
" Emmmpp" Khanza berusaha memberontak dan dengan sekuat tenaga ia berusaha untuk meloloskan diri
Dengan gerakan cepat Khanza meliukkan tubuhnya dan hendak memberi pelajaran kepada orang yang sudah berani bermain-main dengannya.
Namun tangan Khanza berhenti di udara saat tangan kekar dari laki-laki yang berstatus suaminya itu mencekal pergelangan tangannya.
" Bapak apa-apaan sih?" kesal Khanza
Aldy menyeringai matanya menatap tajam seakan ingin memakan istri kecilnya saat itu juga.
" Ternyata ini alasan kenapa kamu bersikera ingin ikut iya?" tanya Aldy dengan sorot mata tajam
" Ingin berdua-duaan dengan anak ingusan iya?" tanya Aldy dengan suara yang sedikit meninggi
Deg
Khanza merasa tercekat melihat raut kemarahan di wajah sang suami dan membuat lidahnya terasa kelu seketika.
" Apa kalian selama ini pacaran?" tanya Aldy tegas
" Kami hanya berteman tidak lebih dari itu" sahut Khanza cepat
" Tapi tidak dengannya, dia menaruh perasaan terhadap mu dan aku yakin kamu sudah tahu hal itu"
" Itu hak dia untuk suka pada siapa pun, aku tidak bisa mencegah hati seseorang yang ingin melabuhkan hatinya pada siapa saja termasuk pada ku" jawab khanza.
Aldy menarik pinggang Khanza hingga membuat Khanza membentur dada bidangnya
" Apa kamu juga menyukainya?" tanya Aldy berbisik di telinga Khanza sampai membuatnya merinding
Khanza mendorong tubuh Aldy hingga dekapannya terlepas. " Itu bukan urusan mu!" Khanza memalingkan wajahnya berdekatan dengan sang suami membuat wajahnya terasa panas.
" Jelas saja itu menjadi urusan ku, aku adalah suamimu kalau kau lupa " tegas Aldy
" Berhentilah bersikap posesif, itu membuat aku merasa sangat tidak nyaman" protes Khanza
" Apa kau akan tetap pergi bersama laki-laki itu yang entah ada rencana apa sampai mengajakmu ke tempat sesepi ini? jika dia berniat buruk padamu apa kamu pernah berpikir sejauh itu?" tanya Aldy dengan raut amarah yang tertahan
" Aku bisa menjaga diri ku sendiri" jawab Khanza jumawa
Aldy tersenyum kecut, " Bagaimana jika dia memberimu obat tidur atau obat lainnya. apa kamu bisa melawannya hah?" Khanza terdiam sejenak ia berpikir tentang apa yang suaminya cemaskan
" Aku tahu kamu itu gadis yang mandiri dan juga bisa menjaga dirimu sendiri dengan kemampuan ilmu bela diri yang kamu miliki tapi jika sudah hilangnya kesadaran apa yang bisa kamu lakukan hem?" Khanza tidak bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan sang suami, ada benarnya juga ucapan suaminya itu tapi jika dipikir-pikir lagi tidak mungkin Nicko sahabatnya itu akan tega melakukan hal seburuk itu.
" Nicko bukan orang seperti itu, aku tahu itu. bapak yang terlalu berlebihan menilai buruk tentangnya" jawab Khanza membuat Aldy semakin geram karena Khanza yang masih saja keras kepala
" Demi cinta orang bisa saja melakukan sesuatu yang diluar nalarnya, dan aku tidak mau kalau sampai isteri ku terperangkap di dalamnya" Aldy mengelus pipi Khanza dengan lembut
" Sebaiknya kamu ikut aku sekarang!" tegas Aldy menggandeng tangan Khanza cepat.
Khanza yang hendak protes akhirnya hanya bisa pasrah ketika tangan Aldy menggenggam tangannya begitu erat.
Khanza mengikuti langkah Aldy dan sedetik kemudian ia begitu terkejut mendengar suara yang tidak asing di telinganya sedang berbicara di telepon.
..." Sial, dia menghilang begitu saja!" umpat Nicko...
(....)
..." Tidak boleh gagal, aku akan mencarinya"...
(....)
..." Obatnya kau simpan saja dulu, tunggu aku datang membawanya kesana karena aku yakin dia pasti belum jauh!"...
(.....)
..." Tentu saja, aku akan memiliki dulu raganya baru hatinya, dan aku yakin setelah ini mau tidak mau dia pasti akan menerima ku "...
