Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Yang Tertunda


__ADS_3

Lia tengah duduk di tepi tempat tidur tangannya sedang sibuk dengan ponselnya, sesekali Lia nampak tersenyum bahkan tertawa sendiri. Mario yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung menghampiri dan duduk di sampingnya.


" Kayaknya ponselmu lebih beruntung ya di bandingkan dengan suamimu ini yang di acuhkan bahkan tidak diajak tersenyum" ucap Mario seraya beranjak dari duduknya dengan wajah cemberut.


Lia menoleh ke arah Mario dan mengerutkan keningnya " Kamu kenapa Io?" tanya Lia tanpa rasa bersalah.


" Tidak apa-apa" ucap Mario yang kemudian duduk di sofa dengan memangku laptopnya.


" Apa hari ini kamu sibuk juga?" tanya Lia meletakkan ponselnya lalu berjalan menghampiri Mario.


" Tidak" ucap Mario singkat


" Lalu untuk apa kamu membuka laptop itu?" ucap Lia menunjuk dengan dagunya


" Hanya menghilangkan rasa kesepian karena di acuhkan isteri sendiri" ucap Mario sambil menutup laptopnya dan diletakkan di atas meja lalu beranjak dari duduknya berjalan ke arah balkon.


" Io, kamu ini kenapa sih?" tanya Lia mengikuti langkah kaki Mario.


" Aku tidak apa-apa" sahutnya datar


" Kamu marah?" tanya Lia


" Untuk apa aku marah?" Mario duduk di kursi yang ada di balkon tersebut.


" Io, ayolah bicara jangan seperti ini" ucap Lia yang ikut duduk di bangku samping Mario.


" Sudahlah, teruskan sana kegiatan kamu chattingan bersama teman-teman kamu itu aku tidak ingin menjadi pengganggu. teman-teman mu pasti sedang menunggu kemunculan kamu" ucap Mario yang kembali beranjak dari duduknya dan pergi keluar kamar begitu saja.


" Io kamu kenapa sih?" teriak Lia sesaat sebelum Mario hilang di balik pintu.


Mario keluar kamar dan pergi ke taman belakang, hari ini Mario sengaja mengajak Lia untuk kembali menginap di rumah orangtuanya.


Lia mendengus kesal di dalam kamar setelah ditinggal sendirian oleh Mario.


Karena Mario tidak juga kembali ke dalam kamar akhirnya Lia memutuskan untuk mencari Mario. Lia bertanya kepada bi Tini saat dia baru menuruni anak tangga dan berpapasan dengannya yang tengah membawa secangkir kopi ditangannya.


" Bi itu buat siapa?" tanya Lia kepada bi Tini


" Ini non kopi buat den Rio" ucapnya dengan sopan


" Memangnya Mario lagi dimana bi?" tanya Lia


" Den Rio sedang di taman belakang non" Ucap bi Tini memberitahu


" Apa non Lia sama den Rio sedang bertengkar ya?" tanya bi Tini memberanikan diri bertanya


" Gak kok bi, biasalah bi namanya juga anak muda" ucap Lia sambil terkekeh.


" Yaudah bi biar aku aja ya yang bawa kopinya?" pinta Lia


" Gak usah non biar bibi aja!" ucap bi Tini merasa tidak enak


" Gak apa-apa bi, aku aja yang bawa ya sekalian mau menghampirinya bi!" ucap Lia meraih kopi yang dipegang bi Tini.


" Yaudah aku kesana dulu ya bi" ucap Lia pamit


" Iya non" sahut bi Tini yang kembali pergi ke dapur


" Ini!" ucap Lia menyodorkan cangkir yang berisi kopi kepada Mario dan Mario mendongak ke ke arah sumber suara.


" Kenapa kamu yang membawa kopinya, kemana bi Tini?" tanya Mario meraih cangkir yang Lia sodorkan.


