
Banyak para sahabat, saudara dan tetangga yang hadir untuk memberikan doa kepada bunda Aryani di acara tahlilan malam ini. termasuk beberapa teman sekolah dan para staf guru yang mengenal keluarga Dinata.
Zaira duduk disebelah Mama Maria yang sedari tadi selalu setia menemaninya. sedangkan Lia ditemani oleh mama Novi didalam kamar tamu untuk beristirahat karena terlalu lelah hingga membuat Lia merasakan kram kembali di perutnya jadi dokter Dinda menyarankan untuk Lia bedrest demi kesehatan dan keselamatan si jabang bayi.
Mita dan yang lainnya duduk di sebelah Zaira. sedangkan Mario, Arta dan Azka bersama papa Sam berada di luar dengan para jamaah pria lainnya. Acara berjalan penuh khidmat Isak tangis pun kembali pecah tatkala kenangan dan bayangan orang tercinta muncul dalam ingatan.
Zaira sesekali mengusap air mata yang meluncur di pipinya, mama Maria pun tidak henti mengusap lembut punggung Zaira untuk memberinya kekuatan.
Baby Zia yang berada di pangkuan Zaira sesekali menjadi pusat perhatian bagi yang melihatnya. Bayi mungil nan cantik duduk manis seolah mengerti dengan keadaan sang mama, bayi mungil tersebut tidak rewel dan duduk dengan tenang bahkan sesekali tertawa lepas membuat Zaira sedikit terhibur dengan tingkah nya yang menggemaskan.
" Bayi mungil itu siapanya Zaira ya?"
" Iya ya cantik dan gemesin banget sih!"
" Apa jangan-jangan itu anaknya Zaira ya?"
" Masa sih?"
" Bisa jadi, bukannya dulu Zaira itu pernah dibilang hamil ya?"
" Iya juga sih, cantik banget sih bayinya jadi gemes deh gue"
" Mirip banget sama Zaira, cantik "
" Mirip pak Bagaz juga"
"Iya!"
" Lagi pada ngomongin apa sih?"
" *Gak ada!" Kompak jawab kedua siswi yang tengah membicarakan bayi mungil yang berada di pangkuan Zaira.
begitulah para perbincangan sebagian teman-teman sekolah Zaira yang menyempatkan diri untuk hadir dalam acara tersebut*.
Azka yang melihat Zaira nampak pucat langsung beranjak dari duduknya dan segera menghampiri Zaira dan hal itu tidak luput dari perhatian para murid dan staf guru lainnya yang duduk tidak jauh dari Zaira terutama Bu Mayang.
" Sayang, sebaiknya kamu istirahat dulu aja yuk!"Azka meraih baby Zia dari pangkuan Zaira.
" Nanti saja mas acaranya juga belum selesai!" sahut Zaira menolak
"Sayang, benar apa yang dikatakan suami kamu loh, sebaiknya kamu istirahat bersama baby Zia kasihan juga dia sepertinya sudah mengantuk!" ucap mama Maria dan Zaira langsung mendongak menatap baby Zia yang berada di gendongan Azka.
" *Kayaknya benar tuh putri mereka, lihat tuh pak Bagaz so sweet banget sih!"
" Tapi kasihan ya Zaira, kini dia sudah jadi yatim piatu!"
" Untung saja dulu dia sudah di jodohin ya, jadi setidaknya dia masih punya keluarga yang begitu menyayanginya!"
" Iya loe benar, memang ya rencana tuhan mah gak ada yang tahu. dibalik perjodohan Zaira dengan pak Bagaz ternyata ada hikmahnya. coba kalau Zaira belum nikah. gak tahu bagaimana nasib Zaira, kalau gue jadi dia mungkin stres kali ya!"
" Bisa jadi!"
" Kalian dari tadi bicarain siapa sih?" tanya gadis disamping kedua teman sekelas Zaira .
" Kita ngomongin siapa ya terserah kamilah!" ucapnya yang tidak suka dengan salah satu siswi yang tiba-tiba ingin ikut hadir bersama mereka padahal akrab pun tidak. tapi satu yang mereka tahu gadis tersebut datang hanya ingin melihat gurunya yaitu pak Bagaz yang dikiranya datang sebagai tamu saja bukan keluarga dari Zaira*.
