
Seminggu berlalu hampir setiap hari pria dewasa yang tidak lain adalah gurunya tersebut selalu saja menyempatkan diri datang ke cafe tempat Khanza bekerja, entah apa tujuan pria tersebut tapi setelah mendapatkan perlakukan jutek dan ketus Khanza membuat laki-laki yang berstatus guru sekolahnya itu menjadi penasaran dengan sosok muridnya itu yang begitu gigih mencari uang dengan bekerja part time disela jam sekolahnya.
Malam ini Khanza dan Bela tengah bersiap-siap untuk pulang, karena hari sudah cukup larut Khanza dengan cepat membantu Bela untuk menutup cafe dan seperti biasa Tata selalu saja pulang lebih dulu.
" Khanza sebaiknya loe pulang duluan aja, besok loe itukan harus bangun pagi untuk bantu nyokap loe dan juga sekolah !" ucap Bela
" Gak apa-apa Bel, masih keburu kok, mana tega gue ninggalin loe sendirian!" sahut Khanza
" Ihh... sweet banget sih loe!" Bela memeluk Khanza seraya tergelak sendiri.
" Ih apaan sih, udah cepat ayok kita beres-beres ini sudah hampir jam 11 malam loh"
Hari ini kondisi cafe memang cukup ramai jadi terpaksa cafe tutup lebih lama dan hal itu membuat mereka pulang lebih larut.
Deo sudah pulang lebih awal Mamanya mendadak sakit jadi terpaksa Deo menyerahkan cafe kepada para pegawainya.
Entah ada gerangan apa hari ini sudah hampir jam 10 malam tapi kondisi cafe malah mendadak menjadi sangat ramai dan disaat kondisi cafe yang cukup ramai tersebut Tata malah pulang lebih dulu 15 menit setelah kepergian Deo.
" Khanza loe pulang sendirian gak apa-apa?" tanya Bela saat mereka hendak berpisah dipertigaan jalan yang nampak cukup sepi
"Tidak apa-apa Bel, gue sudah biasa kok!" sahut Khanza
" Tapi ini sudah cukup malam loh Za, apa tidak sebaiknya loe pulang ke kosan gue aja!" Ucap Bela menawarkan.
"Terima kasih Bela, tapi gue mau pulang aja kasihan ibu kalau harus menyiapkan dagangannya sendiri" tolak Khanza ramah
" Yaudah kalau begitu hati-hati ya dijalan!" ucap Bela
Khanza dan Bela pun berpisah, saat sedang menunggu kendaraan umum tiba-tiba pandangan Khanza menangkap sosok seorang wanita yang tengah ditarik paksa oleh seorang pria. Khanza yang merasa tidak asing dengan wanita tersebut entah dorongan dari mana langkah kakinya langsung berjalan menghampirinya.
Wanita yang tidak lain adalah Tata sedang bertengkar hebat dengan seorang laki-laki yang menurut Khanza mungkin adalah kekasihnya.
" Hentikan!" teriak Khanza saat pria bertubuh besar dan cukup menyeramkan itu hendak melayangkan tangannya ke wajah Tata.
Pria tersebut langsung menoleh ke arah Khanza dengan tatapan tajamnya begitu juga dengan Tata yang sangat terkejut melihat keberadaan Khanza.
" Khanza!" Beo Tata
" Lepaskan dia!" pinta Khanza
" Siapa kau berani-beraninya memerintahku?"tanya pria bertubuh besar itu dengan senyum menyeringai
Pria itu mendorong kasar tubuh Tata hingga terjerabah ke aspal. " Auww!" pekik Tata kesakitan
Khanza yang melihat Tata terjatuh dengan spontan langsung menghampirinya dan mencoba untuk menolongnya.
" Mba Tata tidak apa-apa?" tanya Khanza saat hendak menolongnya
" Lepas!" sentak Tata saat Khanza berusaha menolongnya, dengan tatapan tidak suka Tata berusaha untuk bangkit sendiri dan Khanza hanya memperhatikannya dengan pikiran bingung.
