
Khanza keluar dari kamarnya dengan wajah yang ditekuk entah kenapa perasannya sangat kesal ketika ada seseorang yang masuk ke dalam kamarnya tanpa sepengetahuannya.
" Bu, ibu kok gak bilang sih ada pak Aldy di kamar Khanza?" tanya Khanza seraya duduk di kursi meja makan dengan wajah cemberut
" Eh, itu... ibu tadi mau bilang sama kamu tapi kamunya udah pergi" jawab bu Khodijah
" Lagian ngapain sih tuh orang datang kesini?"
" Loh kok kamu ngomongnya kayak gitu, walau bagaimanapun dia itukan suami kamu" ucap bu Khodijah menegur putrinya
" Bu walaupun kami sudah menikah tetap saja bu Khanza masih belum siap, Khanza masih ingin fokus dengan sekolah Khanza" Khanza menjatuhkan kepalanya di atas meja makan dengan kedua tangannya sebagai tumpuan
" Sayang perlahan kamu nanti juga akan terbiasa, belajarlah dari sekarang menjadi isteri yang baik untuk suami kamu nak" Bu Khodijah memberi petuah
" Belajarlah menerima kehadirannya nak, belajar menerima kekurangan dan kelebihan kalian masing-masing" lanjutnya lagi
Khanza hanya terdiam lalu selang beberapa menit Khanza beranjak dari duduknya dan membantu bu Khodijah memasak untuk makan malam.
" Tadi sewaktu ibu mau pulang, nak Aldy tiba-tiba datang dan meminta maaf pada ibu. setelah itu dia juga menawarkan untuk mengantarkan ibu pulang."
" Sebenarnya kalian itu hanya kurang komunikasi saja, kalian ini memang pasangan yang aneh sudah menikah tapi tidak punya nomor ponsel masing-masing"
Khanza hanya mendengarkan saja bu Khodijah berbicara tanpa ingin membantah ataupun membela diri.
Setelah hampir satu jam berkutat di dapur akhirnya selesai juga Khanza dan bu Khodijah masak untuk makan malam.
" Bu Khanza ke kamar dulu!" pamitnya
" Iya, suruh suami kamu bersih-bersih gih setelah itu ajak makan malam bersama."
titah bu Khodijah
" Dia pasti tidak ada baju ganti bu, biarkan saja dia bersih-bersih di rumahnya" sahut Khanza dengan malas
" Nanti ibu akan ambilkan baju almarhum ayah kamu pasti muat" Bu Khodijah beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah kamarnya sedangkan Khanza dengan langkah gontai melesat masuk ke kamarnya.
Ceklekk
Khanza masuk ke dalam kamar tersebut lalu berjalan ke arah lemari pakaian dan mengambil handuk yang masih bersih.
Khanza berjalan mendekati Aldy yang dari awal Khanza masuk ke dalam kamar tersebut tengah asik berkutat dengan ponsel ditangannya.
" Ini " Khanza menyodorkan handuk di tangannya Aldy yang mendengar suara Khanza pun langsung menoleh dan menaikkan satu alisnya saat melihat tangan Khanza yang terulur kepadanya seraya memberikan handuk.
" Ibu menyuruh mu mandi setelah itu makan malam bersama" Ucap Khanza datar
" Aku tidak mau mandi lagi pula aku tidak ada baju ganti" tolak Aldy kembali fokus pada ponselnya
" Ibu akan membawakan mu baju ganti" ucap Khanza dengan kesal
" Aku bilang aku tidak mau mandi" Aldy kembali menoleh ke arah Khanza
" Ya sudah kalau tidak mau mandi terserah mu saja" ketus Khanza
" Kau memaksa aku mandi apa jangan-jangan kau itu ingin balas dendam soal yang tadi?" Aldy menaik turunkan alisnya
" Yang tadi apa maksudmu?"
" Kau ingin melihat aku bertelanjang dada bukan atau ingin melihat semuanya seperti aku yang sudah _" Aldy menatap Khanza dari ujung rambut hingga ujung kaki dan sontak saja Khanza teringat dengan kejadian tadi saat ia selesai mandi.
" Jadi kamu_" geram Khanza
Tanpa merasa bersalah Aldy malah mengangguk dan tersenyum tipis.
" Dasar laki-laki berengsek!" Khanza melempar handuk yang berada di tangannya tepat mengenai wajah Aldy, bukan merasa bersalah Aldy malah tergelak melihat wajah Khanza yang merah karena marah sekaligus malu.
