
Senyum pun akhirnya terbit di wajah cantik Meliani yang sedari pulang dari rumah sakit selalu murung dan sedih.
Penyebab kegalauan hatinya seorang Meliani kini sudah berada di hadapannya dengan membawa berbagai macam penjelasan atas sebuah kesalahpahaman yang terjadi.
Lia menundukkan wajahnya merasa malu sendiri setelah membaca semua pesan yang dikirimkan oleh Mario lengkap dengan foto Gladis yang duduk di sampingnya dan juga sebuah video Gladis yang sepertinya senang menjahili Lia.
" Hai Lily, apa kabar? ayo pasti sedang tidak baik-baik saja, iyakan?" ucap Gladis sambil tertawa. " Cemburu... cemburu ya, iya apa iya, iya dong pastinya?"
" Sorry Li gue pinjam cowok loe bentar ya, loe tenang aja Li aman kok gak bakal gue apa-apain ni anak curut, nanti gue balikinnya utuh kok, kalau gak percaya. coba aja loe periksa tuh anak curut!"
" Udah jangan marah lagi, tenang aja Mario gak bakal macam-macam kok, kalau dia berani nyakitin loe tenang nanti gue orang pertama yang bakal ngasih pelajaran sama tuh anak, udah sana baikkan ya, gak usah cemburu lagi ya. ini gue Gladis cantik kan?" ucap Gladis di akhir video tersebut. membuat Lia memutar bola matanya malas dan terkekeh sendiri.
" Bagaimana yang, masih marah?" tanya Mario yang melihat Lia menundukkan wajahnya
Tangan Mario terangkat pelan dan menarik dagu Lia agar mendongak ke atas. " Kenapa, hem?" tanya Mario dengan menampakkan senyum manisnya.
Lia menatap lekat wajah Mario dan mata mereka pun bertemu pandang. mata Lia sudah berkaca-kaca Mario yang melihat itu pun merasa terenyuh.
" Jangan menangis!" Mario mengusap lembut pipi Lia yang tanpa empunya sadar kalau cairan bening itu sudah lolos dari sudut matanya.
" Kamu itu satu-satunya gadis yang akan selalu mengisi hatiku ini my Lily!" ucap Mario menarik tangan Lia dan meletakkannya di dada bidangnya.
Hati kecil Lia begitu menghangat saat tangannya merasakan detak jantung Mario yang menempel di dada bidangnya.
" Jangan menangis lagi, jelek tau gak!" goda Mario yang berhasil membuat Lia berhenti menangis dan langsung menatap Mario tajam.
" Aku tahu, aku ini tampan sayang tapi tolong ya singkirkan tatapan tajammu itu !" ucap Mario yang langsung menyerah bila mendapat tatapan tajam dari Lia, tapi hatinya senang dengan sikap Lia yang seperti, itu berarti Lia sudah kembali membaik.
Lia pasang wajah cemberut kesal dengan Mario karena sudah membuat Lia seharian galau karena memikirkannya.
" Kamu jagat bangat tau gak?" kesal Lia memukul bahu Mario yang malah tertawa mendapat pukulan dari Lia.
" Jahat kenapa aku yang?" tanya Mario sambil mengelus bahunya.
" Ya kamu jahat kenapa gak dari awal aja pesan aku tuh dibalas dan bilang kalau cewek itu adalah Gladis!" Lia pasang wajah memberengut.
Mario menarik bahu Lia hingga menempel di bahunya lalu tangan satunya seperti biasa mencubit hidung Lia gemas. " Kalau langsung di balas gak akan seru dong, gak akan tahu bagaimana seorang Meliani itu kalau lagi cemburu. ternyata seru juga ya kalau dicemburuin" ujar Mario yang langsung mendapat cubitan panas dari tangan Lia.
" Aww... sakit yang!" Mario melepaskan tangannya yang bertengger di bahu Lia dan langsung mengusap-usap perutnya.
