Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Pertengkaran


__ADS_3

Saat ini Zaira tengah duduk sendiri di bangku taman, karena dokter Ariel tiba-tiba mendapat panggilan penting dari rumah sakit dan terpaksa meninggalkan Zaira sendirian di taman. awalnya dokter Ariel sudah menawarkan untuk mengantar Zaira terlebih dahulu namun Zaira menolaknya beralasan tidak ingin merepotkan dan takut menyita waktu dokter Ariel yang mendapat panggilan urgent.


Drett... Drett...


Ponsel Zaira berbunyi, Zaira membuka tas selempangnya lalu mengambil benda pipih tersebut. Zaira menghembuskan napasnya kasar saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya.


MY HUBBY ❤️


" Kamu dimana?"


MY Little Wife


" Assalamu'alaikum. salam dulu baru bertanya!" sindir Zaira karena tidak mendapat ucapan salam dari seberang telepon.


MY HUBBY ❤️


" Iya maaf, Assalamu'alaikum!"


MY Little Wife💞


"Wa'alaikum salam"


MY HUBBY ❤️


" Kamu dimana?"


MY Little Wife💞


" Di taman"


MY HUBBY ❤️


" Tunggu di situ, mas jemput sekarang"


MY Little Wife 💞


" Tidak usah, aku bisa pulang sendiri"


MY HUBBY ❤️


" Tunggu di situ, jangan kemana-mana!"


Belum Zaira menjawab sambungan telepon sudah terputus.


" Selalu saja memaksa!" kesal Zaira


Azka dengan kecepatan tinggi membelah jalan yang terbilang cukup ramai namun karena begitu memikirkan isteri kecilnya yang berada di taman seorang diri membuat Azka tidak memperdulikan beberapa pengendara lain yang merasa terganggu dengan sikap Azka yang terbilang sedikit ugal-ugalan mengemudikan mobilnya karena Azka selalu salip sana salip sini mendahului mobil-mobil lainnya.


Setelah hampir 15 menit perjalanan akhirnya mobil Azka sampai juga di sebuah taman kota yang terbilang cukup ramai dengan ibu-ibu yang membawa putra dan putri mereka untuk bermain, ada juga pasangan muda-mudi yang asik berpacaran dan ada juga yang sekedar kumpul-kumpul bersama teman-temannya.


Azka mengedarkan pandangannya mencari sosok wanita yang selalu membuatnya berpacu jantung setiap kali berhadapan dengannya.


Dengan langkah panjang Azka berjalan menyusuri taman tersebut berharap segera bertemu dengan isteri tercintanya itu.


Tepat di bawah pohon yang terbilang cukup rindang mata Azka menangkap sosok wanita yang dicarinya. Azka menghela napasnya panjang dan menggelengkan kepala melihat tingkah Zaira yang tengah menghentak- hentakkan kakinya sambil menggerutu tidak jelas.


" Sudah puas belum ngomel-ngomelnya?" tanya Azka yang sudah berada di belakang Zaira dengan senyum yang mengembang.


Zaira tersentak dan menoleh. " Cihh, sepertinya suasana hatinya lagi senang senyam-senyum begitu. ya iyalah Zaira secara dia itukan baru aja ketemu sama mantan kekasihnya pakai acara peluk-peluk segala pula" batin Zaira berdecak melihat Azka yang masih saja tersenyum.


Entah mengapa Melihat Azka tersenyum seperti itu membuat Zaira merasa muak dan mau muntah. " Munafik!" runtuknya dalam hati. Dan disaat kaki jenjang Azka melangkah mendekati Zaira dengan cepat Zaira langsung beranjak dari tempatnya dan melewati Azka begitu saja.


" Aku mau pulang!" ucap Zaira dingin seraya melewati Azka yang tercengang dengan sikap Zaira yang tidak seperti tadi pagi. ( ah... dasar Azka bodoh masih juga tidak peka malah senyam-senyum tanpa dosa gitu, mana ada istri yang akan bersikap biasa-biasa saja kalau melihat suaminya berpelukan dengan wanita lain apalagi dengan MANTAN )


Azka dengan cepat menyusul Zaira " Alzaira tunggu!" teriak Azka dari belakang namun Zaira tidak mengindahkannya dan terus berjalan.


