Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Pawangnya


__ADS_3

Hari ini cuaca cukup panas membuat Azka yang baru saja selesai mengajar dan bertepatan dengan jam istirahat Azka yang merasa haus memutuskan untuk pergi ke kantin sekolah mencari minuman yang segar dan menyejukkan kerongkongannya yang terasa kekeringan.


Azka duduk sendirian sambil menyeruput minumannya, Mario yang tadi sempat duduk menemaninya seperti biasa kini sibuk dengan urusan toilet, sebenarnya Lia sudah melarangnya untuk masuk sekolah tapi Mario bersikeras ingin tetap masuk sekolah karena dia tidak mau melewatkan hari-hari terakhirnya berada di sekolah bersama sang isteri tercinta sampai hari pengumuman kelulusannya.


Tidak lama dari kepergian Mario ke toilet murid dari kelas 10 yang bernama Bunga salah satu murid baru di sekolah SMA Darma Bangsa bersama dengan beberapa teman-temannya masuk ke dalam kantin dan langsung duduk di seberang bangku yang tidak jauh dari Azka duduki.


Mata Bunga terus menatap ke arah Azka, tatapan yang sulit di artikan.


" Hei Bunga, loe itukan anak baru gue kasih tau loe ya sebaiknya loe jangan cari masalah deh, jangan coba-coba deketin pak Bagaz kalau loe gak mau terlempar dari sekolah ini!" ucap salah satu teman sekelas Bunga.


" Iya Bunga betul tuh apa yang dibilang Erin!" ucap temannya yang lain


" Kalian tenang aja gue yakin pak Bagaz akan terpesona dengan kecantikan gue dan segera mencampakkan isterinya itu" ucap Bunga dengan percaya dirinya yang tinggi.


" Jangan halu loe, gak tau aja isteri pak Bagaz secantik apa" ucapnya lagi


" Terserah loe aja deh Bunga yang penting gue sudah mengingatkan loe dan resiko loe tanggung sendiri ya jangan bawa kita-kita" ucap Erin.


" Iya, takut banget sih, asal kalian tau ya selama ini gak ada yang bisa lepas dari pesona seorang Bunga, lihat saja nanti!" ucap Bunga membuat teman-temannya hanya bisa geleng-geleng kepala dengan tingkat percaya dirinya yang terlalu tinggi.


" Kalian tunggu di sini ya!" ucap Bunga beranjak dari duduknya dengan senyum liciknya.


" loe mau kemana?"


" Gue mau beraksi, pak Bagaz harus bisa menjadi milik gue"


" Loe emang udah gak waras ya"


" Si*lan loe!" Bunga dengan berjalan santai menghampiri meja Azka.


" Permisi pak!" ucap Bunga dengan suara yang sedikit di buat-buat.


" Iya ada apa?" tanya Azka saat Bunga berada di hadapannya


" Emmm... boleh saya duduk di sini pak?" tanya Bunga, belum di jawab tapi udah duduk duluan


" Kenapa kamu tidak duduk saja dengan teman-teman kamu yang lainnya disana?" tanya Azka yang langsung menoleh dan menunjuk dengan ekor matanya ke arah teman-teman Bunga.


" Emm.. itu, anu pak ada hal yang saya mau tanyakan ke pak Bagaz" ucap Bunga yang nampak bingung saat Azka bertanya dengan nada dingin dan mencari alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan Azka


" Mau tanya apa?" tanya Azka yang terdengar tegas


" Emmm, gak jadi deh pak lain kali saja" ucap Bunga yang langsung beranjak dari duduknya.


"Permisi pak" pamit Bunga yang langsung kembali ke tempat teman-temannya dan Azka hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.


" Loe sih di bilangin gak percaya, gak gampang deketin pak Bagaz tuh, cari masalah aja loe" ucap teman Bunga.


" Tapi ini menarik sesuatu yang sangat menantang dan gue suka itu" ucap Bunga tersenyum miring


" Udah sadar loe sebelum terlambat!" ucap temannya mengingatkan


" Ah gak asik loe!" ucap Bunga kesal dan meminum minumannya yang sempat di pesannya sebelum menghampiri Azka


Mata Bunga melotot disaat Lia, Mona, Mita ,Indah dan Mia mendudukkan dirinya dengan santai di meja Azka.


" Loh kok sendirian aja kak , Mario kemana kak?" tanya Lia yang tengak tengok mencari keberadaan Mario.