Tok
Tok
Tok
" Khanza!" suara bu Khodijah terdengar di balik pintu kamarnya
" Iya bu sebentar" jawab Khanza yang langsung mengayunkan kakinya melangkah membukakan pintu.
Ceklekk
" Bu!"
" Ini baju ganti untuk suamimu, mungkin sedikit kekecilan " bu Khodijah memberikan kaos berwarna navi dan celana pendek selutut berwarna coklat.
Khanza mengambil baju tersebut dan kembali masuk ke dalam kamarnya setelah bu Khodijah pergi
"Cepat mandi ini baju ganti untuk mu, mungkin tidak sebaik dan sebagus punyamu. ini baju milik almarhum ayahku terserah kamu mau memakainya atau tidak" Khanza meletakkan baju tersebut di atas kasur setelah itu ia berbalik badan dan pergi keluar kamar.
Aldy menatap punggung Khanza yang hilang di balik pintu lalu beranjak dari duduknya dan melesat masuk ke dalam kamar mandi.
Sekitar 15 menit Aldy selesai dengan ritual mandinya, dengan kaos dan celana yang tadi Khanza berikan Aldy terlihat begitu santai dan nampak lebih tampan dari biasanya.
Aldy keluar kamar dan menyusul Khanza yang tengah berada di meja makan.
" Bu" suara bariton yang memanggil bu Khodijah membuat Khanza langsung menoleh ke sumber suara
Deg
__ADS_1
Penampilan Aldy yang terlihat santai dengan pakaian yang digunakan justru membuat laki-laki tersebut jauh lebih tampan dari biasanya
Khanza sempat terpesona dengan penampilan Aldy yang tidak biasanya namun sedetik kemudian ia berusaha untuk menormalkan detak jantungnya yang tiba-tiba saja tidak bersahabat dengannya.
" Nak Aldy mari sini duduk!" seru bu Khodijah menyuruh Aldy duduk di kursi kosong yang berada di samping Khanza
" Iya bu" Aldy pun mendudukkan dirinya tepat disamping Khanza
" Za layani suami kamu!" titah bu Khodijah kepada Khanza yang malah asik makan sendiri tanpa menoleh sedikitpun ke arah Aldy yang sudah duduk di sampingnya.
" Dia sudah besar bu, masa gak bisa mengambil makannya sendiri" sahut Khanza tetap melanjutkan makannya.
" Khanza kamu tidak boleh bersikap tidak sopan seperti itu, bagaimana pun nak Aldy itu suami kamu sudah menjadi kewajiban kamu sebagai seorang isteri melayaninya, apa kamu mau menjadi isteri durhaka" tegur bu Khodijah membuat Khanza mendelik tajam ke arah Aldy yang nampak tersenyum penuh kemenangan.
Dengan malas Khanza mengambil piring yang berada di depan Aldy dan mengisinya dengan nasi lengkap beserta lauk pauknya.
" Terima kasih" ucap Aldy namun tidak digubris oleh Khanza.
Mereka makan malam dengan hening, selesai makan malam Khanza seperti biasa membantu bu Khodijah merapihkan meja makan dan mencuci piring.
Aldy yang berada di ruang tamu tersenyum tipis menatap kearah Khanza yang sibuk membantu ibunya.
" Dia benar-benar anak yang berbakti" batin Aldy
Izan baru saja keluar dari kamarnya dan seraya membawa buku pelajarannya.
" Kak nanti tolong ajarin Izan ya, ada tugas sekolah yang Izan gak ngerti!" teriak Izan kearah dapur karena Khanza memang sedang berada di dapur bersama bu Khodijah.
" Iya sebentar dek, kakak sedang bantuin ibu sebentar lagi selesai kok" sahut Khanza
" Ada apa Zan, apa ada yang bisa kak Aldy bantu?" tanya Aldy seraya menghampiri Izan yang tengah duduk di lantai beralaskan karpet di ruang TV
" Eh pak Aldy" Izan masih nampak canggung
" Panggil kakak aja, aku kan kakak ipar kamu" pinta Aldy
" I..iya kak" sahut Izan
" Sini mana yang bisa kak Aldy bantu?" Aldy menarik buku yang ada di hadapan Izan
" Mana yang tidak kamu mengerti?" tanyanya lagi
Izan menunjuk soal yang tidak dia mengerti dan Aldy memperhatikan secara seksama soal yang tidak dimengerti oleh Izan.
Setelah beberapa detik memperhatikan soal tersebut Aldy pun mulai mengerti soal dan langsung menjelaskannya kepada Izan.
Izan begitu serius mendengarkan penjelasan dari Aldy dan diapun akhirnya bisa mengerjakan soal-soal yang lainnya berkat Aldy yang masih setia mengajarkannya.