" Alzaira, cihh.. setelah ketemu mantan panggilannya pun bahkan langsung berubah!" gumam Zaira kesal dan terus melangkahkan kakinya dengan cepat.


" Kecil-kecil jalannya cepat juga!" batin Azka


Entah ada angin apa keberuntungan ada di pihak Zaira saat ini saat sudah berada di tepi jalan tiba-tiba ada sebuah mobil yang berhenti tepat di depan Zaira.


" Zaira?" panggil seorang pria yang sebaya dengan Zaira dari dalam mobil dengan membuka kaca mobilnya dan sedikit mendongak keluar kepalanya.


Zaira membungkuk sedikit melihat siapa yang berada di dalam mobil. setelah mengenalinya Zaira tersenyum ramah kepadanya " Mau pulang bareng?" tawar pria yang berada di dalam mobil tersebut.


Zaira berpikir sejenak " tapi arah rumah loe kan gak searah?" tanya Zaira


" Gak masalah gue anter loe pulang, langit udah mendung juga dari pada keburu hujan mending loe gue anter pulang aja gimana?" tawar Irfan yang kebetulan lewat taman tersebut selepas latihan footsal dengan Rangga, yoga dan Gilang.


" Emmmm.. boleh kalau gak ngerepotin" ucap Zaira.


" Buat loe sih gue gak merasa di repotin kok, ayo masuk!" sahut Irfan dan membukakan pintu mobil untuk Zaira.


" Alzaira!" teriak Azka setelah melihat Zaira masuk ke dalam mobil hitam milik Irfan dan melesat begitu saja mengabaikan dirinya yang sudah capek-capek datang untuk menjemput Zaira tapi malah diabaikan begitu saja.

__ADS_1


Azka mengepalkan tangannya kuat hingga buku-buku jarinya memutih. " Sial!" umpatnya dan kakinya menendang ke udara meluapkan amarahnya.


" Awas kamu isteri kecilku, kamu sudah berani mempermainkan suamimu ini!" geramnya.


Dengan langkah kesal dan amarah yang memuncak Azka pergi menuju letak mobilnya berada. ia berjalan begitu tergesa-gesa sampai menyenggol bahu pengguna jalan lainnya namun karena dalam keadaan emosi Azka tidak menghiraukan umpatan-umpatan dari orang-orang tersebut yang ada dibenaknya saat ini hanyalah ingin bertemu dengan istrinya dan memberi hukuman karena sudah berani mengabaikan dirinya begitu saja.


Sementara di dalam mobil kedua anak manusia ini sama-sama terdiam tidak ada yang mau memulai bicara sampai akhirnya ada seorang wanita paruh baya yang menyeberang sembarangan membuat Irfan menghentikan mobilnya secara mendadak sontak saja hal itu membuat Zaira terkejut dan tersentak ke depan hingga kepalanya terbentur.


Jeduggg


" Awww!" pekik Zaira lalu mengusap keningnya yang terbentur


" Maaf... maafin gue Za, gue tadi ngerem mendadak karena ada tuh ibu-ibu tadi nyebrang sembarangan" ucap Irfan yang merasa bersalah.


" Gak apa-apa" sahut Zaira datar.


Irfan pun melanjutkan perjalanannya lagi dan kali ini Irfan yang berani untuk memulai pembicaraan.


" Za loe gak apa-apakan?" tanya Irfan yang sedikit khawatir


" Ah, ini gak apa-apa" sahut Zaira dengan memegang keningnya.


" Sorry ya gue beneran gak sengaja!" ucap Irfan lagi yang merasa bersalah dengan Zaira.


" Iya gue tau loe gak sengaja, kalau loe sengaja baru loe siap-siap deh tuh ya buat ngadepin Lia sama teman-teman gue yang lain" ucap Zaira santai sambil sedikit tertawa kecil.


