Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Bab 7


__ADS_3

Juan berjalan menuju kelas Ivy, kelas terlihat sangat tentram karena sedang ada guru yang mengajar. Raut wajahnya terlihat serius dan darurat.


“permisi!”


“iya, ada yang bisa saya bantu pak Juan?”


“bisa saya pinjam nona Burnett sebentar ?”


“oh iya tentu saja, nona Burnett silahkan”


“(Ivy mengangguk lalu berdiri) ada apa Vy masalah lagi ya?”tanya Nina cemas Ivy hanya menjawabnya dengan angkatan bahu saja. seisi kelas menatapnya heran dan was-was.


Mereka berdua sedang berada di ruang kerja Juan, Ivy tidak menyangka kalau Ayah dan ibu (tiri) nya sedang berada di ruangan itu.


suasananya cukup tegang dan tidak terlalu nyaman, terutama tekanan kedua orang tuanya yang di berikan pada Ivy.


“ekhem, jadi nak Juan kami tiba-tiba datang kemari hanya untuk mengatakan kalau pernikahan kalian berdua sebaiknya di percepat saja. Bagaimana kalau minggu ini”


Spontan tubuh Ivy bergetar dan terus bergerak tidak tenang. Menolak pun juga percuma, ini semua hanya jalan buntu untuknya.


“baiklah kalau itu keinginan anda, akan kita laksanakan sesuai keinginan anda” jawab Juan mantap, sedangkan Ivy hanya melihat action figur dinosaurus di meja dengan tatapan kosong.


“bagus kalau begitu, kami hanya mau menyampaikan itu saja. Tidak perlu khawatir, semua akan kami persiapkan “ Dylon dan Dira berdiri hendak meninggalkan ruangan. “baik hati-hati di jalan” ucap Juan dengan sopan sambil mengantarkan kedua calon mertuanya itu ke luar ruangan.


Mereka sama-sama diam. Juan tahu jika Ivy tidak menginginkan ini.


“kenapa wajahmu seperti itu?”


“mereka menjodohkan ku bukan karena mereka sayang padaku. Mereka membuang ku”


“dari mana kamu dapat asumsi seperti itu?”


“saya tidak berasumsi. Saya hanya melihat kenyataanya saja seperti apa”


“kamu tahu ini (menunjukkan kalung dengan liontin hati dari dalam kemeja kerjanya) kamu pasti punya kan?”


“bagaimana bapak dapat benda itu?”


“ini pemberian kakekmu, dia memberikan ini padaku juga dan memintaku untuk menjagamu”


“menjagaku? (Juan mengangguk) apa bapak mendekati saya hanya karena perintah dari kakek saya?”


“(menggeleng) tidak, aku benar-benar menyayangimu di sini (menyentuh dada) bukan sebagai cucu dari perusahaan ternama, tetapi sebagai Ivy. Jadi Ivy, will you marry me?”


“apa saya bisa mempercayai ucapan bapak?”


“aku tidak main-main dengan ucapanku”


“yes sir, I will”


“apa ini keputusan baik, atau justru buruk. Aku tidak tahu, aku tidak punya hak untuk memilih, menghindar atau menolak. Aku hanya bisa berharap, dan bersiap ketika semua orang di hidupku akan pergi satu persatu” batin Ivy pasrah.


.


.


.


“apa kamu yakin dengan kontrak ini?” ucap pria dengan pakaian serba putih itu dengan penuh cemas kepada seorang gadis yang hanya terlihat tulang dan kulitnya saja. Gadis itu tersenyum lembut dan mengangguk yakin.

__ADS_1


“iya dokter saya yakin, hanya ini yang bisa saya lakukan”


“hmm(menggeleng) kamu pasti bisa sembuh” Zena menggenggam tangan dokter yang sudah dua tahun merawatnya dan mengusapnya lembut. “operasinya masih cukup lama, masih ada cukup banyak waktu, jangan khawatir"


Mata dokter itu mulai berkaca-kaca , rahangnya mengeras.


“kau tahu? Aku mencintaimu”


“tentu saja, Dokter selalu mengucapkan hal itu setiap hari. Aku juga mencintai Dokter Arvin”


.


.


.


Adam memerhatikan Ivy yang sedang duduk sendirian di taman belakang sekolah dengan senyum indah di wajah tampannya. Rambut coklat bergelombang, mata biru cerah, kulit putih dan proporsional, sebuah pemandangan indah untuk di lewatkan. Namun sayang, tidak ada segaris senyuman di wajah cantiknya. Hanya tatapan kosong seolah seperti cahaya yang redup.


Waktu menunjukkan jam 11.45, waktunya istirahat makan siang. Sebentar lagi tempat itu pasti akan ramai.


“hallo nona,,sudah saatnya makan siang,,maukah anda makan siang bersama saya dan teman-teman berisik saya?” ucap Adam dengan gaya bicara seolah-olah dia adalah pangeran kerajaan yang ingin mengajak sang puteri untuk pergi ke pesta dansa.


