Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Season 2 Khanza


__ADS_3

Baru saja merasa sedikit tenang tiba-tiba mereka dikejutkan oleh beberapa suster dan dokter yang masuk ke dalam ruangan Nana dengan keadaan tergesa-gesa.


" Nana!" Haris dan Hana kembali dibuat tegang dengan keadaan Nana


...Hening...


Hana dan Haris tidak ada yang bersuara keduanya sama-sama sibuk dengan memanjatkan doa untuk keselamatan Nana yang tengah berjuang di dalam sana


Billy datang menghampiri keduanya, melihat wajah Hana dan Haris yang nampak tegang dan gelisah membuat Billy pun merasa khawatir


" Ada apa?" tanya Billy pada Hana


" Entahlah, tadi beberapa dokter dan suster masuk dalam keadaan tergesa-gesa aku sungguh khawatir dengan keadaan Nana" jawab Hana dengan perasaan yang sudah bercampur aduk


" Kita doa kan saja semoga Nana baik-baik saja" ucap Billy seraya menepuk bahu Hana


" Kamu belum makan dari tadi pagi, sebaiknya sekarang kamu dan bang Haris makan dulu ya!" ucap Billy merangkul bahu Hana mengajaknya untuk duduk di kursi tunggu


" Aku belum lapar sebaiknya suruh bang Haris saja yang makan!" ucap Hana


" Aku tahu bagaimana kekhawatiran kamu sama Nana tapi kalau kamu tidak mau makan bagaimana kalau kamu jatuh sakit siapa yang akan menemani Nana?" bujuk Billy karena Hana menolak untuk makan


" Tapi _"


" Tidak ada tapi-tapian, jika Nana tau dia juga akan marah sama kalian berdua" ucap Billy


Hana mencerna kata-kata Billy lalu ia beranjak dari duduknya dan menghampiri Haris


" Bang kita makan dulu yuk!" ajak Hana


Haris menoleh dengan wajah sendunya, sungguh Hana tidak tega melihat kesedihan di wajah sang kakak


" Abang belum lapar, kamu saja gih yang makan sana!" tolak Haris


" Tapi abang juga harus makan, bagaimana abang bisa menjaga dan menemani Nana jika tubuh abang lemas tidak ada tenaga karena tidak mau makan!" ucap Billy yang kini sudah berdiri di sampingnya


" Jika abang sakit karena tidak mau makan Nana pasti akan sedih bang" lanjutnya


" Iya bang, kita makan dulu yuk biar abang ada tenaga untuk menjaga dan menemani Nana" bujuk Hana


" Iya abang harus makan, biar saat Nana sadar bang Haria ada disampingnya!" ucap Billy memberi semangat


Haris menatap Billy dan Hana bergantian sedetik kemudian ia pun akhirnya mengangguk


" Baiklah, abang makan" Hana dan Billy pun tersenyum


" Ayo bang!" ajak Hana


" Kami pergi dulu, jika ada sesuatu tolong kabari kami!" ucap Hana pada Billy


" Iya, kamu tenang aja ya!" sahut Billy


Hana dan Haris pun pergi ke taman yang ada di rumah sakit tersebut dan letaknya tidak jauh dari ruang ICU tempat Nana di rawat


Mereka tidak boleh makan ditempat sembarangan karena kebersihan adalah hal yang utama jadi mereka memilih makan ditaman tersebut


Tidak berapa lama kepergian Hana dan Haris beberapa dokter pun keluar dari ruangan tersebut, Billy beranjak dari duduknya dan bergegas menghampiri salah satu dokter yang ia kenal yaitu dokter Malik.


" Dokter bagaimana keadaan pasien?" tanya Billy cemas


" Kamu-?" tanya dokter terjeda


" Saya temannya dokter karena kedua orang tuanya_" Billy menjeda kata-katanya


" Iya, saya tahu saya juga turut prihatin" sahut dokter cepat karena dia juga tahu nasib yang menimpa Nana


" Tadi pasien sempat mengalami kejang-kejang dan kondisinya sangat buruk dan sekarang sudah mulai sedikit stabil tapi_" dokter Malik menarik napasnya dalam-dalam


" Tapi apa dokter?" Billy semakin gelisah


" Pasien masih dalam keadaan kritis dan belum dikatakan membaik"


Deg


Billy terkejut hingga mundur selangkah, bagaimana jika bang Haris dan Hana tau mereka pasti akan sangat sedih.