" Kenapa nyubit sih yang?"
" Itu belum seberapa sakitnya !" ketus Lia
Mario menggelengkan kepalanya dan tersenyum. " Iya tahu, maaf deh sayang. lain kali gak akan aku ulangi. tapi kamu juga harus janji jangan pernah menelan mentah-mentah apa yang mata kamu lihat sebelum kamu tahu tentang kebenarannya !" ucap Mario
" Iya, aku juga minta maaf!" ucap Lia sendu.
" Dalam sebuah hubungan itu yang pertama harus kita pegang adalah KEPERCAYAAN!" ucap Mario mengingatkan dengan menekan kata-katanya.
" Kepercayaan itu sangatlah penting sayang, setidaknya kita tidak akan terpengaruh dengan pemberitaan diluar yang belum tentu sesuai dengan kebenarannya." Lia mengangguk mendengar penuturan kata-kata Mario.
" Sudah ya jangan muram lagi, jangan cemberut lagi jangan nangis lagi!" pesan Mario.
" Kamu pasti belum makan, iya kan?" tebak Mario dan Lia langsung mengangguk malu-malu.
" Ahh lucu sekali sih gadisku kalau lagi malu-malu kayak gini". Mario mengacak-acak rambut Lia membuat Lia mendengus.
" Yaudah masuk yuk, anginnya cukup kencang disini. lebih baik kita masuk dan kamu juga harus makan sekarang!" ucap Mario menarik tangan Lia dan langsung mengajaknya masuk ke dalam rumah tepatnya kini keduanya tengah berada di dapur.
" Loh ngapain kita ke sini sih Io?" tanya Lia mengerutkan keningnya
" Ya kamu itukan belum makan jadi harus makan sekarang."
" Tapi aku belum mau makan Io!" sahut Lia sedikit manja.
" Non !" sapa bi Sum yang melihat Lia berada di meja makan.
" Bi tolong ya bi hangatkan makanan makan malamnya" pinta Lia dengan nada sopan.
" Baik non!" sahut bi Sum yang berjalan kembali ke dapur.
" Io, sebenarnya aku gak lapar, nanti makannya sedikit aja ya!" rengek Lia
" Gak bisa, kamu harus makan yang banyak". tegas Mario yang tidak ingin dibantah.
Lia cemberut dan bi Sum yang melihat ekspresi wajah Lia mengulum senyum sambil meletakkan beberapa makanan yang sudah dipanaskan.
" Silahkan non dimakan! jika butuh sesuatu bibi ada di belakang ya non" pamit bi Sum
Kini Lia sedang menyantap makan malamnya ditemani oleh Mario.
" Io, kamu kok gak ikut makan?" tanya Lia sambil menyuap sendok ke dalam mulutnya.
" Aku sudah makan tadi sebelum datang kesini, makan malam bersama keluarga Gladis dan calon tunangannya!" sahut Mario
" Gladis mau tunangan?" tanya Lia dan Mario mengangguk.
" Sudah, jangan makan sambil bicara nanti tersedak!" Mario memperingati dan benar saja baru berapa detik Lia langsung tersedak.
" Uhukk... uhukk..."
Mario dengan sigap langsung memberikan Lia minum, Lia yang menerima minuman dari Mario langsung menenggaknya hingga habis.
" Sudah dibilang, ngeyel sih!"
__ADS_1
Lia hanya cengar-cengir menanggapi ucapan Mario.
🖤
Mario dan Lia kini tengah berada di depan rumah karena hari juga sudah larut malam, Mario pamit untuk pulang.
" Aku pulang dulu ya!" pamit Mario tersenyum tampan.
" Iya, hati-hati ya bawa motornya, jangan ngebut!"
" Iya My Lily ku sayang!" Mario menyentil pelan hidung Lia dan spontan Lia memegang hidungnya.
" Kebiasaan deh!" Lia mengerucutkan bibirnya
" Biar kamu selalu ingat terus dengan sentilan aku!" ucap Mario sambil memakai helmnya.