(...)
..." Kau tunggu saja informasi dari ku, aku rasa dia belum jauh dari sini dan aku akan segera membawanya kesana"...
(....)
..." Oke, siapkan saja tempatnya dan pastikan ini tidak boleh gagal"...
Nicko lalu menutup panggilan telponnya dan netranya menyusuri tempat sekitar, dia pastikan Khanza yang merasa kelelahan pasti belum pergi terlalu jauh. Dia yakin saat ini Khanza pasti sedang menuju ke kali tempat di mana teman-temannya berada.
Khanza membekap mulutnya sendiri mendengar percakapan Nicko dibalik sambungan telponnya, dia tidak menyangka kalau Nicko ternyata punya rencana buruk seperti dugaan suaminya. untung saja Aldy menahannya untuk tidak pergi berdua dengan Nicko jika sampai hal itu terjadi entah bagaimana nasibnya.
" Kau dengar sendiri bukan, firasat ku ternyata benar. inilah yang aku khawatirkan sejak tadi" Khanza diam saja dengan wajah sendu dan juga kecewa.
" Sebaiknya kita kembali ke tenda atau kalau mau kita pulang saja ke rumah!" Aldy mengusap kepala Khanza lembut.
Khanza masih diam saja membuat Aldy gemas melihatnya. tanpa bicara lagi Aldy mengangkat tubuh Khanza ke dalam gendongannya membuat Khanza memekik dalam keterkejutannya.
"Aaaa...!" Khanza berteriak namun dengan cepat Aldy membungkam mulutnya.
" Emmmpp!" Khanza melotot saat Aldy tanpa bicara langsung menciumnya
" Jangan berisik nanti dia bisa mendengar suara mu, atau kau sengaja ingin pergi dengannya?" Aldy menaikkan satu alisnya
" Siapa bilang? bapak saja yang membuat aku terkejut" Khanza mengerucutkan bibirnya kesal
tapi tangannya malah melingkar di leher suaminya.
" Bagaimana mau pulang atau kembali ke tenda?" tanya Aldy lagi memastikan
__ADS_1
" Terserah bapak saja!" Khanza menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami.
Aldy akhirnya memutuskan untuk membawa Khanza kembali ke tendanya, sebenarnya dia ingin mengajak Khanza pulang tapi jika tanpa sebab mereka pulang begitu saja yang ada hanya akan menimbulkan curiga.
Setelah hampir sampai di lokasi perkemahan Khanza meminta turun dari gendongan Aldy.
" Turunkan aku disini " pinta Khanza
" Kenapa?"
" Apa bapak mau ada yang melihat kita seperti ini?"
" Tidak masalah buat ku"
" Tapi masalah besar untuk ku" Khanza langsung memberingsut turun dari gendongan Aldy
Aldy mengantarkan Khanza sampai ke tendanya " Apa kamu lapar?" tanya Aldy dengan suara lembut
Khanza mengangguk menjawab dengan malu-malu.
" Yaudah sekarang kamu istirahat saja, biar aku buatkan makanan untuk mu"
" Tapi aku ingin mandi, badanku lengket semua"
" Ya sudah bagaimana kalau kita cari penginapan di sekitar sini dan kamu bisa beristirahat sebentar disana setelah bersih-bersih" usul Aldy membuat Khanza berpikir sejenak
" Ide bagus, iya aku mau tapi bagaimana kita kesana?" tanya Khanza
" Tenang saja soal itu sayang, serahkan semuanya pada suamimu ini. sekarang kamu ambil baju ganti dan tunggu aku di sini ya!" ucap Aldy dengan senyum yang mengembang dan Khanza hanya menjawab dengan anggukan kepala
Tidak butuh waktu lama Aldy sudah kembali ke tenda Khanza
" Apa kamu sudah siap?" tanya Aldy
" Sudah !" Khanza menunjukkan tas yang berisi pakaian gantinya.
" Ya sudah ayo kita berangkat!" ajak Aldy
Suasana di lokasi perkemahan cukup sepi hanya ada beberapa orang saja yang ditugaskan untuk berjaga-jaga.
Aldy dan Khanza pergi menaiki motor yang sempat ia pinjam dari penjaga area perkemahan tersebut dengan alasan ingin membawa muridnya yang kemarin tersesat untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut takut terjadi apa-apa karena sempat mengalami pingsan.
