
Hari ini selepas pulang sekolah Mia, Indah, Mona dan Mita bergegas pergi ke kediaman keluarga Dinata tapi sebelumnya mereka berhenti dulu di butik plus salon Imelda atas permintaan Zaira.
" Mona loe cantik banget cocok lagi pakai baju itu?" ucap Mia saat mereka sudah berada di salon plus butik Imelda milik adiknya papa Sam.
" Loe juga cocok Mia!" timpal Indah.
" Kalian semuanya cocok memakai gaun itu cantik-cantik semuanya!" ucap salah satu pegawai tante Imelda.
" Terima kasih kak!" ucap mereka bersamaan
Tidak mau datang terlambat di acara yang sudah lama nanti-nantikan, setelah selesai dari salon tente Imelda mereka langsung bergegas pergi ke kediaman keluarga Dinata.
Untung saja jalanan hari ini berpihak kepada ke empat sahabat Lia dan Zaira. tidak perlu waktu lama mereka pun sudah sampai di tempat tujuan.
Banyak mobil-mobil mewah yang terparkir di halaman rumah kediaman Keluarga DINATA, dan semua itu tidak lain mobil milik keluarga terdekat dan rekan bisnis yang terpercaya saja.
Semua tamu undangan sudah pada datang, suasana pesta memang dibuat sederhana tapi berkesan cukup mewah.
Zaira yang melihat dekorasi tempat yang sangat indah merasa ada sedikit rasa kecewa dan sedih di dalam hati kecilnya. Zaira tersenyum getir dan menghela napasnya berusaha untuk menetralisir perasaannya yang sedang bergemuruh ya mungkin juga pengaruh hormon wanita hamil yang mudah sensitif.
Azka yang melihat raut wajah murung dari sang isteri langsung berjalan menghampirinya.
" Kamu kenapa sayang?" tanya Azka memeluk Zaira dari belakang.
" Mas lepas, malu dilihat orang!" ucap Zaira
" Kenapa harus malu sayang, kamu inikan isteri aku, lagi pula mereka semua yang hadir hanya orang-orang terdekat saja dan tentunya mereka sudah tahu tentang pernikahan kita sayang!" tutur Azka dan masih enggan melepaskan pelukannya.
" Mas, jangan seperti ini!" Zaira melepaskan tangan Azka yang memeluk pinggangnya.
" Sayang, mas tahu kamu ini sebenarnya sedang sedihkan melihat pesta ini?" tanya Azka dengan suara selembut mungkin.
" Se.. sedih, kenapa harus sedih ?" tanya Zaira sedikit gugup
Azka menangkup kedua pipi Zaira lalu mengecup keningnya. " Sayang, sabar ya setelah anak kita lahir, kita adakan pesta pernikahan kita yang tertunda. Mas akan membuat pesta yang jauh lebih mewah dari ini" ucap Azka membuat Zaira melotot. bagaimana sang suami tahu jika saat ini Zaira menginginkan hal itu karena saat mereka menikah tidak ada yang namanya pesta yang ada justru linangan air mata.
Zaira menundukkan wajahnya tatkala teringat kembali dengan hari pernikahannya. pernikahan yang terjadi karena terpaksa, pernikahan yang dilandasi rasa kasihan semata.
" Sayang!" panggil Azka dengan suara lembut. Azka mengangkat dagu Zaira lalu tersenyum tipis.
" Maaf ya karena dulu mas tidak membuatkan pesta pernikahan kita, dan mas sebenarnya ingin mengadakan pesta untuk kita tapi melihat kondisi perut kamu yang sudah besar seperti ini pasti akan membuat kamu cepat merasa lelah dan tidak baik juga untuk kesehatan kamu sayang, jadi mas berencana setelah anak kita lahir baru kita adakan pesta, bagaimana sayang?" ucap Azka menarik Zaira ke dalam pelukannya.
" Aku terserah mas saja, buatku mas sudah menerima aku sebagai isteri mas saja aku sudah sangat bahagia mas " ucap Zaira membalas pelukan sang suami.
" Sayang, jangan sedih lagi ya, mas janji mas pasti akan memberikan apapun yang kamu inginkan" ucap Azka membuat Zaira tersenyum tipis
" Iya mas" sahut Zaira.
