Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Bab 5


__ADS_3

Ivy menopang dagu dengan tangan kirinya di balkon apartemennya. Karena hari ini hari minggu Ivy lebih memilih bermalas-malasan di apartemennya saja. Menghirup dalam-dalam udara basah yang selalu menjadi kesukaannya.


Tiba-tiba wajah zena terlintas di pikirannya. Tanpa pikir panjang Ivy mengambil jaket, dompet dan mengenakan sepatu converse merah favoritnya.


Ivy dan Zena bukanlah saudara atau keluarga, awalnya mereka berdua sama-sama orang lain di hidup mereka.


Flashback


Ivy kecil sedang menangis di depan makam kakeknya, dia sendirian karena keluarganya yang lain sudah meninggalkan tempat itu terlebih dulu. Mata dan pipinya merah karena terus menangis.


Di saat semua menganggapnya asing dan selalu memanggilnya anak haram karena ibunya hamil sebelum menikah dengan ayahnya. Hanya kakeknya lah yang selau menganggapnya ada dan spesial. Maka dari itu Ivy tidak mendapatkan nama belakang ayahnya, dia selalu dianggap orang asing di keluarganya sendiri.


Semenjak kakeknya pergi, Ivy menjadi pemurung dan pendiam, dia juga menjadi seseorang yang tak berekspresi. Seluruh keluarganya selalu membedakannya. Di sekolahkan di sekolah yang berbeda, perlakuan berbeda, fasilitas yang berbeda. Bahkan Ivy juga sering di pukul dengan rotan ketika berbuat kesalahan. Namun Ivy tidak masalah hal itu.


Tapi, ada satu hal yang membuatnya trauma sampai sekarang, ruangan kecil dan gelap. Kedua kakak kembarnya selalu mengurungnya di lemari kecil ketika mereka menganggap Ivy mulai berani dengan mereka.


“rasakan itu! kau sudah berani dengan kami? Dengar ya anak haram, mati saja kau tidak ada yang peduli”


“hahahahaha”


Setelah suara kaki itu menjauh Ivy mulai menangis dan memeluk dirinya sendiri selama satu hari, tanpa makan, minun dan cahaya.


Sampai suatu saat ketika Ivy mencoba kabur dari rumah tanpa persiapan dan bekal apa pun, seorang gadis yang terlihat sedikit lebih tua darinya datang dan memberinya sebuah bunga.


“aku hanya punya ini, ini akan membuatmu lebih baik. Nanti kalau aku punya makanan aku akan membaginya denganmu, oke?”


senyumnya sangat cerah dan tulus.


Semenjak hari itu Ivy selalu menganggap Zena adalah keluarganya. Lebih tepatnya orang asing yang ia anggap sebagai keluarganya sendiri.


Baginya, Zena itu kuat dan tangguh, dia juga tidak patah semangat untuk mengejar mimpinya sebagai atlet bela diri nasional.


Berbeda dengan keluarganya yang bergelimang harta, Zena hidup sendiri dan sederhana, ia juga mengajari Ivy banyak hal.


Sampai suatu saat orang suruhan kakeknya datang mencari Ivy, mengatakan bahwa Ivy mendapatkan 50% warisan dari kakeknya dengan syarat ia harus kembali ke rumah.


Sudah bisa di tebak, sesampainya di rumah hampir semua orang memukulnya dan membencinya karena mendapatkan harta yang sangat besar dari kakeknya.


Setelah kejadian itu Ivy lebih memilih untuk hidup sendiri.


“kau mau ikut denganku?” tanya Zena.


“kemana?”


“ke tempat orang-orang seperti kita”


“baiklah” mereka berdua pergi dengan dandanan aneh dan menutup wajah mereka dengan topeng. Mereka juga mengubah nama mereka dengan sebuah inisial. Zena (A.Z) dan Ivy (tree), ya A.Z adalah milik Zena dan Ivy memakainya untuk sekarang karena Zena sedang berjuang dengan dirinya sendiri.


“tempat macam apa ini?”


“kau akan paham pada saatnya, kau bisa belajar ,menjaga diri dengan datang di tempat seperti ini. Aku tahu kau tidak suka bau alcohol dan rokok, tapi bertahanlah”


Sejak hari itu mereka terus datang ke arena untuk bertanding dengan orang-orang random, tapi tetap saja perempuan dengan perempuan, laki-laki juga dengan laki-laki. Mereka terus kalah dan menang, mereka menyukainya dan terasa bahwa itu adalah jalan hidup mereka. Tertawa bersama seakan hidup mereka baik-baik saja.


sampai suatu ketika.


“zen ayo berangkat!”


“zen! Kau di mana?”

__ADS_1


“ZENA!”


Ivy menunggu zena yang sedang kritis di rumah sakit sambil menunggu diagnosis dari dokter yang menanganinya. Tangannya berkeringat dingin karena ini kali pertama dia melihat Zena seperti itu.


“kanker darah?” ucapnya tidak percaya setelah membaca kertas hasil lab milik Zena. Setelah hari itu juga Zena selalu berada di rumah sakit bersama pengobatannya dan Ivy hampir setiap hari datang mengunjunginya. Walau pun penyakitnya sudah stadium akhir, Zena masih selalu menunjukkan senyum indahnya untuk Ivy.


End.


Ivy sedang memilih-milih bunga di toko bunga pinggir jalan. Bunganya terlihat sangat segar dan cantik.


“kamu juga kemari?”


“Adam?”


“yaps, aku juga sedang mencari bunga untuk sahabatku yang aku ceritakan tempo hari, apa kau juga mau ikut mengunjunginya?” Ivy berpikir sebentar lalu mengangguk.


