Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Panggil Mas


__ADS_3

Mario saat ini tengah berlari mengelilingi lapangan, walaupun terasa lelah tapi bila teringat dengan kata-kata Lia semalam energinya seperti terisi full.


Teman-teman Mario yang juga terkeba hukuman oleh si ketos Irfan menatap heran dengan perubahan Mario yang terbilang drastis termasuk dengan Irfan yang cukup senang karena tidak perlu adu mulut lagi jika berurusan dengan Mario.


" Kenapa tuh anak, tumben belakangan ini gak ngebantah kalau loe hukum?" tanya Yoga yang kini berdiri di pinggir lapangan bersama Irfan.


" Ya bersyukur aja teman kita ada yang insaf dengan begitu kita kan gak perlu capek-capek tuh adu mulut sama dia kalau dianya Udah nurut gitu" sahut Leo mewakili Irfan


" Nah benar tuh kata Leo, kalau kayak gini waktu kita gak akan sia-sia!" timpal Irfan.


" Udah yuk ke ruang OSIS ada yang perlu kita bahas juga buat acara lomba nanti!" ajak Irfan kepada dua sahabatnya itu.


Sementara di dalam kelas Zaira merasa kesepian karena tidak ada Lia disampingnya, Mona dan Mita juga merasakan hal yang sama sepi tanpa Lia apalagi kedua sahabatnya Mia dan Indah juga tidak masuk sekolah karena kondisi mereka yang baru pulih jadi butuh istirahat yang cukup.


" Za loe tau gak sih tentang malaikat penolong yang Lia maksud?" tanya Mona yang masih saja penasaran.


Zaira terdiam, ingin rasanya dia mengatakannya tapi Zaira urungkan karena yang berhak mengatakan kepada teman-temannya adalah Lia. Zaira juga takut kalau nanti Lia akan kecewa padanya jika dia memberitahu Mona dan Mita sekarang.


" Malaikat penolong, maksudnya?" tanya Zaira pura-pura bodoh.


" Lah elo nanya sama Za, mana dia tau oncom!" Mita menoyor kepala Mona.


" Ya kali aja Lia cerita, secara Lia itu kan adik iparnya Za!" ucap Mona


" Kan loe tahu sendiri Mona, Lia itu kalau masalah hati dan perasaan apalagi udah berbau-bau cinta paling bisa dia menyembunyikannya dari kita. apalagi yang loe omong barusan tuh, apa tadi malaikat penolong. ada gitu?" ujar Zaira yang sedikit katanya ada benarnya kalau Lia memang orang yang pandai dalam menyimpan masalah perasaan.


Bel berbunyi menandakan pertama pelajaran pertama akan dimulai dan obrolan mereka pun dihentikan.


Setelah selesai jam pelajaran pertama tibalah saatnya jam olahraga, dimana para siswi dengan semangatnya mengikuti jam pelajaran olahraga tersebut selain waktu jam olahraga memang terbilang santai ditambah lagi gurunya yang ketampanannya membuat para siswi terkagum-kagum.


Meskipun mereka sudah tahu hubungan Zaira dengan pak guru olahraga tetap saja mereka yang suka dengan guru olahraga mereka itu selalu bersikap caper bila didepan guru mereka itu.


Prinsip mereka ya seperti biasa sebelum Zaira dan guru mereka itu menikah, maka masih ada kesempatan untuk mendekatinya.


Mereka belum tahu saja keadaan yang sebenarnya jika mereka tahu bukan hanya sudah menikah bahkan Zaira kini sudah berbadan dua akibat ulah pak suami yang tidak pernah ada puasnya.


" Za loe gak panas gitu ngeliat tuh ulat-ulat keket pada nempel sama laki loe?" tanya Mona yang berdiri di samping Zaira


" Ya ngapain juga gue panas yang penting laki gue gak macam-macam kalau udah berani yang aneh-aneh baru gue bertindak" sahut Zaira melipat kedua tangannya di dada.


" Loe liat noh tingkah mereka ih ganjen banget sih, pingin gue jambak aja" kesal Mona yang melihat dua orang siswi sekelas dengan mereka tengah mencoba merayu dan menempel pada Azka.


" Za samperin sana!" suruh Mona menyenggol lengan Zaira.


Azka yang dari kejauhan melihat Zaira tengah melipat kedua tangannya di dada dengan wajah yang datar menatap tajam ke arahnya, langsung beranjak pergi dari kerumunan siswi-siswi yang tengah mencari perhatian darinya.