Gadis tersebut yang tidak lain adalah bunga lalu mengikuti arah pandangan mata dua teman sekelas Zaira dan betapa terkejutnya dia, menunggu acara tahlilan selesai dan berharap bisa pulang bersama sang guru idola malah dibuat tercengang dengan pemandangan yang uwu banget saat Zaira dibantu Azka berdiri dan hendak berjalan menuju arah tangga.
Mita yang melihat Zaira nampak lemas dengan cepat beranjak dari duduknya dan mengambil alih baby Zia dari gendongan Azka.
" Maaf pak, biar saya saja yang menggendong baby Zia, saya takut Zaira jatuh kelihatannya lemas banget!" ucap Mita
" Terima kasih ya Mita!" ucap Azka
" Sama-sama pak!"
Benar saja baru hendak melangkah menaiki anak tangga tiba-tiba tubuh Zaira oleng dan langsung melayang ke udara karena dengan gerakan cepat Azka langsung menariknya lalu menggendongnya agar tidak terjatuh.
" Untung saja kamu cepat tanggap ya Mita!" ucap Azka seraya menaiki anak tangga dan Mita mengekor di belakangnya.
" Kebetulan aja pak refleks!" sahut Mita yang dengan langkah cepat mendahului Azka untuk membukakan pintu kamar Zaira
Ceklekk
__ADS_1
Azka masuk setelah pintu dibuka oleh Mita, Zaira hanya diam saja dengan segala pikirannya yang ada.
" Pak sebaiknya pak Bagaz temani Za saja dulu disini, biar baby Zia sama saya dulu. saya akan membawanya ke kamar baby Zia." ucap Mita.
Di rumah tersebut memang sengaja dibuatkan kamar oleh bunda Aryani untuk sang cucu kesayangannya. letaknya tepat di samping kamar Zaira dulunya tempat tersebut adalah perpustakaan tempat biasa suaminya membaca buku-buku koleksinya.
" Terima kasih ya Mita"
" Sama-sama pak!"
" Za, gue ke kamar sebelah dulu ya, kalau loe butuh apa-apa panggil aja ya!" Zaira menoleh lalu tersenyum yang dipaksakan.
" Thanks ya Mita, sorry gue sudah nyusahin loe!" ucap Zaira sendu
" Loe ngomong apa sih Za, lebay tahu gak. udah ah gue pergi dulu," ucap Mita
" Baby maafin mama ya, sekarang baby sama aunty Mita dulu ya sayang!" Zaira mengecup pipi gembul baby Zia
" Sepertinya dia sudah mengantuk, gue tidurin dulu ya!" pamit Mita
" Iya, sekali lagi thanks ya Mita!"
" sudah ah kayak sama siapa aja loe!" Mita pun pamit untuk membawa baby Zia dan menidurkannya dikamar sebelah.
Acara berjalan dengan lancar dan kini para jamaah yang hadir sudah membubarkan diri masing-masing.
Hanya tinggal para sahabat dan keluarga saja yang berada di rumah tersebut. bi Minah dibantu dengan bi Sum, bi Ningsih dan mbok Iyem tengah beres-beres dan tidak lupa para sahabat Zaira pun ikut merapihkan rumah tersebut.
Saat semua tengah sibuk tiba-tiba datang seorang laki-laki dengan wajah kusut dan tampang acak-acakan bersama seorang wanita yang tengah menggendong bayi laki-laki.
" Bun... da!" Isak tangis laki-laki itu pecah saat memasuki rumah tersebut. semua pandangan mata menoleh ke arahnya. mereka nampak terkejut melihat kedatangan dokter Ariel yang sudah beberapa bulan terakhir menghilang bak ditelan bumi.
" Nak Ariel!" ucap mama Maria yang langsung menghampirinya.
" Bunda... bagaimana bisa bunda meninggal tante, ini... ini pasti bohong kan?" ucapnya begitu memilukan dan Karina yang berada di sampingnya hanya bisa mengusap-usap punggung laki-laki yang kini bersimpuh di lantai.