" Siapa gadis ini?" tanya pria tersebut kepada Tata
" Bukan siapa-siapa, dia hanya rekan kerjaku di cafe" jawab Tata
" Cantik juga!" ucap pria tersebut menatap Khanza dengan tatapan memangsa
Khanza menelan salivanya dengan kasar saat pria tersebut menatapnya lekat
" Aku rasa gadis ini bisa menggantikan mu!" ucap pria tersebut dengan senyum liciknya
" Jangan tuan aku butuh pekerjaan itu, aku butuh uang" mohon Tata memelas.
__ADS_1
" Tapi gadis itu lebih menarik menurut ku" ucapnya lagi membuat Khanza merasa ketar ketir sadar kalau dirinya dalam masalah besar.
" Apa maksud mu?" tanya Khanza
" Kau sudah berani mengacau dan kau harus menerima akibat dari ulah mu yang sok ikut campur!" tegas pria tersebut
" Ayo ikut!" pria tersebut menarik paksa Khanza untuk masuk ke dalam mobilnya.
" Tidak, lepaskan aku tuang bangka... lepas!" teriak Khanza memberontak
" Cepat bawa mereka!" perintah pria tersebut kepada para pengawalnya untuk membawa Khanza dan Tata.
" Lepas!" teriak Khanza memberontak sebisanya
" Kau tidak akan bisa lepas gadis kecil!" ucap pria tersebut dengan senyum menyeringai
" Benarkah?" kata Khanza yang berusaha untuk tetap tenang dan membaca situasi.
Khanza melihat sosok pria yang tidak asing bersembunyi di balik salah satu mobil yang terparkir di tepi jalan.
" Ikutlah dan jangan memberontak gadis bodoh, jika kau terus memberontak aku hajar kau!" ancam pria tersebut.
" Aku tidak akan memberontak tapi lepaskan tanganku!" pinta Khanza
" Jangan mimpi!" sahut pria tersebut dan saat Khanza dan Tata hendak di masukkan ke dalam mobil dengan cara paksa tiba-tiba seseorang datang dan langsung menyerang para pengawal pria tersebut yang tengah memegangi tangan Khanza.
Brukk
pengawal pria tersebut tersungkur membuat dirinya dan juga Khanza terhempas.
" Kau!" kesal Khanza melotot pada pria yang baru saja menolongnya
" Maaf aku tidak sengaja!" ucap pria tersebut cengengesan.
Bughhhhh...
Penjahat tersebut langsung tersungkur mendapatkan tendangan bebas dari Khanza yang tepat mengenai perutnya.
Perkelahian pun tidak bisa dihindari pria bertubuh besar dan menyeramkan tersebut menyuruh para pengawalnya untuk menyerang pria yang tidak lain adalah Aldy dan juga Khanza.
Bagggg Bigggg Bugh...... jebrettt...
Suara baku hantam tidak terelakkan, Khanza ikut melawan para penjahat tersebut dengan lincah.
Tata tercengang melihat Khanza yang ternyata diam-diam pandai ilmu bela diri.
" Sudah hentikan, sebaiknya kita pergi sekarang!" ucap pria tersebut.
" ingat Tata urusan kita belum selesai!" ucap pria tersebut tegas kepada Tata dengan tatapannya yang begitu tajam.
" Mba Tata baik-baik aja kan?" tanya Khanza menghampiri Tata
Tata mengangguk pelan namun sedetik kemudian tubuhnya tumbang untung saja dengan sigap Khanza meraihnya.
" Mba Tata!" panggil Khanza
Tata tiba-tiba tersenyum dan _
Bugh...
Bugh...
__ADS_1
🖤
Bu Khodijah sedari tadi hanya bisa berjalan mundar mandir di teras rumahnya pandangan matanya terus menatap lurus ke sisi jalan menunggu putrinya yang sudah larut malam tapi belum nampak batang hidungnya.
" Bu dari tadi gak capek apa mundar mandir terus?" tanya Izan yang menyembul dari balik pintu.
Bu Khodijah menoleh dan menghela napasnya panjang lalu mendaratkan bokongnya di kursi yang ada di teras rumahnya.