" Loh pak mau kemana?" tanya salah satu siswi yang memang ngefans banget dengan Azka.


Azka tidak menggubris ocehan para muridnya dengan santainya Azka berjalan menghampiri Zaira dan dua sahabatnya.


Saat ini Azka sudah berdiri tepat di depan Zaira, para murid lainnya yang melihat Azka lebih memilih menghampiri Zaira mendengus kesal.


" Dasar kecentilan dan sok kecakepan!" umpat salah satu siswi penggemar berat sang guru olahraga.


" Kenapa kalian disini tidak ikut gabung dengan yang lain?" tanya Azka kepada Zaira dan dua sahabatnya.


" Males!" ucap Zaira sambil mendekap kedua tangannya di dada.


" Cih, lihat tuh gayanya songong banget Zaira. Baru jadi calon udah belagu kayak gitu apalagi kalau udah sah jadi isterinya." Cibir Mila salah satu teman sekelasnya yang juga suka dengan Azka.


" Loe hati-hati deh Mil sama Zaira cs kalau gak mau bernasib sama seperti Putri cs yang sekarang bahkan gue dengar kak Rangga ikut kena terlibat loh, sayang bangetkan udah mau lulus malah masuk pesantren dadakan" ucap salah satu teman Mila.


" Maksud loe kak Rangga Erlangga?" tanya Mila.


" Iya, yang gue dengar ya mereka itu udah bertindak kriminal dengan Zaira cs ya loe kan tau Lia itu anak siapa otomatislah yang udah berani ngusik dia pasti habis gak tersisa.


" Sudah-sudah gibahnya, nanti malah kalian yang kena masalah!" ucap temannya yang lain.


" Ayok kumpul di lapangan, atau kamu mau kembali ke kelas saja?" tanya Azka kepada Zaira


" Di sini saja, tapi jangan ganjen-ganjen baby kita tidak suka melihat daddy-nya ganjen !" ucap Zaira membuat Mona dan Mita menahan tawanya.


" Baby apa mommy-nya yang gak suka?" goda Azka.

__ADS_1


" Terserah saja!" ucap Zaira yang langsung melengos pergi meninggalkan Azka begitu saja. Mita dan Mona mengekor di belakangnya dengan menahan tawanya sedari tadi.


" Za, sebaiknya nih ya saran gue, loe itu gak usah perlihatkan ke mereka sikap cemburu loe itu, bersikap biasa aja Za biar mereka beranggapan pak Bagaz yang justru bucin sama loe bukan sebaliknya!" saran Mita.


" Iya gue setuju itu Za, jangan sampai mereka melihat loe terlihat lemah. bikin mereka semua baper Za!" timpal Mona.


" Iya juga ya" sahut Zaira


" Ingat Za pelakor itu muncul karena adanya kelengahan dan juga kesempatan" ucap Mona.


" Betul tuh Za!" sahut Mita " Jadi jangan kasih celah dan peluang untuk para ulat-ulat keket makin mepet ke laki loe" tambahnya lagi.


" Asiaap!" ucap Zaira mengacungkan ibu jarinya.


Azka mengabsen semua murid yang ada setelah itu seperti biasa sebelum olahraga dimulai ia menyuruh murid-muridnya melakukan pemanasan.


Disaat para murid yang lain tengah lari mengelilingi lapangan Azka menyuruh Zaira untuk duduk dan istirahat, ada sebagian murid yang tidak suka dengan sikap Azka yang seolah memanjakan dan memprioritaskan Zaira.


Cibiran demi cibiran dilontarkan pada Zaira, tapi kali ini Zaira memilih bersikap cuek ya resikonya punya suami ganteng gurunya sendiri lagi wajarlah kalau banyak yang iri.


Setelah jam sekolah usai Zaira seperti biasa pulang bersama Zaira dan pemandangan itu tentu saja selalu menjadi pusat perhatian para murid lainnya, bukan hanya para murid yang tidak suka dengan hubungan Zaira dan Azka tapi Bu Mayang yang dari awal Azka mulai mengajar di SMA Darma Bangsa sudah menaruh ketertarikannya kepada Azka, walaupun tidak pernah ditanggapi oleh Azka.


Zaira masuk ke dalam mobil Azka dan dari jarak jauh semua pergerakan Zaira tidak luput dari tatapan mata seseorang.


" Mas kita langsung ke rumah sakit ya!" pinta Zaira saat sudah berada di dalam mobil bersama Azka.