" Ha.. ha...bisa aja loe, kalau udah ngadepin tuh anak gue milih nyerah aja dah. Abang ikhlas neng!" ucap Irfan sambil tertawa.


Zaira pun yang mendengar nada bicara Irfan yang begitu aneh dibuat-buat ikut tertawa.


" Ini anak beda amat ya " batin Zaira " Kalau di sekolah ini anak dingin dan sok berwibawa banget dan ini kok ihhh... apa gue gak salah orang" gumam Zaira yang merasa sedikit aneh dengan sikap Irfan yang tidak seperti biasanya sewaktu di sekolah.


Irfan nampak lebih akrab dan lucu menurut Zaira sih apalagi dengan cara Irfan yang sok menggemulaikan tangan dan suaranya.


" Ha.. ha.... loe lucu tau gak sih" ucap Zaira spontan


" Hi...hi... syukurlah kalau loe suka, gue senang loe bisa ketawa!" ucap Irfan yang sedetik kemudian membuat tawa yang terpancar di wajah Zaira memudar seketika.


" Anterin gue ke jalan Melati blok D!" ucap Zaira Seketika dengan datar.


Irfan menoleh dan mengangguk. Zaira kembali diam begitu juga dengan Irfan " Apa tadi gue salah bicara ya?" batin Irfan yang sesekali menengok ke arah Zaira yang pandangannya sedang fokus lurus ke depan.


" Za loe gak apa-apakan?" tanya Irfan sedikit hati-hati takut Zaira merasa tersinggung.


Zaira menoleh sekilas lalu pandangannya kembali lurus ke depan " Gue gak apa-apa, sorry ya gue udah ngerepotin loe buat nganterin gue pulang!" ucap Zaira


Zaira hanya membalas dengan tersenyum tipis tapi tanpa menoleh.


" Oia loe kok bisa sendirian di taman itu teman-teman loe pada kemana biasanya itukan loe gak pernah jauh dari mereka?" tanya Irfan yang entah kenapa tiba-tiba jadi kepo dengan Zaira yang sendirian di taman tanpa para sahabatnya.


Zaira menoleh sekilas dan mengernyitkan alisnya lalu tertawa getir tanpa menjawab pertanyaan Irfan.


" Kalau loe gak mau jawab juga gak apa-apa kok" ucap Irfan lalu menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.


Setelah hampir 30 menit perjalanan akhirnya mobil milik Irfan sampai juga mengantarkan Zaira tiba di depan rumahnya.


Zaira turun dari dalam mobil dan diikuti oleh Irfan dan secara kebetulan seorang wanita paruh baya juga baru saja turun dari dalam mobil yang terparkir berdampingan dengan mobil Irfan.


" Thanks ya kak, sorry gue jadi ngerepotin!" ucap Zaira


" Iya sama-sama, Santai aja kali Za." sahut Irfan yang merasa beruntung banget hari ini karena sudah bisa mengantarkan Zaira pulang.


" Ngomong-ngomong itu siapa Za?" tunjuk Irfan saat melihat seorang wanita paruh baya menarik kopernya hendak masuk ke dalam rumah Zaira. sementara wanita paruh baya yang tidak lain adalah bunda Aryani tidak menyadari keberadaan putrinya karena mobil Irfan yang terparkir tepat di depan rumah tetangganya jadi bunda Aryani mengira mobil Irfan adalah milik tetangganya.


Zaira yang memang sedari tidak fokus jadi tidak menyadari keberadaan mobil bundanya yang jelas-jelas sudah terparkir di depan rumahnya.


" Bunda!" sebut Zaira pelan namun masih terdengar oleh Irfan.


" Itu nyokap loe?" tanya Irfan yang diangguki oleh Zaira sebagai Jawaban.


" Bunda!" teriak Zaira


Aryani menoleh dan terkejut melihat putrinya tengah berlari kearahnya.


" Za" pekiknya.