“kalo boleh tahu kamu beli bunga untuk siapa?”


“ah, ini untuk sahabatku yang sedang sakit, tapi bingung memilih bunga apa”


“orang sakit ya? Bagaimana kalau bunga anyelir ini, melambangkan cinta dan kasih sayang. Sangat tepat bukan?”


“waaah rupannya kau tahu soal bunga ya”


“hanya sedikit, eh, tunggu sebentar” Adam menyelipkan bunga aster di sela rambut Ivy dan sedikit menyibakkan rambut coklatnya.


“sudah ku duga kamu sangat cantik” ucap Adam sambil tersenyum sangat manis, bahkan Ivy masih memandangi wajahnya untuk beberapa saat. Berbeda dengan Juan yang dingin dan semaunya sendiri, Adam sangat ramah dan baik. Adam juga sering tersenyum dan bisa menghargai orang lain. Tanpa Ivi sadari, senyumnya yang lama hilang telah kembali di wajah cantiknya.


“ih apaan sih”


“hahahaha”


.


.


.


“jadi hanya seperti ini kinerja kalian?” lagi-lagi suara dingin Juan menjadi badai bagi karyawan perusahaannya. Beberapa dari mereka meneguk ludah mereka sendiri Karena tidak bisa menjawab. Habis sudah.


“kenapa kalian tidak bisa menjawab? Saya sudah memberikan waktu dan hasilnya tetap”


“Flyyn!”


“bagaimana tuan?”


“coret mereka semua dari daftar pekerja di sini” setelah mengatakannya Juan berlalu pergi dari ruang rapatnya. Melonggarkan sedikit dasinya yang terasa sesak.


Menyalakan satu batang rokok dan mulai menghisapnya. Merbahkan tubuhnya di sofa ruang kerjanya tanpa melepas sepatu, dia terlihat lelah. Jelas terlihat dari kerutan di wajahnya dan kantung mata hitam di wajahnya yang tampan.


Beeeep,,,beep,,beep


“halo?”


“siapa?”


“ini aku, aku akan datang menemuimu lagi, ku mohon jangan menghindariku lagi Jo. Besok aku akan,,,,,”


Belum sanga penelpon melanjutkan kalimatnya, Juan lebih dulu mematikan telpon itu scara sepihak dan tidur.

__ADS_1


.


.


.


“baik sesuai dengan penjelasan saya tadi silahkan anda baca lagi di buku dan tanyakan jika ada yang kurang dimengerti”


“pak Juan?”


“ya?”


“bapak terlihat berbeda, apa bapak sedang sakit?”


“maaf saya hanya akan menjawab pertanyaan seputar pelajaran saja”


“baik pak maaf sudah lancang”


Ivy melihat ke arah luar dengan tatapan kosong, namun dengan cepat ia menyadarkan dirinya dan melihat ke arah papan. Tanpa sengaja tatapan mereka (Ivy dan Juan ) bertemu dan saling pandang cukup lama.


“vy?”


“eh iya kenapa?”


“kok liatin pak Juan mulu, naksir ya? Aku tau kok pak Juan memang tampan” ucap Nina sambil tersemu-semu dengan ucapannya sendiri.


“apaan sih ga jelas banget”


“iya deh kayaknya pak Juan sedang sakit, wajahnya keliatan capek gitu” cerocos Nina, dan untung saja Juan tidak menyadarinya karena sedang sibuk dengan setumpuk buku siswa yang harus ia koreksi di mejannya.


Spontan Ivy lengsung melihat Juan, dengan sembunyi-sembunyi tentu saja. Bisa mati kutu dia kalu ketangkep sedang memadangi Juan. Ivy tidak bisa meyalahkan apa yang Nina barusan katakan, wajahnya terlihat sangat capek dan pucat.


Teeet,,,teeeet,,,teeet.


“baiklah kelas saya akhiri sampai di sini, jangan lupakan tugas halam 135-140 di kumpulkan besok di meja saya”


“baik pak”


“oh iya, nona Burnett silahkan menemui saya di ruangan saya” ucapnya lalu pergi.


“eh, baik pak”


“ayo loh Ivy cari masalah mulu sama guru galak, gak kapok apa?” Nina geleng-geleng sendiri.


“emang salahku apa? Perasaan nggak buat masalah apa-apa deh, ah udahlah by Nin”


Mau tidak mau Ivy harus menemui Juan di ruangannya. Dasar otoriter, nyuruh orang seenaknya sendiri. Manusia apa bukan sih, sebal Ivy. Sepanjang koridor Ivy tidak bisa diam merutuki sikap Juan yang semaunya saja.


Tok,tok,tok


“masuk”


“permisi pak?”


“duduk saja di sofa” Juan merapikan berkas-berkas di meja kerjanya dan melonggarkan dasinya agar terasa lebih nyaman.


“maaf pak, saya buat kesalahan apa lagi ya pak?” bukannya menjawab, Juan justru mendatangi Ivy dan tidur di sofa dengan paha Ivy sebagai bantalnya. “maaf pak,,”


“sebentar saja, aku sangat lelah hari ini” sela Juan, suaranya juga terlihat sangat lelah, mau tidak mau Ivy hanya menurut saja. Juan menghadap ke peruta rata Ivy dan memeluknya. Napas Juan perlahan semakin teratur, tanda kalau dia sudah benar-benar tidur. Ivy yang sedikit tidak tega, ia mengelus-elus rambut Juan yang tidak terlalu panjang itu dengan lembut sambil bersenandung kecil.

__ADS_1


“akan ku akui kalau kau itu tampan” hidung mancung, mata hitam legam, tinggi dan atletis. Siapa saja pasti mengatakan hal yang sama bukan (?)


__ADS_2