" Kita pulang dulu sayang, ganti baju makan siang istirahat baru setelah itu kita kesana" kata Azka sambil mengelus perut buncit Zaira.


" Kenapa gak langsung aja sih mas?" protes Zaira


" Kamu itu butuh istirahat sayang, ingat kamu itu gak boleh capek-capek, dan si dedek juga pasti sudah lapar mau maem!" sahut Azka yang masih mengelus lembut perut Zaira.


" Yaudah deh iya, tapi sebelum pulang beli rujak yang ada di pertigaan jalan dulu ya mas!"


" Iya sayang" Azka mengacak-acak rambut Zaira.


...❤️❤️❤️...


Di sekolah


" Mobil gue dibawa nyokap gue arisan" sahut Mita dan Mona hanya mengangguk pelan.


" Terus loe pulangnya naik apa soalnya gue juga gak bawa mobil ?" tanya Mona


" Cih, dasar gue kira loe bawa mobil nanya kayak gitu"


" Mobil gue tadi bannya kempes jadi ya gue minta anterin sama sopir bokap gue" ucap Mona dengan cengengesan.


" Yaudah, pesan taksi online aja yuk!" ajak Mona


" Gak usah, tuh ada taksi lewat" Mita menunjuk mobil taksi yang melaju ke arah mereka berdiri.


Pada saat Mona hendak memberhentikan taksi yang melintas dari arah belakang mobil hitam yang tidak asing lagi dimata Mita membunyikan klakson sangat keras membuat taksi yang melintas tidak jadi berhenti.


" Ah ngeselin banget sih tuh mobil, main klakson aja gak jadi berhenti kan tuh taksi,!" umpat Mona dengan menghentakkan kakinya,


sedangkan Mita menyipitkan matanya memastikan apa yang dilihatnya.


Mobil tersebut berhenti tepat di mana Mita dan Mona berdiri dan saat kaca mobil dibuka menyembulah sosok pria tampan dengan senyum mengembang.


" Ayok naik!" ajak dokter Ariel yang berada di dalam mobil hitam tersebut.


Mona berjingkrak kegirangan saat tahu mobil yang tadi dia umpat ternyata milik dokter tampan.


" Dokter Ariel!" sapa Mona dengan wajah riang sementara Mita yang berdiri di belakang Mona karena tadi Mona mendekat ke arah dokter Ariel hingga membelakangi Mita.


" Mau pulangkan?" tanya dokter Ariel


" Iya, apa pak dokter mau mengantar kami pulang lagi?" Mona menoleh ke Mita yang nampak menggelengkan kepalanya.


" Iya ayok aku antar kalian pulang" dokter Ariel keluar dari dalam mobil memutari mobilnya dan membukakan pintu mobil untuk Mita tapi sayang Mona malah yang lebih dulu masuk dan duduk di depan.


Mita lalu membuka pintu belakang dan masuk tanpa menoleh ke arah dokter Ariel.

__ADS_1


Dokter Ariel membuang napasnya kasar sebelum masuk ke dalam mobilnya.


Di sepanjang perjalanan hanya Mona yang sedari tadi berisik dengan ocehannya sementara Mita dan dokter Ariel hanya menanggapi omongan Mona dengan senyum, mengaguk dan sesekali tertawa kecil.


Diam-diam dokter Ariel mencuri pandang dengan Mita melalui kaca spion. Tatapan mata mereka pun bertemu dan dokter Ariel langsung melemparkan senyum manisnya membuat Mita langsung bersemu dan menoleh ke samping menutupi wajahnya yang sudah merah merona.


Mona sama sekali tidak melihat dua insan yang tengah jatuh cinta itu saling melirik dan mencuri pandang, bahkan keduanya sesekali melempar senyum.


Tanpa terasa mobil sudah terparkir tepat di depan rumah Mona.


" Mita pindah ke depan!" pinta dokter Ariel saat Mona hendak membuka pintu.


" Dokter terima kasih ya tumpangannya!" ucap Mona.


" Iya sama-sama"


Setelah Mona turun, Mita pindah duduknya ke depan samping dokter Ariel.


" Dokter titip teman saya yang satu ini ya!" ucap Mona sebelum beranjak masuk ke dalam rumahnya.


" Mona apa-apaan sih loe!" Mita mendengus kesal.


" Awas Mit , hati-hati jangan sampai jatuh cinta ya sama pak dokter tampan!" bisik Mona lalu tertawa


Deg


Ucapan Mona membuat Mita tertegun dan terasa sulit menelan salivanya. "Apa Mona menyukai dokter Ariel?" batin Mita membuat dia berpikir keras.