" Sudah sana masuk, terus istirahat!" pesan Mario
" Iya!"
" Nanti kalau sudah sampai rumah aku telpon"
" Janji ya!"
" Iya"
Lia masuk kedalam rumah setelah Mario pulang dengan sepeda motornya.
Di dalam kamar Lia senyam-senyum sendiri sambil melihat pantulan dirinya di cermin.
" Gue kok bisa seceroboh itu ya, sampai dia sendiri datang ke sini untuk menjelaskan" gumam Lia didepan cermin.
" Untung saja Io orangnya sabar banget ya ngehadepin gue. padahal yang gue tahu Io dulu gak kayak gini deh, apalagi dia terkenal dengan keplayboyannya dan cuek sama ceweknya bahkan sama putri aja dia gak semanis sekarang. duh kok gue jadi kangen sih padahal baru juga beberapa menit dia pulang" Lia senyam-senyum sendiri melihat pantulan dirinya di depan cermin.
Tring
Satu pesan masuk kedalam ponsel Lia.
📥 My Io
[ " Aku baru sampai di rumah, kamu istirahat saja ya. jangan tidur malam-malam dan jangan memikirkan aku terus. aku juga merindukan kamu" ] isi pesan yang dikirim Mario. Lia tersenyum membaca pesan tersebut.
" Percaya diri banget sih ini anak, tapi benar juga sih!" Lia terkekeh dengan ucapannya sendiri sebelum membalas pesan Mario tersebut.
📥 MY Lily
[ " Iya my Io, aku akan istirahat sekarang dan kamu juga harus istirahat juga ya besok pagi kamu kan harus berangkat ke sekolah!" ]
...🍃🍃🍃...
Pagi ini Zaira dan ke lima Sahabatnya tengah berada di dalam kelas, awalnya Lia dilarang masuk ke sekolah oleh mama Maria tapi Lia bersikeras ingin tetap masuk sekolah dengan beralaskan sudah terlalu banyak ketinggalan pelajaran lagi pula kondisi Lia yang memang sudah baik-baik saja.
" Li sumpah deh gue penasaran banget tau, siapa sih Li malaikat penolong yang udah nolongin kita itu?" tanya Mona yang langsung membuat pembicaraan diantara mereka terhenti. semua mata jadi beralih ke Lia tapi Lia sendiri malah memutar bola matanya malas.
" Gue jad kepingin tau, tampan gak ya wajahnya. kenapa juga tuh orang ditutup gitu mukanya!" gemas Mona bila teringat dengan sosok laki-laki yang memakai jubah hitam dan penutup wajah.
" Kalau gak ditutup takut loe terpesona kali Mon, nanti kalau loe jatuh hati sama tuh orang kan repot" sahut Mita membuat yang lain tertawa.
" Repot kenapa memangnya?" tanya Mona
" Repot, makan loe banyak!" sahut Indah yang mengundang gelak tawa semuanya.
" Sia*lan loe Ndah!" sungut Mona.
" Tapi Li, loe sebenarnya tau gak sih Li orangnya?" kali ini Mia yang bertanya.
" Gue jadi penasaran, sosoknya macam mana sih? ya kali aja gue kenal gitu?" timpal indah
" Iya, gue juga jadi penasaran dengan orang yang loe omongin dari tadi!" tambah Mia
" Ya elo sih berdua pada pingsan, gak lihatkan adegan super menegangkan dan sedikit romantis layaknya film pangeran yang tengah menyelamatkan sang putri " tutur Mona.
" Romantis?" tanya Mia
" Iyalah romantis, itu malaikat penolong berjubah hitam langsung membuka jubahnya dan memakaikannya ke tubuh Lia dan setelah membuka Ikatan ditangan dan kaki Lia, dengan gagahnya itu pangeran langsung menggendong Lia dan membawanya pergi!" ucap Mona menuturkan.
