Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Kabar Berita


__ADS_3

Lia dan Mario kini tengah berada di sebuah danau tempat yang dulu pernah mereka datangi, dimana tempat tersebut menjadi saksi atas perasaan mereka masing-masing.


" Yang!" panggil Lia


Mario yang tengah menatap indahnya air danau yang berwarna kehijauan langsung menoleh.


" kamu tadi panggil apa, Yang?" ucap Mario memastikan pendengarannya.


" Gak, siapa yang memanggil kamu" Lia mengelak dan langsung memalingkan wajahnya yang tengah tersipu malu.


Mario dengan jahilnya menoel pipi Lia yang memalingkan wajahnya. " Yang kok menghadap ke situ sih, bosan ya melihat wajah babang Io?" goda Mario membuat Lia seketika menoleh.


" Bicara apa sih, ngaco!" Lia cemberut


" Habisnya kamu memalingkan wajah seperti itu seakan tuh kamu enggan melihat ku lagi!" jawab Mario memelas.


" Tau ah!" kesal Lia


" Loh kok jadi marah sih yang, emang salah aku apa coba?" tanya Mario yang mulai sedikit heran dengan sikap Lia hari ini.


" Kamu itu sebenarnya kenapa sih, kok seharian ini kayaknya bawaannya tuh jutek sama aku?"


" Apa aku ada salah, apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari aku? iya?" Mario meraih tangan Lia dan mendongakkan wajahnya agar menghadapnya.


" Kamu tahu hubungan itu akan berdiri kokoh jika adanya sebuah kejujuran dan juga rasa saling percaya. apa kamu tahu My Lily mungkin hanya kamu satu-satunya wanita yang sudah banyak membantu aku untuk berubah. seperti yang selama ini kamu ketahui" Mario menjeda ucapannya.


" Apa?" tanya Lia


" Aku tahu sedikit banyaknya kamu sudah mendengar tentang aku di sekolah, bukan sombong tapi kenyataan siapa sih yang tidak kenal dengan Mario di pembuat onar dan suka gonta-ganti cewek" ucap Mario yang tersenyum miris


" Bahkan aku sempat pernah ingin melec_" Lia menutup mulut Mario dengan tangannya.


" Sudahlah Io itu sudah menjadi bagian dari masa lalu kamu, yang aku butuhkan saat ini adalah Mario my Io yang sekarang" Lia menatap lekat mata Mario.


" Apa kamu tidak malu memiliki kekasih seperti ku?" tanya Mario dan Lia menggeleng.


" Malu kenapa? semua manusia itu punya masa lalu masing-masing,baik dan buruknya masa lalu tersebut hanyalah sebuah masa lalu yang seharusnya membuat kita terus berusaha untuk menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya!" sahut Lia tegas


" Tapi bagaimana dengan tanggapan teman-teman mu jika tahu hubungan kita?" tanya Mario membuat Lia diam sejenak karena ia teringat dengan ucapan Indah yang mengatakan lebih baik dirinya bersama Rangga .


" Mereka memang sahabatku tapi yang menentukan kepada siapa hatiku ini ku sematkan hanya aku yang berhak bukan mereka. lagi pula mereka sahabatku pasti akan mendukung setiap keputusan yang aku ambil, aku percaya mereka pasti akan setuju. mereka itu hanya tidak mengenalmu jika sudah tahu aslinya seorang Mario mereka pasti menyukai mu" tutur Lia.


" Jika mereka menyukai ku lalu bagaimana dengan mu? apa kamu akan melepaskan ku untuk sahabatmu?" tanya Mario sedikit memancing Lia


" Jika kalian saling menyukai kenapa tidak, aku tidak akan pernah memaksakan perasaan ku. bagiku cinta itu tidak selamanya harus memiliki asalkan orang yang aku sayangi bisa hidup bahagia." sahut Lia membuat Mario langsung tersenyum.


" Aku tidak salah menilai mu, kau memang patut untuk aku perjuangkan!" ucap Mario menarik Lia ke dalam pelukannya.


Lia yang sadar akan sikap Mario langsung mendorong Mario. " Ingat Io kita belum muhrim jadi jangan peluk-peluk ya nanti kebablasan!" pesan Lia sambil tertawa karena melihat ekspresi wajah Mario yang lucu.


