
Dengan langkah cepat seorang gadis berlari dengan tergesa-gesa menuju kantin sebuah sekolah ternama yang ada di ibu kota yaitu SMA Darma Bangsa.
" Maaf...maaf Bu, Khanza datang terlambat hari ini!" ucap gadis yang bernama Khanza itu dengan napas yang tersengal.
" Adikmu susah lagi dibangunkan?" tanya ibu Khodijah kepada putri sulungnya itu
" Biasa Bu kebanyakan main game membuatnya lupa waktu sampai tidur larut malam ya begitu deh jadinya" sahut Khanza seraya membantu sang ibu menata barang dagangannya.
" Sudah hampir jam 7 sebaiknya kamu sana bersiap pergi ke kelas, jangan sampai terlambat" seru Bu Khodijah
" Yaudah kalau begitu Khanza pamit ke kelas dulu ya bu nanti jam istirahat Khanza akan segera kesini!" pamit Khanza meraih tangan Bu Khodijah sebagai salam takzim.
" Iya nak!" sahut bu Khodijah
Khanza adalah putri pertama Bu Khodijah dengan almarhum suaminya yang bernama pak Imron. Khodijah menjadi anak yatim ketika berusia 10 tahun dan adiknya Izan berusia 5tahun. Khodijah kecil sudah mulai hidup mandiri membantu ibunya mencari uang demi kelangsungan hidup mereka dengan berjualan di kantin SMA Darma Bangsa.
Khanza sangat menyayangi ibu dan juga Izan adik satu-satunya.
Saat ini Izan sekolah di SMP Darma Bangsa letak sekolah yang tidak jauh dari SMA Darma Bangsa.
Mereka bisa sekolah disekolah tersebut tidak lain karena papa Sam yang melihat kesungguhan dan kemandirian Khanza dan keluarganya.
Brukk
Tanpa sengaja Khanza menabrak seseorang yang baru beberapa hari masuk sebagai guru baru di SMA Darma Bangsa
" Eh?"
" Aww!"
" Maaf pak... maaf..!"
" Lain kali kalau jalan itu hati-hati!" ucap pak Aldy ketus
" Cih, tuh guru sombong banget sih!" umpatnya yang langsung berlalu pergi ke ruang UKS.
Saat hendak pergi ke kantin Khanza tiba-tiba perutnya terasa sakit lalu dia memutuskan untuk pergi ke kamar mandi dan benar dugaannya sakit perut yang dia rasakan akibat tamu bulanannya. karena tidak membawa pembalut dan perutnya terasa sakit Khanza memilih untuk ke ruang UKS setelah itu baru pergi ke kantin.
Khanza merasa perutnya semakin terasa nyeri setelah tadi sempat bertabrakan dengan salah satu guru yang tidak lain adalah pak Aldy.
" Sial banget sih gue hari ini, sudah datang hampir telat, datang tamu tanpa kasih kabar lagi ditambah ketabrak tuh guru sombong pula" keluh Khanza
Sesampainya di UKS Khanza diperiksa dan diberi obat oleh petugas yang berjaga dan Khanza pun meminta pembalut.
Setelah merasa baikkan Khanza langsung pergi ke kantin untuk membantu ibunya.
" Bu maaf ya Khanza telat lagi buat bantuin ibu!" ucap Khanza seraya membantu bu Khodijah meracik bakso dan mie ayam jualannya.
" Gak apa nak, tapi kenapa wajah kamu terlihat pucat, kamu sakit?"
" Khanza tidak apa-apa bu, cuma lagi datang bulan aja!" jawab Khanza
Setelah semua pesanan tersaji Khanza membantu ibunya memberikan pesanan tersebut.
" Maaf ya kalau terlalu lama!" ucap Khanza
" Gak apa-apa maklum kok lagi rame gini" sahut Zaira yang kebetulan bertugas memesan makanan sementara Lia memesan minuman.
" Khanza, gue pesan bakso dong dua!" ucap siswi lainnya yang menghampiri Khanza
" Oh iya tunggu sebentar ya!" ucap Khanza yang langsung menghampiri ibunya.
" Bu baksonya dua" ucap Khanza memberitahu ibunya sementara Khanza mengambil bakso yang sudah siap untuk diantarkan ke pembeli lainnya.