" Kakak belum pulang ya Bu?" tanya Izan seraya duduk di kursi samping ibunya
" Belum, tidak biasanya kakakmu pulang selarut ini. Ibu jadi khawatir" ucap Bu Khodijah sesekali pandangan matanya mengarah ke jalan
" Di telpon aja bu!" ucap Izan
" Sudah, tapi nomornya tidak aktif" sahut Bu Khodijah seraya bangkit dari duduknya dan kembali berjalan mondar-mandir dengan perasaan yang semakin gelisah.
" Sabar bu, semoga saja kak Khanza baik-baik saja!" ucap Izan mencoba menenangkan hati ibunya.
" Amin" Bu Khodijah mengusap wajahnya.
" Apa mau Izan susul ke tempat kak Khanza bekerja bu?" tanya Izan yang merasa khawatir dengan kakaknya dan juga kasihan melihat ibunya yang nampak begitu gelisah.
" Tidak perlu, ini sudah larut yang ada ibu malah jadi mengkhawatirkan kalian berdua" Bu Khodijah menatap putranya tersenyum tipis seakan memberi tahu ibunya tidak apa-apa.
" Semoga saja sebentar lagi kakak kamu cepat pulang!" harap Bu Khodijah
" Iya Bu Amin.!" ucap Izan yang lalu beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam rumah
" Izan masuk dulu ya bu!" pamit Izan yang diangguki oleh bu Khodijah
Beberapa menit kemudian Izan keluar lagi dengan membawakan segelas teh hangat untuk sang ibu.
" Bu sebaiknya ibu minum teh hangat ini dulu!" Izan menyodorkan gelas yang dibawanya kepada Bu Khodijah
" Terima kasih ya sayang!" ucap bu Khodijah lalu meraih gelas tersebut dan meneguk teh hangat yang dibuat oleh Izan
" Bu sebaiknya kita tunggu kak Khanza di dalam saja yuk Bu. hari sudah semakin larut dan udara juga terasa dingin nanti ibu bisa sakit kalau terus berada di luar!" Izan mencoba membujuk bu Khodijah untuk masuk ke dalam rumah
" Tapi kakakmu_!" ucap bu Khodijah terjeda
" Bu kita tidak tahu kak Khanza akan pulang jam berapa, jadi sebaiknya kita masuk saja ya bu!" bujuk Izan yang khawatir dengan kondisi kesehatan ibunya
" Baiklah sayang, ayok kita masuk!" Bu Khodijah pun memilih untuk masuk ke dalam rumah dan duduk di bangku ruang tamu menunggu putrinya pulang.
" Sebaiknya kamu tidur saja Izan, besok kamu itukan sekolah, jangan sampai bangun kesiangan ya!" seru bu Khodijah menyuruh putranya untuk tidur
" Tapi ibu_?"
" Ibu gak apa-apa, sebentar lagi juga kakakmu pulang. sudah sana tidur!"
" Iya Bu, ya sudah Izan tidur duluan ya bu!" pamit Izan
Bu Khodijah merasa semakin gelisah saat melihat jam dinding menunjukkan pukul 1 malam.
" Oh ya ampun Khanza, kamu sebenarnya dimana nak, kenapa belum juga pulang ibu khawatir nak!" ucap bu Khodijah cemas sambil meremas tangannya.
Disaat Bu Khodijah tengah mengkhawatirkan keadaan putrinya di tempat lain seorang gadis terkejut bukan main saat terjaga dari tidurnya dan mendapati seorang pria yang tengah terlelap berada di sampingnya. sontak gadis tersebut terperanjat dari tidurnya dengan degup jantung yang tidak beraturan.
Dan yang membuat gadis itu semakin histeris saat ia menundukkan pandangannya secara perlahan dan pandangan matanya tidak melihat sehelai benang pun yang menempel di tubuhnya di balik selimut yang ia gunakan.
" Aaaaaaaaa....!" teriak gadis tersebut dengan sekencang-kencangnya sampai membuat pria yang ada di sampingnya terlonjat kaget dan jatuh tersungkur ke lantai.
__ADS_1
" Kamu_?" pekik pria tersebut yang juga terkejut melihat keberadaan sang gadis
" Aaaaaaaaa......!" gadis tersebut semakin teriak histeris menangkup telinganya dengan kedua tangannya.