Khanza yang baru selesai membantu ibunya tercengang melihat keakraban Aldy dan Izan yang sedang belajar di ruang TV.
Izan nampak begitu bersemangat belajar bersama Aldy, cara Aldy mengajar ternyata sangat mudah untuk Izan pahami.
Khanza duduk di tepi kasur dan sedikit berpikir
" Kalau tuh orang menginap di sini berarti gue harus berbagi kamar dong dengan dia, oh tidak.. tidak... ini gak benar, sebaiknya gue suruh pulang aja tuh orang" gumam Khanza
" Siapa yang mau kamu suruh pulang?" suara bariton terdengar dari arah pintu
Glek
Khanza menoleh ke sumber suara dan memasang wajah datar
" aku tidak akan pulang" jawab Aldy santai dan langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur Khanza
" Ih bapak nyebelin banget ya, Kalau bapak tidur di situ terus saya tidur di mana?" ketus Khanza
" Ya disini!" Aldy menepuk sudut kasur yang masih kosong di sampingnya
" Bapak sudah tidak waras ya, kasur sekecil itu harus berbagi?" Khanza menyorot tajam
" Ya sudah kamu bisa tidur di bawah kalau begitu!" Aldy memberi solusi yang langsung membuat Khanza semakin geram
" Sebaiknya pak Aldy keluar sekarang juga dari kamar saya!" Khanza menunjuk ke arah pintu
" Aku tidak mau, kamar ini sudah membuatku sedikit nyaman. kalau kamu tidak suka berdekatan dengan ku sebaiknya kau saja yang keluar!"
" Kau_?" Khanza menunjuk ke arah Aldy dengan tatapan jengah.
Khanza keluar dari kamar dan merebahkan tubuhnya di atas karpet depan TV
" Loh Za kok belum tidur?" tanya bu Khodijah yang baru habis dari kamar mandi
" Belum ngantuk bu!" ucapnya berbohong pasalnya Khanza sudah sangat mengantuk tapi karena di dalam kamarnya sudah ada yang menempati dia lebih memilih mengalah.
Khanza membolak balikkan badannya mencari posisi ternyaman tapi sudah hampir jam 11 malam pun matanya masih belum bisa terpejam sampai akhir jam sudah menunjukkan pukul 12 Khanza yang kelelahan pun akhirnya tertidur juga di depan TV yang masih menyala.
Bu Khodijah yang terbangun karena masih mendengar suara TV pun akhirnya keluar dan melihat Khanza yang tertidur lelap di atas karpet.
" Anak ini malah tidur di sini" gumam bu Khodijah lalu mematikan TV yang masih menyala
" Bu" suara bariton terdengar di balik punggungnya, Bu Khodijah berbalik dan ternyata menantunya yang ikut keluar karena Khanza tidak juga kembali ke kamar.
" Khanza ketiduran nak Aldy" bu Khodijah menunjuk dengan ekor matanya ke arah Khanza
" Mungkin dia kelelahan bu, biar saya pindahkan ke kamar"
__ADS_1
" Bangunkan saja !"
" Tidak apa bu, kasihan nampaknya Khanza benar-benar kecapean" Aldy berjongkok lalu dengan sangat hati-hati mengangkat tubuh mungil Khanza dan membawanya ke dalam kamar.
Dengan sangat hati-hati Aldy meletakkan Khanza diatas kasur lalu menyelimutinya, Aldy lalu menggelar karpet yang tadi di ruang TV di kamar Khanza tepatnya di bawah tempat tidurnya.
karena rasa ngantuk yang mendera Aldy pun akhirnya tertidur juga.
Hari sudah pagi Khanza membuka matanya merenggangkan otot-otot tubuhnya bergerak ke kiri dan ke kanan.
Khanza tiba-tiba teringat semalam dia tertidur di ruang TV tapi kenapa tiba-tiba sudah berada di atas kasurnya. Khanza sedikit berpikir " Ah sudahlah mungkin semalam aku sudah bangun dan pindah sendiri ke kamar." gumamnya namun sedetik kemudian Khanza dikejutkan dengan suara seseorang yang sangat dihafalnya
" Kamu sudah bangun?" tanya Aldy yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang masih melilit di pinggang
Deg
Khanza terdiam dan pandangannya tidak beralih dari sosok laki-laki tampan yang berada di hadapannya
" Jangan diliatin terus nanti jatuh cinta!" serunya dengan senyum menggoda
Khanza langsung mengalihkan pandangannya ke sembarang arah wajahnya memerah seperti kepiting rebus.