" Kebetulan tadi bi Tini mau kesini dan aku juga sedang mencari suami aku yang menghilang dari setadi jadi aku meminta kepada bi Tini biar aku saja yang membawakan kopinya tapi kalau suamiku lebih memilih bi Tini saja yang kesini ya gak apa-apa biar aku bawa kembali kopinya dan meminta bi Tini yang mengantarkan kopi untuk mu" ucap Lia yang sedikit kesal dengan sikap dingin Mario.


" Segitu aja baper" gumam Mario pelan tapi masih bisa terdengar oleh Lia.


" Terserah!" ucap Lia berbalik badan ingin pergi meninggalkan Mario

__ADS_1


" Duduklah!" pinta Mario yang sudah menyambar tangan Lia dengan cepat.


" Tidak mau" tolak Lia sedikit merajuk


" Duduk!" perintah Mario tegas tidak ingin ada bantahan.


" Kamu membentak aku ?" tanya Lia yang tiba-tiba merasa sensitif dan kesal dengan sikap Mario yang marah tanpa tau apa penyebabnya


" Iya, kenapa gak suka? kalau gak suka ya terserah. aku capek semakin kesini kamu semakin tidak memperdulikan aku lagi, kamu lebih mementingkan diri kamu sendiri dengan sahabat-sahabat kamu" ucap Mario yang ikut emosi.


" Kamu ini kenapa sih Io?" tanya Lia yang merasa Mario nampak berbeda dari biasanya dan ikut terpancing emosi.


" Aku gak kenapa-napa" ucapnya datar


" Io kamu yang selalu bilang jika ada masalah itu di bicarakan bukan seperti ini selalu saja kamu menghindar" ucap Lia


" Kamu pikir saja sendiri?" ucap Mario sedikit bernada dingin membuat Lia berkali-kali menghela napasnya berat.


" Pikir apa Io, aku benar-benar gak ngerti" ucap Lia bingung


" Kamu selalu saja asik dengan dunia teman-teman mu sampai mengabaikan keberadaan aku" ucap Mario


" Maksud kamu apa sih Io, asik dengan teman-teman ku bagaimana?" tanya Lia yang merasa bingung dengan ucapan Mario


" Menurut mu?" Mario malah balik bertanya


" Apa yang kamu maksud itu yang tadi di dalam kamar?" tanya Lia menaikkan satu alisnya


" Ya" sahut Mario lantang dan seketika tawa Lia pun pecah.


" Kenapa malah ketawa?" tanya Mario mendengus kesal.


" Ya habisnya kamu tuh lucu, marah gak jelas hanya karena melihat aku chattingan sama orang yang kamu sendiri gak tau kan sama siapa?" Lia tersenyum mengejek menaik turunkan alisnya.


" Ya memang siapa lagi kalau bukan dengan teman-teman kamu itu" ucap Mario dengan percaya diri.


" Asal kamu tahu Io yang tadi chating aku itu mama kamu loh, mama tadi sudah menelpon berkali-kali ke nomor ponsel kamu tapi ponsel kamu katanya gak aktif. mama tadi sempat menelpon nomor aku terus gak tau kenapa tiba-tiba sambungan teleponnya terputus ya jadinya mama ngechat aku deh" ucap Lia membuat Mario merasa malu sendiri apalagi setelah ia buka ponselnya ternyata banyak notifikasi panggilan tak terjawab.


" Emmm... maaf!" ucap Mario lalu mendekat ke arah Lia sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


" Makanya jadi orang itu jangan asal marah, gak biasanya banget kamu bersikap seperti tadi, sebenarnya ada apa Hem?" tanya Lia yang merasa penasaran dengan perubahan sikap Mario.


" Ya aku hanya merasa cemburu karena sudah diabaikan oleh kamu beberapa hari ini!" ucap Mario seraya meletakkan kepalanya di bahu Lia


" Kamu ini seperti anak kecil saja" ucap Lia mengangkat tangannya lalu mengusap-usap pipi Mario yang bertengger di bahunya.


" Aku memang seperti anak kecil tapi bisa loh gini-gini bikin anak kecil" ucap Mario menaik turunkan alisnya genit.


