
Disaat Zaira sedang berduka, kehilangan sosok wanita yang sangat ia sayangi dan paling berarti dalam hidupnya dibelahan bumi yang lain pun ada seorang pria dewasa yang tengah menangis penuh rasa bersalah di pusara seseorang yang telah banyak berkorban untuknya, meskipun tidak ada ikatan darah namun cinta dan kasih sayangnya sungguh tulus untuknya.
" Maaf... maafkan aku. seandainya waktu itu aku tidak egois dan tidak memutuskan untuk pergi mungkin semua ini tidak akan terjadi!" Isak tangisnya semakin pecah saat teringat kejadian beberapa bulan yang lalu.
Flashback on
" Seharusnya kamu bantu papah untuk mengurus perusahaan!" ucap sang mama
" Tidak Mah, aku ingin merasakan apa yang sudah menjadi cita-cita aku mah!" sahutnya membantah
" Apa sih hebatnya cita-cita mu itu?" ucap sang mama.
" Mah, aku tidak tertarik dengan masalah perusahaan, lagi pula andaikan aku bekerja di perusahaan aku ingin di perusahaan milik aku sendiri mah, hasil jerih payahku sendiri"
" Papamu sudah lelah mengurus dua perusahaan, setidaknya kamu bisa mengambil alih perusahaan om kamu. perusahaan kecil itu semakin berkembang dengan baik tapi perusahaan keluarga kita sendiri semakin turun. mamah ingin kamu yang mengendalikan perusahaan itu nak!" ucap sang mama
" Tidak mah aku tidak mau melakukan hal itu, apalagi jika papa tau niat mama yang ingin menguasai perusahaan itu, papa pasti akan marah besar mah!"
" Tau apa kamu, papahmu saja yang bodoh dengan suka rela mengurus perusahaan yang toh bukan miliknya dan setelah perusahaan itu berkembang dengan baik papamu ingin menyerahkannya begitu saja pada adik iparnya, dasar bodoh!" umpat sang mama
" Itu bagus mah, dengan begitu aku tidak perlu lagi mengurus perusahaan itu"
" Kau memang sama bodohnya dengan papamu padahal kau bukan anak kandungnya tapi entah kenapa sifat dan sikap bodoh kalian sama" sarkas sang papa.
" Cukup!" bentak seorang pria paruh baya yang tengah berdiri di ambang pintu dengan menatap nyalang.
" Jaga ucapanmu mah, sampai kapanpun dia tetap putraku." tegas pria paruh baya tersebut.
" Kalian sama-sama bodoh. aku tidak akan membiarkan wanita itu menikmati apa yang seharusnya menjadi milik ku!" ucap wanita yang tidak lain adalah Titin
" Kau jangan macam-macam mah, aku tidak akan mengampuni kamu jika kamu sampai melakukan hal buruk" ucap pria paruh yang tidak lain adalah Doni.
" Kita lihat saja nanti, ayok Toni kita pergi dari sini!" ucap Titin mengajak putranya yang kesehariannya hanya menghamburkan uang orang tuanya.
" Pah!" panggil putra sulung Titin yang sudah dianggap putranya sendiri oleh Doni. Titin adalah janda beranak dua saat menikah dengan Doni.
Suami Titin meninggal akibat kecelakaan dan harus menghidupi kedua anaknya seorang diri. suami Titin adalah sahabat baik Doni karena merasa kasihan dan tidak tega melihat Titin yang hidup menderita dalam membesarkan anak-anaknya akhirnya Doni pun memutuskan untuk menikahinya.
Putra pertama Titin saat itu baru berusia 5 tahun dan adiknya Toni berusia 2 tahun, Doni sangat menyayangi kedua putra Titin dan sudah dianggapnya seperti anak kandungnya sendiri. Pernikahan Titin dan Doni tidak dikaruniai anak karena memang Doni dinyatakan mandul dan hal itu membuat Titin merasa sangat kecewa terhadap Doni.
Doni melimpahkan kasih sayangnya kepada kedua putra Titin dengan sangat tulus, bahkan apapun dia lakukan untuk kedua putranya tersebut. Akan tetapi walaupun Doni sudah banyak berkorban untuk isteri dan anak-anaknya tetap saja Titin tidak pernah bersyukur dan tidak pernah merasa puas dengan apa yang sudah diberikan Doni begitu juga dengan putra keduanya, Toni hanya bisa menghambur-hamburkan uang tanpa mau bekerja, dan berbanding terbalik dengan kakaknya yang justru sangat menghormati dan menyayangi Doni seperti papahnya sendiri dia bahkan menolak untuk mengurus perusahaan papanya dan ingin hidup mandiri.