" Ekhemm.. ditempat ramai ini Za, mending pergi aja gih ke kamar" ucap Mona.
" Cihh, yang jomblo iri" ucap Zaira
" Iri, bilang bos?" timpal indah ikut menggoda Mona
" Wah parah kalian, bisanya ngebully gue disini, mending gue pergi aja deh" Mona menggeleng dan beranjak pergi menghampiri meja yang diatasnya berjejer beberapa jenis minuman.
" Loe sih Ndah kabur nih!" ucap Mita
" Oia Mit, kak Ariel mana?" tanya Zaira
" Mungkin rada telat Za datangnya masih ada jadwal operasi tadi katanya" sahut Mita
" Oh begitu" Zaira manggut-manggut
" Mas, aku keatas dulu ya mau ke kamar Lia!" pamit Zaira kepada Azka
" Ayok mas antar!" ucap Azka yang selalu merasa khawatir tingkat dewa jika Zaira menaiki anak tangga.
" Gak usah mas, ada Mita dan yang lainnya!" tolak Zaira yang merasa malu dengan teman-temannya karena Azka benar-benar terlihat posesif.
" Gak ada penolakan, kamu tau itukan sayang!" ucap Azka yang sudah menggandeng tangan sang isteri tercinta.
" Baiklah!" Zaira pasrah karena jika sang suami sudah berkata percuma membatahnya.
__ADS_1
" Mona ayok!" ajak Mia yang menghampiri Mona yang sedang minum bersama Sendy.
" Udah dekat aja nih?" lanjutnya menggoda Mona.
" Apaan sih" Mona memutar bola matanya malas.
" Hai Mia!" sapa Sendy tersenyum ramah kepada Mia
" Hai kak," Mia balas menyapa
"Ap_?"
" Ayok Mon, mau ikut gak?" tanya Mia kepada Mona memotong ucapan Sendy membuat Sendy menghela napasnya.
" Iya..iya... bawel!" Mona meletakkan minuman yang ada ditangannya ke atas meja lalu pamit pergi kepada Sendy.
...☄️☄️☄️☄️...
Sementara di dalam kamar yang ukurannya tidak jauh dengan kamar Zaira dan Azka. tengah duduk di depan cermin bersama dengan tante Imelda yang baru saja memberikan sentuhan terakhir dari karya tangannya.
" Sempurna!" ucap tente Imelda setelah selesai memainkan jari-jarinya diwajah Lia sehingga menghasilkan karya yang luar biasa
Tokk
tokk
tokkk
Za mengetuk pintu kamar Lia sebelum masuk, sementara Azka menemui papa Sam untuk menjamu para tamu.
Za masuk ke dalam kamar Lia dibelakang Zaira sudah ada Mita, indah dan tidak lama mereka masuk Mona dan Mia menyusul.
" Waw... ini loe Li? beneran loe ini Meliani?" tanya Mona yang kagum dengan penampilan Lia sore ini.
" Lia loe kok cantik banget sih, pantas aja Mario pingin cepat-cepat halalin loe takut loenya diambil orang ya Li" ucap Indah yang juga kagum dengan kecantikan Lia.
" Ah kalian bikin gue ge'er aja sih, udah ah jangan muji gue terus semakin gugup nih gue" ucap Lia mencibikkan bibirnya.
" Za!" panggil tante Imelda.
Zaira menengok ke arah tante Imelda " Iya tante ada apa?" tanya Zaira
" Sini sayang, masih ada waktu!" ucap tante Imelda membuat Zaira menarik alisnya satu
" Tante Imelda menggiring Zaira duduk di bangku sebelum Lia.
" Ada apa sih tante?" tanya Zaira polos membuat tante Imelda tersenyum.
" Duduk sini, tante ingin memberi sedikit polesan diwajah kamu sayang, biar terlihat lebih cantik dan membuat Azka tercengang nantinya." ucap tante Imelda.
" Tidak usah tante" tolak Zaira yang merasa malu bila harus ikut dirias segala apalagi dengan perut yang terlihat besar.
