Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Akhirnya


__ADS_3

Lia pagi-pagi sudah terjaga dari tidurnya dan dengan pergerakan lambat dia turun dari tempat tidur dan langsung menuju kamar mandi, usai mandi Lia bergegas turun ke bawah dan pergi ke dapur.


Lia melihat seorang art sedang sibuk berkutat di dapur membuat sarapan membuat dia ingin turut serta membantu membuat sarapan untuk Mario.


" Selamat pagi bi!" sapa Lia kepada art yang bernama bi Tini


" Selamat pagi non Lia!" jawab bi Tini asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Mario.


" Sedang masak apa bi?" tanya Lia seraya memperhatikan bi Tini memasak


" Ini non masak udang asam manis sama ayam lada hitam kesukaan den Rio" ucap bi Tini.


" owh gitu ya bi, emmm... boleh gak bi saya ikut bantuin sekalian belajar bi" ucap Lia dengan ramah.


" Tapi non apa den Rio gak marah kalau melihat non Lia berada di dapur seperti ini?" tanya bi


Tini yang takut dimarahi oleh Mario.


" Ya enggak akanlah bi, masa orang belajar masak malah di marahi bisa saya marahi balik nanti dia bi" ucap Lia sambil tertawa kecil


" Ah non Lia bisa saja" ucap bi Tini sedikit sungkan


" Yaudah bi apa nih kira-kira yang bisa saya bantu?" ucap Lia menawarkan bantuan.


" ini aja non, dipotong-potong ya sayurannya!" ucap bi Tini.


" siap bi" sahut Lia dengan semangat.


Lia dan bi Tini tengah asik memasak di dapur dengan sesekali Lia bertanya tentang keseharian Mario dari segi makanan kesukaan dan yang tidak disukai Mario sampai tentang kebiasaan apa saja yang dilakukan Mario saat berada di rumah dan cerita yang Lia dengar dari bi Tini tentang Mario membuat Lia terkadang tertawa terkadang juga merasa kasihan karena bi Tini sempat mengatakan jika Mario dulu selalu bersikap urakan dan sering membuat onar tidak lain karena Mario ternyata kurang kasih sayang dan perhatian dari kedua orang tuanya. Mario memang dilahirkan di keluarga yang terbilang serba kecukupan tetapi karena orang tuanya sering pulang pergi keluar negeri membuat Mario merasa diabaikan dan tidak dipedulikan.


Lia juga sama-sama terlahir di keluarga yang sibuk dengan pekerjaan tapi mama Maria dan papa Sam selalu berusaha meluangkan waktunya untuk anak-anaknya walaupun hanya dalam waktu sebentar disela-sela kesibukan mereka.


Setelah masakan selesai terhidangkan diatas meja makan, Lia langsung masuk ke dalam kamar Mario untuk memanggilnya sarapan bersama.


Ceklekk


Lia masuk ke dalam kamar ternyata kosong Lia mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi Lia yakin Mario saat ini pasti sedang mandi


Lia menyiapkan baju seragam untuk Mario setelah dirinya sendiri sudah mengganti bajunya dengan seragam sekolah yang ternyata sudah disiapkan oleh Mario beberapa hari yang lalu.


Tok


Tok


Tok


Lia mendengar pintu kamarnya ada yang mengetuk, Lia berjalan menuju pintu melihat siapa yang tengah mengetuk pintu kamarnya tersebut


Ceklekk


" Iya Bi ada apa?" tanya Lia dengan ramah


" Ini non, tadi ada yang mengantarkan tas sekolah non Lia sama den Rio!" ucap bi Tini memberikan tas milik Lia dan Mario kepada Lia


" Owh, iya bi terima kasih banyak ya bi!" ucap Lia


" Iya, non sama-sama. yaudah saya balik ke dapur lagi ya non?" ucap bi Tini


" Ah iya bi!" sahut Lia seraya menutup kembali pintu kamarnya setelah bi Tini sudah beranjak pergi.


Saat Lia berbalik badan betapa terkejutnya Lia karena ternyata keningnya membentur dada bidang Mario yang tengah bertelanjang dada.


Deg


Mata Lia tidak berkedip melihat belahan roti sobek yang tersunguh di hadapannya. Lia dengan susah payah menelan salivanya dan tidak berani mendongak menatap sang empunya bongkahan roti sobek tersebut.


Mario mengulum senyumnya melihat Lia yang nampak jelas sedang salah tingkah sambil tangannya sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.


" Sayang!" panggil Mario membuat Lia langsung berjalan dan menghindari Mario.


" Hei!" panggil Mario membuat Lia mengerucutkan bibirnya karena kesal dengan sikap Mario yang dengan sengaja bertelanjang dada dihadapannya.


" Io bisa gak sih langsung pakai baju ?" kesal Lia membuat Mario semakin tergelak.