" Ihh.... apaan sih" ucap Lia yang sudah bersemu merah.


" Kamu sudah selesaikan?" tanya Mario mengedip-ngedipkan matanya


" Selesai apa? telponan sama mamanya?" tanya Lia yang mengalihkan pembicaraannya dan pura-pura tidak mengerti arah pembicaraan Mario.


" Kamu jangan pura-pura ya sayang, aku sudah tahu kalau kamu itu selalu saja menghindar" ucap Mario mencubit pipi Lia gemas.


" Apa sih Io, kamu tuh yang dasarnya aja omes, ngeselin tau gak" ucap Lia nampak malu-malu.


" Masuk yuk!" ucap Mario yang tidak akan ada hentinya jika sudah menimpali Lia yang selalu berusaha untuk menghindarinya.


" Kemana?" tanya Lia mengerutkan keningnya dan tanpa aba-aba lagi Mario dengan cepat mengangkat tubuh Lia keudara digendongnya Lia ala bridal style membuat siapapun merasa iri jika melihat pasangan suami istri yang masih berstatus pelajar itu.


" Io turunkan aku!" ucap Lia panik saat tubuhnya melayang di udara


" Tidak akan" sahut Mario tegas


" Io kamu mau apa sih?" tanya Lia sambil mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


" Laki-laki yang kamu bilang seperti anak kecil ini ingin mengajakmu membuat anak kecil, bagaimana seru bukan" ucap Mario dengan tawa jahilnya.


" Apa?" pekik Lia seakan tidak percaya dengan ucapan Mario yang terdengar begitu frontal.


Mario tidak memperdulikan teriakan Lia dan untung saja ini di rumahnya sendiri jadi dia merasa bebas tidak takut ada orang lain yang mendengar dan melihat aksinya ya paling-paling bi Tini.


Setelah berada di dalam kamar Mario langsung menurunkan Lia di atas tempat tidur dengan sangat hati-hati. " Boleh ya?" tanya Mario menatap lekat wajah Lia yang masih memasang wajah memberengut


" Io!" pekik Lia yang masih merasa belum siap


" My Lily, please!" ucapnya memelas dan Lia masih menggeleng pelan.


" Sebentar saja, jika terasa sakit kita bisa menghentikannya" ucap Mario membuat wajah Lia merah seketika.


" io" Ucap Lia yang masih sedikit takut dan bercampur malu.


" Boleh ya, bulan depan aku dan kak Arta akan ke Jerman jadi bisakah kau beri aku suntikan penyemangat sebelum pergi!" ucap Mario tiba-tiba membuat Lia membulatkan matanya.


" Kau akan pergi ke Jerman?" tanya Lia nampak terkejut dan Mario mengangguk pelan.


" Aku dan kak Arta akan ke perusahaan papa ya di Jerman, karena kak Arta mengatakan kalau perusahaan papa sedang bermasalah jadi papa meminta aku dan kak Arta pergi ke sana, kamu gak apa-apakan jika aku pergi?" tutur Mario.


" Berapa lama?" tanya Lia yang merasa sedikit sedih


" Entahlah, paling lama mungkin sekitar dua Minggu" sahut Mario asal


" 2 Minggu? jadi kau akan pergi selama itu dan baru mengatakannya sekarang?" ucap Lia penuh rasa kecewa dan langsung membuang muka.


" Aku juga baru di beritahu kak Arta tadi sore sayang" sahut Mario seraya meraih dagu Lia agar menghadap ke arahnya.


" Lalu bagaimana dengan sekolah mu?" tanya Lia yang teringat dengan ujian Mario yang semakin dekat.


" Aku sudah meminta izin dan papa mu menyetujuinya" ucap Mario seraya tangannya mengelus lembut pucuk kepala Lia.


" Lalu bagaimana dengan ku?" tanya Lia lagi


" Apa kau ingin ikut?" Mario balik bertanya menaikan satu alisnya.