" Bunda!" Zaira berhambur langsung memeluk sang bunda yang sudah dua bulan ini amat sangat di rindukannya.


" Sayang kamu_" ucapan bunda Aryani menggantung tatkala netranya menangkap sosok pria yang seumuran dengan putrinya tengah berdiri di hadapannya saat ini dengan senyum yang mengembang.


" Za kangen sama bunda!" ucapnya disela pelukannya.


" Sayang" Bunda Aryani mengurai pelukannya menatap wajah Zaira yang sembab akibat menangis lalu beralih ke sosok anak muda yang datang bersama putrinya.


" Selamat malam tante kenalin saya Irfan temannya Zaira!" ucap Irfan seraya mengulurkan tangannya.

__ADS_1


Bunda Aryani menoleh ke Zaira dan seketika Zaira menundukkan pandangannya.


" Saya Aryani bundanya Zaira" ucap bunda Aryani membalas uluran tangan Irfan.


Dan tanpa mereka sadari sepasang mata sedang menatap nyalang ke arah mereka dengan tangan yang terkepal kuat dan rahang yang mengeras menahan amarahnya.


" Za bunda masuk duluan ya!" ucap bunda Aryani.


" Nak Irfan tante masuk dulu ya!" pamitnya pada Irfan.


" Iya Tante!" Sahut Irfan dengan sopan.


Bunda Aryani masuk ke dalam rumah sedangkan Zaira dan Irfan masih berdiri di depan rumah Zaira.


" Kak sorry ya gue gak bisa ngajak loe mampir gak apa-apa kan.? gue soalnya mau istirahat capek banget dan nyokap gue juga baru pulang dari desa" ucap Zaira yang merasa sedikit tidak enak terhadap Irfan.


" Iya gak apa-apa, gue ngerti kok. yaudah masuk gih istirahat. sampai ketemu besok di sekolah ya!" ucap Irfan dengan senyum yang mengembang dan berjalan menuju mobilnya.


" Thanks ya kak!" ucap Zaira sebelum mobil Irfan melesat jauh dan Irfan hanya menjawab dengan senyum manisnya.


Setelah mobil Irfan sudah melesat jauh Zaira berbalik badan dan hendak melangkah masuk ke dalam rumah namun langkahnya terhenti saat sebuah tangan kekar mencekal pergelangan tangannya.


Degg


Zaira tersentak entah kenapa hawa dingin tiba-tiba menembus hingga ke tulang tubuhnya terasa kaku dan jantungnya berdegup sangat kencang tidak beraturan.


Dengan perlahan Zaira memutar badannya menoleh untuk melihat siapa gerangan yang sudah berani menghalangi langkahnya walaupun sebenarnya di dalam hati sudah tahu siapa pemilik tangan yang tengah mencekal kuat pergelangan tangannya hingga terasa sedikit sakit.


Jlepp


" Mas!" ucap Zaira lirih


Azka tersenyum menyeringai tatapan matanya begitu tajam hingga menusuk ke jantung.


" Begini sikap seorang isteri terhadap suami? bagus ya suami datang menjemput tapi isteri malah lari dengan pria lain!" geram Azka menyentak kasar pergelangan tangan Zaira


" Awww!" Zaira meringis


" Apa dia marah beneran, ya tuhan seram banget ternyata dia kalau lagi marah kaya gini" batin Zaira.


" Ternyata ini kelakuan kamu dibelakang aku selama ini. kamu suka sama dia iya, kalian pacaran hah cepat jawab?" Bentak Azka membuat Zaira tersentak kaget.


Entah keberanian dari mana Zaira, bukannya takut tapi malah tersenyum getir. sebenarnya sih bukannya gak takut cuma berusaha untuk tidak mau tertindas gitu aja sih tepatnya mah.


Zaira yang awalnya tertunduk karena kaget dengan suara bentakan Azka kini menegakkan pandangannya menatap tajam ke arah Azka yang tengah menatapnya pula.


