yang sangat ia cintai itu kedalam pelukannya, tapi sungguh ia tidak berani.
" Loe membuat gue setiap hari dihantui rasa bersalah, bahkan menatap diri gue dicermin pun merasa jijik, setiap kali melihat Bayu bayangan kelam itu selalu membuat dada ini sesak, sakit sangat sakti apa loe tahu itu hah?"
" Bahkan sikap baik loe selama ini semakin membuat gue tersiksa, Loe tau kenapa? karena gue merasa tidak pantas buat loe dan merasa sangat bersalah karena tidak bisa menjaga kehormatan gue sebagai seorang isteri bahkan ternoda disaat gue belum memberikan hak loe sebagai seorang suami!" ucapnya lirih
Roni tersenyum tipis lalu memberanikan diri untuk duduk di tepi tempat tidur " Dasar bodoh!"
Miska yang sedang terisak langsung terdiam dan menatap Roni kesal
" Loe ngatain gue bodoh?" Roni terdiam sedetik kemudian tertawa
" Ih ngeselin banget sih malah ketawa!" Miska memunggunginya
" Hei.... dengar dulu, aku bukan mengatai mu bodoh. tapi justru aku yang merasa bodoh" Miska mendengarkan Roni tanpa berbalik Roni pun duduk memunggunginya menatap ke depan
" Aku bodoh karena mengira kamu ingat apa yang sudah kita lakukan malam itu dan membuatmu membenciku, karena itu kamu ingin cepat-cepat berpisah dengan ku"
" Aku bodoh karena membiarkan kamu salah paham dan bahkan mengira Bayu yang bersamamu malam itu, aku sungguh tidak tahu kalau kamu sampai berpikir ke arah sana karena yang aku tahu malam itu kamu setengah sadar dan bahkan kamu sendiri yang memanggil namaku dan memintaku untuk menolong mu melepaskan rasa panas dan tidak nyamanmu akibat pengaruh obat lakNut yang kau minum itu"
" Tidak mungkin gue kayak gitu!" Miska berbalik badan dan menatap punggung Roni.
" Ya kalau sadar begini sih bisa jadi itu tidak mungkin, waktu itu kamu kan terpengaruh oleh obat. tapi _" Roni yang sudah menghadap ke arah Miska menjeda ucapannya
" Tapi apa?"
" Tapi kamu tetap cantik dan seksi!" goda Roni tergelak
__ADS_1
" Roni....!" Miska kesal lalu melempar bantalnya ke arah Roni dan dengan cepat Roni menangkapnya.
" Gue tetap ingin kita pisah kalau gitu!" Miska mode ngambek dan pasang wajah cemberut
Roni dengan cepat menghampiri Miska sambil membawa bantalnya " Jangan dong sayang, aku enggak mau pisah sama kalian berdua!" Roni meraih bahu Miska
" Apa loe bilang? enggak mau pisah sama kalian berdua?" Miska duduk dari tidurannya menatap tajam ke arah Roni.
" Jadi loe mau ngeduain gue gitu iya? loe enggak mau pisah sama gue dan gak mau pisah sama Loly juga iya?" marah Miska membuat Roni mengerutkan keningnya
" Loly?" tanya Roni
" Apa hubungannya sama Loly?" tanya Roni lagi
" I...itu tadi loe bilang enggak mau pisah sama kalian berdua? loe emang jahat Ron, gue kira loe udah berubah tapi tetap aja sama, masih aja suka mainin perasaan cewek. gue benci loe Ron, gue benci!" marah Miska saat teringat Roni yang sedang bersama Loly disekolah bahkan Loly sempat bergelayut manja di lengan Roni membuat Miska kembali tersulut emosi.
" Hei... kamu ngomong apa sih, aku gak ngerti?"
" Sudahlah, gue akan tetap sama pendirian gue, kita pisah, pergi sana!"
" Ayolah sayang jangan seperti ini!" bujuk Roni
" Sayang... sayang... muak gue dengernya, berapa banyak cewek yang udah loe panggil sayang hah?"
" Kamu ini kenapa sih?" Roni menggaruk tengkuknya yang tidak gatal
" Udah sana pergi, gue benci sama loe. Loe itu jahat.... jahat....!" Miska tiba-tiba terisak membuat Roni kalangkabut dan juga salah tingkah.
Roni dengan sedikit ragu-ragu menarik Miska ke dalam pelukannya. Miska memberontak dan memukul-mukul dada Roni.
" Gue benci elo Ron, gue benci. loe jahat!" ucap Miska seraya terisak.
" Iya aku minta maaf, mulai sekarang aku tidak akan dekat-dekat dengan cewek mana pun selain kamu dan dua wanita cantik lagi yang paling berharga" Miska melepaskan pelukan Roni dan menatapnya singit
" Jangan marah dulu!" Roni kembali menarik tubuh Miska ke dalam pelukannya dan menguncinya dengan erat.
" wanita yang aku maksud itu mommy dan juga mama Rika, masa aku enggak boleh dekat-dekat dengan mereka, bisa kualat nanti suami kamu ini sayang!" Roni mengurai pelukannya dan menghapus air mata Miska dengan ibu jarinya.
"Sudah jangan menangis lagi ya mami, kasihan calon bayi kita nanti ikutan sedih kalau maminya sedih!" Roni mengacak-acak rambut Miska gemes.
" Dih apaan si loe mami... mami ... " Miska meninju dada Roni pelan dengan wajah yang sudah bersemu merah
" Kamu tuh kalau kayak gini bikin aku gemes!" Roni mencubit hidung Miska
" Roni, ngeselin ih. siapa yang ngizinin pegang-pegang?" sewot Miska dengan wajah yang ditekuk
" Calon anak kita, dia yang ngizinin papinya buat deket-deket sama maminya karena pasti dia ingin melihat mami sama papinya naikkan. makannya dia hadir tepat pada waktunya, benarkan" sahut Roni dengan tawa yang membuat Miska seketika diam karena terpesona dengan ketampanan Roni saat tertawa.
" Kenapa kok diam?" tanya Roni yang seketika menghentikan tawanya.
" Apa loe udah tahu kalau gue_!" Miska menjeda ucapannya
" Hamil?" timpal Roni dan Miska mengangguk pelan
" Aku sudah tahu sayang, karena itu aku tidak mau kamu bilang kata pisah lagi. apa kamu tega memisahkan aku dengan calon anak kita hem?"
" Apa loe senang kalau gue hamil?"
" Ya jelaslah aku seneng itu tandanya kecebong aku itu bibit yang unggul" seloroh Roni
" Roni!"
" Ha.... ha....!"
" Sudah... sudah, sekarang saatnya kamu istirahat, jangan terlalu banyak memikirkan hal yang tidak-tidak, apalagi tentang pisah karena sampai kapanpun aku tidak akan mau pisah."
" Ta_"
" Sudah diam jangan banyak bicara lagi, sekarang waktunya kamu Istirahat" ucap Roni tegas saat Miska hendak bicara.
Roni menyelimuti Miska sampai sebahu
__ADS_1
" Tidurlah!
Miska seperti terhipnotis begitu saja menurut tanpa bantahan seperti biasanya, ia memejamkan matanya sementara Roni duduk di sisi ranjang Miska sambil tersenyum manis menatap lekat wajah cantik gadis yang berstatus isterinya itu.