" Waww, romantis banget sih!" Mia tersenyum sendiri membayangkan adegan yang diceritakan Mona.
" Kok bisa sih Li, atau diam-diam ternyata loe sudah punya pacar ya, dan yang nolongin loe itu pacar loe, iya kan?" selidik indah
" Za loe itukan kakak iparnya, masa loe gak tau sih Lia saat ini sedang dekat dengan siapa?" tanya Mia yang sama penasarannya dengan Mona.
" Ya mana gue tau kalau Lia sendiri gak mau cerita sama gue" sahut Zaira dan menoleh ke arah Lia.
" Sorry gaes, nanti aja ya gue ceritainnya, gak sekarang" ucap Lia sambil tersenyum.
" Wah gak asik loe Li!" ucap Indah
" Bukan gitu gaes, nanti pasti gue bakalan cerita kok tapi gak sekarang-sekarang ini. sama Za aja gue juga belum siap cerita"
" Ya udahlah gaes, kita jangan memaksa Lia buat cerita, mungkin ada alasannya tersendiri kenapa Lia belum siap cerita. sebaiknya kita do'akan saja Lia bisa menemukan kebahagiaannya dan kali ini awet sampai kejenjang yang lebih serius. " tutur Mita menengahi.
" Betul yang dikatakan Mita!" ucap Zaira yang setuju dengan kata-kata Mita.
❇️
__ADS_1
Waktu istirahat Zaira dan para sahabatnya memilih untuk bersantai di taman sekolah.
" Za sudah berapa bulan?" tanya Mita yang sedari tadi memperhatikan Zaira yang tengah mengelus-elus perutnya.
" Emm.. jalan 5 bulan" sahut Zaira yang tersenyum menatap perutnya.
" Gak terasa ya Za udah 5 bulan aja?" kali ini Indah yang berbicara.
" Iya" Zaira menoleh ke arah Indah.
" Biasanya udah aktif ya Za?" Mia ikutan nimbrung
" Sok tau loe, yang aktif tuh daddy nya ya Za?" timpal indah
" Deh dia gak percaya, tanya Za deh. pasti dia sudah ngerasain pergerakannya iyakan Za!" tanya Mia
" Iya, tapi gerakannya masih halus banget." sahut Za
" Tuh apa gue bilang!" ucap Mia
" Loe kayak udah pernah hamil aja Mi tau soal begituan?" tanya Mona pada Mia.
" Ya tahulah, kan nyokap gue pernah hamil jadi gue tahu. biasanya di usia kehamilan yang sudah menginjak 4 atau 5 bulan bayi didalam perut ibunya itu sudah mulai ada pergerakan. karena bentuk mereka yang mulai sempurna pada usia itu pula ruh manusia ditiupkan ke janin yang berada di dalam kandungan ibunya." tutur Mia menjelaskan.
" Wah hebat ya loe Mi tau!" puji Mona.
" Bukan Mia yang hebat tapi loe Mon yang rada kurang pintar, masa hal semacam itu aja loe gak tau!" sahut Indah yang kalau bicara kadang apa adanya.
" Parah loe Ndah, maksud loe gue oon gitu?" ucap Mona
" Bukan gue ya yang bilang oon, gue cuma bilang kurang pintar itu aja ya!" sahut Indah.
" Za, tuh daddy nya anak loe kayaknya menuju kesini ya?" ucap Mita menjeda omongan Indah dan Mona yang kalau ditimpali pasti akan berbuntut panjang.
" Iya, mau ngapain sih pakai kesini segala, gak liat apa tuh mata pada melototin gue kaya gitu" kesal Zaira
" Ya biarin aja kali Za baru juga dipelototin kayak gitu doang. loe colok aja susah amat sih!" ucap Lia santai.
" Nah tuh benar apa yang dibilang adik ipar loe, kalau perlu bantuan gue siap kok bantuin buat nyolokin tuh mata!" sahut Mona.
