
Pagi ini Khanza dan Miska tengah sibuk bersiap-siap untuk pergi ke acara camping.
" Za mata loe bengkak banget!" ucap Miska saat melihat Khanza yang baru keluar dari kamar mandi
Khanza dengan cepat memegang matanya lalu berjalan menuju cermin " Iya nih Mis, kentara banget ya?" Khanza memperlihatkan matanya yang nampak bengkak di cermin
" Loe sih kebanyakan nangisin orang yang gak pantas loe tangisin" ejek Miska
" Gue bukan nangisin dia asal loe tahu, tapi yang gue tangisin itu nasib gue yang kenapa jadi sesial ini" jawab Khanza
" Sabar, kalaupun gue jadi loe belum tentu juga gue bisa sekuat loe Za, loe itu gadis yang hebat"
" Gue enggak sehebat itu" sahut Khanza
" Miska!"
" Apa?" tanya Miska tanpa menoleh karena sedang sibuk membereskan barang-barangnya
" Ini bagaimana, malu tau kalau yang lain lihat mata gue kayak gini!" ucap Khanza sendu
" Pakai ini!" Miska memberikan Khanza kaca mata hitam miliknya.
"Apa gak kelihatan norak ya?" keluh Khanza yang tidak terbiasa menggunakan kacamata hitam
" Enggak juga, tapi kalau loe mau coba pakai yang ini!" Miska memberikan kacamata nya yang berwarna coklat.
Khanza mencoba memakai kacamata tersebut setelah bercermin dia lebih percaya diri menggunakan kacamata yang berwarna coklat dibandingkan yang berwarna hitam.
" Gue pakai yang ini aja deh, lebih cocok!" ucap Khanza
" iya loe lebih tambah cantik Za pakai itu" puji Miska
" Lebay ah"
"Gue serius, Nicko bakalan tambah naksir aja nih sama loe" goda Miska
" Ah rese loe "
" Gak apa-apa Za, buat hiburan disaat hati loe lagi patah"
" Wah parah loe, gue mah gak mau ya memanfaatkan keadaan. kalau pun gue harus patah yaudah gue rasain sendiri gue gak mau melampiaskannya kepada orang lain yang nanti ujung-ujungnya bakalan patah hati gara-gara gue"
" Iya deh iya"
Setelah semuanya selesai Khanza dan Miska berangkat bersama menuju sekolah karena semua siswa-siswi akan dikumpulkan terlebih dahulu sebelum berangkat mendengarkan sedikit wejangan dari kepala sekolah.
" Khanza.... Miska...!" teriak Nana melambaikan tangannya bersama Hana
" Tuh si Nana kita kesana yuk!" ajak Miska
" Ayolah cus"sahut Khanza
" Waw... loe keren banget Za sumpah" puji Nicko yang datang menghampiri Khanza saat sudah kumpul bersama Nana dan Hana
" Gombal terus!" ejek Miska
" Biarin, sirik aja loe" Nicko mencibikkan bibirnya
" Ye .. biasa aja kali" Miska ikut mencibikkan bibirnya
" Kalian ini berantem terus lama-lama gue kawinin!" ucap Khanza menengahi
" Ogah!" jawab Miska dan Nicko bersamaan
" Nah itu kompak bener" goda Nana
" Setuju ini mah, cus lah kawinin Za" Hana ikut menimpali
" Ih...amit-amit ya gue sama dia, uwekk...!" Miska bergaya seperti orang mau muntah
" Ye gue juga gak mau kali sama loe, mending gue kawin sama Khanza, iya gak yang?" sahut Nicko tidak terima dengan ucapan Miska
" Iya tapi sayangnya Khanza nya gak mau sama loe, wleee" Miska memeletkan lidahnya
" siapa bilang gak mau, belum waktunya aja iya kan Za?" protes Nicko bertengkar kembali dengan Miska
" Woy, berisik banget sih loe pada, panitia tuh kumpul dulu di sana malah pacaran disini!" omel Bayu kepada Nicko dan Miska
" Gaess gue kesana dulu ya, titip barang!" ucap Miska
" Iya, sip !" sahut Khanza
Miska dan Nicko menghampiri anggota osis lainnya untuk mempersiapkan keberangkatan menuju tempat perkemahan.