" Udah deh Yang jangan pasang wajah seperti itu, lucu tau bikin gemes!" ucap Lia yang mencubit pipi Mario gemes.


" Senang rasanya di panggil Yang sama bidadari surganya Abang!" gombal Mario.


" Mulai deh ngegombalnya" Lia mengerucutkan bibirnya.


" Mulai deh tuh bibir, minta dicium apa?" ledek Mario


" Coba aja kalau berani!" tantang Lia


" Gak ah, takut dimarahin papa Sam kalau anaknya main di cium-cium aja!" ucap Mario sambil tertawa.


" papa Sam? tunggu dulu sejak kapan kamu pangil papa sama Mamaku dengan sebutan papa dan mama ?" tanya Lia memincingkan matanya.


Sebelum berangkat saat Mario pamit mengajak Lia pergi keluar kepada papa Sam dan mama Maria Lia dibuat tercengang ketika mendengar Mario memanggil kedua orang tuanya dengan sebutan papa dan mama juga.


" Papa Sam yang memintaku untuk memanggilnya papa begitu juga dengan mama Maria" jawab Mario bangga.


" Kenapa?" tanya Lia yang merasa penasaran


" Karena papa dan mama sudah merestui hubungan kita dan bahkan papa Sam akan segera membicarakan hubungan kita dengan kedua orang tua ku" ucap Mario dengan semangat


" Maksudnya membicarakan hubungan kita bagaimana Io?" tanya Lia yang tiba-tiba menjadi bodoh


" Ya mungkin saja mereka ingin kita menikah muda, siapa tahu saja!" sontak saja jawaban Mario membuat Lia terhenyak.


" Menikah?" beo Lia


" Iya menikah, apa kamu tidak mau menikah dengan ku?" Mario menautkan kedua alisnya


" Bu.. bukan begitu Io, tapi kita masih sekolah dan masa depan kita juga masih panjang. ini masih terlalu dini jika membahas tentang pernikahan. aku masih ingin kuliah Io!" Lia beranjak dari duduknya dan berdiri di pagar pembatas.


Mario pun ikut berdiri dan menghampiri Lia.


" Lily aku tahu mungkin kamu juga masih ragu dengan ketulusan aku, tidak apa-apa ini kan cuma perkiraan aku saja. semoga saja salah dan jikapun memang benar aku pasti akan mengatakan semuanya kepada mereka. aku tidak ingin masa depan mu rusak karena keegoisan ku, aku mencintaimu jadi seperti katamu tadi asalkan kamu hidup bahagia maka aku rela menerima apapun yang menjadi keputusan mu" tutur Mario.


Lia menoleh ke arah Mario " Io bukan begitu maksud ku, kamu salah paham!" ucap Lia serba salah.

__ADS_1


" Sudahlah sayang tidak usah merasa bersalah, aku tidak apa-apa. lupakan saja pembicaraan ini. anggap saja aku tidak mengatakan apa-apa!" ucap Mario dengan senyum yang dipaksakan.


" Io aku!" ucap Lia terpotong.


" Sudahlah, sebaiknya kita pulang sekarang, langit juga sudah nampak gelap!" ajak Mario saat langit tiba-tiba berubah gelap.


Mario dan Lia saat ini tengah berada di atas motor, tidak seperti biasanya hari ini mereka nampak sedikit canggung bahkan sepanjang perjalanan tidak ada yang berbicara.


motor Mario sudah sampai di depan rumah Lia " Masuklah, salam saja kepada kedua orang tua mu!" pinta Mario


" Io aku_" lagi-lagi ucapan Lia terpotong


" Sudah jangan bahas itu lagi, aku pulang dulu. kamu jaga kesehatan dan jangan lupa makan!" pesan Mario sebelum beranjak pergi.


Setelah berpisah dengan Mario, di dalam kamar, Lia tengah meruntuki kebodohannya.


Lia menghela napasnya kasar, rasanya hatinya seketika terasa hampa. Lia terus memikirkan apa yang telah dia ucapkan kepada Mario.


" Apa yang aku katakan itu salah?" gumam Lia dalam hati.