" Apa hak mas marah-marah sama aku disini? apa mas lupa dengan apa yang sudah mas lakukan beberapa jam yang lalu bersama MANTAN " ucap Zaira dengan menekankan kata mantan.


" Cihh, sok merasa tersakiti padahal hatinya sedang bahagia karena mendapat pelukan dari sang mantan!" cibir Zaira


Azka hanya terdiam merasa ada hantaman keras yang menembus ke jantungnya saat ini.


" Mas sakit melihat aku bersama pria lain lalu mas anggap apa aku ini, patung hah?" Zaira mendorong dada Azka kuat' hingga Azka terhentak dan mundur dua langkah.


" Mas yang memintaku untuk menemani mas datang menemuinya tapi saat dia memeluk mas dan bergelayut manja mas sama sekali tidak menolaknya dan bahkan tidak mengindahkan keberadaanku"ucap Zaira lirih.


" Bukan seperti itu sayang mas ta_!" ucap Azka terpotong saat tangannya yang hendak meraih tangan Zaira langsung disentak kasar oleh Zaira.


" Cukup mas, sayang? ha...ha... !" Zaira tertawa kecut. " Alzaira mas Zaira bukan sayang kalau mas lupa. apa mas lupa tadi di taman mas memanggil namaku siapa? begitu lengkapnya sama seperti saat disekolah. Oia, aku hampir lupa karena aku inikan murid pak Bagazkara ya." ucap Zaira datar


" Sayang maafin mas!" Azka kembali ingin meraih tangan Zaira namun lagi-lagi Zaira menepisnya dengan kasar.


"Jangan sentuh aku mas!" Zaira mengangkat tangannya ke udara


" Aku memang bodoh begitu mudahnya percaya dengan ucapan manis kamu mas. alih-alih memintaku untuk menemani mu ternyata apa yang aku dapatkan aku hanyalah penonton dan saksi akan kebersamaan kalian kembali, cihh bodohnya!" Zaira mentertawakan dirinya sendiri.


" Sayang mas_" Azka tidak bisa lagi berucap


" Sudahlah mas, pulanglah! dan tolong sampaikan salam maaf aku untuk Meliani" ucap Zaira lalu berbalik badan untuk masuk ke dalam rumah.


" Za Tunggu!" panggil Azka yang merasa sangat bersalah ternyata untuk kesekian kalinya ia merasa bodoh dengan ketidak pekaannya terhadap Zaira.


" Ini semua salah paham sayang!" ucap Azka saat tangannya meraih tangan Zaira dan menghentikan langkahnya


Zaira tidak menjawab apa-apa namun pandangan matanya mengarah kepada tangannya yang disentuh oleh Azka.


Tau maksud dari pandangan Zaira dengan cepat Azka langsung melepaskan tangannya.


" Sayang, beri mas kesempatan untuk menjelaskan semuanya. karena apa yang kamu lihat tidak seperti itu kenyataannya sayang!" ucap Azka mencoba untuk membujuk Zaira.


" Mas pulanglah, aku capek aku ingin istirahat" Zaira kembali melangkah masuk ke dalam rumahnya sementara Azka masih diam berdiri mematung di depan rumah Zaira


" Aaaaaaaaaaaaaa!" Teriak Azka meruntuki kebodohan dirinya sendiri


" Bodoh kau Azka!" teriak Azka mengacak-acak rambutnya dengan kasar dan menendangkan kakinya ke udara.

__ADS_1


Sementara Zaira sudah berlari masuk ke dalam kamarnya. bunda Aryani yang melihat Zaira menangis sambil berlari masuk ke dalam kamarnya sangat terkejut pikirnya putrinya menangis karena Irfan laki-laki yang datang bersamanya. namun karena rasa penasaran yang begitu besar bunda Aryani berjalan menuju pintu keluar dan saat membuka pintu betapa terkejutnya bunda Aryani saat melihat Azka suami dari putri satu-satunya tengah duduk terkulai di pelataran rumahnya dengan penampilan yang sungguh memprihatinkan.


__ADS_2