Penjaga area tersebut dengan polosnya percaya dengan ucapan Aldy dan bahkan mereka keluar dari lokasi perkemahan dengan santai
" Pak!" Dengan sedikit ragu-ragu Khanza memanggil Aldy
" Ada apa hem?" tanya Aldy yang saat ini mereka sudah berada di sebuah penginapan yang tidak terlalu jauh dari area perkemahan.
Aldy duduk di tepi tempat tidur dan Khanza masih berdiri mematung di tempatnya
" Sini duduk!" titah Aldy menepuk-nepuk sudut kosong di sampingnya karena Khanza masih diam saja
" Rahasia" jawab Aldy seraya tertawa
" Ish!" Khanza mengerucutkan bibirnya
" Sudah cepat sana mandi aku sudah memesan makanan untuk kita!" ucap Aldy
"Iya" Khanza berjalan melewati Aldy dan masuk ke dalam kamar mandi.
Tring
Bel berbunyi Aldy yang sedang memainkan gawainya langsung beranjak untuk membukakan pintu.
Aldy membuka pintu kamar dan seorang pria berdiri di hadapannya membawa makanan yang tadi dipesannya
" Maaf dengan bapak Aldiansyah?" tanya pria tersebut
" Iya"
" Ini pak pesanannya" pria tersebut memberikan makanan yang Aldy pesan dan Aldy pun mengeluarkan dua lembaran biru untuk membayar makanan tersebut.
Aldy hendak menutup kembali pintu kamarnya
" Maaf pak kembaliannya!" ucap pria tersebut
" Ambil saja kembaliannya" ucap Aldy lalu menutup pintu kamarnya tersebut
" Siapa?" tanya Khanza yang baru keluar dari kamar mandi
Aldy tidak menjawab hanya mengangkat kantong yang berada di tangannya untuk diperlihatkan kepada Khanza.
" Aku memesan soto mie khas Bogor yang katanya paling enak di daerah sini!" ucap Aldy seraya duduk di meja makan dan membuka bungkusan yang ditentengnya
" Sini cepat coba!" Aldy melambaikan tangannya kepada Khanza yang tengah berjalan kearahnya.
" Cepat makan mumpung masih panas!" Khanza menyendok sesuap soto tersebut untuk dicicipinya
" Emm... pak ini benar-benar enak banget sotonya!" ucap Khanza berbinar menyantap soto mie yang menang pas dilidahnya.
" Tidak salah kalau soto mie ini begitu terkenal" ucap Aldy menimpali
"Iya bapak benar!" Khanza begitu menikmati soto mie Bogor tersebut
" Sayang!" panggil Aldy terdengar begitu lembut membuat jantung Khanza berdesir mendengarnya.
Khanza mendongak dan tatapan mereka pun bertemu
__ADS_1
" Sayang bisakah disaat kita berdua seperti ini tidak memanggil ku dengan sebutan bapak!" pinta Aldy dengan senyum yang begitu manis
" Emmmm.. tapi_" Khanza bingung untuk menjawab apa
" Aku harus memanggil apa, bapakkan guru ku?" tanya Khanza polos
Aldy tersenyum " Kamu bisa panggil mas atau sayang ya apa saja yang penting tidak memanggil bapak" jawab Aldy
" Emmmm.... bagaimana kalau abang?" tanya Khanza
" Abang? ah kurang romantis" protes Aldy
" Siapa bilang tidak romantis, bang Aldy?" ucap Khanza dengan suara yang sedikit manja
" Tetap saja, bang Rahmat kamu panggil abang, bang Ucup kamu panggil abang masa suami juga di panggil abang" keluh Aldy dengan wajah sendu
" Terus bapak mau dipanggil apa?" tanya khanza
" Sayang, honey atau mas aja" pinta Aldy
" Baiklah mas Aldy!" ucap Khanza dengan suara yang dibuat selembut mungkin.
" Oh sayang jangan bicara seperti itu rasanya aku takut khilaf!" Aldy menjatuhkan wajah di atas meja
" Loh khilaf kenapa tadi bapak sendiri yang minta di panggil mas" sahut Khanza
"Iya aku suka kamu memanggil ku mas tapi sungguh terdengar sangat merdu ditelinga suamimu ini sayang dan membuat mas gemas jadi ingin_" ucapnya Aldy menggantung
" Ingin apa? awas saja kalau berpikir yang macam-macam!" ancam Khanza
" Tidak macam-macam kok sayang cuma satu macam aja, boleh?" tanya Aldy sedikit mengiba.