Suasana kantin hari ini cukup ramai membuat Khanza ikut sibuk membantu ibunya dan setelah jam istirahat usai Khanza bergegas untuk kembali ke kelasnya.
__ADS_1
" Duh semoga saja tidak telat!" gumamnya
" Khanza!" teriak Miska sahabat Khanza
" Loh Mis loe dari mana kok belum masuk ke kelas sih?" tanya Khanza heran
"Tadi gue habis dari ruangan OSIS" jawab Miska
" Yaudah yuk masuk !" ucap Khanza
Jam sekolah seperti biasa Khanza langsung menuju kantin.
" Assalamu'alaikum bu!" ucap Khanza
" Wa'alaikum salam" sahut Bu Khodijah menoleh ke arah putrinya
" Izan belum pulang bu?" tanya Khanza yang tidak melihat keberadaan sang adik
" Sudah, tapi tadi dia pamit pulang duluan" jawab bu Khodijah
" Tumben, memangnya dia mau ngapain pulang lebih dulu?" Khanza mengangkat barang yang akan ia bawa pulang bersama ibunya.
" Tadi Izan bilang hari ini dia ada pertandingan footsal bersama teman sekelasnya" jawab bu Khodijah tahu akan kekhawatiran putrinya terhadap putra bungsunya itu.
" Oh begitu, ya sudah ayok bu kita pulang" ajak Khanza
" Ayok!"
Khanza dan ibu Khodijah pun akhirnya bergegas pulang ke rumah, setibanya di rumah Khanza langsung membersihkan dirinya setelah itu ia bergegas pergi ke sebuah cafe untuk kerja part time.
" Selamat sore Khanza, baru datang?" sapa Deo sang pemilik cafe
"Eh kak Deo, iya kak maaf ya kak kalau rada telat datangnya" ucap Khanza yang sebenarnya merasa tidak enak hati hari ini lagi-lagi ia datang terlambat.
" Gak apa-apa Khanza tidak setiap hari ini, memangnya kenapa tumben terlambat gak seperti biasanya?" tanya Deo
" Khanza!" tiba-tiba ada yang memanggil Khanza saat Deo sedang berbicara dengannya.
" Iya" sahut Khanza menoleh ke sumber suara
" Tolong antar ini ke meja no 14 ya!" ucap Bela salah satu rekan kerja Khanza
" Siap, laksanakan!" sahut Khanza dengan semangat
" Begitu dong yang semangat ya kerjanya!" Deo memberi semangat mengangkat tangannya ke udara
" Oke siap bos!" Khanza menimpali
Seperti biasa Khanza bekerja dengan semangat walaupun sebenarnya ada rasa tidak nyaman pada tubuhnya yang baru kedatangan tamu bulanan tapi Khanza berusaha untuk menahannya.
Hari sudah malam Khanza masih tetap semangat memberikan pelayanan terbaiknya di cafe tersebut.
" Khanza, loe gak apa-apa, muka loe terlihat pucat?" tanya Bela ditengah waktu senggang mereka.
Deo yang melintas langsung menghentikan langkahnya saat mendengar pertanyaan Bela kepada Khanza.
" Kamu sakit Khanza?" tanya Deo
Khanza menoleh saat atasan sekaligus tetangga dekatnya saat rumah Khanza dulu masih di kota x dan ayah Khanza pun masih hidup.
" Kak Deo, emmm.. aku tidak kenapa-napa kok kak, ya biasalah kak cewek lagi kedatangan tamu" sahut Khanza tersenyum malu.
" Owh kamu lagi kedatangan tamu? yaudah kalau merasa kurang enak badan sebaiknya kamu pulang aja!" tutur Deo
" Gak bisa gitu dong pak, manja banget sih baru kedatangan tamu aja pakai pulang segala. lagi banyak tamu pak gak bisa dong pulang seenaknya gitu" protes seorang wanita yang tiba-tiba muncul di antara mereka
__ADS_1
" Tata!" ucap Deo dengan nada tidak suka
" Benar yang dikatakan Tata kak Deo, aku gak boleh seenaknya aja pulang sementara cafe kita lagi ramai seperti ini" sahut Khanza yang merasa tidak enak dengan temannya yang lain
" Tapi Khanza muka loe _" ucap Bela terpotong
" Gue gak kenapa-napa kok Bel, masih kuat lihat nih!" ucap Khanza seraya mengangkat satu tangannya keatas lalu tersenyum.
