
Sakit
Rasanya sakit
Semua pergi. Semua hilang. Mereka meninggalkanku, apa salahku! Apa kalian membenciku? Kenapa kalian semua pergi? Di sini dingin, hampa, gelap. Kembalilah, aku menyayangi kalian. Bawa aku.
Adam membuka mata dari tidurnya, cahaya yang menerobos jendela di kamar itu membuat matanya menyipit karena silau. Dia diam sejenak dan mencemarti apa yang telah terjadi. Adam mengamati sekeliling dengan heran, ini bukan kamarnya, dia hapal sekali kalau ini adalah kamar Bian.
Jam dinding menunjukkan pukul 06.07 pagi, masih terlalu dini baginnya untuk bersiap-siap pergi ke sekolah. Dia melihat tangan dan dadanya, semua di balut sempurna. Adam mencengkram erat sprei dengan kesal, lagi-lagi dia hanya bisa menjadi beban bagi semua orang di seklilingnya. Giginya merapat dan rahangnya mengeras, dia terlalu lemah.
“ah, kau sudah bangun?” Bian datang sambil membawa bubur yang terlihat masih hangat, dia terlihat sudah rapi dengan seragam sekolahnya.
Adam memalingkan wajahnya ke arah lain sambil mengangguk, menghindari berhadapan langsung dengan Bian. Bian menaruh bubur di atas nakas lalu berjalan mendekati Adam dan pundak pria itu kuat-kuat agar Bian bisa menatap wajahnya.
“kau kenapa menangis?” ucap Bian terkejut melihat cairan bening keluar dari manik adiknya. Adam melepaskan tangan Bian dan berjalan keluar tanpa mengucapkan satu kata pun.
Bian tahu itu berat untuknya, Adam selalu saja keras dan disiplin kepada dirinya sendiri, dan itu wajar. Namun bagi Bian itu cukup menakutkan, dia takut kejadian bertahun-tahun silam akan terulang kembali. Bian tidak ada ketika satu-satunya sepupunya itu membutuhkan pertolongan dan kasih sayang ketika semua orang yang adiknya sayangi pergi meninggalkannya.
Bian menggenggam dadanya yang sesak, dia ingin sekali menangis. Dia sudah berusaha berpuluh-puluh atau ratusan kali untuk melindunginya namun tetap gagal. Sebuah kegagalan untuk seorang kakak kepada adiknya. Hatinya terus terasa ada yang mengganjal dan tajam yang seakan terus menusuk hatinnya.
“ku mohon! Sekali saja”
.
.
.
Hari ini Ivy masuk sekolah seperti biasanya. Senyum indah terukir indah di wajahnya yang cantik. Perlahan lukanya sembuh, baik di tubuh atau pun di hatinya, semua seakan membaik.
Ivy senang bisa keluar dari rumah sakit yang terlalu membosankan untuknya, namun ada yang membuatnya jengkel sendiri sejak tadi pagi. Juan selalu saja mengikutinya, kali ini Juan benar-benar akan mengawasi Ivy secara ketat. Dan sekarang Ivy sedang berjalan di koridor sekolah dan Juan berjalan di belakangnya, mengikuti langkahnya dan irama jalannya.
Perempatan terlihat di kepala coklatnya. Masih pagi dia sudah di buat kesal sama satu manusia tampan yang gampang sekali cemburu. Sesekali Ivy menghentikan langkahnya dan melihat ke arah Juan, dan Juan juga melakukan hal yang sama.
“Ivyyyyyyy, akhirnya kau masuk juga. Kau tahu aku benar-benar merindukanmu tahu, aku akan mentraktir mu makan siang di kantin oke? Oh iya, apa kau masih tidak enak badan? Mau ke UKS? Mau hmmmpp,,,,” Ivy membekap mulut cerewet Nina.
Baru saja Ivy sampai di depan pintu, Nina langsung berhambur memeluknya dan menghujaninnya dengan berbagai pertanyaan. Ivy sedikit melirik ke belakang, Juan sudah pergi, Ivy mengangkat bahunnya acuh dan menyeret Nina menuju bangku mereka. Akhirnya dia bisa bernapas dengan tenang.