" Memangnya kenapa, hem?" tanya Mario dengan santai membuat Lia mendengus kesal.


" Gak tau ah!" Lia membuang pandangannya ke sembarang arah dengan degup jantung yang tidak karuan.


" Sayang!" panggil Mario lagi.


"Io, cepat pakai baju kamu, pokoknya aku tunggu di bawah gak pakai lama!" ucap Lia yang langsung beranjak pergi dengan membawa tas sekolahnya.


" Sayang tunggu, memangnya kamu tidak mau membantu suamimu ini memakai pakaian Hem?" goda Mario saat Lia langsung kabur dari kamar membuat Mario menggelengkan kepalanya seraya tertawa lepas.


Lia sudah berada di meja makan dia menunggu Mario memakai seragam sekolahnya. setelah selesai memakai seragam sekolahnya Mario menyusul Lia ke meja makan dengan tas ransel yang sudah bertengger di punggungnya.


" Masakannya tumben rasanya beda?" tanya Mario saat tengah mencicipi udang asam manis yang dimasak oleh Lia dengan bantuan bi Tini tentunya.


" Kenapa, apa udang asam manisnya rasanya tidak enak seperti biasanya?" tanya Lia sedikit khawatir jika ternyata masakannya tidak seenak masakan bi Tini dan malah membuat Mario tidak berselera untuk sarapan.


" Bagaimana ya bilangnya, boleh jujur gak sih" ucap Mario yang semakin membuat Lia semakin terlihat gugup.


" yaudah bilang aja, masakannya enggak enak iya ka?" tanya Lia sedikit kesal karena Mario menurutnya terlalu bertele-tele.

__ADS_1


" Siapa bilang, sensitif banget sih!" goda Mario


" Ya habisnya kamu bilang masakannya gak seperti biasanya makanya aku nanya, gak biasanya bagaimana?" tanya Lia yang sudah sedikit emosi.


" Ya memang gak biasanya masakan bi Tini udang asam manisnya bisa seenak ini rasanya" ucap Mario dengan seulas senyum diwajah membuat Lia seketika memerah wajahnya.


" Gombal!" sarkas Lia


" Gak gombal, serius ini enak banget loh sayang, kamu tau kenapa bisa seenak ini? " Lia menggeleng " itu karena masakan ini dimasak dengan penuh cinta dan kasih sayang jadi rasanya jauh lebih enak dari makanan manapun" ucap Mario membuat Lia jadi tambah salah tingkah dan bersemu merah


" Sudah ah jangan gombalin aku terus, cepat makannya setelah itu kita berangkat ke sekolah" ucap Lia seraya memakan makanan yang sempat di masaknya bersama bi Tini.


...☄️☄️☄️...


Saat ini Lia dan Mario sudah tiba di parkiran sekolah, seperti biasa kebersamaan mereka selalu menjadi tranding topik berita pagi ini. Mario yang terlihat sering tersenyum dan tertawa setiap kali bersama dengan Lia selalu jadi pusat perhatian para cewek-cewek yang dibuat baper oleh ketampanan Mario dua kali lipat dari biasanya.


" Kenapa ya Mario kalau bersama Lia bisa gitu tersenyum bahkan tertawa kayak gitu?" ucap salah satu cewek yang sudah lama menjadi penggemar Mario.


" Iya gue juga heran, kalau ke yang lain Mario selalu saja bersikap dingin, cuek dan jutek parah" ucap salah satu teman cewek tersebut.


" Hebat ya Lia bisa mencairkan es balok macam Mario" celetuk temannya lagi.


" Iya, gue dulu yang pernah jadi pacarnya aja boro-boro diajak jalan, ngobrol aja gak pernah" sahut salah satu mantan Mario


" Ya terus loe pacaran ngapain aja kalau begitu?" tanya temannya


" Cuma buat status dia doang biar dibilang gak jomblo padahal mah jalan, bicara gak sama sekali kecuali ya kalau lagi ada temannya aja itu juga cuma disuruh bawain tasnya doang" jawab mantan pacar Mario


" Kasihan banget ya nasib loe" ledek teman-temannya.


" Tapi bukan cuma gue doang loh, hampir semua mantan Mario bernasib sama kecuali ya Lia itu. beruntung banget ya dia!" ucapnya.


" Liat tuh, Mario bahkan membawakan tas Lia loh. ih mau aja sih Mario. jangan-jangan tuh Lia pakai pelet kali ya?" ucap temannya mantan Mario.


" Huss.. jangan ngomong sembarangan loe, di ciduk keluarga Dinata baru tau rasa loe" ucap temannya mengingatkan.


" Iya loe "


Begitulah kira-kira pembicaraan unfaedah para penggemar berat Mario yang merasa iri dengan keberuntungan Lia bisa menjadi wanita spesial dimata Mario.