" Sudah cepat ayok kerja lagi, banyak tamu tuh " ucap Tata dengan sinis.
Deo kembali ke ruangannya sementara Tara sudah pergi lebih dulu entah kemana sementara Khanza dan Bela sudah kembali bekerja.
" Khanza, antar pesanan ini ke tuh cowok yang lagi sendirian di meja sana. lumayan ganteng loh Za!" ucap Bela tersenyum genit
" Apa sih Bel, ganteng juga memangnya kenapa?"
" Ya kali aja dia ngelirik loe, kan lumayan tuh!" ledek Bela
" Ish ngaco, udah ah gue antar pesanan ini dulu" Khanza pun beranjak pergi mengantarkan pesanan ke arah meja yang dimaksud.
" Permisi, maaf pak ini pesanannya!" ucap Khanza seraya meletakkan secangkir Hot caramel latte dan Mie goreng seafood.
Pria dewasa yang dipanggil pak oleh Khanza pun mendongak dan menatap gadis yang tengah berada di hadapannya.
" Gadis ini nampaknya tidak asing?" gumam laki-laki dewasa tersebut menelisik Khanza lebih detail.
" Silahkan menikmati hidangan cafe kami pak, jika butuh sesuatu silahkan beritahu kami!" ucap Khanza dengan ramah lalu menundukkan pandangannya
" Saya belum menikah, jangan panggil saya pak!" ucap pria dewasa tersebut membuat Khanza mendongak dan sedetik kemudian pandangan mereka pun bertemu.
" Bapak?" tunjuk Khanza dibalik keterkejutannya
" Sudah saya bilang saya belum menikah jadi jangan panggil saya pak!" ucapnya menegaskan
" Walaupun bapak belum menikah, tetap saja saya harus panggil pak, saya tidak mau dibilang murid yang tidak sopan!" sahut Khanza
" Ini diluar sekolah, jadi saya bukan guru kamu!" ucap laki-laki dewasa yang tidak lain adalah Aldy
" Sama saja karena saat ini anda adalah pelanggan cafe kami, silahkan menikmati hidangan dari cafe kami, saya permisi" ucap Khanza sedikit membungkuk lalu kembali ke tempat kerjanya.
" Tunggu dulu, jadi ini yang membuat kamu sering datang terlambat?" ucap Aldy saat Khanza melangkah pergi
" Bukan urusan bapak, permisi!" ucap Khanza dingin
" Menarik juga !" gumam Aldy menatap punggung Khanza yang menjauh pergi
" Kenapa loe?" tanya Bela saat Khanza menghempaskan tubuhnya dikursi sebelah Bela dengan kasar.
" Gue ketemu salah satu guru yang mengajar di sekolah gue!" ucap Khanza
" Serius loe, yang mana?" tanya Bela penasaran
" Ada tuh orang yang tadi loe bilang ganteng" sahut Khanza
" Itu guru loe, yang benar?" tanya Bela memastikan
" Ya ngapain juga gue bohong" sahut Khanza
" Oh ya ampun, gak ada kerjaan lain apa kalian malah santai di sini sementara di luar sedang ramai!" cerocos Tata yang sok mengatur
" Ya kita istirahat dulu kali Ta, daritadi juga kita bekerja kok, loe tuh yang dari tadi kemana aja? cafe sibuk loe yang justru ngilang!" protes Bela yang merasa kesal dengan sikap Tata yang sok ngatur-ngatur.
" Eh Bela jaga ya bicara loe, gue bisa aja meminta pak Deo buat pecat loe sekarang juga, camkan itu!" ancam Tata yang Sedetik kemudian beranjak pergi
" Ngeselin banget sih tuh orang!" kesal Khanza menatap nanar ke arah Bela
__ADS_1
" Tau tuh!" ucap Bela. setelah Tata pergi Bela dan Khanza pun kembali bekerja.
Sementara itu Aldy yang masih merasa penasaran masih berada di cafe tersebut dan dengan diam-diam memperhatikan gerak gerik Khanza