
Suasana di ruang rapat cukup menegangkan apa lagi saat papa Sam baru saja masuk ke dalam ruangan tersebut.
Semua anggota rapat berdiri memberi hormat kepada kepala yayasan yang baru saja bergabung dengan mereka.
" Selamat pagi tuan Samuel!" ucap pak Ridwan mempersilahkan papa Sam menduduki kursi kebesarannya.
" Terima kasih!" ucap papa Sam
Setelah semua sudah berkumpul Azka beranjak dari duduknya dan bergeser ke depan. Azka memulai pembicaraannya dari kata pembuka lalu ke inti pembahasan.
Dengan semangat Azka menyampaikan satu persatu permasalahan yang telah terjadi di sekolah SMA Darma Bangsa serta kesalahan fatal yang sudah di lakukan oleh pak Ridwan selama menjabat sebagai kepala sekolah.
Semua anggota rapat dibuat terkejut dengan bukti-bukti yang diberikan oleh Azka termasuk pak Ridwan yang tidak lagi bisa berkutik dan mengelak.
Papa Sam menyorot tajam ke arah pak Ridwan, dia merasa kecewa dengan apa yang sudah dipercayakan kepadanya ternyata berbuah pengkhianatan.
Selama ini ternyata pak Ridwan sudah banyak melakukan kecurangan, murid yang nakal dan banyak membuat onar sering bebas dari segala hukuman karena ternyata orang tua mereka sudah memberi uang suap kepada pak Ridwan sehingga putra dan putri mereka yang melakukan kesalahan baik itu sengaja atau pun tidak tetap saja mereka terbebas dari hukuman.
Tidak salah jika disekolah tersebut banyak bullian antar sesama murid apalagi murid dari golongan keluarga yang kurang mampu.
Selain itu pak Ridwan juga sudah menggelapkan dana bantuan untuk dana operasional sekolah, banyak fasilitas yang rusak tapi tidak diperbaiki padahal anggaran dana sudah di peroleh.
Pak Ridwan tidak bisa berkata-kata apalagi disaat semua bukti sudah jelas dijabarkan oleh Azka.
Dan tentang kasus Aldy dengan Nana pun sudah di bahas oleh Azka, awalnya semua anggota rapat tidak setuju dengan Azka yang terkesan menyudutkan Roni terutama orang tua Roni sendiri. apalagi Azka tidak punya bukti kalau Roni yang sengaja membuat fitnah kepada Aldy.
" Pak Azka, sudah jelas terlihat bukti ini disini kalau guru tersebut sudah melakukan sesuatu hal yang tidak pantas terhadap gurunya. kenapa anda terkesan lebih membelanya dan bahkan menyudutkan putra saya Roni yang justru memberikan bukti tersebut" ucap Bambang Samudera dengan emosi.
Namun bukan Azka namanya kalau tidak bisa memberikan bukti lainnya tentang sikap buruk Roni selama disekolah yang bisa memberatkan Roni dalam kasus Aldy dan Nana tersebut
" Tuan Bambang anda boleh membela putra anda, itu adalah hak anda tapi jika putra anda sudah melakukan kesalahan dan bersikap semaunya di sekolah ini, maaf saja tuan kami tidak bisa lagi memberikan pendidikan yang layak untuk putra anda disekolah ini, Saya memang tidak bisa membuktikan kalau pak Aldy tidak bersalah dalam kasus ini tapi secara pribadi saya mengenal betul karakter dan sikap pak Aldy selama ini. dia guru yang baik, selama mengajar pun tidak ada masalah, sikapnya pun sopan dan tidak macam-macam tidak seperti ini" ucap Azka seraya memberikan beberapa lembar foto kepada Bambang Samudera yang merupakan orang tua dari Roni.
Bambang Samudera terkejut melihat foto yang diberikan Azka, beberapa foto amoral putranya yang dengan mudahnya bergonta ganti cewek, bahkan ada beberapa foto saat Roni melakukan perbuatan yang tidak sepantasnya di lakukan oleh seorang pelajar apalagi di sekolah di jam belajar.
Bambang Samudera mengepalkan tangannya kuat foto tersebut pun tidak luput dari cengkraman tangannya.
__ADS_1
Azka sengaja hanya memberikan foto-foto tersebut kepada Bambang Samudera saja karena itu termasuk hal yang privasi dan Azka menghormati hal itu.
" Jika saya mau bisa saja saya memberikan bukti tersebut di depan semua anggota rapat tapi ini bersifat privasi jadi segala sesuatunya silahkan tuan Bambang sendiri yang mengambil keputusan." ucap Azka begitu terdengar bijak
" Sebaiknya kita panggil putra tuan Bambang untuk menceritakan hal yang sebenarnya"
Roni masuk ke dalam ruangan tersebut, begitu juga dengan Nana dan Aldy yang sengaja di hadirkan oleh Azka
" Roni ceritakan hal yang sebenarnya kamu tidak boleh berbohong karena jika kamu berbohong saya tidak akan sanksi untuk mengambil tindakan tegas!" ucap Azka dengan aura yang cukup membuat orang tegang dan takut
" Sa..saya!" Roni gugup dan tidak bisa berkata apa-apa saat Azka menatapnya penuh selidik
" Foto itu saya ambil disaat saya melihat pak Aldy dan Nana ingin berbuat tindakan asusila pak!" ucap Roni berbohong dan tentu saja Azka tidak percaya begitu saja
" Apa benar begitu Nana?" tanya Azka beralih kepada Nana.