" Biasa mual-mual sekarang lagi ke toilet!" ucap Azka

__ADS_1


Lia baru saja hendak beranjak dari duduknya ingin menyusul Mario namun niatnya dia urungkan karena melihat Mario yang tengah berjalan dengan gontai ke arahnya.


" Itu dia !" ucap Mia yang melihat Mario berjalan kearah mereka.


Brukk


" Eh maaf kak!" ucap seorang gadis yang terlihat dengan jelas oleh netra Lia sengaja menabrakkan dirinya kepada Mario.


" Kakak gak apa-apa,kakak terlihat pucat?" tanya gadis yang tidak lain ternyata adalah Melati murid baru yang merupakan sepupunya Bunga dan mereka siswi pindahan dari sekolah di kota B. Mereka pindah sekolah karena orang tua Bunga yang terpaksa dipindahkan pekerjaannya ke ibu kota. Melati memang sudah lama tinggal bersama Bunga sejak orangtuanya meninggal dan hanya papanya Bunga lah satu-satunya keluarga Melati.


" Menyingkirkan!" ucap Mario dengan aura dingin


" Kak sebaiknya kak Rio aku antar saja ke ruang UKS ya, wajah kakak pucat banget loh" ucap Melati yang bukannya pergi tapi malah dengan beraninya memegang lengan Mario. para siswi yang mengenal siapa Mario hanya bergidik ngeri melihat keberanian murid baru tersebut dan masih tidak juga sadar dengan tatapan mata Mario yang mendelik tajam.


" Singkirkan tanganmu!" ucap Mario tegas dengan tatapan mata ke tangan Melati yang bertengger di lengannya.


Mendengar ucapan Mario seketika Melati melepaskan tangannya.


Lia yang tengah menatap ke arah keduanya sudah mengepalkan tangannya kuat di atas meja, rupanya mood wanita hamil ini sedang di uji kesabarannya. Lia yang hendak beranjak dari duduknya tertahan oleh tangan Mita yang sudah lebih dulu menggenggam pergelangan tangan Lia.


Dengan tatapan penuh tanya Lia menoleh ke arah Mita dan bergantian ke arah tangannya yang dipegangi oleh Mita.


" Tenang!" Mita tersenyum dan melepaskan tangannya lalu berpindah mengusap perut Lia yang masih rata.


Lia mengerti maksud dari apa yang Mita lakukan dia mencoba menenangkan Lia karena kondisi Lia yang tengah hamil. Lia bahkan hampir saja lupa dengan keadaannya sekarang yang tengah berbadan dua.


Setelah tangan Melati terlepas Mario dengan raut wajah kesal langsung berlalu dari hadapan Melati dan pergi menghampiri Lia yang tengah memasang wajah cemberut.


" Loe gak apa-apa Mario,muka loe pucat banget?" tanya Mia


" Gue gak apa-apa, ini udah biasa" jawab Mario yang langsung meminum jus jeruk yang ada di hadapannya.


" Ya paham kan?" tanya Mia yang melihat raut wajah bingung pada semuanya.


" Iya gue paham" sahut Lia yang mengerti kemana arah pertanyaan Mia itu.


" Iya loe benar banget Mi" lanjut Lia lagi


" Jadi loe gak ngerasain apa-apa gitu?" tanya indah kali ini yang bergantian bertanya.


" Iya semua sudah di talangin" sahut Lia


Mario yang memang duduk di samping Lia dengan keadaannya yang memang sangat lemas dan merasa sedikit pusing dengan santai langsung merebahkan kepalanya di bahu sang isteri tidak peduli dengan raut wajah sang isteri yang memberengut , Mario hanya mencari kenyamanan agar rasa mualnya tidak lagi mengganggunya.


Melihat raut wajah Mario yang nampak begitu pucat membuat Lia akhirnya tidak tega dan dengan perlahan tangannya langsung mengelus pucuk kepala Mario yang bersandar di bahunya.


" Kamu gak apa-apa Io?" tanya Lia cemas


" Pusing dan sedikit mual!" ucap Mario pelan namun malah terdengar sedikit manja membuat teman-teman Lia dan juga Azka nampak tercengang dengan sikap Mario yang seperti anak kucing yang sungguh menggemaskan. mereka tidak menyangka Mario akan bersikap manja seperti itu saat berada di dekat Lia setelah tadi sikapnya yang terlihat dingin dan kasar kepada siswi lain yang mencoba mendekatinya.


Lia tersenyum simpul melihat tatapan aneh para sahabat dan juga kakaknya terhadap Mario.


" Segala-galanya macan akan jinak kalau sudah ketemu pawangnya" ucap Indah yang langsung mengundang gelak tawa yang lainnya.