Tokkkk.... tokkkk... tokkkk


pintu di ketuk dari luar " Iya, siapa?"


" Saya non,bi Sum!" sahut bi Sum


Ceklekk


" Ada apa bi?" tanya Lia


" Itu non ada teman non "


" Siapa bi?"


" Bibi juga kurang tau non"


" Cewek apa cowok bi tamunya?"


" Cowok non, tapi bukannya den Rio non"


" Bukan Rio lalu siapa ya bi?" Lia nampak berpikir


" Katanya sih kakak kelasnya non Lia, namanya kalau gak salah Yoga" Jawab bi Sum


" Yoga? ngapain tuh anak kesini?"


" Saya juga gak tau non!" sahut bi Sum takut-takut


" Baik non!" setelah itu bi Sum kembali ke dapur untuk membuatkan minuman sementara Lia berganti baju terlebih dahulu.


***


" Kalian?" tanya Lia yang tercengang saat melihat Yoga yang ternyata tidak datang sendiri melainkan bersama dengan Rangga.


" Sorry kalau gue ikut datang kesini!" ucap Rangga yang tahu akan keterkejutan Lia


" Iya Li, sorry atas kedatangan kita kesini, abis gue gak tahu nomor loe dan tadi waktu Rangga nelpon loe nomor loe juga gak aktif" ucap Yoga.


" Iya gak apa-apa" Sahut Lia datar


" Loe berdua kesini sebenarnya ada perlu apa ya?" tanya Lia to the points


" Apa loe sudah tahu keadaan sahabat loe Mita?" tanya Yoga hati-hati


" Maksud loe apa ya bicara kayak gitu?" tanya Lia yang sedikit emosi


" Sorry Li tapi loe tenang dulu, gue juga gak tau pasti sih tapi tadi sewaktu gue nganterin Oma gue kontrol ke rumah sakit gue gak sengaja melihat cewek yang mirip banget sama Mita dengan wajah yang berlumuran darah dibawa oleh suster ke ruangan IGD bersama seorang wanita paruh baya yang gue pernah liat waktu berbelanja bersama Mita di supermarket". ucap Yoga


" Bohong loe pasti ngarang kan?" bantah Lia


" Gue juga gak tau pasti Li tapi gue beneran gak bohong. orang yang gue lihat itu mirip banget sama Mita dan juga nyokapnya dan keduanya dalam keadaan pingsan!" Yoga meyakinkan


" Kalau loe gak percaya loe bisa coba telpon ke nomornya Li?" saran Rangga


Lia langsung menghubungi nomor Mita.


Tutt.... tutt..


📲 Lia


" Hallo, Assalamu'alaikum!"


📲 Rosa


" Wa'alaikum salam!"


📲 Lia

__ADS_1


" Tante, apa Mit... Mita baik-baik saja tan?" tanya Lia yang sudah gemetar


📲 Rosa


" Lia?"


📲 Lia


"Iya Tante!"


📲 Rosa


" Tante minta tolong bantu Mita dengan do'a ya sayang!" ucap Rosa yang sudah terisak


mendengar Rosa terisak Lia pun tidak kuasa menahan tangisnya.


📲 Lia


" Tante, tante tenang dulu ya tante sebenarnya ada apa dengan Mita tante? apa maksudnya bantu Mita dengan do'a, Mita kenapa tante?" tanya Lia sambil menangis.


📲 Rosa


" Mit... Mita koma sayang!" ucap Rosa terbata-bata.


📲 Lia


" Ap..apa Mit.. Mita koma? tidak ini tidak mungkin tante tidak bercanda kan tante?" Lia masih tidak percaya


" Kemarin kami masih kumpul-kumpul tante!" ucap Lia dengan tubuh bergetar


📲 Rosa


" iya kejadiannya begitu mendadak, nanti Tante ceritakan tapi sekarang tante minta doa dari kalian semua Sahabatnya untuk kesembuhan dan juga kesadaran Mita kembali!" ucap Rosa


📲 Lia


" Iya tante, saya akan kesana Tante semoga Mita segera sadar!"


sambungan telepon terputus dan Lia masih mencoba menenangkan dirinya. Lia masih menangis merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.