" Gak apa-apa Za, nanti loe duluan yang keluar di dampingi Mita dan Indah, biar gue nanti di dampingi sama dua jomblowati ini" ucap Lia membuat Mia dan Mona mendengus kesal dibilang jomblowati sementara Mita dan Indah menahan tawanya.
" Jahat loe, biarin aja gue sumpahin ya acara loe malam ini berjalan lancar terus loe cepat nyusul Za, buncit tuh perut" ucap Mia menyumpahi Lia
" Amin!" ucap semuanya serempak.
" Dih ada ya gitu nyumpahinnya baik bener?" ucap Indah.
" Adalah, kata pak ustadz do'a orang teraniaya itu akan dikabulkan loh. jadi dari pada gue nyumpahinnya yang jelek-jelek mending yang baik-baik aja lah sama sahabat sendiri mah, ya gak Li" tutur Mia
" Cih, sok bijak loe" timpal Mona.
" Lah biarin aja siapa tau dengan ke sok bijakkan gue kali ini,gelar gue sebagai jomblowati malam ini akan berubah" ucap Mia menaik turunkan alisnya.
" Ngarep aja terus Mi, emang disini ada yang muda dari tadi gue liat hampir seumuran dengan bokapnya pak Bagaz" ucap Mona.
Lia, Mita dan Indah terkekeh melihat duo jomblowati yang tengah berdebat sementara Zaira tengah sibuk dipermak oleh tante Imelda.
Ceklekk
pintu terbuka dari luar bertepatan dengan tante Imelda yang selesai dengan memberikan sentuhan polesannya di wajah cantik Zaira.
__ADS_1
" Meli, Za kalian cantik-cantik banget hari ini!" puji mama Maria yang masuk ke dalam kamar Lia bersama dengan bunda Aryani.
" Ahhh, mama bikin Mel ge'er aja sih" ucap Lia yang merasa malu mendapat pujian dari sang mama.
" Berarti baru hari ini ya mah Za cantiknya kemarin-kemarin mah jelek" ucap Zaira dengan wajah ditekuk membuat semuanya rasanya ingin mentertawakannya saja kalau tidak ingat dengan kondisi Zaira yang tengah hamil tua di usianya yang masih sangat muda.
" Duh sensian banget sih calon mama muda yang satu ini gemes deh jadinya" ucap bunda Aryani yang langsung memeluk sang putri.
" Putri bunda itu dari kecil sampai sekarang ini walaupun dengan perutnya yang besar ini tetap cantik kok sayang, apalagi saat kamu hamil maka aura kamu itu semakin terpancar dan kamu tambah cantik ditambah lagi dengan kemampuan tante Imelda yang pandai memainkan jari-jarinya sehingga kamu terlihat jauh lebih cantik" tutur bunda Aryani membuat Zaira menyunggingkan senyumnya.
" Sudah ayok turun, kalian semua ini seperti bidadari-bidadari yang ada di keluarga Dinata" ucap mama Maria yang tengah memeluk Putri cintanya.
Lia tersenyum penuh haru, walaupun didalam hatinya ada rasa gugup dan juga tegang.
Lia mencoba untuk menetralkan perasaannya agar lebih tenang, kalau soal jantungnya jangan ditanya lagi sudah berpacu dengan cepat melewati pacuan kuda kencangnya.
Lalu apa kabarnya dengan Mario? Tidak jauh berbeda dengan Lia bahkan laki-laki yang terkenal dengan kebrutalannya, keonarannya dan sikapnya yang cuek tidak berlaku pada hari ini.
Mario nampak begitu gugup, sesekali ia meremas ujung jas yang ia kenakan, papa Sam dan Alex hanya tersenyum melihat sikap Mario yang nampak begitu tegang.
" Belum dimulai keringat dingin sudah mengucur di kening putramu Lex!" ucap papa Sam berbicara pada Alex.
" Seperti kau tidak pernah merasakannya saja " ucap Alex menyindir.
" Aku tidak setegang putra mu ya?" protes papa Sam
" Benarkah, bukannya saking tegangnya kau justru salah mengucap nama pengantinnya ya?" ledek Alex sedikit berbisik membuat papa Sam melotot tajam.
" Huss, itu sudah masa lalu jangan diungkit lagi. jika Maria dengar bisa ngamuk dia" ucap papa Sam.
