Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Season 2 Khanza


__ADS_3

Deg


Deg


Jantung keduanya berdegup kencang saling menyelami semakin dalam perasaan masing-masing, sampai akhirnya Khanza pun tersadar dan menjerit, untung saja dengan cepat Aldy membungkam mulut Khanza dengan telapak tangannya.


" Emmmpp....."


" Jangan teriak!" bisik Aldy


"Aku lepas tapi janji jangan berteriak kecuali kamu mau membangunkan semua orang.!" Khanza mengaguk pelan.


Aldy melepaskan tangannya dan Khanza langsung mendorong tubuh kekar Aldy sampai terjungkal ke lantai.


"Kamu ini apa-apaan sih?" kesal Aldy karena bokongnya yang sakit mencium lantai yang dingin


" Bapak yang apa-apaan?" dengus Khanza


" Apa?" pak Aldy nyolot


" Bapak jahat.... jahat... jahat...!" teriak Khanza seraya melemparkan bantal dan guling ke arah Aldy lalu sedetik kemudian ia menangis sesenggukan dan sontak saja hal itu membuat Aldy menjadi sedikit panik.


Aldy menggaruk-garuk kepalanya bingung, tidak tahu harus berbuat apa agar Khanza berhenti menangis


" Sudahlah jangan menangis, iya aku minta maaf, sekarang berhentilah menangis, oke!" ucap Aldy yang merasa bingung menghadapi Khanza


" Kenapa bapak lakukan ini sama saya, apa salah saya sama bapak?" tanya Khanza disela isak tangisnya


" Lakukan apa?" tanya Aldy sok polos


" Bapak jangan pura-pura gak tahu deh, bapak jahat sudah mencuri ciuman pertama saya!" Khanza menatap nanar kepada Aldy.


" Ciuman pertama? siapa yang mencuri ciuman pertama kamu?" tanya Aldy seraya tergelak dan duduk di tepi tempat tidur


" Cih, dasar pencuri tetap saja tidak mau mengaku" Khanza mendengus kesal


" Aku tidak mencuri ciuman pertama kamu, itu bukanlah ciuman tapi hanya sebuah kecupan tapi kalau kamu mau aku mencuri ciuman pertama kamu bolehlah!" Dengan gerakan cepat Aldy langsung menarik tengkuk Khanza dan mel**a*nya dengan rakus.


Khanza sontak membulatkan matanya sempurna dan berusaha memberontak sekuat tenaga namun Aldy semakin erat dan memperdalam ******* hingga akhirnya Khanza hanya bisa pasrah


" Huhh... huhh...." Khanza berusaha menormalkan deru napasnya yang hampir kehabisan oksigen.


" Bagaimana? mau lagi?" tanya Aldy menyeringai


" Dasar mesum" Aldy malah tertawa


" Jahat" Khanza kembali menitikkan air matanya


" Hei... jangan menangis!" Aldy tersenyum tipis lalu menghapus air mata Khanza namun dengan cepat ditepis oleh Khanza


" Dengarkan aku, apa yang ada pada diri kamu itu adalah milik aku, karena secara hukum dan agama kamu sah isteri aku. jangan merasa bersedih karena ciuman pertama kamu dicuri. karena yang mencurinya juga suami kamu sendiri, iya kan?" Aldy menangkup wajah Khanza


" Aku sebenarnya ingin sekali berbicara sama kamu dan juga ibu tentang pernikahan kita ini" Khanza berhenti menangis dan menatap lekat wajah Aldy yang duduk bersila di hadapannya

__ADS_1


" Aku ingin mulai besok kamu tinggal bersama aku di apartemen ku" Khanza terkejut mendengar ucapan Aldy


" Aku tidak mau" jawab Khanza cepat


" Kenapa?" Aldy menatap lekat wajah Khanza


" Aku belum siap lagi pula kenapa kita harus tinggal di apartemen mu, bukankah pernikahan kita hanya tinggal 4 bulan lagi"


" Sutt..!" Aldy menempelkan jari telunjuknya di bibir Khanza


" Aku ingin kita memulai semuanya dari awal, kita jalani pernikahan kita ini layaknya hubungan suami-istri pada umumnya. tenang saja aku tidak akan menuntut mu untuk melaksanakan hak dan kewajibanmu sebagai seorang isteri aku akan menunggu sampai kamu siap" tutur Aldy meyakinkan


Khanza terdiam dan teringat kembali dengan ucapan ibunya yang memintanya untuk berdamai dengan hatinya dan bisa menjalani rumah tangganya dengan baik.


" Tapi_" ucap Khanza yang bingung harus menjawab apa.


" Tenang saja aku akan menahannya dan tidak akan meminta hak ku kecuali kamu sendiri yang mengizinkannya tapi itupun kalau tidak khilaf ya" Aldy terkekeh


" Ish... tuh kan" Khanza mengerucutkan bibirnya


" Iya bercanda, tapi kalau pun iya juga tidak masalah bukan, kita sudah halal ini?" goda Aldy


" Gak tau ah!" kesal Khanza


" Sudah jangan marah lagi, sebaiknya kita tidur sekarang, besok pagi kita bicarakan ini pada ibu, bagaimana?" tanya Aldy


" Apa bapak yakin dengan keputusan bapak ini, apa bapak tidak takut aku punya rencana buruk sama bapak, bukankah waktu itu bapak_?" Aldy langsung memotong ucapan Khanza


" Iya aku minta maaf soal itu, aku benar-benar menyesal karena sudah membuat mu sakit hati, maafkan aku!" ucap Aldy meraih tangan Khanza dan menggenggamnya.