" Ada yang ingin aku bicarakan nanti selepas pulang sekolah aku ingin mengatakan sesuatu kepada mu dan juga ibu" ucapnya
" Sekarang sebaiknya kamu mandi dan bersiap-siap, ini sudah hampir jam 7 kau bisa terlambat jika terus menatap ku seperti itu"
" Apa ? hampir jam 7 oh tidak aku telat"
Khanza langsung beranjak dari tempat tidur dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi dengan tergesa-gesa.
Sementara Aldy sudah memakai bajunya dan berencana untuk pulang dulu ke apartemennya untuk berganti baju sebelum berangkat mengajar ke sekolah.
"Nak Aldy sini sarapan dulu!" suara bu Khodijah mengajak Aldy untuk sarapan saat Aldy mau pamit pulang
" Tidak usah bu terima kasih, saya mau pamit pulang mau ganti baju dulu" ucapnya untung saja hari ini jam mengajarnya sedikit siang
" Tapi sarapan saja dulu sebelum pulang" ucap bu Khodijah kembali
" Iya kak, sebaiknya kak Aldy sarapan aja dulu " ucap Izan
" Emmm.. baiklah" Aldy pun mendudukkan dirinya di samping Izan
" Bagaimana tugas sekolahnya?" tanya Aldy kepada Izan
" Semua sudah beres kak, terima kasih ya kak sudah bantuin Izan mengerjakannya" ucap Izan
" Lain kali kalau ada yang sulit di mengerti tanya saja sama kakak siapa tahu kakak bisa bantu" ucap Aldy menawarkan
" Siap kak" ucap Izan bersemangat
" Nak Aldy, Khanza mana kok belum keluar?" tanya Bu Khodijah
" Sedang mandi bu" jawab Aldy santai
" Mandi? tumben banget gak biasanya kak Khanza bangun kesiangan" tutur Izan yang merasa heran dengan kakaknya
" Khanza itu tidak pernah bangun sesiang ini loh nak Aldy" ucap bu Khodijah
" Mungkin dia kelelahan bu" jawab Aldy
" Kelelahan?" tanya bu Khodijah mengernyitkan dahinya
" Kalian_?" tanya bu Khodijah menggantung
"Maaf bu Khanza kesiangan" ucap Khanza yang langsung duduk dan menyambar sarapannya.
" Kakak tidur jam berapa tumben sampai bangun kesiangan?" tanya Izan
" Kakak gak bisa tidur gara-gara nih orang!" jawab Khanza yang sedang menyantap sarapannya dan menunjuk dengan ekor matanya ke arah Aldy.
" Memangnya apa yang dilakukan kak Aldy sampai membuat kakak tidak bisa tidur ?" tanya Izan polos
" Izan!" panggil ibunya seraya menggelengkan kepalanya pelan
Aldy tersenyum simpul dan menaik turunkan alisnya Khanza yang kebetulan menoleh kearahnya sontak melotot mengerti arah pikiran ibunya apalagi Aldy memasang wajah santainya.
" Bu Khanza berangkat duluan ya, Khanza sudah kesiangan" ucap Khanza seraya beranjak dari duduknya
" Aku antar" ucap Aldy yang ikut menyudahi sarapannya
" Tidak perlu aku bisa berangkat sendiri" sahut khanza cepat.
Khanza berangkat ke sekolah naik ojek online sementara Aldy pamit pulang ke apartemennya untuk berganti baju terlebih dahulu.
Bu Khodijah dan Izan berangkat bersama karena kebetulan di kantin sudah ada bi Ratna yang membantunya jadi bu Khodijah tidak terlalu sibuk. Bi Ratna adalah adik sepupu bu Khodijah yang kebetulan juga pernah bekerja menjadi art di rumah Aldy.
Aldy sengaja meminta bi Ratna untuk membantu bu Khodijah diwarung kantin alasannya karena dia tidak ingin Khanza kecapean membantu bu Khodijah dan tidak konsen dengan pelajarannya apalagi sebentar lagi sudah mendekati ujian
Sesampainya di sekolah Khanza langsung masuk ke dalam kelas karena dia hampir saja terlambat.
" Loe kok tumben banget Za bisa kesiangan ?" tanya Hana
" Gak biasanya seorang Khanza hampir telat" Nana menimpali
" Iya gue bangun kesiangan" jawabnya dengan napas yang masih tersengal-sengal karena untuk masuk ke dalam kelas Khanza sempat berlari.
__ADS_1
" Za loe pakai cincin, tumben?" tanya Miska yang langsung membuat Hana dan Nana melirik ke jari manis Khanza
Deg