" Yang aku masuk dulu ya!" ucap Lia saat sudah berada di depan kelas Lia. seperti biasa Mario memang selalu mengantarkan Lia sampai depan kelas baru setelah itu dia pergi ke kelasnya.


" Assalamu'alaikum teman-teman!" ucap Lia berteriak saat memasuki kelasnya.


" Wa'alaikum salam!" sahut teman-teman Lia bersamaan.


" Ceria benar nih pagi, habis di cas ya loe tadi malam?" goda Mia yang melihat Lia nampak ceria pagi ini


" Puasa? jadi loe sama Mario belum itu itu dong?" tanya Indah dengan menaik turunkan alisnya


" Iya masih disegel" jawab Lia membuat Mia melotot


" Serius loh?" Mia penasaran


" Ya seriuslah ngapain juga gue bohong"


" Parah loe Li, bisa-bisanya loe anggurin begitu aja" ucap Mia


" Ya mau bagaimana lagi palang merah Bu" sahut Lia menggidikan bahunya


" Kasihan benar nasib Mario, bisa tuh dia menahannya" ucap Indah menimpali


" Woy kenapa sih loe pada, tumben-tumbenan Mona jadi pendiam gitu?" tanya indah yang merasa aneh dengan kedua sahabatnya itu.


" Loe kenapa Mita?" tanya Mia dengan sorot mata sedikit kecewa.


" Gue gak Kenapa-napa kok, gue cuma lagi kepikiran bokap gue aja" sahut Mita yang memang saat ini dia merasa tidak enak karena papanya sudah hampir sebulan ini tinggal bersama dokter Ariel.


" Apa loe merasa gak enak karena bokap loe tinggal bersama dokter Ariel?" tanya Lia tanpa basa-basi lagi membuat Mita seketika menoleh ke arahnya begitu juga dengan Mona dan Mia.


" Iya" sahut Mita terus terang.


" Kenapa bokap loe gak loe ajak tinggal bersama keluarga loe aja sih Mit, kenapa loe malah nyusahin dokter Ariel yang status kalian aja masih belum jelas?" ucap Mona tiba-tiba membuat Lia, Mita, Indah dan Mia tersentak kaget mendengar ucapan dari sahabatnya yang satu itu.


" Loe kok ngomongnya kayak gitu sih Mon?" tanya Lia yang gak menyangka Mona akan mengatakan hal seperti itu.


" Loe kenapa sih Mon belakangan ini jadi sensi gitu?" kali ini Mia yang turut bertanya.


" Sudah gaes gak apa-apa kok, yang dikatakan Mona memang ada benarnya, gak seharusnya gue menyusahkan hidup orang lain apalagi dokter Ariel yang sudah banyak banget gue repotkan. gue juga sedang berpikir kesitu kok, gue pingin bawa bokap gue untuk tinggal bersama gue tapi kalian juga tahukan hubungan bokap sama nyokap gue bukan lagi suami isteri jadi gak mungkin untuk mereka kembali tinggal dalam satu atap." tutur Mita dengan senyum yang sedikit di paksakan.


" Loe yang sabar ya Mit" ucap Mia merasa iba dengan keadaan sahabatnya yang satu itu.


" Gue yakin sebentar lagi masalah loe dan dokter Ariel pasti akan cepat selesai kok!" ucap Lia


" Masalah?" tanya indah bingung karena tidak tahu permasalahan yang tengah dihadapi Mita


" Bukan masalah apa-apa kok" sahut Mita dengan seulas senyum hambarnya.


Jam pelajaran pun tiba semua murid kembali fokus dengan pelajaran yang diberikan oleh guru mereka.


...☄️☄️☄️☄️...


Seminggu berlalu, hari ini adalah hari Minggu Lia tengah bersiap-siap untuk mengajak para sahabatnya untuk datang ke kedai bakso cinta yang sudah ia janjikan sebelumnya.

__ADS_1


Zaira dengan antusias sudah rapih lebih dulu dan menunggu Lia dan Mario di ruang TV bersama dengan Azka, sementara papa Sam dan mama Maria sedang tidak berada di rumah karena sedang menghadiri arisan keluarga.


" Lia cepat dong!" teriak Zaira yang sudah tidak sabar ingin segera pergi keluar rumah.


" Sayang sabar dong, Lia mungkin sedang bersiap-siap" ucap Azka yang hanya geleng-geleng kepala melihat Zaira yang nampak begitu antusias ingin pergi keluar.


Sementara di dalam kamar Lia sedang menunggu Mario yang tengah menerima panggilan telpon dari seseorang yang nampak begitu penting.


" Iya!"


(...)


" Apa kau yakin?"


(...)


" Benarkah, apa kau sudah memastikan semuanya?"


(...)


" Baiklah, kirim foto dan semua identitasnya dengan jelas!"