“apaan sih, yaudah ayo” jawab Ivy sambil tertawa, sedikit jijik dengan tingkah alay Adam.


Kantin


“Tanam-tanam duit tak perlu di bajak, orang baik hati bagi duit dong!” ya kira-kira seperti itu nyanyian aneh dari Jio, seketika langsung mendapatkan jitakan keras dari si kutu buku, Bian tentu saja.


“mau morotin hah?” Adam tidak terima.


“iya nih, lagi pula ni ya Ji, bagi snack sedikit aja aku GA.MA.U. Apa lagi duit ke orang seperti mu, lebih baik duitnya ku kasih mbak-mbak swalayan” balas Toni yang tentu saja masih mengunyah keripik kentangnya.


“ups!”


“Nin! Kalian jadian? Beneran jadian?” Ivy tidak percaya, cepet banget. Nina mengangguk singkat dengan malu-malu.


“parah sih ini, main cepet aja nih si Jio, kok cewek secantik kamu mau sih sama manusia setengah bagong kek dia”


“berani banget tuh mulut, lu aja yang kelamaan dam. Keduluan kan? iri bilang bos”


“apaan sih, bentar lagi juga dapet, liat aja”


“emang ada yang mau sama peranakan gorilla kek lo?”


“waaaah, jahat banget mulutnya, jadi kasian sama Nina. Nin, sama aku aja mau gak? Aku baik hati, tidak sombong, rajin menabung, gak kayak nih anak”


“nyam,nyam krauk,krauk,krauk (Toni dengan keripik kentangnya)”


Bian hanya geleng-geleng kepala.


“iiih mulutnya ga pernah di sekolahin. Jangan ganggu Nina ya, awas aja kau!”


“KALIAN BERDUA BERISIK!”


“siap boss” satu teriakan dari Bian dan mereka berdua langsung kicep, bisa gawat kalo tuh satu kutu buku marah. Ivy tertawa tipis melihat tingkah konyol mereka. Benar-benar orang yang aneh.


“nah gitu dong ketawa, jangan sedih mulu” bisik Adam, seketika wajah Ivyy menjadi semerah tomat dan panas. Adam hanya tersenyum tipis melihat respon dari Ivy yang baginya sangat menggemaskan.


.

__ADS_1


.


.


Sepulang sekolah di persimpangan tak jauh dari sekolah.


Juan terus menerus melihat jam tangannya gemas, dia sudah menunggu setengah jam dan seseorang yang ia tunggu tidak muncul-muncul juga di dekatnya.


“ah itu dia”


TIIIN


“cepat masuk!”


“saya?”


“iya siapa lagi, cepat sebelum hal merepotkan terjadi”


Walau pun masih bingung, Ivy akhirnya menurut dan memasuki mobil Juan. Berbeda dengan biasanya, Juan dengan pakaian simple seperti itu menabah kesan tampan pada dirinya.


“kita mau kemana pak?” Juan melirik Ivy tajam, sepertinya gadisnya itu lupa dengan perkataanya tempo hari.


“kamu lupa rule nya honey? Jangan panggil pak selain di sekolah”


“emm,,,”


“cepat katakana atau aku akan menciummu!”


“baik Juan, ya, Juan”


“good girl” Juan mengacak-acak rambut Ivy dengan tangan kirinya dengan gemas, sedangkan tangan kanannya sedang sibuk dengan setir mobil.


Tak berapa lama akhirnya mereka sampai di sebuah mall yang cukup mewah, hanya orang-orang berdompet tebal yang menjadikan tempat ini sebagai tempat untuk nongkrong atau berbelanja.


“eh!”


“kenapa? kamu tidak mau aku gandeng?”


“eh, tidak pak, mmm, maksudnya Juan, tidak apa-apa (tersenyum manis)”


Mereka berjalan-jalan sambil membeli beberpa pasang baju serta sepatu untuk Ivy, walau pun beberapa juga untuk Juan. Tentu saja awalnya Ivy menolak, tapi Juan terus memaksa dan mengancamnya. Mau tidak mau ia harus menurutinya. Jalan-jalan berdua dengan Juan tidak lah buruk. Genggamannya terasa hangat, dan senyumnya terasa menenagkan untuk Ivy. Sampai Ivy sendiri tidak sadar bahwa senyumnya terus mengambang.


“saya pesan steak tuna satu” kata Ivy pada pelayan restoran.


“tidak boleh!” ucap Juan cepat, lama-lama Ivy juga sebal karena Juan selalu protektif pada dirinya.


“kenapa? Aku ingin memakannya”


“sekali tidak ya tidak!”


“isshhhh, pasta satu mbak”


“kenapa senyum-senyum sendiri?” heran Ivy melihat Juan yang melihat dirinya sambil terus tersenyum tidak jelas. Jika teman satu sekolahnya tahu sifat Juan yang seperti ini, entah bagaimana respon mereka nanti.


“istriku memang cantik”


“HAH! (melotot)”


“baiklah-baiklah bukan istri tapi calon istri”

__ADS_1


__ADS_2