Setelah semua selesai para anggota osis mengatur anak-anak lainnya untuk segera masuk ke dalam mobil bus yang akan membawa mereka ke tempat tujuan.
Sebelum berangkat para siswa dan siswi diabsen terlebih dahulu agar tidak ada yang tertinggal dan terkoordinir dengan baik.
" Miska kita satu mobilkan?" tanya Nana.
" Iyalah say, gak mau lah gue kalau kita terpisahkan" sahut Miska
" sudah yuk buru masuk, kita di bangku paling depan!" tambah Miska
" Okelah!" jawab Khanza tersenyum
__ADS_1
" Tapi_"
" Tapi apa?" tanya Nana
" Kita akan satu mobil dengan pak Aldy!" ucap Miska hati-hati
Deg
Khanza langsung terdiam langkahnya begitu terasa berat saat hendak masuk ke dalam mobil.
" Za loe kenapa?" tanya Hana yang melihat perubahan pada raut wajah Khanza
" Ya? emmmm... gue gak apa-apa" jawab Khanza dengan senyum yang dipaksakan
Saat ini Khanza dan teman-temannya sudah berada di dalam mobil dan sebelum berangkat Nicko dibantu oleh Miska mengabsen terlebih dahulu.
" Semuanya udah pas ya, kita tinggal berangkat nih tapi sebelum berangkat jangan lupa kita berdoa dulu ya menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Emmm... kami persilahkan pak Aldy untuk memimpin doanya!" ucap Nicko pada saat pak Aldy tengah menaiki mobil tersebut.
"Baiklah semuanya, untuk keselamatan dan kelancaran perjalanan kita menunju tempat tujuan marilah sama-sama kita berdoa terlebih dahulu. berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing dimulai!" ucap pak Aldy lalu menundukkan kepalanya dan diikuti para murid lainnya.
" Berdoa selesai!" ucapnya lagi
Setelah selesai berdoa mobil pun perlahan berjalan meninggalkan area parkiran sekolah. satu persatu mobil bus yang membawa para peserta camping mulai melaju pergi.
Aldy duduk di bangku baris depan, Khanza yang tahu akan satu mobil dengan sang guru memilih duduk di pojok terhalang oleh Miska dan Nicko
" Mis, gue yang ditengah dong gue kan mau dekat Khanza!" pinta Nicko sedikit berbisik namun karena jarak antara Nicko dan Aldy yang hanya bersebelahan membuat sang guru masih bisa mendengar bisikan Nicko kepada Miska
"Coba aja kalau berani, masih modus aja loe" Miska memberikan kepalan tangannya kepada Nicko
Aldy yang melihat pertengkaran Miska dan Nicko sedikit tersenyum setidaknya dia tidak perlu khawatir pada Khanza karena ada Miska yang menjadi pelindung Khanza dari playboy cap kadal macam Nicko.
Mobil bus sudah memasuki daerah puncak hawa dingin pun mulai menusuk ke tulang.
Khanza terlihat sesekali mengusap-usap bahunya karena dia lupa memakai jaketnya yang berada di dalam tas ranselnya.
Cuaca di puncak cukup dingin apalagi saat itu hari turun hujan, Aldy tidak beralih menatap ke arah Khanza untung saja semua teman-teman Khanza pada tertidur kecuali Billy tapi saat itu dia sedang berada di bangku belakang bergabung dengan siswa lainnya yang sedang bermain gitar.
Aldy ingin sekali memberikan jaketnya kepada Khanza tapi situasi kurang mendukung karena Nicko tiba-tiba terbangun dari tidurnya.
Nicko yang mendengar suara Billy bernyanyi langsung beranjak dari duduknya dan menghampirinya.
