
Ivy menyentuh dinding kaca di hadapannya dengan lemas, melihat seseorang yang sangat ia sayangi tengah berjuang melawan penyakit yang dia derita dengan susah payah.
Alat yang terpasang di tubuhnya semakin lama semakin banyak dan bervariasi.
Matanya berkaca-kaca dan memerah, bunga mawar merah yang ia bawa kini menjadi kusut karena remasan tangannya.
Beep,,,beep,,,beep,,
Suara alat yang Ivy tidak ketahui namanya itu semakin lama semakin nyaring terdengar. Dokter dan para perawat segera memasuki ruangan dengan tergesa-gesa, memeriksa alat dan melakukan berbagai prosedur yang harus mereka lakukan.
Ivy berjalan mondar-mandir tidak jelas di luar ruangan itu, tangan dan tubuhnya berkeringat dingin. Kakinya terasa bergetar dan lemas sambil terus berdoa dan berharap cemas akan nyawa sahabatnya, Zena.
Memorinya seketika itu terulang kembali, seluruh kenangan indah dan perjuangan hidup sebatang kara. Dia masih belum rela.
Ivy menutup mulutnya dengan kedua tangannya ketika grafik detak jantung Zena menjadi datar dan berbunyi sangat nyaring.
“kumohon! Kumohon!”
“jangan tinggalkan Ivy sendiri hiks,, ku mohon,, aku mohon hiks!”
“vy?”
“Ivy!, IVY BANGUN!”
Guncangan di tubuhnya seketika membangunkan Ivy dari tidurnya. Juan terlihat tengah berjongkok di hadapan Ivy dan menatap matan Ivy lekat-lekat, terlihat sebuah kecemasan di dalam mata elangnya. Ivy terlihat bingung, begitu juga Juan yang melihat Ivy tiba-tiba menangis ketika tertidur.
Juan mengusap air mata Ivy yang sudah banyak jatuh bercucuran. Ivy masih terlihat bingung dan syok.
“kenapa?” tanya Juan dengan lembut.
“apa saya tadi tertidur? Apa saya masih berada di sekolah? “
“iya, dan kau tiba-tiba menangis ketika tidur, apa kau bermimpi buruk?”
“tidak, itu justru bagus karena hanya mimpi” ucapnya sambil meyakinkan dirinya sendiri. Semua akan baik-baik saja, pasti.
“saya izin permisi dulu pak”
“Ivy”
“ya pak”
“sewaktu di luar sekolah jangan panggil aku pak lagi, panggil Juan saja. tidak perlu saya dan anda, tapi aku dan kamu. Dan hal yang terpenting ( meraih tangan Ivy dan mengelusnya lembut) bergantung lah padaku juga”
Ivy menatap lekat manik hitam legam itu, tidak terlihat sebuah bualan di dalamnya. Ivy tersenyum lembut dan melepaskan tangannya dari genggaman Juan.
“Apa saya benar-benar bisa berharap? Ada banyak orang yang datang dalam hidup saya, lambat luan mereka juga akan pergi meninggalkan saya. Saya tidak mau terlalu bergantung dengan orang lain. Semakin dalam perasaan semakin sakit ketika orang itu pergi. Saya akan memikirkannya lagi, permisi”
Bukannya marah, Juan justru tersenyum mendengar jawaban Ivy. Seperti dugaannya, gadis itu mandiri dan pintar sekali membohongi orang lain. Entah berapa banyak rasa pahit dan manis kehidupan yang harus ia lalui di umurnya yang masih terbilang muda. Tapi, justru hal itulah yang membuat Juan tertarik.
__ADS_1
.
.
.
“udah bolos bengong lagi” Adam menghampiri Ivy di taman belakang sekolah dan memberikan susu kotak rasa strawberry. Tak lupa dengan senyum cerah mataharinya.
“thanks”
Adam ikut duduk di rumput bersama Ivy. Sudah bisa di simpulkan mereka berdua sedang bolos dan pasti Nina sedang mengumpati nya karena tidak mengajaknya membolos juga.
“bagaimana kabar Zena (tahu karena Adam ikut menjenguk)?”
“dia pasti baik-baik saja”
Setelah itu seketika menjadi hening. Mereka sama-sama bengong dan terlihat berfikir keras. Mungkin jiwa dan raga mereka tengah berada di tempat yang berbeda.
“boleh aku bertanya sekali lagi”
“ya, tentu saja, berapa pun pertanyaan juga boleh, hehe”
“setelah dia meninggalkanmu, apa yang kamu lakukan setelah itu? jika rasanya sangat sakit, bagaimana rasanya untuk tidak sesakit itu”
“ikhlaskan saja, aku tahu aku berbicara terlalu enteng. Tapi itu yang ku lakukan walaupun aku sadar aku telat mengetahuinya. Mereka tidak ingin penyakit itu ada di dalam tubuh mereka, atau mereka pergi terlalu cepat. Semua memiliki jalan masing-masing. Jadi tersenyumlah, aku suka senyummu kemarin. Temanmu pasti baik-baik saja”
Adam bercerita tentang banyak hal dan beberapa cerita lucu yang berhasil membuat Ivy sesekali tertawa. Tidak peduli jika ada beberapa orang yang melihat mereka aneh, tapi bagi mereka itu adalah salah satu cara melepas semua beban di pundak mereka.