" Wahh, rupanya kau ini suami takut isteri ya!" ledek Alex
" Bukan takut tapi menghargai. Isteri sudah banyak berjuang dan berkorban untuk kita apa salahnya jika kita menghargai semua hal yang telah ia lakukan untuk kita, isteri bahkan berani mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan buah hati kita rela tubuhnya berubah setelah melahirkan, membagi waktunya untuk mengurus suami dan anak-anak, bahkan meninggalkan kebebasannya demi keluarga, lalu apa salahnya jika kita memberikan perhatian kepadanya dan menjaga perasaannya agar tidak tersakiti. aku memang akan melakukan apapun untuk isteriku tapi bukan karena aku takut lebih tepatnya menghargai dan membalas ketulusan cinta dan kasih sayangnya untuk keluarga!" tutur papa Sam membuat Alex merasa sedikit berpikir. Selama ini Alex selalu mengatur kehidupan sang isteri bahkan banyak larangan yang ia buat untuk isterinya. Alek pun tidak suka jika perintahnya dibantah jadi isterinya sangat menurut kepadanya karena merasa takut dengan hukuman yang Alex berikan, selain hukuman fisik Alex juga akan mengurung isterinya seharian di gudang. mendengar ucapan papa Sam Alex mulai berpikir dan membenarkan setiap ucapan papa Sam. memang tidak seharusnya dia berbuat seakan ingin ditakuti oleh sang isteri tanpa kekerasan pun isteri pasti akan takut dengan sendirinya, takut tidak bisa memberikan yang terbaik untuk suaminya.
Jika seorang suami menghargai setiap perjuangan dan pengorbanan sang isteri tidak mungkin seorang isteri berani membantah ucapan sang suami, tapi itu semua bukan karena takut melainkan kewajibannya sebagai seorang isteri. Kebaikan yang dilakukan seorang suami akan berbuah kemanisan untuk sang isteri keluarga yang tercipta pun akan tumbuh harmonis.
(Kembali ke Mario)
Mario berkali-kali menghela napasnya panjang, Yoga yang melihat Mario gugup memberikannya segelas air minum.
" Nih minum dulu, biar gak tegang!" ucap Yoga mengulurkan segelas minuman kepada Mario.
" Terima kasih!" ucap Mario meraih gelas yang Yoga berikan lalu meminumnya hingga habis.
Yoga terkekeh melihat Mario yang langsung menenggak habis minumannya.
" Loe itu tegang apa haus sih?" ledek Yoga
" Keduanya!" sahut Mario datar dan membuat Yoga langsung tertawa.
" Rio, tegang mana rasanya sama waktu loe mau tauran dulu?" tanya Yoga menaik turunkan alisnya
" Jujur aja Yo, gue seumur-umur gak pernah merasa setegang dan segugup ini. menghadapi musuh dan tawuran gue masih bisa menghadapinya dengan tenang tapi kali ini gue kenapa bisa segugup ini ya Yo?" tutur Mario merasakan apa yang dirasakannya kepada Yoga.
" Masa sih?" Yoga nampak sedikit ragu.
" Nanti loe akan tau rasanya seperti apa kalau loe sudah berada di posisi gue Yo!" ucap Mario
Dan disaat mereka tengah mengobrol suara riuh terdengar dari para tamu undangan Azka yang hendak melangkah menghampiri Mario langkahnya ikut terhenti disaat gendang telinganya mendengar pujian-pujian yang menggema di ruangan tersebut.
Azka, Mario dan Yoga mengikuti arah pandang para tamu yang mengedarkan pandangannya ke arah tangga dan betapa terkejutnya mereka saat melihat wanita cantik menuruni anak tangga disisi kanan dan kirinya ada bunda Aryani dan mama Maria yang menggandeng tangannya dengan langkah demi langkah penuh hati-hati.
Deg
Deg
Deg
Pujian demi pujian terlempar untuk sang bidadari yang turun dari tangga, bukan dari langit ya.
Jantung Mario berdegup sangat cepat dan rasa gugupnya pun bertambah dua kali lipat.
" Siapkan dirimu dengan baik!" ucap Azka menepuk bahu Mario.
__ADS_1