" Bisa aja kamu Indah!" ucap Azka


" Ya benar kan pak?"


" Iya juga sih, tuh contohnya" Azka melirik ke arah Mario dan Lia.

__ADS_1


Sementara di meja kantin yang lain dua pasang mata menatap Mario dan Azka dengan tatapan yang penuh arti.


" Siapa anak itu kenapa Mario seketika sikapnya berubah dihadapannya?" gumam Melati dengan tatapan sinis ke arah Lia yang kebetulan juga tatapan Lia tengah mengarah kepadanya.


" Sepertinya akan ada rubah betina yang siap mencari mangsa dan My Io adalah sasaran utamanya" gumam Lia pelan namun masih bisa didengar oleh Mario.


Mario tersenyum tipis dan tangannya perlahan mengarah ke perut Lia. Mario mengusap perut Lia yang masih rata dan terhalang oleh meja itu dengan lembut membuat Lia terjengkit kaget dan kegelian.


Lia menoleh ke arah Mario yang tengah tersenyum kearahnya. " Jangan pikirkan yang macam-macam rubah betina itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan My Lily " ucap Mario berbisik di telinga Lia membuat Lia seketika wajahnya langsung merona.


" Lia loe kenapa, muka loe merah gitu?" tanya Mia yang sok polos


" Owh, gue cuma kegerahan, panas banget udaranya" elak Lia


" Karena lihat yang tadi ya loe jadi gerah?" ledek Indah


" Gak ada apa-apanya dia sih" sahut Lia


" Sombong, kecantol beneran aja loe kejer" ucap Indah


" Berani?" Lia melotot ke arah Mario.


" Yang jangan dengerin kata-kata yang unfaedah, kepala aku mulai pusing nih" ucap Mario yang kembali merebahkan kepalanya di bahu Lia.


" Loe si Ndah!"


" He..he..!" indah hanya cengir kuda.


Dari perbincangan yang gak jelas dan segala tingkah Mario yang aneh ada seseorang yang sedari tadi hanya diam saja menatap intens ke layar ponselnya.


Mia menyenggol lengan Mita dan menunjuk dengan ekor matanya ke arah Mona yang sedari tadi diam seribu bahasa dan rupanya gadis itu sedari tadi tanpa disadari teman-temannya tengah asik dengan lamunannya.


" Mona loe kenapa?" tanya Mita memegang bahu Mona yang kebetulan Mona duduk di sebelah Mita


Mona terkesiap dari lamunannya " Ah iya, apa?" tanya Mona yang nampak seperti orang bodoh dengan sikapnya yang jadi salah tingkah.


" Loe kenapa dari tadi diam aja?" tanya Mita lagi.


" Iya Mon, loe lagi ada masalah?" tanya Mia ikut nimbrung


Mona tersenyum, sikap Mona yang dulu pecicilan dan banyak bicara sekarang benar-benar berubah drastis semenjak kepergian Yoga. Mona jadi lebih pendiam, bicara juga secukupnya dan gak pecicilan jauh dari Mona yang biasanya.


" Gue gak apa-apa" ucap Mona dengan suara yang sangat lembut.


" Apa loe masih memikirkan Yoga?" tanya Mia membuat Mona tersenyum getir.


Mengingat kembali kejadian beberapa waktu yang lalu dimana Mona selalu bersikap kasar dan suka menghina Yoga membuat rasa penyesalan itu kembali menyeruak kepermukaan dan tanpa sadar Mona menitikkan air matanya.


Lia, Mita dan yang lainnya tertegun melihat Mona yang menangis dalam diamnya. sementara Azka sudah kembali ke ruangan guru beberapa menit yang lalu


" Mona loe kenapa, kok loe malah nangis?" tanya Mita yang langsung menarik Mona ke dalam pelukannya.


" Gue gak apa-apa, cuma gak tau nih air mata songong banget turun tanpa permisi." ucap Mona seraya menghapus air matanya dengan kasar dan tersenyum yang dipaksakan.


" Mon..!" panggil Mita


" Gue gak apa-apa beneran. balik kelas aja yuk!" ajak Mona yang langsung beranjak berdiri namun saat baru saja keluar dari kantin tiba-tiba Mona menghentikan langkahnya dan berdiri mematung tatkala netranya melihat seseorang yang sangat dikenalnya baru keluar dari ruang kepala sekolah.


" I... itukan?" batin Mona dengan mata membulat sempurna.

__ADS_1


__ADS_2