Disepanjang jalan Mita hanya terdiam, kata-kata Mona entah kenapa begitu mengganggu pikirannya saat ini, ada rasa takut dan juga bingung jika apa yang ada di benaknya ternyata benar adanya.


Dokter Ariel sedari tadi memperhatikan Mita yang nampak gelisah.


" Kamu kenapa?" tanya dokter Ariel membuyarkan lamunannya.


" Apa?" tanya Mita yang memang tidak fokus.


" Kamu kenapa dari tadi diam saja dan seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat ?" tanya dokter Ariel.


" Tidak apa-apa dokter"


" Jangan panggil aku dokter jika kita sedang berdua saja!" pinta dokter Ariel.


" Panggil aku kakak seperti Al atau mas juga boleh sebagai calon suami kelak biar terbiasa" ucapnya lagi.


" Kakak saja kalau begitu!" sahut Mita dengan nada datar


" Tapi kenapa aku lebih suka kamu memanggilku mas ya dari pada kakak? setidaknya biar tidak sama dengan Al adikku!"


" Tapi saya justru lebih suka panggil kakak biar sama dengan Zaira. karena kakak Zaira berarti kakak saya juga" ucap Mita.


" Tapi aku tidak mau kamu menganggapku sebagai Kakak karena aku ingin kamu kelak menjadi isteriku" ucap dokter Ariel lantang dan tegas


Dokter Ariel lalu membanting setir ke kiri dan menghentikan laju mobilnya.


Mita melotot saat mobil berhenti dan langsung menoleh ke arah dokter Ariel.


Dokter Ariel melepaskan seatbelt lalu menggeser duduknya hingga menghadap ke arah Mita.


" Maaf jika aku tidak pandai merangkai kata-kata tapi hanya satu yang harus kamu tahu Mita Paramita, aku serius dengan ucapanku kemarin dan hari ini. aku tidak peduli jika kamu menolaknya tapi setidaknya aku sudah berusaha untuk berkata jujur dengan perasaanku sendiri dan juga kepadamu tentunya!" dokter Ariel menjeda ucapannya sejenak menghirup udara banyak-banyak.


" Kamu yang sudah mengeluarkan aku dari dunia keegoisanku, membantuku menyadari cinta dan obsesi itu dua hal yang berbeda. kamu yang membuatku bangkit dan sedikit demi sedikit keluar dari keterpurukan ku atas perasaanku yang bodoh itu. saat aku tidak melihat mu ditaman justru aku merasa sangat kehilanganmu, aku merindukan mu Mita, aku membutuhkan mu Mita... aku..." dokter Ariel terdiam sejenak. " Apa kali ini aku kembali salah dalam meletakkan cinta? apa aku harus kembali merasakan rasa sakitnya patah hati?" tanya dokter Ariel dengan tatapan sendu.


" Ah ternyata aku ini hanya seorang dokter pecundang yang gagal dalam hal cinta untuk yang kedua kalinya" dokter Ariel tertawa getir.


" Sudahlah lupakan, anggap saja aku tidak pernah mengatakannya. sangat memalukan sekali ya dokter tampan seperti ku ditolak dua kali dan parahnya yang menolak ku dua-duanya masih duduk di bangku SMA." dokter Ariel tersenyum tapi senyum yang dipaksakan.


Mita terus menatap lekat wajah dokter tampan yang kini berwajah sendu itu. Sebenarnya dalam hatinya ia pun merasakan hal yang sama namun mengingat ucapan Mona tadi membuat Mita merasa ragu dengan perasaannya sendiri.


Ia takut perasaannya terhadap dokter Ariel adalah sebuah kesalahan. dia tidak ingin mengecewakan siapapun. rasanya ini terasa sangat berat untuk seorang Mita Paramita.


" Aku akan mengantarkan mu pulang!" ucap dokter Ariel lalu memakai seatbeltnya dan menyalakan mesin mobilnya kembali.


Mita menunduk dengan berbagai macam rasa yang bergejolak di dalam hatinya.

__ADS_1


Disepanjang perjalanan menuju rumah Mita keduanya tidak ada yang memulai pembicaraan, mereka terdiam dengan pikirannya masing-masing.


Mobil sampai di depan rumah Mita sebelum keluar dari dalam mobil Mita mengatakan sesuatu yang mampu membuat wajah sendu dokter Ariel berubah seketika. Senyum pun terbit tatkala Mita sudah masuk ke dalam rumahnya.


__ADS_2