Aldy ingin sekali pindah duduk di bangku Nicko namun dia tidak seberani itu, selain takut murid yang lain curiga dia juga takut Khanza semakin marah kepadanya.
Miska terbangun karena suasana di bangku belakang semakin ramai apalagi setelah Nicko ikut bergabung.
" Berisik banget sih" keluh Miska
" Ya namanya juga di bus pasti ramailah kalau mau sepi ya bawa mobil sendiri" sahut Khanza
" Za loe gak bawa jaket?" tanya Miska yang melihat Khanza nampak kedinginan
" Bawa tapi gue lupa ambil ada di tas ransel gue" jawab Khanza
" Muka loe pucat banget Za, gue mau pinjemin loe tapi gue juga dingin banget. enggak kuat gue" Miska nampak tidak enak hati
" Gak apa-apa gue aja yang terlalu ceroboh sampai lupa ambil jaket" ucap Khanza yang semakin memeluk tubuhnya sendiri karena udara semakin dingin ditambah AC mobil yang menyala.
Miska berdiri lalu menoleh ke belakang tempat Hana, Nana dan Billy duduki.
" Yah pada molor" keluh Miska
" Yaudah gak apa-apa, kasihan jangan dibangunin" ucap Khanza
" Tapi loe gimana Za, lumayan masih jauh loh tempatnya" Miska merasa tidak tega pada Khanza
" Enggak apa-apa Mis, gue masih kuat kok" Khanza tersenyum tipis meyakinkan Miska kalau dia tidak apa-apa.
" Maaf ya Za"
" Santai aja"
Khanza menyandarkan kepalanya ke jendela berusaha untuk memejamkan matanya.
Aldy yang melihat Khanza nampak sesekali mengusap bahunya sendiri dan terkadang memeluk tubuhnya dengan erat semakin tidak tega.
Aldy membuka jaketnya lalu beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri tempat duduk Khanza.
Miska mendelik tajam saat Aldy menghampiri tempat duduknya.
" Berikan ini kepada temanmu, sepertinya dia sangat kedinginan!" ucap Aldy seraya menyodorkan jaketnya kepada Miska.
Miska terdiam menatap jaket yang masih berada di tangan Aldy.
" Cepat berikan ini pada temanmu kasihan dia kedinginan!" ucap Aldy lagi karena Miska malah terdiam
" I.. iya pak" Miska mengambil jaket tersebut dan memberikannya kepada Khanza
" Nih pakai jaketnya!" Khanza mengerutkan keningnya menatap jaket yang berada di tangan Miska.
" Sudah cepat pakai, muka loe udah pucat banget!" Miska mengguncangkan jaket yang masih berada di tangannya.
" Jaket siapa?" tanya Khanza membuat Miska garuk-garuk kepala
" Sorry Za ini jaket pak Aldy" jawab Miska
__ADS_1
" Kembalikan!" Ucap Khanza membalikkan wajahnya ke arah jendela
" Tapi loe kedinginan Za, apa salahnya sih loe pakai jaket ini" ucap Miska
" Ya elo tahu jawabannya kan" Khanza mendelik tajam
" Iya juga sih" Miska menghela napasnya panjang
" Yaudah tunggu apalagi, kembalikan saja sana!" titah Khanza
" Baiklah" Miska pun beranjak dari duduknya dan mendekati Aldy.
" Maaf pak Aldy, Khanza tidak mau memakainya" ucap Miska seraya menyodorkan jaket tersebut.
Aldy menoleh ke arah Khanza yang sedang membuang pandangannya ke arah jendela.
" Biar saya yang memberikannya, bisakah kamu duduk di sini sebentar?" pinta Aldy
" Wah pak Aldy kok perhatian banget sih sama Khanza" ucap Miska yang pura-pura tidak tahu apa-apa.
" Saya cuma khawatir takut temanmu itu sakit dan nantinya akan merepotkan semua orang" jawab Aldy berdalih
" Apalagi saya ini kan guru kalian yang memang bertugas mengawasi dan menjaga kalian semua" tambahnya
" Duh pak Aldy hebat ya segitu perhatian terhadap muridnya. baiklah pak silahkan" ucap Miska yang sebenarnya merasa kesal juga dengan guru dihadapannya ini, karena sudah membuat Khanza sedih.