" Tidak" sahut Lia cepat


" Kenapa?" tanya Mario


" Jika aku ikut yang ada kamu tidak akan bisa konsentrasi dengan pekerjaan kamu nantinya." jawab Lia dengan bijak


" Kau ada benarnya" Mario terkekeh.


" Lagi pula aku disana hanya membantu memulihkan kondisi perusahaan papa dan jika semua sudah kembali stabil aku akan langsung pulang. jadi bisakah kau memberiku asupan nutrisi supaya aku bisa menyelesaikan semuanya dengan lancar dan bisa pulang dengan cepat" ucap Mario dengan senyum menggoda Lia sejenak nampak berpikir dan tidak lama kemudian Lia pun mengangguk pelan. Mario yang seakan mendapat lampu hijau tanpa menunggu lama langsung melancarkan aksinya dan akhirnya penantiannya selama ini pun berbuah manis. malam yang panjang pun kini mereka nikmati dengan penuh rasa cinta dan kasih sayang yang saling melengkapi satu sama lain. memenuhi hak dan kewajiban masing-masing sebagai pasangan suami istri. Lia tersenyum begitu juga dengan Mario mereka saling melontarkan kata-kata cinta dan tersenyum sebelum keduanya terlelap karena rasa lelahnya.


...☄️☄️☄️☄️☄️...


Sementara di sebuah kamar yang lain di sebuah apartemen yang terbilang cukup besar, seorang pria dewasa tidak bisa memejamkan matanya. pria yang tidak lain adalah Arta sedari tadi pikirannya terus dibayangi dengan senyum seorang anak gadis kecil yang begitu sangat dia rindukan.


" Kenapa bayangan wajahmu kini terus berputar dalam ingatanku gadis kecil?" gumam Arta


" Apa dia masih mengingat ku ya?" tanyanya lagi pada dirinya sendiri


"Gadis kecilku" gumam Arta sambil tersenyum tipis matanya menatap ke langit-langit kamarnya lalu bayangan itupun muncul kembali di memori Arta.


Arta kembali teringat di mana seorang gadis kecil yang begitu lucu dan imut berusi 8 tahun duduk sambil bermain ayunan di taman yang letaknya tidak jauh dari rumah mereka.


Arta tersenyum tatkala ingatannya kembali ke masa-masa di mana ia melihat seorang gadis cantik yang sangat menggemaskan sedang tertawa riang seorang diri di sebuah taman, asik dengan bermain ayunan tanpa menghiraukan keadaan di sekitarnya yang tanpa gadis itu tau kalau Arta tengah memperhatikannya dari kejauhan dan entah kenapa seketika ingatan Arta beralih kepada gadis yang tadi sempat ia tolong, yang tidak lain adalah Mita.


Arta teringat dengan Mita yang menurutnya cukup unik dan membuatnya jadi penasaran, apalagi jika dia teringat dengan sup buatannya itu membuat dia jadi ingin mencari tahu tentang siapa Mita sebenarnya. namun saat ia kembali teringat kalau Mita sempat mengatakan kalau dirinya sudah menikah membuat Arta menjadi ragu karena dia tidak ingin disebut pebinor apalagi sampai menjadi perusak rumah tangga orang.


Arta lagi dan lagi menghela napasnya berat, membuang jauh-jauh ingatannya tentang gadis yang ia tolong tadi.


" Kenapa gadis itu terus mengganggu pikiran ku sih!" ucap Arta mendengus kesal lalu beranjak dari tempat tidurnya dan langsung berjalan ke arah balkon yang ada di kamar apartemennya.

__ADS_1


Arta menatap ke langit malam yang gelap, suasana yang sunyi membuat hatinya merasa sangat kesepian. Sudah sekian lama hatinya terjebak dengan cinta masa lalunya yang menghilang begitu saja, meskipun sudah bertahun-tahun lamanya Arta mencari keberadaan gadis kecilnya itu ia tetap belum bisa menemukannya. bahkan Arta menutup hatinya dari para wanita yang berusaha mendekatinya.


__ADS_2