Tanpa mereka sadari sepasang mata tajam dengan aura gelap serta dingin terus mengintai mereka dengan hawa yang tidak mengenakkan. Di sisi lain dia juga terlihat sedikit lega karena gadis yang ia cintai kini bisa tertawa kembali, namun ada satu hal yang salah. Seseorang yang membuatnya tertawa bukanlah dirinya, itu adalah masalahnya.
.
.
.
“waaaaw ini beneran makanan semua ?” ucap Toni dengan mata berkaca-kaca. Adam mentraktir mereka semua (Nian,Toni, Jio, Nina dan Ivy).
Bian menggeleng pasrah melihat sekumpulan manusia di hadapannya yang sedang makan dengan rakus di minimarket dekat sekolah mereka.
“makan pelan-pelan bodoh! Aku tidak percaya kenapa aku bisa berteman dengan sekumpulan orang bodoh seperti kalian”
“jangan banyak omong, laper kan? nih makan nih! (memasukkan roti isi dengan paksa ke mulut Bian ) ngoceh mulu, heran deh” kesal Jio, menurutnya Bian terlalu banyak bicara, bagi Jio Bian hanya lapar.
“iya nih, sewot mulu si Bian, udah badan kerempeng banget, lebih kerempeng dari si Nina”. Jio mengangguk-angguk meng iyakan.
Nina yang sedang makan mie seketika menghentikan aktivitasnya dan menatap tajam Toni . “terserah lah, ini namanya body goals dasar cowok nggak tahu tren”
“idiiih, pake ngikutin tren segala, nggak ngikutin tren Jio juga udah demen kok”
__ADS_1
“UHUK,, UHUKK, UHUK” Jio tersedak makanannya sendiri karena mulut Adam yang bar-bar, dasar ngumpanin temen sendiri nih anak.
“tuh kan sampe keselek, udah lah Ji tembak aja, Nina pasti mau kok, pake acara keselek segala. Iya gak Nin?”
“Iya,,, eh apaan sih engga ya, mulut si adam ini tipis bener deh”
“HAHAHAHAHA”
Adam melirik Ivy sekilas, Ivy sangat cantik ketika sedang tertawa. Mustahil jika Adam tidak menyukainya (senyuman Ivy). Tak lama Adam tersadar dan kembali menggoda teman-temannya, walaupun tanpa ia sadari Ivy juga sadar ketika Adam menatapnya cukup lama.
.
.
Adam merebahkan tubuhnya di ranjang kamarnya sambil menatap kosong langit-langit kamarnya yang terlihat dingin.
Seulas senyum terpampang indah di wajahnya yang juga indah, kamarnya terisi penuh dengan piala-piala kejuaraan judo yang ia menangkan. Adam adalah ketua judo di sekolahnya dan itu membuatnya terkenal, terutama dia tampan dan baik hati, tak segan menapakkan senyum indah di hadapan siapa pun.
“kacau! Kacau!”
“bisa-bisanya dia datang di saat seperti ini, sialan! Sialan!” mengacak-acak rambutnya frustasi. Rambutnya yang awalnya rapi kini menjadi berantakan. Senyumanya pun juga terlihat sangat berbeda. Bukan senyum secerah matahari, bukan juga senyum hangat yang ia tunjukkan kepada semua orang.
Hanya dia yang tahu siapa dirinya sendiri. Adam, terlihat sangat berbeda. Air matanya tiba-tiba muncul di deras dari kelopak matanya.
“pergilah! Ku mohon pergilah! Biarkan aku hidup dengan tenang hiks,,ku mohon,,hiks,,pergilah,,hiks,,aku mohon,,hiks,,hiks”
.
.
.
"siapa dia?" tanya anak laki-laki tampan ketika melihat seorang gadis cilik berusia sekitar enam tahun tengah di gendong seorang pria tua di depannya.
" Dia cucuku, cantik kan "Juno kecil mengangguk semangat.
"jika dia dewasa bisakah kau menjaga nya?"
"kenapa? paman kan sangat kuat"
"aku akan pergi suatu hari nanti, temani dia dan jangan bentak dia, dia tidak suka di bentak. Hidupnya pasti berat, karena dia berbeda. Bisa aku percaya padamu?"
"(mengangguk) tentu saja paman, aku akan menjaganya. Tapi bagaimana caranya?"
"nanti kau akan mengerti, untuk sekarang belajarlah yang rajin dan kumpulkan banyak uang"
"uang? ternyata paman memang mata duitan"
"mulutmu pedas seperti biasanya ya, jika kau ingin menjaganya, kumpulkan banyak uang dan kau akan tahu"
__ADS_1