
Pagi ini Zaira tengah berada di dalam mobil bersama dengan Azka. Awalnya Zaira menolak untuk berangkat bersama dengan Azka namun karena Azka terus memaksa akhirnya mau tidak mau Zaira tidak bisa menolak.
Mobil Azka sudah berada di parkiran sekolah Zaira mau turun tapi takut dengan murid-murid yang nantinya pasti bakalan heboh jika melihat dirinya keluar dari mobil Azka terlebih lagi karena kejadian beberapa hari lalu yang sempat heboh membuat Zaira enggan untuk turun.
" Gak mau turun?" tanya Azka membuat Zaira menoleh ke arahnya dengan wajah yang sudah ditekuk.
" Ada apa lagi?" tanya Azka yang tidak melihat ada pergerakan dari Zaira.
Zaira lebih memilih diam dan menyandarkan tubuhnya sambil memperhatikan murid yang masuk lalu lalang.
" Mau sampai kapan di sini terus?" tanya Azka yang lagi-lagi tidak dihiraukan oleh Zaira.
" Yasudah mas keluar duluan ya?" Zaira menoleh dan mendengus kesal.
Azka yang dapat membaca raut wajah Zaira yang kecewa akhirnya memutuskan untuk tetap diam di dalam mobil
" Sudah sepi ayok turun!" ajak Azka yang melihat suasana sudah nampak sepi dan sebentar lagi bel masuk pun akan segera bunyi.
Zaira langsung turun dari dalam mobil setelah menyalami tangan Azka dan mendaratkan kecupan singkat atas permintaan suaminya Zaira langsung berlari menuju ke arah kelasnya
Sebelum sampai di dalam kelas Zaira bertemu dengan Irfan sang ketua OSIS.
" Zaira!" panggil Irfan saat melihat Zaira yang tengah berlari.
Zaira menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah suara.
" Za, loe kemana aja kok baru masuk?" tanya Irfan yang tidak tahu tentang kejadian yang menimpa Zaira akibat ulah Mario beberapa hari lalu.
Zaira hanya tersenyum tipis lalu tanpa menjawab ia pergi meninggalkan Irfan begitu saja.
Saat kejadian yang menimpa Zaira akibat ulah Mario itu Irfan memang sedang tidak masuk sekolah karena ada urusan keluarga. dan setelah ia masuk semua siswa dilarang keras membicarakan tentang kejadian tersebut bahkan video yang sempat beredar pun pada hari itu juga langsung di hapus oleh orang suruhan Azka.
Zaira kini sudah berada di dalam kelas, tapi hari ini dia nampak risih karena Mona, Mia dan Indah terus menatap tajam ke arahnya.
Beberapa hari ini memang sahabat-sahabatnya sangat sulit untuk menemui Zaira siapa lagi penyebabnya kalau bukan ulah suaminya yang begitu posesif terhadapnya.
" Za loe hutang penjelasan sama kita-kita!" ucap Mona mewakili teman-temannya.
__ADS_1
" Iya, nanti pasti gue jelasin semuanya. tenang aja!" ucap Zaira santai.
" Oia, Za dokter tampan yang loe peluk kemarin itu sebenarnya siapa sih Za, kok loe bisa kenal?" tanya Mona antusias.
" Ceritanya panjang nanti aja gue ceritain, udah ah tuh ada Bu Siska nanti kena damprat baru tahu rasa loe!" ucap Zaira memperingatkan Mona.
Mona mengerucutkan bibirnya dan kembali menghadap ke depan. Zaira hanya menggeleng melihat tingkah Mona yang merajuk.
*
*
*
" Za apa pulang sekolah nanti loe mau ikut ke rumah sakit?" tanya Mia saat mereka tengah berganti baju olahraga setelah jam pelajaran Bu Siska selesai.
" Emmmm... gue izin dulu ya boleh apa gaknya" jawab Zaira
" Cie... cie... yang sudah punya su_!" Zaira langsung membekap mulut Mona yang hampir saja keceplosan bicara.
" Ma..af!" Mona memukul mulutnya sendiri pelan. " Maaf gue hampir saja keceplosan" Mona lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
" Makanya lain kali mulut tuh dijaga pakai rem yang pakem biar kalau ngomong tuh ada remnya gak nyelonong terus!" ketus Lia menatap tajam Mona yang memang selalu suka asal kalau bicara sering keceplosan.