(...)


" Iya, jangan sampai ada yang terlewat satu pun"


(...)


" Terima kasih, aku tunggu kabar selanjutnya!"


(...)


Mario pun menyudahi sambungan teleponnya dan menoleh ke arah Lia yang tengah berdiri bersandar di dinding sambil memperhatikan suami tampannya itu.


Mario tersenyum tipis lalu perlahan kakinya melangkah menghampiri Lia yang juga tersenyum padanya.


" Sudah?" tanya Lia


" Hemm" Mario mengangguk lalu mengelus pucuk kepala Lia dengan lembut.


" Apa telpon penting?" tanya Lia seraya melangkahkan kakinya keluar kamar bersama Mario.


" Nanti juga kamu akan tahu sekarang sebaiknya kita nikmati saja akhir pekan ini dengan suka cita, bagaimana?" ucap Mario meraih tangan Lia lalu menggandengnya mesra


Lia pun menganggukkan kepalanya petanda setuju.


Lia dan Mario melangkahkan kakinya menuruni anak tangga dengan sedikit canda tawa ala Lia dan Mario membuat kedua pasangan suami isteri yang berstatus pelajar ini nampak begitu gembira.


Zaira ikut tersenyum melihat adik iparnya yang nampak begitu bahagia begitu juga dengan Azka senyum tampannya pun ikut menghias wajahnya.


" Hai kakak dan kakak iparku yang tersayang, maaf ya rada lama tadi babang io sibuk menerima panggilan telpon sampai isteri cantiknya saja terabaikan" ucap Lia sambil menoleh ke arah Mario membuat Mario geleng-geleng kepala dibuatnya.


" Oh sesibuk itukan adik iparku sampai-sampai akhir pekan pun sibuk?" tanya Zaira yang menanggapi ucapan Lia


" Bukan begitu, ini gak ada kaitannya dengan urusan kantor cuma ada sesuatu yang harus segera diselesaikan" ucap Mario menoleh ke arah Lia.


" Apa terjadi masalah?" tanya Azka khawatir


" Tidak pak, bukan sesuatu yang serius kok" sahut Mario yang langsung di protes oleh Lia.


" Suamiku, ini di rumah ya bukan disekolah atau pun di kantor, bisakah memanggilnya dengan sebutan kakak saja?" protes Lia membuat Zaira dan Azka jadi tertawa.


" Benar yang dikatakan Meli, ini bukan disekolah maupun di kantor jadi jangan terlalu formal seperti itu!" ucap Azka menimpali ucapan Lia.


" Ya sudah yuk ah berangkat nanti keburu siang" ucap Zaira tiba-tiba menyelak ucapan Azka


" Duh isteriku dari tadi rupanya sudah tidak sabar ya ingin segera keluar jalan-jalan?" goda Azka membuat Zaira mengerucutkan bibirnya lucu


" Jangan seperti itu, bikin gemes tau bisa batal nih acara keluarnya kalau terus manyun seperti itu. lebih baik kita habiskan waktu di dal_"


" Sudah ayok jalan, jangan kebanyakan bicara!" potong Zaira yang langsung menarik tangan suaminya itu untuk segera pergi.


Tidak lama Lia dan Mario sampai dengan Azka dan Zaira, para sahabat mereka pun juga baru saja sampai bersamaan.


Mona bersama dengan Indah sementara Mita datang bersama Mia dan juga Yoga.


" Hai, baru sampai juga?" sapa Mita kepada Lia


" Iya" sahut Lia


" Za mana?" tanya Mita yang tidak melihat keberadaan Zaira yang ternyata sudah masuk lebih dulu bersama dengan Azka dan Mario.


" Dia sudah di dalam, biasa bumil yang satu itu sudah tidak sabar dari setadi" sahut Lia


" Oh"


" Yaudah yuk kita masuk!" ajak Lia kepada teman-temannya.


Semua kini tengah berada di dalam kedai BakCin ( Bakso Cinta), semua menyukai tempat tersebut bahkan Zaira dan Azka tidak menyangka jika adiknya itu bisa memiliki kedai sebagus dan seunik itu.


semua menikmati apa yang disuguhkan di kedai tersebut bahkan Mita pun sejenak bisa melupakan masalah yang tengah ia hadapi. Lia nampak tersenyum bahagia saat melihat orang-orang yang ia sayangi nampak gembira namun sayangnya senyum yang terpancar di wajah cantik Lia tidak berlangsung lama, senyum itu redup ketika netranya menangkap sosok yang beberapa hari ini turut mengganggu pikirannya. Mario yang melihat perubahan raut wajah Lia langsung mengikuti arah pandangan mata Lia dan seketika iapun ikut terkejut.


" Akhirnya!" gumam Mario pelan

__ADS_1


__ADS_2