" Berdoa saja, semoga ada keajaiban untuk pasien melewati masa kritisnya. jika melewati malam ini kondisinya semakin baik maka dia bisa melewati masa kritisnya tapi jika tidak hanya Tuhanlah yang maha menentukan, kami hanya bisa berusaha semaksimal mungkin" ucap dokter Malik seraya menepuk bahu Billy


" Iya dok, terima kasih banyak" ucap Billy


" Sama-sama!" setelah itu dokter Malik pun pergi meninggalkan Billy yang masih nampak syok


" Billy bagaimana keadaan Nana, apa dokter sudah keluar?" tanya Haris yang baru saja kembali bersama Hana


Billy terkejut karena tiba-tiba Haris datang dan memberondong dirinya dengan pertanyaan


" Emmm... sudah bang, tadi dokter Malik sudah keluar dan_" Billy menjeda kata-katanya meminta bang haris untuk duduk terlebih dahulu


" Dan apa?" tanya Haris setelah dia duduk di samping kiri Haris dan Hana duduk di samping kanannya


" Dan dokter Malik bilang kita tidak boleh berhenti berdoa, berharap ada keajaiban untuk Nana" jawab Billy membuat Haris sedikit bingung mencernanya


" Mak... maksudnya?" tanya Haris sedikit gugup takut terjadi hal buruk yang menimpa Nana


" Tadi dokter bilang Nana sempat mengalami kejang-kejang dan kondisinya memburuk, jika malam ini Nana bisa melewati masa kritisnya kemungkin Nana sembuh itu ada tapi jika kondisinya tidak mengalami perubahan kita hanya bisa berdoa bang dan berharap keajaiban itu akan datang" ucap Billy yang langsung membuat Haris lemas seperti jiwa yang lepas dari raganya.


Hana pun tidak bisa lagi membendung air matanya, ia pun terisak dalam diam


Billy yang mendengar Hana terisak langsung menoleh ke arahnya lalu membawanya dalam pelukannya.


" Kita berdoa ya untuk Nana!" Billy mengusap-usap punggung Hana


Sementara di ruangan lain yang didominasi dengan warna putih seorang pasien juga tengah terisak mengingat keadaan sahabatnya

__ADS_1


" Sayang udah dong jangan nangis terus!" bujuk Aldy pada Khanza yang sedari tadi tidak kuasa untuk menahan tangisnya


" Aku juga tidak mau menangis mas, tapi setiap kali ingat Nana hatiku sedih mas" sahut Khanza


Saat ini mereka hanya berdua karena ibu dan Izan sudah Khanza suruh pulang, kasihan Izan katanya kalau harus bermalam di rumah sakit sedangkan mama Maria sudah lebih dulu di jemput pulang oleh papa Sam.


" Kita berdoa saja ya, semoga Nana cepat sembuh" ucap Aldy pelan


" Iya mas, tapi_"


" Tapi apa?"


" Mas aku mau menelpon Hana boleh ya mas, aku mau tahu bagaimana kondisi Nana saat ini!"


" Tapi sebaiknya besok saja sayang, sekarang sudah malam. kamu istirahat aja ya!" bujuk Aldy


" Tidak mas aku maunya sekarang, bagaimana aku bisa istirahat mas kalau pikiran aku enggak tenang begini" sahut Khanza


" Sayang jika kita telpon sekarang bagaimana kalau ternyata Hana sedang istirahat?"


" Telpon Billy aja kalau gitu dia pasti tidak akan tidur" Khanza masih bersikeras


" Mas, please" Khanza memohon


" Baiklah" Aldy pasrah lalu beranjak dari duduknya mengambil ponsel Khanza yang berada di atas nakas.


Tuuuuttt


Tuuuuttt


Dua kali panggilan akhirnya terhubung juga dengan Billy.


" Hallo, Assalamualaikum Billy!" Aldy


..." Wa'alaikum salam, pak"...


" Mas sini aku aja yang bicara dengan Billy!" pinta Khanza menengadahkan tangannya


" Biar mas aja yang bicara" tegas Aldy karena dia takut jika mendengar langsung berita tentang Nana takutnya ada hal buruk dan Khanza bisa syok lagi.


" Maaf Billy"


..." Iya enggak apa-apa pak"...


..." Bagaimana keadaan Khanza pak?"...


" Sudah baikkan, hanya saja sedari tadi terus merengek ingin tahu kondisi Nana sekarang "


Billy terdiam


" Billy!" panggil Aldy karena tiba-tiba Billy terdiam


..." Sebaiknya Khanza jangan diberitahu dulu ya pak, takutnya dia kembali syok"...


..." Nana masih kritis pak" ...


Aldy terkejut tapi berusaha untuk tetap bersikap tenang agar Khanza tidak curiga


..." Tadi dia sempat kejang-kejang dan dokter bilang jika dia bisa melewati kritisnya malam ini kemungkinan untuk sembuh itu ada tapi jika tidak_" Billy menjeda kata-katanya...