Di dalam kelas Ivy tak sengaja melihat bunga-bunga yang terlihat cantik di luar sana. “aku kangen Zena” gumannya. Rasanya sudah lama Ivy tidak mengunjunginya. Ia berharap Zena baik-baik saja dengan dokter Arvin.
“Zena? Siapa Zena? Pacarmu?”
__ADS_1
“bisa tidak kau sedikit tenang!, ini masih pagi kau tahu”
“aish, jangan malu-malu lah Vy, aku kan temanmu masa kau main rahasia-rahasiaan tentang pacarmu” bertepatan dengan kata terakhir Nina, Juan dengan cool nya memasuki kelas dan menatap Ivy tajam. “Apa pria itu mendengarnya? Hebat sekali dia” guman Ivy sambil membuka buku ekonominnya dengan geleng-geleng kepala.
Pelajaran terasa membosankan, Ivy ingin ke sekolah karena merindukan teman-temannya, bukan merindukan pelajarannya yang membosankan. Di tambah lagi para cewek-cewek genit di kelasnya yang ceri perhatian dengan sok-sokan bertanya. Ivy yakin kalau otak mereka sebenarnya tidak berisi sama sekali, isinya Cuma kapas basah yang kotor. Entah kenapa Ivy sebal sendiri melihatnya. Dan juga respon Juan yang terlihat menjijikkan untuknya.
Dua jam pelajaran berlalu dan sekarang mereka sedang jam kosong, karena guru yang mengajar selanjutnya sedang tidak masuk karena Izin. Ivy dan Nina memutuskan untuk pergi berkeliling sebentar lalu pergi ke kantin.
Mereka berdua melewati koridor yang terdapat loker di samping kanan dan kirinya. Mereka hampir tidak pernah menggunakan loker, karena terlalu malas untuk berjalan dari kelasnya menuju loker. Yah, mereka hanya menaruh pakaian ganti saja di sana.
Namun loker Ivy terlihat sebuah surat merah yang menempel di pintunya. “dari siapa vy?” kepo Nina, Ivy hanya mengangkat bahu karena dia sendiri juga tidak tahu siapa pemilik surat merah itu. Surat merah dengan hiasan gambar bunga-bunga kecil yang lucu.
“ halo Ivy, apa kabar? Kamu baik-baik saja? syukurlah karena kamu sudah kaluar dari rumah sakit. Istirahat makan siang nanti temui aku di taman belakang sekolah.”
“apa-apaan ini! Masa surat isinya secuil gini doang! Buang-buang kertas aja nih anak” protes Nina karena sebal sendiri, apa-apaan surat hanya berisi beberapa kalimat saja. Ivy sendiri apa maksutnya, dia hanya mengerti kalau di suruh menemui si pengirim surat di taman belakang sekolah sewaktu istirahat makan siang.
Sewaktu berjalan menuju kantin mereka berdua tak sengaja berpapasan dengan Juan dan guru perempuan yang terlihat asing bagi mereka. Berjalan seakan tidak mengindahkan keberadaan Ivy dan Nina yang sedang berada di sana dan sambil menyapa mereka ‘selamat siang pak, bu’. Namun kedua orang itu tidak menghiraukan dan terus berjalan.
.
.
.
“apaan sih ini, kagak ada hurupnya gimana cara bacannya!” Jio tak henti-henti merutuki sebuah kertas di hadapannya. Nina, Ivy, Jio, Toni dan Bian sedang duduk dan makan di kantin seperti biasa. Namun kali ini Jio membawa kertas remidinya ke kantin dan mengerjakannya di sana. Emang dasarnya nggak pandai matematika kalau di suruh ngerjain ya pasti kita tahu bagaimana jadinya bukan (?)