Papa Sam menghampiri dokter Ariel lalu membantunya berdiri dan menggiringnya ke arah sofa yang sudah dirapihkan sebelumnya.
" Ini semua sudah takdir, kita tidak bisa mencegah apa yang sudah menjadi takdir bunda kamu" lanjutnya
" Tapi Om_" Dokter Ariel menjeda ucapannya
" Aku... aku sudah banyak berbuat salah sama bunda, bahkan aku belum sempat meminta maaf karena selama ini sudah mengecewakan bunda!" ucap dokter Ariel yang merasa sangat bersalah.
" Aku belum bisa membalas kebaikan mereka yang ada aku malah membuat mereka kecewa " tangis dokter Ariel pun kembali pecah saat ingatannya kembali pada saat bersama dengan bunda Aryani yang sedari kecil begitu perhatian terhadap dirinya bahkan bunda Aryani tidak pernah membedakan antara dia dan Zaira. mereka diperlakukan sama tidak ada anak angkat bagi bunda Aryani mereka itu sama-sama anak bunda.
Papa Sam hanya bisa menghela nafasnya berat karena kepergian bunda Aryani yang begitu mendadak bahkan dalam keadaan yang cukup memprihatinkan membuat semua orang yang ditinggalkannya begitu merasa sangat kehilangan.
Setelah merasa lebih tenang dokter Ariel pun mencari keberadaan Zaira adik angkatnya itu.
" Tante, om bagaimana keadaan Al sekarang?"
" Dia ada dikamarnya, Azka menemaninya untuk istirahat karena keadaannya yang begitu lemah dan masih sangat syok dengan keadaan ini" ucap mama Maria.
" Ini ?" tanya mama Maria menatap seorang wanita cantik yang tengah menggendong seorang bayi laki-laki
" Oiya, kenalkan tante ini Karina istri saya!" ucap dokter Ariel
" Karina tante!" ucap Karina mengulurkan tangannya
" Kamu cantik dan bayi kamu tampan banget!" puji mama Maria membuat Karina tersipu malu.
" Terima kasih tante!" ucap Karina sopan
" Selama ini kamu tinggal di mana nak Ariel?" tanya mama Maria
" Kami tinggal di kota B tante, dikampung halamannya Karina dan kebetulan disana membutuhkan tenaga medis karena desa tersebut termasuk desa terpencil yang berada di kota tersebut." Sahut dokter Ariel
" Kenapa selama ini kamu tidak pernah menghubungi bunda kamu?" tanya mama Maria
" Karena disana susah sinyal tante!" jawab Karina mewakili suaminya.
"Iya, disana sinyal begitu susah jika ingin mendapatkan sinyal harus ke desa sebelah yang letaknya lebih tinggi. dan itu cukup lumayan jauh" sahut dokter Ariel
__ADS_1
" Lalu bagaimana kamu tahu tentang bunda kamu?"
" Sewaktu ada pasien gawat darurat, kami disana membutuhkan bantuan dari Tim medis yang berada di kota dan pada saat itu pula ada berita mengenai bunda Aryani. awalnya sungguh saya tidak percaya tapi setelah saya menanyakan kepada dokter Malik ternyata itu berita benar" ucap dokter Ariel yang kembali menitikkan airmatanya.
" Kamu harus sabar dan ikhlas!" ucap mama Maria
" Bunda kamu pasti bangga dengan kamu sekarang yang sudah menjadi dokter dan membantu banyak orang!" lanjutnya
" Tapi saya belum sempat minta maaf dengan bunda!" ucap dokter Ariel yang kembali terisak
" Sebelum kamu minta maaf, tante yakin bunda kamu pasti sudah memaafkan kamu!"
" Sudah jangan bersedih lagi, sebaiknya kamu istirahat saja sekarang, perjalanan kamu pasti melelahkan bukan!"