..."Hanya bisa pasrah dan serahkan semua pada tuhan yang maha menentukan segalanya pak" ...


Aldy terdiam, haruskah ia memberitahu keadaan Nana yang sebenarnya pada Khanza, tapi dia takut Khanza kembali syok dan itu sangat berpengaruh pada kehamilannya.


..." Pak!" panggil Billy...


" Iya Bill "


" Semoga Nana cepat sembuh ya Billy, salam buat Hana dan kakaknya yang sabar ya!"


..." Iya pak, nanti saya sampaikan, salam juga buat Khanza " ...


" Iya"


..." Assalamualaikum"...


" Wa'alaikum salam"


Setelah sambungan terputus Khanza yang sudah tidak sabaran langsung memberondong Aldy dengan pertanyaan


" Bagaimana mas? apa Nana baik-baik aja? dia sudah sadar belum mas? dia_?" Aldy langsung meletakkan jari telunjuknya di bibir Khanza


" Suttt"


" Bertanya itu satu-satu sayang" ucap Aldy


" Iya maaf" Khanza cengengesan


" Aku tidak tega untuk mengatakan yang sebenarnya sayang, maafkan mas ya ini demi calon bayi kita, mas takut kamu kenapa-kenapa. katakan mas egois tapi ini demi kalian sayang". batin Aldy


" Mas!"Khanza menepuk pundak Aldy karena bukan cerita malah melamun


" Iya sayang, kenapa?"


" Mas ih kok malah bertanya sih!" kesal Khanza


" Eh iya maaf sayang" Aldy jadi salah tingkah


" Bagaimana mas keadaan Nana?" tanya Khanza


" Keadaan Nana masih sama sayang, masih belum sadar. kita doakan saja ya sayang, semoga Nana cepat sadar, cepat sembuh dan bisa kumpul lagi ditengah-tengah kita" ucap Aldy bersikap setenang mungkin


" Nana!" ucap Khanza lirih

__ADS_1


" Jangan menangis lagi hem, kalau Nana melihat kamu seperti ini mas yakin dia pasti marah" Aldy mengusap pipi Khanza yang sudah basah dengan air mata


" Nana itu gadis yang kuat, saat ini mungkin dia sedang tertidur dan sangat menikmati tidurnya karena terlalu capek. kita harus sabar dan berusaha untuk membangunkan Nana dengan doa yang kita panjatkan" Aldy berusaha untuk menghibur sang isteri


" Jika kamu menangis terus yang ada akan berpengaruh buruk untuk kandungan kamu dan jika Nana sampai tahu gara-gara kamu menangisinya terus dan berdampak tidak baik pada kesehatan kamu dan juga calon keponakannya, Nana pasti akan marah besar sama kamu" Khanza terdiam dan menatap mata Aldy lekat


" Apa yang mas katakan itu benar?" tanya Khanza


" Tentu saja" Aldy mengangguk yakin


" Apa kamu lupa, sahabat-sahabat kamu itu sangat menyayangi kamu dan juga bayi yang ada di dalam kandungan kamu termasuk Nana, walaupun saat ini dia belum sadar tapi dia juga pasti akan sedih jika kamu seperti ini terus" sahut Aldy


" Dia butuh kamu, butuh sahabat-sahabatnya, jika kalian semua sedih Nana juga pasti akan sedih dan itu akan mempersulit kesembuhannya" lanjut Aldy berusaha meyakinkan Khanza


" Kamu juga harus kuat dan tegar, beri Nana dukungan sayang, dia butuh kamu butuh sahabat-sahabatnya, jika kalian rapuh bagaimana dia bisa kuat dan menghadapi semuanya sendirian" Khanza berpikir sejenak kata-kata Aldy membuatnya sedikit tenang dan juga termotivasi untuk tetap kuat tidak boleh lemah karena benar kata Aldy kalau Nana membutuhkannya.


****


Pagi menyapa, Hana, Billy dan Haris masih setia duduk di ruang tunggu menatap Nana dari balik kaca


Nicko datang bersama Luna, mereka membawakan sarapan untuk sahabat-sahabatnya yang pasti sudah sangat lelah semalam berada di rumah sakit


" Han, Bill, bang Haris!" sapa Nicko pada saat sudah berada di hadapan mereka


" Nicko, Luna!" ucap Hana Billy pun menoleh ke arah keduanya


" Bagaimana keadaan Nana?" tanya Nicko


" Masih belum sadar" jawab Hana sendu


"Semoga aja Nana cepat sadar ya!" ucap Luna


" Amin" ucap mereka serempak


" Oiya, ini gue bawain kalian sarapan!" ucap Nicko menyodorkan kantong kresek berisi sarapan untuk mereka pada Hana