Khanza mendelik tajam enggan menjawab pertanyaan Aldy yang sedari tadi sudah membuatnya merasa gugup dan salah tingkah.
Khanza yang sudah selesai makan soto mie Bogor nya langsung beranjak dari kursinya untuk mencuci mangkok kotor tersebut dan meninggalkan Aldy yang tengah menarik napasnya dalam-dalam.
Aldy menghampiri Khanza yang sedang mencuci mangkok bekas dia makan, Aldy meletakkan mangkok bekasnya sendiri dan dengan sigap Khanza meraih mangkok tersebut lalu mencucinya.
Aldy masih setia berdiri di belakang Khanza dan sedetik kemudian ia melingkarkan tangannya di pinggang Khanza membuatnya terkejut dan menegang.
" Apa yang bapak lakukan?" tanya Khanza yang berdiri seperti patung
" Jangan panggil aku bapak, apa kamu lupa sayang?" bisik Aldy tepat di telinga Khanza membuat tubuh Khanza merinding dan tertegun.
"Mas jangan seperti ini, a... aku_" suara Khanza tercekat saat Aldy dengan cepat membalikkan badan Khanza hingga menghadap ke arahnya.
Kedua mata mereka bersirobok ada getaran yang seketika menjalar ke seluruh tubuh Khanza. Tatapan mata teduh nan menyejukkan membuat jantungnya seperti sedang berlari maraton.
Aldy menarik tengkuk Khanza dan seketika Khanza terbelalak saat Aldy dengan lembut me****tnya dengan penuh cinta.
Khanza yang ingin menolak namun tubuhnya mengatakan lain yang pada akhirnya pasrah begitu saja.
Aldy melepaskan ********* dan menatap lembut Khanza yang wajahnya bak kepiting rebus.
" Bagaimana kalau kita bermalam saja disini?" tanya Aldy hati-hati
" Mereka akan kalang kabut mencari keberadaan kita mas" ucap Khanza dengan wajah merona
" Tapi disana kita tidak akan bisa leluasa berdekatan seperti ini sayang" Aldy menarik Khanza kedalam pelukannya
" Mas jangan seperti ini !" ucap Khanza yang hendak melepaskan diri dari pelukan Aldy
" Kenapa memangnya kalau kita seperti ini hem? kamu ini isteri aku sayang mulai sekarang biasakan diri untuk berdekatan seperti ini. mengerti?" Aldy menangkup wajah Khanza dan menatapnya penuh cinta dan kasih sayang.
" Tapi mas aku inikan masih sekolah" protes Khanza
" Memangnya kenapa kalau kamu masih sekolah hem?"
" Kita akan memulai semuanya dari awal dan kamu harus berjanji tidak boleh dekat-dekat lagi dengan bocah tengil itu!" pesan Aldy
" Iya aku tahu itu, kamu sendiri juga begitu tidak boleh dekat-dekat dengan cewek manapun termasuk murid-murid kamu yang ganjen itu" timpal Khanza
" Baik tidak masalah, tapi kamu juga harus janji tidak akan menghindar dari aku lagi"
" Iya bawel!"
" Ish gemesin banget sih, isteri siapa sih ini?" Aldy mencubit hidung Khanza gemas.
" Mas ih sakit tahu" Khanza mengerucutkan bibirnya
" Yaudah yuk kita istirahat aja dulu disini nanti balik ke sananya jam 7 aja ya!" Aldy menggendong Khanza ala bridal style
" Mas ih awas ya kalau macam-macam" gerutu Khanza kesal karena lagi-lagi Aldy bersikap seenaknya.
" Iya mas tahu tapi kalau sekedar cium boleh dong?"
Cup
Belum mendapatkan jawaban lagi-lagi Aldy bertindak lebih cepat dari ucapannya.
" Mas ih!" Aldy tertawa melihat Khanza yang merajuk.
Khanza dan Aldy saat ini tengah beristirahat di dalam kamar dan baru saja mereka terlelap tiba-tiba suara ponsel Khanza berdering memekikkan gendang telinga.
" Sayang ponsel mu berdering!" Aldy membuka matanya begitu juga dengan Khanza.
" Siapa sih sayang ?sungguh mengganggu kesenangan orang!" kesal Aldy
__ADS_1
" Tuh kan!" ucap Khanza saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya dan Aldy meliriknya dengan alis yang mengkerut