" Mimpi?" tanya Khanza mengernyitkan alisnya


" Ya mimpi, karena merasa terlalu bersalah kepada Alzaira aku sampai mimpikannya dan di dalam mimpiku kau bersama Alzaira ingin membalas dendam kepada mamah sampai membuat mamahku syok lalu ngedrop."


" Maafkan aku, apa kamu mau memaafkan suamimu ini ?" tanya Aldy dengan penuh rasa bersalah


Mendengar kata suami rasanya Khanza ingin tertawa, diusianya yang masih terbilang muda bahkan masih duduk di bangku SMA dia sudah bersuami.


" Aku sudah memaafkan bapak bahkan sebelum bapak meminta maaf, tapi saya sedikit kecewa dengan sikap bapak yang hilang begitu saja selama satu bulan ini" ucap Khanza jujur


" Iya maaf, apa selama satu bulan itu isteriku ini merindukan ku?" goda Aldy


" Tidak, siapa bilang. aku hanya ingin kejelasan status ku saja jika mau berpisah ya katakan terus terang bukan menggantungkan status ku seperti itu" jawab Khanza kesal


" Siapa yang mau berpisah, aku hanya malu untuk menemui mu karena aku sudah melakukan kesalahan besar membuatmu menangis dan sakit hati karena ucapanku yang keterlaluan itu" sahut Aldy


" Sudahlah sayang, jangan bahas itu lagi ya sebaiknya kita tidur sekarang!" Aldy merebahkan tubuhnya di kasur Khanza.


" Emmmm.... ada satu hal yang ingin aku katakan!" ucap Khanza sedikit ragu-ragu


" Apa?" tanya Aldy menopang kepalanya dengan satu tangannya.


" Aku mau minta izin untuk ikut camping dengan anak-anak Minggu depan"

__ADS_1


Aldy tersenyum tipis entah kenapa sikap salah tingkah Khanza membuatnya semakin gemas dengan isteri kecilnya itu


" Kalau aku tidak mengizinkan bagaimana?" tanya Aldy sedikit menggoda


" Kalau tidak boleh kenapa diusia ku yang masih sekolah ini harus punya suami, minta izin untuk camping saja tidak boleh" jawab Khanza kesal lalu hendak beranjak dari tempat tidur


" Mau kemana?" tanya Aldy mencekal pergelangan tangan Khanza


" Mau keluar mau apalagi" jawab Khanza jutek


" Mau ngapain?" tanya Aldy dengan suara pelan


" Ya itu bukan urusan bapak" jawab Khanza masih dengan nada kesal


" Loh kok gitu, jadi kamu marah karena aku tidak mengizinkan kamu untuk ikut camping, iya?" tanya Aldy menarik dagu Khanza hingga menoleh ke arahnya.


Khanza diam hanya pasang wajah memberengut. Aldy tersenyum tipis lalu mengacak-acak rambut Khanza gemas.


" Kamu tuh gemesin banget sih kalau lagi cemberut kayak gini" Aldy mencubit pipi Khanza


" Apaan sih!" Khanza menepis tangan Aldy


" Iya boleh tapi kamu mau kan besok ikut tinggal bersama ku?" tanya Aldy yang berharap Khanza mau memulai hubungannya dari awal bersamanya.


" Tapi bagaimana dengan ibu?" tanya Khanza karena setiap hari dia yang selalu membantu ibunya berdagang dan mempersiapkan semuanya.


" Kamu tenang saja tidak usah khawatir soal itu, mulai hari ini kamu adalah nyonya Aldiansyah dan tugas kamu ya selain belajar disekolah kamu juga harus belajar melayani suami kamu dengan baik di rumah" Aldy mengedipkan matanya genit


" Ish dasar mesum. tidak ada bahasan yang lain apa?" kesal Khanza


" Bahasan apa?" tanya Aldy yang pura-pura tidak mengerti


" Tau ah, sudah sana menyingkir aku mau tidur di luar saja" sahut Khanza


" Diam ditempat atau aku batalkan izin campingnya."


" Tuh kan belum apa-apa sudah ngeselin"


" Itu harus karena isteri macam kamu itu gak boleh dibiarkan nanti ngelunjak" sahut Aldy


" Sekarang tidur jangan bahas itu lagi!" Aldy menarik tangan khanza hingga tubuh itu terhempas ke kasur dan tentu saja hal tersebut membuat Khanza semakin gugup karena jarak mereka yang ternyata begitu dekat.


" Sudah cepat pejamkan matamu!" titah Aldy


" Tapi aku mau_" Khanza hendak protes tapi diselak oleh Aldy.


" Cepat tidur atau mau aku mengulangi yang tadi?" tanya Aldy menyeringai dan tersenyum tipis


Khanza bergidik ngeri membayangkan hal yang tadi saja sudah membuat otak Khanza traveling kemana-mana, jika sekali lagi Aldy melakukan hal itu sudah dipastikan Khanza tidak akan bisa menghindarinya.


Dengan cepat Khanza langsung memejamkan matanya dan hal itu membuat Aldy tersenyum geli melihatnya. Karena malam semakin larut akhirnya Aldy pun terlelap sambil memeluk Khanza dari belakang. Khanza yang belum sepenuhnya tidur pun merasakan tangan kekar Aldy yang melingkar di pinggangnya.


Khanza tidak bisa tidur detak jantungnya semakin berpacu dengan cepat. " Bagaimana gue bisa tidur kalau di kayak gini" batin Khanza

__ADS_1


Namun karena udara malam yang semakin dingin rasa kantuk pun mulai menyapa akhirnya Khanza pun ikut tertidur dengan posisi tubuh yang masih saling berdekatan karena tempat tidur Khanza yang kecil membuat keduanya tidur berdekatan tanpa jarak.


__ADS_2