Nana nampak tegang bingung menjawab apa Nana hanya terdiam dan menundukkan wajahnya
" Anda lihat sendiri bukan, siswi tersebut tidak bisa menjawab dan menunduk malu, berarti apa yang dikatakan putra saya itu benar" ucap Bambang Samudera
" Bagaimana pak Azka, tidak mustahil guru yang terlihat baik itu tidak pernah berbuat salah. jika pak Aldy suka dengan muridnya sendiri itu wajar bukan apa bedanya dengan pak Azka sendiri yang menikah dengan murid bapak sendiri!" ucap Bambang Samudera dengan seringai licik diwajahnya
" Cukup tuan Bambang, ini tidak ada kaitannya dengan masalah kehidupan pribadi saya jadi saya rasa anda sudah melenceng jauh dari pembahasan ini" ucap Azka tegas
Aldy menatap Nana dengan rasa kecewa namun disaat suasana tegang tiba-tiba ada salah satu siswi yang duduk tidak terlalu jauh dari para peserta rapat yang berada ruangan tersebut berdiri.
" Maaf, permisi semuanya. apa saya boleh berbicara sebentar?" tanya siswi tersebut membuat atensi semua orang mengarah kepadanya.
" Kamu siapa?" tanya Bambang Samudera
" Perkenalkan nama saya Khanza Az-Zahra saya sahabat baik Nana Aurelina tuan siswi yang tengah duduk di sana!" ucap Khanza sopan seraya menunjuk ke arah Nana
" Mau apa kamu ?" tanyanya ketus
"Maaf sebelumnya kalau saya terlalu lancang tapi saya mohon izin untuk mengatakan sesuatu kepada sahabat saya Nana" ucap Khanza
__ADS_1
" Silahkan!" ucap Azka menyela saat Bambang Samudera ingin kembali bicara.
" Nana sahabat baikku saat ini semua orang yang berada di ruangan ini tengah menunggu jawaban kamu, katakanlah apa yang sebenarnya terjadi Na, jangan ada yang kamu tutupi walau sedikit apapun. sesungguhnya mengatakan sesuatu yang benar itu adalah perbuatan yang disukai Allah Na, katakanlah sesuatu dengan jujur sahabatku walaupun itu akan menyakitkan karena ketahuilah kejujuran akan mengantarkan seseorang ke syurga-Nya Allah"
" Bicaralah Na, katakan yang ingin kamu katakan, jangan takut karena kejujuran itu bukan sesuatu hal yang perlu ditakutkan. Allah ada bersama kamu Na, jadi tidak perlu takut untuk mengatakan sesuatu yang benar karena sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang tidak kamu ketahui dan Allah akan melindungi hambanya yang senantiasa selalu berserah diri kepada-Nya" ucap Khanza seraya memeluk Nana memberinya semangat
" Terima kasih pak Azka dan semua para anggota rapat yang terhormat atas waktu dan kesempatan yang diberikan kepada saya!" ucap Khanza membungkukkan sedikit badannya seraya memberi hormat setelah merasa cukup mengatakan sesuatu yang sedari tadi ingin ia katakan pada Nana
"Sama-sama Khanza" Azka tersenyum bangga kepada Khanza dan menyuruh Khanza untuk duduk di samping Zaira dan mama Maria kembali.
Nana merasa seperti di hantam bongkahan batu besar saat Khanza mengatakan tentang kejujuran, Nana yang awalnya ingin mengiyakan ucapan Roni seketika langsung terisak membuat semua orang yang berada di ruangan tersebut menatap bingung.
"Nana apa kamu baik-baik saja?" tanya Azka saat Nana tiba-tiba menangis
Nana mengangguk " Saya tidak apa-apa pak, saya hanya merasa malu dengan sahabat saya Khanza" lirihnya
"Saya terlalu pengecut sampai tidak berani mengatakan hal yang sebenarnya, perasaan saya yang salah tempat membuat saya khilaf mata dan hampir saja saya terjatuh pada lembah kesalahan jika sahabat saya Khanza tidak mengingatkan saya" ucap Nana memberanikan diri untuk bicara.
" Jujur saya memang suka sama pak Aldy dan karena rasa suka saya ke pak Aldy membuat saya lupa diri hingga saat Roni melecehkan saya dan pak Aldy menolong saya dengan bodohnya saya malah membiarkan Roni mengambil foto kami dan saya diam saja." ucap Nana berkata jujur
Sementara Aldy menatap tak percaya dengan ucapan Nana
" Saya yang salah karena membiarkan Roni bersikap seenaknya, bukan hanya sekali tapi sudah beberapa kali Roni melakukan hal yang serupa dan beruntungnya saat kejadian yang untuk kesekian kalinya itu pak Aldy datang menolong diwaktu yang tepat" ucap Nana seraya menundukkan kepalanya
" Apa yang kamu katakan itu benar adanya?" tanya Azka dan Nana menunduk lalu mengangguk pelan.
" Roni selalu saja mengancam saya jika saya tidak menuruti keinginannya seperti saat itu, Roni menarik saya paksa meskipun saya sudah menolaknya dan dia mengancam akan merusak saya dan mengeluarkan saya dari sekolah ini" ucap Nana
Roni yang mendengar kejujuran Nana mengepalkan tangannya.
" Saya dan pak Aldy tidak ada hubungan apa-apa dan pak Aldy murni ingin menolong saya" sahut Nana lagi
Roni menatap sinis Nana dan kali ini Nana ikut menatap Roni dengan sinis.
Akhirnya semua sudah terjawab, Nana dan Aldy tidak bersalah. pak Ridwan diputuskan di copot jabatannya sebagai kepala sekolah dan diberhentikan secara tidak hormat dan untuk sementara waktu pak Wahyu yang diangkat untuk menggantikan jabatan pak Ridwan. sementara Roni di hukum skorsing selama 2 Minggu dan diperbolehkan masuk kembali setelah Roni benar-benar mengakui kesalahannya dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
__ADS_1