" Benarkan itu Mita?" tanya Yoga dan Lia mengangguk Pelan.


" Apa dia koma?" kali ini Rangga yang bertanya dan lagi-lagi Lia hanya menjawab dengan anggukan. Lia masih sesenggukan entah kenapa tangisnya semakin pecah dan dia tidak bisa mengendalikan dirinya yang rasanya ingin terus menangis. Lia menangis antara sedih karena mendengar berita buruk tentang sahabat baiknya Mita yang kini dalam keadaan tidak sadarkan diri dan juga sedih karena sikap dingin Mario karena mungkin kecewa atas ucapan dirinya.


" Loe gak apa-apa Li?" tanya Yoga


" Gue gak apa-apa" jawab Lia yang masih sesenggukan.


" Terima kasih ya, maaf kalau tadi gue sempat gak percaya sama kalian!" ucap Lia yang merasa bersalah.


" Iya, gak apa-apa, wajar loe gak percaya karena Yoga datangnya bareng gue!" Rangga yang menjawab.


" Sorry sekali lagi, dan gue mau ngabarin anak-anak dulu ya ka!" ucap Lia


Lia lalu mengabarkan tentang kondisi Mita kepada sahabat-sahabatnya.


Lia menghela napasnya panjang sebelum menghubungi Mona, Mia , Indah dan yang terakhir Zaira.


Mereka nampak syok mendengar kabar berita tentang Mita terutama Zaira, untung saja kondisi kehamilan Zaira sekarang sudah memasuki trimester ke dua jadi Zaira tidak selemah dan serapuh diawal-awal kehamilannya.bila mendengar berita tidak baik langsung syok dan pingsan. saat ini Zaira sudah bisa mengontrol emosinya jadi bisa mengendalikan kesedihannya yang berlebih.


Zaira ditemani sang suami menuju rumah sakit setelah mendapat kabar dari Lia, begitu juga dengan Mona, Mia dan juga indah mereka sedang bersiap-siap datang ke rumah sakit. sementara Lia masih di rumahnya.


" Kak maaf bukan mau mengusir, tapi gue mau ke rumah sakit sekarang kak" ucap Lia


" Bagaimana kalau kita berangkat bareng aja Li, gue juga pingin tau kondisi Mita" tawar Yoga


" Terserah kalian saja, tapi gue bawa mobil sendiri" sahut Lia


" Iya, gak apa-apa. tapi boleh gak gue numpang ke toilet dari tadi nih nahan gak tahan gue!" ucap yoga yang langsung mendapat toyoran dari Rangga.


" Parah loe malu-maluin aja sih!" kata Rangga


" Ya gak apa-apa malu-maluin juga dari pada sakit ditahan terus, ya gak Li?" protes Yoga


" iya, yaudah aku ambil tas dulu . kak Yoga kalau mau ke toilet itu disana!" ucap Lia menunjukkan letak toiletnya kepada Yoga.


" Gue tinggal dulu ya bentar, gue udah gak tahan!" pamit Yoga membuat Rangga geleng-geleng kepala.


Lia sudah kembali dari kamarnya dan di ruang tamu hanya ada Rangga karena Yoga rupanya betah berada di toilet rumah Lia.


" Kak Yoga mana, belum selesai ?" tanya Lia pada Rangga


" Belum, tau tuh anak betah banget di kamar mandi" jawab Rangga.


Lia hendak duduk namun kakinya tersandung alas kaki meja hampir saja Lia terjatuh jika tidak tangan Rangga dengan cepat menangkapnya. Lia yang merasa risih dengan segera membenarkan posisi berdirinya namun saat ia menoleh tidak sengaja netranya menangkap pemandangan yang membuat matanya membola.


Deg

__ADS_1


Dunia seakan berhenti berputar, jantung Lia seperti tidak berdetak dan napasnya pun terasa sesak saat seseorang yang berdiri di hadapannya menatapnya tajam, tersirat dengan jelas sorot mata akan sebuah kekecewaan yang sangat dalam.


Lia menggeleng-gelengkan kepalanya berkali-kali seakan mengatakan ini tidak benar tapi entah kenapa lidah Lia tiba-tiba kelut sulit untuk berucap.


__ADS_2