" Tau ni Mona" tambah indah yang mendapat anggukan oleh Mia.
" Ya sorry!" Mona merasa menyesal.
" Sudah-sudah sebentar lagi pak Bagaz masuk cepat ganti !" seru Zaira yang sudah hampir selesai berganti baju.
Anak-anak kelas 11 khususnya kelas Zaira kini tengah berada di lapangan, Azka menyuruh mereka untuk keliling lapangan sebanyak 10 kali tidak terkecuali Zaira walaupun awalnya Azka sudah melarang namun Zaira bersikeras untuk tetap ikut lari karena dia tidak mau Azka terlihat memperlakukan berbeda dengan murid lainnya.
" Yang mending udah deh gak usah ikutan lari nanti kamu kecapean, kamu itukan baru sembuh yang!" bisik Azka yang tengah berpura-pura menyuruh Zaira untuk mengambil bola basket.
" Gak mau" ucap Zaira pelan lalu meninggalkan Azka begitu saja.
Setelah selesai berlari mengelilingi lapangan semua murid duduk di lapangan termasuk Zaira.
__ADS_1
" Hufff, capek!" keluh Zaira mendudukkan dirinya bersama Lia di lantai lapangan yang sudah ada Mona, Indah dan Mia yang tengah berselonjor kaki.
" Loe kenapa pakai ikutan lari, loe kan bisa bilang tuh sama laki loe buat gak ikutan " ucap Mona setelah meneguk sebotol air mineral.
" Parah loe Mon, minuman gue itu, loe habisin lagi" kesal Indah yang melihat botol minumnya sudah kosong diminum oleh Mona.
" Hehehe.., sorry Ndah. nanti gue ganti deh di kantin" bujuk Mona agar Indah tidak marah.
" Hai Za, capek ya?" tanya seorang siswa yang tiba-tiba muncul di hadapannya. " Haus? ini buat loe" Siswa itu menyodorkan sebotol minuman mineral ke depan Zaira.
Zaira menatap botol minum yang disodorkan kepadanya setelah itu mendongak melihat Siswa tersebut.
" Buat gue?" tanya Zaira yang diangguki Siswa tersebut dengan senyum manisnya.
" Tapi sorry gue udah ada, ni!" tolak Zaira halus mengangkat botol mineral miliknya memperlihatkan kepada siswa yang menyodorkan minuman ke arahnya.
" Buat Indah aja deh kak kasihan tuh dia kehausan, minumannya dihabisi Mona" Celetuk Mia.
" Nah tuh ada yang membutuhkan!" timpal Zaira tersenyum tipis.
" loe sangat cantik Za, apalagi kalau tersenyum gini" batin Irfan siswa yang menyodorkan minuman untuk Zaira.
" Kak!" panggil Mia, Irfan terkesiap dan nampak sedikit gugup.
" Ah iya, ini minum aja!" Irfan memberikan minumannya kepada Indah.
" Terima kasih Kak" ucap Indah menerima botol minum tersebut.
" Sama-sama" Irfan melempar senyum yang sedikit di paksakan. " ya udah gue balik ke kelas dulu!" pamit Irfan.
" Duh mimpi apa gue ya semalam dapat minum dari kak Irfan yang super ganteng" ucap Indah berbinar membuat teman-temannya memutar bola matanya malas.
" Huhh.. dasar loe, lebay!" cibir Mona. " kalau bukan minuman loe yang gue minum loe gak bisa dapat tuh minuman. terima kasih loe sama gue" ucap Mona dengan sombong.
" Salah, bukan karena loe Mon tapi karena Zaira lah" protes Mia." kalau Za gak nolak indah juga gak dapet tuh minuman" lanjutnya lagi.
" Sudah ah, kok jadi bahas gituan sih" Zaira menengahi perdebatan yang di rasa tidak penting itu. Sementara tanpa mereka sadari interaksi Irfan dan Zaira tadi sempat membuat seseorang yang berada di pinggir lapangan mengepalkan tangannya kuat. Untung saja tadi dia lebih cepat memberi Zaira minuman saat dia meminta Zaira membantunya membawakan bola basket bersama dengan Lia, hingga Zaira bisa menolak minuman yang diberikan oleh Irfan sehingga dirinya bisa bernafas lega.
__ADS_1