" Assalamu'alaikum!" ucap Azka saat sudah berada di hadapan Zaira dan teman-temannya.
" Wa'alaikum salam!" sahut Zaira dan teman-temannya serempak.
" Ini!" Azka menyerahkan sekantong makanan lalu duduk di samping Zaira.
" Mas ngapain sih disini, gak liat apa tuh murid-murid mas pada melototin aku kayak gitu?" Zaira seraya membuka kantong yang dibawa Azka lalu membagikan isinya kepada teman-temannya.
" Biarkan saja yang, aku bosen tau ingin bilang aja sama mereka kalau kamu ini sebenarnya istri mas!" Azka mengacak-acak rambut Zaira gemas dan langsung mendapat pelototan dari Zaira.
" Mas, tanggung ihh.. bentar lagi kalau usia kandungan aku sudah besar saja ya, setidaknya sampai aku masih bisa sekolah disini ya mas!" pinta Zaira.
" Terserah kamu saja deh yang tapi yang jelas mas gak mau kalau disuruh pura-pura cuek sama kamu!" Azka menyuapkan Zaira donat coklat yang tadi dibawanya.
" Aaa!" titah Azka dan mau tidak mau Zaira pun membuka mulutnya dan menerima suapan dari pak suami.
" Duhhh so sweet!" ucap Mona, Mia dan Indah bersamaan. sementara Mita dan Lia hanya geleng-geleng kepala.
" Yaudah mas balik dulu ya ke ruang guru, kamu jangan ganjen-ganjen ya disini!" ucap Azka sebelum beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Zaira dan teman-temannya.
" Siap pak suami, tenang aja gak akan macam-macam kok tuh ada penjaganya!" Zaira menunjuk ke arah Lia.
Azka sudah kembali ke ruangannya sementara Zaira dan teman-temannya masih setia duduk ditaman tersebut.
" Za liat deh, itu Mario kan ya?" tanya Mona yang melihat Mario tengah rebahan di atas rumput dan dibawah pohon yang daunnya cukup rindang.
" kayaknya sih!" jawab Zaira
" Ada apaan sih?" tanya indah yang kepo
" Itu yang ada di bawah pohon, itu Mario kan ya?" tanya Mona pada Indah menunjuk ke arah Mario berada.
Deg
Lia yang mendengar nama Io nya disebut-sebut langsung menoleh ke arah orang yang menjadi bahan pembicaraan.
" Beda banget ya tuh anak sekarang?" ucap Mona.
" Kenapa naksir loe?" tanya Indah
" Naksir?" ucap Mona menegaskan.
" Kalau dia nya udah berubah cool gitu siapa yang gak naksir coba, Udah gak jadi biang masalah pula!" sahut Mona santai.
Deg
" Bisa jadi masalah ini kalau Mona suka beneran sama Mario!" batin Lia.
" Tapi percuma suka sama Mario mah, dia itu tipe orang pilih-pilih yang dulu pernah jadi pacarnya dia aja merasa sama aja, pacar cuma statusnya aja kalau soal jalan bareng atau yang lainnya selayak pacar pada umumnya jangan harap deh. Mario itu katanya super dingin dan jadiin cewek sebagai pacarnya cuma gak mau dibilang jomblo doang jadi ya gitu dia jadi gonta-ganti cewek terus kalau berharap dia perhatian sama loe itu hanya mimpi doang!" tutur indah menjelaskan.
" Loe kok bisa tahu sedetail itu Ndah?" tanya Mona.
" Ya tahulah sepupu gue kan pernah jadi pacarnya dia, katanya boro-boro perhatian kadang kalau bertemu aja ngapa juga gak." sahut Indah.
" Masa sih?" kali ini Lia yang bertanya.
__ADS_1
" Seriusan gue gak bohong!" sahut Indah
" Kok beda ya?" batin Lia menatap ke arah Mario berada dan tanpa sengaja pandangan mereka pun akhirnya bertemu.