Flashback off
" Pah... maafkan aku pah, kenapa semua jadi seperti ini pah!" keluhnya penuh sesak.
" Papah sudah banyak berkorban untuk kami tapi ini yang papah dapatkan" suaranya begitu bergetar rasa bersalah, sedih, kecewa dan marah kini menjadi satu.
" Den!" panggil seorang pria yang seumuran dengan Doni datang menghampirinya
" Iya ada apa pak Aris?" tanya nya seraya beranjak dari duduknya
" Tuan Doni sebelum meninggal berpesan untuk menyampaikan permohonan maafnya kepada keluarga adiknya terutama putri satu-satunya dari adiknya Alzaira Kiana Putri yang kini sudah menjadi yatim piatu" ucap pak Aris yang merupakan asisten pribadinya tuan Doni.
"Baik pak Aris saya akan mencarinya dan menemuinya untuk meminta maaf!" ucap pria yang tidak lain adalah pak Aldy seraya berdiri.
__ADS_1
Pak Aldy sudah beranjak dari posisi jongkok namun saat ia hendak melangkah pergi dia seakan teringat sesuatu yang terdengar sangat familiar di telinganya.
" Tunggu dulu pak Aris tadi siapa nama anak dari adik papahku yang kau sebut itu?" tanya pak Aldy yang teringat akan Zaira
"Alzaira Kiana Putri, den. dia itu salah satu murid tempat anda mengajar!" tutur pak Aris memberitahu
" Apa? jadi dia benar-benar Alzaira yang sama!" Pak Aldy menjambak rambutnya frustasi.
" Kenapa aku baru tahu sekarang pak Aris, kalau Alzaira itu ternyata keponakan papah Doni"
" Tapi tidak mungkin pak, murid ku yang bernama Alzaira itu punya kakak laki-laki, mungkin namanya saja yang sama?" lanjutnya
" Maksud anda tuan Bagazkara?" tanya pak Aris
" Iya, pak Aris mengenalnya?" pak Aldy balik bertanya
" Anda jelas saja tidak mengenal non Alzaira den, karena selama ini anda lebih memilih hidup bebas di kota B dan mengenai pak Bagazkara yang den Aldy maksud, dia itu putra sulung dari keluarga Samuel Afrizal Dinata dan mempunyai adik yang bernama Meliani!" jawab pak Aris
" Meliani?" tanya pak Aldy memastikan
" Iya, den. Meliani itu sahabat baik non Alzaira dan mereka satu kelas bukan?"
"Iya, jadi ternyata selama ini aku salah paham" gumamnya
" Lalu pak Bagaz dengan Alzaira punya hubungan apa. kenapa mereka terlihat begitu dekat?" tanya pak Aldy yang merasa begitu penasaran.
" Pak Bagaz itu tunangannya non Alzaira, Karena menurut kabar mereka itu sudah di jodohkan dari kecil"
" Apa tunangan?"
" Tidak masalah mereka baru bertunangan belum menikah, aku masih ada kesempatan untuk mendekatinya. aku ingin menebus semua kesalahan yang sudah dibuat oleh mamah dan Toni!"
" Aku berjanji akan menebus semua kesalahan mereka dan akan menyembuhkan kesedihan Alzaira"
" Aku akan menjaga dan melindunginya. karena kejahatan yang mama dan Toni lakukan membuat Alzaira yang harus menanggung semua beban ini sendirian!" ucap pak Aldy sendu
" Pak Aris, tolong antarkan saya untuk menemui mama dan Toni!"
" Baik den!"
...🌓🌓...
Pak Aldy dan pak Aris kini tengah berada di kantor polisi. dengan rasa kecewa yang teramati besar pak Aldy berusaha untuk tetap bersikap tenang dan duduk di hadapan mamanya
" Kenapa mah?" pertanyaan itu yang tiba-tiba meluncur begitu saja dari bibir sang putra
" Kenapa katamu, Cih... aku sudah muak dengan wanita itu!" ucap Titin Santai
" Kau tidak tahu apa-apa jadi jangan sok menghakimi ibumu sendiri yang sudah melahirkanmu jika kamu lupa" lanjutnya
" Tapi tidak dengan cara ini mah!" sentak pak Aldy keras membuat Tini menjadi tersulut emosi.
" Kamu tahu apa hah, karena wanita itu hidup ku menderita dan karena wanita sialan itu aku terpaksa harus menerima menikah dengan papah mu Doni!" teriaknya
" Apa maksud mamah?"