“aku tak menyangka kalau kau sebodoh itu”
“berisik! Berhenti mengunyah atau ku kunyah semua lemakmu itu”
“Toni benar, kau itu bodohnya sudah kritis. Coba kalau kau sekoalah seni, kau pasti pintar (Jio sangat pandai menggambar)”
“lalu kau mau membiayai ku ketika aku di usir dari rumah? Beeeeeb (merengek manja kepada Nina) lihat kan! hanya otak mereka yang di sekolahkan, mulut enggak”
Nina tertawa kecil melihat tingkah Jio yang menurutnya lucu. Jio memang selalu manja kepadannya, dan sekarang dia sedang sibuk menyuapi nasi goreng untuk Jio, ketika sang pacar sedang pusing dengan remed matematikannya. Ivy melirik Bian sekilas Karena hanya Bian yang kalem diantara ke-tiga pria itu. “Bi? Adam ke mana?” Bian sedikit terkejut dengan pertanyaan Ivy yang memang sudah sewajarnya itu, karena salah satu dari mereka tidak hadir pasti rasannya ada yang kurang. “oh, itu, dia izin ke luar kota katanya” tentu saja Bian berbohong, dia sendiri juga tidak tahu kemana perginya adik sepupunnya itu.
__ADS_1
“*hey lihat itu! itu guru baru kah? Cantik*”
“*tapi mereka terlihat cocok*”
“*bodynya omg banget*”
Mendengar bisikan berbagai siswa membuat Ivy sembunyi-sembunyi melihat tubuhnya. Tepos, kosong tak berisi. Miris, sangat berbeda dengan perempuan yang tersenyum manis bersama Juan di tempat mengambil makan siang. Terlampau sexy.
“*tapi kenapa dia sama pak Juan? Mereka dekat? Atau itu bukan guru tapi istrinya yang diajak ke tempat kerja suaminya*”
“uhuk,,uhuk,hmpp (menepuk dadannya sendiri yang sesak karena tersedak) uhuk,,uhukk” Ivy menyambar air minum yang Nina sodorkan padanya. Nina mengelus punggung Ivy dan sesekali menepuknya. “gapapa vy?”
“iya gapapa, udah-udah gapapa”
“makannya kalo makan pake otak jangan pake mulut kaya si Bian noh!” seru Jio yang masih sebal dengan teman-temannya. Bisa-bisannya mereka menyebut perempuan itu istri Juan di depan calon istrinya. Eh, bisa saja kalau itu memang istrinya dan dia mau di madu. Lalu Juan akan menikah lagis setelah menikahinya. Seketika Ivy menggelang cepat, menghilangkan bayangan mengerikan tentang dirinya yang akan di madu. Bisa-bisannya dia madu di umur imut begini.
Ivy melirik Juan yang terlihat ramah dan bahkan menarikkan tempat duduk perempuan itu dengan senyum ramah yang sangat jarang sekali ia tunjukkan di sekolah, terutama tempat ramai seperti kantin. Sepertinya kedatangan dua insan good looking itu membuat seisi kantin terus bergosip dan berbisik-bisik curiga.
Nina bertatapan dengan Jio seolah memiliki telepati. Yah, karena mereka berdua awalnya memang sudah curiga tentang kedekatan Ivy dan Juan.
“oh iya Nin aku mau ke taman dulu ya, nanti kalian ke kelas dulu aja” Ivy meninggalkan kantin dengan cepat. “oke, semoga beruntung” balas Nina sambil melambai. Jio,Bian dan Toni (yang masih sibuk ngunyah) melihat Ivy dan Nina bergantian seolah meminta penjelasan.
“jadi Ivy mau punya pacar kayaknya, soalnya tadi ada SURAT CINTA di lokernya, Jadi dia mau menemui pengirim surat itu. Semoga saja dia NGGAK JOMBLO lagi, iya kan?” jawab Nina dengan menekan kan beberapa kata agar terdengar oleh Juan. Benar saja, kini gantian Juan yang tersedak makanannya sendiri. Hal itu membuat Nina puas sekaligus senang. Sedangkan Jio, Toni dan Bian hanya mangut-mangut tidak jelas.
"uhukk,,uhuk, ekhm ekhm"
"mau minum dulu pak Juan?"
"tidak terimakasih"
“*pacar? Siapa? Adam? Ah bukan. Lalu siapa*?”Batin Juan panik. Salah sendiri berani bawa perempuan lain di depan calon istri. Karmannya langsung kan?.
__ADS_1