Aldy beranjak dari duduknya lalu menghampiri Khanza, Aldy duduk di kursi yang tadinya ditempati oleh Miska.
Miska tidak sadar kalau yang duduk di sebelahnya adalah Aldy guru sekaligus suaminya sendiri.
" Kalau dingin kenapa tidak mau memakai jaketnya?" ucap Aldy yang melihat Khanza seperti menggigil kedinginan.
Saat ini kondisi Khanza memang sedang kurang sehat karena kurang tidur ditambah AC dan hujan diluar yang cukup deras membuat Khanza tidak bisa berdamai dengan kondisi cuaca yang dinginnya sampai menusuk ke tulang.
Khanza menoleh dengan sangat terkejut, matanya membulat sempurna tatkala netranya melihat Aldy yang dengan santainya duduk di sampingnya sementara Miska duduk di bangku yang ditempati Aldy.
" Ngapain ke sini?" bisik Khanza ketus
" Pakai ini!" Aldy memberikan jaketnya
" Sudah aku bilang tidak mau, jangan memaksa" Khanza mendelik tajam
" Cepat pindah sana aku tidak mau mereka semua salah paham" lanjutnya
" Ya udah makanya pakai jaket ini" sahut Aldy
" Tidak mau, sudah cepat sana" Khanza mendorong Aldy agar cepat pergi dari tempat duduk Miska
" Aku tidak mau pergi sebelum kamu mau memakainya" kekeh Aldy
" Maksa banget sih!" kesal Khanza
" Ya aku tidak mau aja kamu sakit" sahut Aldy tersenyum tipis
" Sudah terlanjur sakit" jawab Khanza terdengar ambigu
" Maksud kamu?" Aldy mengerutkan keningnya
" Tidak ada maksud apa-apa, sudah cepat sana balik ke kursi bapak!" tegas Khanza
" Aku akan pindah asal kamu pakai jaket ini, jangan sampai kamu sakit akibat kedinginan dan merepotkan teman-teman mu, aku rasa kamu tidak ingin hal itu terjadi kan?" tebak Aldy
" Bukan urusan bapak!"
" Jelas urusan saya karena saya guru yang bertanggung jawab menjaga kalian semua." jawab Aldy
" Sudahlah jangan membantah lagi, cepat pakai jaket ini kalau tidak mau yang lain salah paham" tegas Aldy
Mau tidak mau Khanza pun menerima jaket tersebut dengan wajah cemberut.
Aldy tersenyum tipis lalu beranjak pergi kembali ke tempat duduknya setelah Khanza memakai jaket tersebut
" Ngeselin banget sih!" kesal Khanza yang malah di respon Miska dengan tawa.
" Elo ngapain sih mau aja disuruh pindah?" kesal Khanza
" Ya dia tadi bilang kalau dia tidak mau muridnya ada yang sakit karena kedinginan" jawab Miska sedikit tertawa
" udah ah jangan tertawa terus" Khanza cemberut
" Iya.. iya...!"
" Tapi Za tuh Gutami kayaknya perhatian banget sama loe!"
" Gutami?" tanya Khanza bingung
" Yaelah Gutami, guru tapi suami" bisik Miska
" Dasar loe bisa-bisanya!"
" Tapi Itu mungkin caranya buat menutupi kebohongannya Mis, pura-pura perhatian dan gue gak mau terperangkap lebih jauh di dalamnya" sahut Khanza
" Iya juga sih, bisa jadi"
Karena sudah merasa sedikit hangat dengan jaket yang dipakainya Khanza akhirnya tertidur juga dan Miska memilih untuk memejamkan matanya sambil mendengarkan musik dengan headset yang menyumpal ditelinganya.
__ADS_1
Aldy tersenyum tipis melihat sang isteri yang akhirnya terlihat sedikit lebih baik.