__ADS_1
" Wanita itu sudah merebut kebahagiaan ku, wanita itu menikah dengan laki-laki yang sangat aku cintai dan aku terpaksa menikah dengan kakaknya yang sama sekali aku tidak sukai apalagi setelah dokter mengatakan papamu diponis tidak memiliki keturunan." jawabnya
" Mak .. maksudnya mama menyukai adik dari papa Doni?" tanya pak Aldy
" Iya, setelah ayahmu meninggal aku tidak pernah dekat dengan laki-laki manapun, sampai pada akhirnya aku jatuh hati pada Hendra adik dari papahmu namun sayangnya saat aku ingin mengutarakan perasaan ku, Hendra sudah lebih dulu memberitahu papahmu kalau ternyata dia sudah menikah dengan wanita sialan itu" tutur Titin penuh emosi
" Jadi karena itu mama dendam?"
" Apa salah papah mah, bahkan papa sudah banyak berkorban untuk kita mah?" dada pak Aldy terasa sesak saat mengingat papanya yang meninggal karena serangan jantung setelah mengetahui kesalahan yang sudah diperbuat isterinya.
" Salah papamu itu dia terlalu bodoh." umpat Titin
"Aku benci wanita sialan itu selain sudah merebut orang yang aku sukai dia juga sudah merebut apa yang seharusnya menjadi milik ku" lanjutnya
" Tapi akibat perbuatan mama dan akibat keserakahan mama, papah juga yang menjadi korban mah. papah kini sudah pergi meninggalkan aku mah meninggalkan kita semua. apa salah papa mah apa? apa salah jika papa selalu bersikap baik mah? apa salah jika papa begitu tulus mencintai keluarganya mah. padahal papa tahu kalau aku dan Toni bukanlah putranya tapi sejak kecil papa selalu tulus menyayangi kami bahkan papa tidak pernah memarahi kami dan selalu melindungi kami kerap kali mama memarahi kami tanpa sebab" tutur pak Aldy dengan suara yang sudah bergetar hebat menahan rasa marah , benci, kecewa, sedih dan rasa bersalahnya.
" Apa maksudmu?" tanya Titin yang tidak paham akan ucapan putranya tentang suaminya.
" Papa sudah enggak ada mah, papa sudah meninggal!" ucap pak Aldy lirih
" Bohong, kamu pasti bercanda iyakan?" teriak Titin
" Papa meninggal tepat setelah papa mengetahui perbuatan mama yang sudah melakukan tindakan kriminal. papa langsung terkena serangan jantung" ucap pak Aldy yang sudah menitikkan airmatanya.
" Tidak.... itu tidak mungkin.. tidak kamu pasti berbohong!" ucap Titin histeris dan tidak percaya dengan apa yang dikatakan Aldy
" Tapi itulah kenyataannya mah!" ucap Aldy sendu
" Tidak... tidak... itu tidak mungkin... tidak!" Titin begitu terkejut saat tahu suami yang selama ini ia tidak hargai dan selalu dihinanya kini sudah tiada. Titin terus teriak membuat petugas jaga akhirnya membawa Titin kembali ke dalam lapas.
" Den!" pak Aris menepuk bahu pak Aldy
" Yang sabar den, ini adalah ujian. den Aldy pasti bisa kok melaluinya dengan baik!" ucap pak Aris menguatkan pak Aldy.
" Terima kasih ya pak!" pak Aldy beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan kantor polisi.
" Pak Aris, apa bapak tahu alamat rumah Alzaira?" tanya Aldy saat mereka tengah berada di dalam mobil
" Tahu tuan!" Ucapnya
" Kalau begitu tolong antar saya besok kesana pak!"
" Siap den!"
Aldy pun kembali ke rumah orangtuanya dan sesampainya di rumah tersebut Aldy merasakan kesedihan yang mendalam karena teringat kembali dengan papanya.
Aldy masuk ke dalam kamarnya dan berjalan dengan gontai. Aldy merebahkan tubuhnya di atas kasur mencoba untuk mengistirahatkan tubuhnya yang terasa begitu lelah.
Aldy memejamkan matanya dan tiba-tiba terlintas wajah gadis yang selama ini selalu mengganggu pikirannya tengah menangis sesenggukan. Aldy terperanjat dan langsung membuka matanya.
" Al, maaf. karena mamaku kamu pasti saat ini tengah terpuruk kehilangan orang yang sangat kamu sayangi" gumam Aldy menatap ke langit-langit kamarnya.
" Maaf!" cicitnya
" Aku berjanji Al akan menebus kesalahan mereka dan membuat mu hidup bahagia. aku akan menggantikan orang tuamu untuk selalu ada untukmu sayang!" Aldy kembali memejamkan mata membayangkan wajah cantik Zaira dan lama-kelamaan ia pun tertidur pulas.
__ADS_1