" Terima kasih Ko" ucap Billy dan Hana


"Sebaiknya kalian sarapan dulu aja setelah itu pulang buat mandi, ganti baju dan istirahat sebentar kalian pasti capek kan, biar gue dan Luna yang gantiin disini!" ucap Nicko karena kasihan melihat wajah lesu keduanya


" Bang Haris sebaiknya pulang aja dulu bang, biar saya dan Luna yang disini gantiin kalian" ucap Nicko yang sudah berdiri menghampiri Haris


" Aku ingin disini saja, biar Hana dan Billy saja yang pulang!" jawab Haris lesu


" Bang, benar kata Nicko sebaiknya abang pulang aja dulu, buat bersih-bersih dan istirahat sebentar agar abang terlihat lebih segar, bagaimana kalau Nana sadar terus melihat abang dengan keadaan seperti ini, Nana pasti akan sedih bang dan merasa bersalah karena sudah membuat abang khawatir" ucap Luna


Haris menoleh ke arah Luna dan mencerna kata-katanya.


" Nana itu butuh bang Haris yang kuat, yang tegar dan ganteng" Nicko menoleh ke arah Luna seraya mengerutkan alisnya


" Kalau abang berpenampilan kusut dan lesu begini Nana pasti menyangka kegantengan abang itu udah hilang loh dan Nana pasti enggak bersemangat untuk sadar karena bang Haris nya aja udah nyerah gini!" lanjut Luna


Nicko tersenyum tipis, dia tidak menyangka Luna bisa berkata seperti itu. Luna benar-benar sudah sangat berubah tutur katanya pun begitu lembut.


Nicko kini sangat bersyukur karena bisa mendapatkan calon isteri seperti Luna yang kini sudah berubah 180 derajat dan dia juga sekarang begitu perhatian kepada sahabat-sahabatnya


Haris akhirnya mau menuruti kata-kata Luna, dia akan ikut pulang bersama Hana dan Billy.


Sebelum pulang mereka menyempatkan diri untuk sarapan terlebih dahulu, Billy akan mengantarkan Hana dan Haris terlebih dahulu setelah itu baru ia akan pulang


Setelah kepergian Billy, Hana dan Haris tidak berapa lama Miska dan Roni pun datang.


" Miska, Roni!" ucap Luna yang melihat lebih dulu kedatangan mereka dan Nicko pun menoleh ke arah keduanya


" Lun, Nicko!" sapa Miska saat mereka sudah berada di dekat mereka


" Miska, Roni" Luna balas menyapa


" Hana dan Billy kemana?" tanya Miska


" Mereka pulang dulu, buat mandi dan berganti pakaian" jawab Nicko dan Miska mengangguk mengerti


" Bagaimana kondisi Nana?" tanya Roni


" Masih sama, belum sadar" jawab Nicko


Roni dan Miska lalu berjalan ke arah kaca dan melihat Nana dari balik kaca tersebut, Miska terenyuh melihat kondisi Nana yang tubuhnya banyak terpasang alat-alat medis


Miska tidak kuasa menahan air matanya dan tubuhnya pun seketika terasa lemas dan terhuyung ke belakang, untuk saja dengan sigap Roni langsung menopang tubuh Miska


" Kamu tidak apa-apa?" tanya Roni cemas


Miska tidak menjawab hanya menitikkan air matanya.


Roni tahu Miska pasti sangat sedih melihat kondisi Miska saat ini, Roni merangkul bahu Miska dan mengajaknya untuk duduk


Luna pun ikut menitikkan air mata melihat Miska yang masih menangis dalam pelukan Roni, Luna merasa sangat terharu persahabatan mereka yang begitu kuat dan begitu saling menyayangi satu sama lain.


" Kamu kenapa?" tanya Nicko yang mengira Luna menangis karena melihat sikap Roni yang begitu perhatian pada Miska


" Apa kamu cemburu?" mendengar pertanyaan itu membuat Luna langsung menatap tajam pada Nicko


" Ngaco" jawab Luna


" Lalu?"


" Aku tuh merasa terharu pada persahabatan kalian, melihat Miska yang menangisi Nana begitu juga Hana yang terlihat sembab wajahnya tadi bahkan Khanza yang sampai dirawat setelah tahu Nana kecelakaan, sungguh sangat beruntung Nana memiliki sahabat-sahabat yang sangat menyayangi dirinya" ucap Luna terharu


" Persahabatan kalian sungguh membuat aku sangat iri" lanjutnya


" Dan kamu sudah menjadi bagian dari kami sekarang" ucap Miska tiba-tiba membuat Luna terkejut begitu juga dengan Nicko


" Miska" ucap Luna

__ADS_1


__ADS_2