" Iya, tante ya sudah kami pamit dulu besok kami akan kesini lagi, salam untuk Al tante!" ucap dokter Ariel
" kenapa kalian tidak menginap saja disini?" tawar mama Maria
" Maaf tante kami tidak bisa, karena ada Alifa dan Aliya yang menunggu kami di rumah!" ucap Karina sopan
" Owh begitu. yaudah kalian hati-hati ya di jalan" ucap mama Maria
Setelah berpamitan mereka pun pulang dan semua teman-teman Zaira tengah duduk santai dilantai yang beralaskan karpet. mereka tengah beristirahat setelah beres-beres.
Bi Ningsih datang menghampiri teman-temannya Zaira yang tengah beristirahat dengan membawa nasi dan lauk pauknya.
" Loh bi ini?" tanya Mia yang nampak bingung karena bi Ningsih meletakkan nasi beserta lauk pauknya ditengah-tengah mereka.
" Kalian pasti belum pada makan, iyakan?" tanya mama Maria yang ikut duduk di karpet tersebut begitu juga dengan papa Sam
" Iya mah!" jawab Mia jujur.
" Ya sudah ayok kita makan dulu, walaupun kita sedang dalam keadaan berkabung tapi tetap kita harus menjaga kesehatan. " ucap papa Sam.
Di ruangan tersebut telah berkumpul papa Sam, mama Maria, Mia, Mona, Indah, Yoga, Dion, Sendy, Arta, bi Ningsih, bi Sum, bi Minah dan juga mbok Iyem. semua berbaur menjadi satu makan ngeriung bersama-sama, walaupun selera makan mereka berkurang tetap saja mereka harus memaksakan untuk makan.
" Loh Mita mana?" tanya Mona yang baru sadar tidak melihat temannya yang satu itu
" Mita dikamar baby Zia" jawab Arta
"Meli sama Rio, mereka juga pasti belum makan?" ucap mama Maria khawatir
" Maaf Nyonya, tadi saya sudah membawakan makanan untuk den Rio dan non Meli!" ucap bi Sum
"Iya, non Za dan den Azka juga sudah saya antarkan makanannya. mereka tidak ingin keluar katanya!" ucap bi Minah yang sebenarnya juga kasihan dengan putri dari majikannya itu.
" Syukurlah kalau begitu, semoga saja mereka mau makan!" ucap mama Maria
" Non Meli tadinya gak mau makan nyonya tapi rupanya den Rio sangat pandai merayunya dan tadi saya lihat makanannya sudah tinggal setengahnya." ucap bi Sum yang tadi sempat masuk kembali ke kamar Lia untuk membawanya buah.
" Syukurlah bi, Rio memang pandai membuat Meli luluh" ucap mama Maria.
" Loh Novi sama tuan Alex dimana?" tanya mama Maria
" Tadi mereka pamit pulang saat ada dokter itu datang kesini "sahut Arta
" Iya tadi Alex sudah menelpon, aku lupa bilang. dia masih ada urusan kantor " sahut papa Sam
" Bi nak Mita bagaimana, apa sudah bibi bawakan makanannya?" tanya mama Maria yang teringat akan Mita.
" Sudah nyonya tapi sepertinya non Mita tertidur!" ucap bi Ningsih.
" Yaudah gak apa-apa, biarkan saja dia istirahat. dia pasti kecapean" ucap mama Maria.
Makan malam ala kadarnya pun telah selesai, papa Sam dan mama Maria pamit pulang dulu sementara yang lain tetap tinggal untuk menemani keluarga duka.
Para cowok tertidur pulas di ruang keluarga sementara yang cewek masuk ke dalam kamar baby Zia lalu menggelar karpet untuk mereka tidur.
Sementara didalam kamar Rio dan Lia tengah tertidur dengan saling berpelukan begitu juga dengan Azka yang sedari tadi terus merengkuh tubuh Zaira yang tertidur pulas di lengannya.
Zaira menjadikan lengan Azka sebagai bantalannya dan dengan penuh cinta serta kasih sayang Azka membelai pucuk kepala Zaira.
" Yang sabar ya sayang,kamu harus kuat demi putri kita!" ucap Azka seraya tersenyum membelai lembut pipi Zaira dan sesaat kemudian ia pun ikut terlelap.
__ADS_1