Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Season 2 Khanza


__ADS_3

Hawa dingin tangan Miska sangat terasa oleh Roni yang masih menggenggam erat tangannya dibawah tas yang ada di atas meja.


" Elo kenal pemilik bengkelnya?" tanya Billy


" Lukman, dia teman sekolah SD gue" jawab Roni dengan santai sedangkan Miska masih jedag jedug gelisah tak menentu. rasa mualnya memang hilang tapi jantungnya merinding diskon


" Gue juga pernah satu sekolah SD sama dia tapi kok gue enggak pernah liat loe ya?" ucap Billy


" Bukan gak liat tapi loe gak ingat, gue ini Roni Aryandra waktu itu ada dua nama Roni dikelas jadi guru-guru malah memanggil gue dengan nama Arya." terang Roni


" Arya? loe beneran Arya si gendut, jelek tukang nangis dan yang sering banget di bully di sekolah?" tebak Billy dengan terkejutnya saat ingat masa lalu mereka semasa SD


" Enggak usah sedetail itu juga kali Bill, enggak liat apa gue sekarang udah ganteng begini, iya gak cantik?" goda Roni ke Miska membuat Miska seketika menegang.


" Loe ngomong ap..apaan sih, udah deh loe sana balik kelas bentar lagi guru masuk masih aja betah di kelas orang!" sahut Miska dengan nada ketus padahal dalam hati sudah sangat gelisah


" Iya gue balik kelas tapi jangan sewot gitu juga kali, setidaknya kasih senyuman ke buat Abang!" goda Roni


" Dih?" Miska mengerutkan keningnya sementara Khanza yang duduk di samping Miska terkekeh melihat interaksi keduanya.


" Udah loe sana pergi, gak denger apa Miska nyuruh loe pergi!"ucap Nicko sewot.


Roni yang sebenarnya memang datang untuk menemui Miska dan kebetulan tadi Lukman menelponnya jadi dia mengambil kesempatan yang ada, setelah melihat keadaan Miska baik-baik saja Roni merasa lega dan tidak mau meladeni sikap arogan Nicko maupun para cewek yang memanggilnya karena tujuannya hanya satu yaitu Miska.


Roni beranjak pergi tanpa mempedulikan ucapan Nicko padanya.


" Billy gue cabut kelas dulu nanti loe hubungi aja Lukman tapi kalau bisa jangan sampai jam pulang soalnya pulang sekolah dia mau langsung beli barang yang dibutuhkan" ucap Roni setelah melepas tangan Miska dan berjalan keluar


" Oke thanks ya infonya, gue lupa ponsel gue tadi mati belum di nyalain" timpal Billy


" Hem!" jawab Roni melambaikan tangan tanpa menoleh


" Huhhhh!" Miska menghela nafasnya panjang


" Kenapa loe kayak orang habis lari maraton aja?" tanya Hana tapi belum sempat dijawab Aldy guru yang mengajar mereka pagi ini sudah lebih dulu masuk.


" Sana balik ke asal, tuh udah ada pak Aldy!" usir Khanza dan Hana langsung kembali ke tempat duduknya dengan cepat.


Setelah selesai mengajar dan memberikan tugas kelompok yang harus dikerjakan bersama-sama Aldy keluar dari kelas sementara para murid sibuk berbagi kelompok, satu kelompok terdiri dari 6 orang tentu saja kelompoknya Khanza terdiri dari Miska, Hana, Nana, Billy dan Nicko.


" Yang jadi ketua kelompoknya loe aja ya Za?" usul Billy


" Iya betul gue setuju itu" timpal Hana


" Jangan gue dong, loe aja Han kalau enggak Nicko?" tunjuk Khanza


" Gue, enggak ah. gue enggak mau Nicko aja tuh!" tolak Nana dan menunjuk Nicko


" Jangan gue Miska aja" jawab Nicko


" Gue enggak bisa, kalau yang jadi ketua sebaiknya yang punya kondisi kesehatan yang fit lah" tolak Miska


" Ya elo juga kan fit, enggak lagi hamil juga kayak Khanza jadi menurut gue loe aja Ka!" ucap Nana


Deg


Miska terdiam lalu menoleh ke arah Khanza, melihat kebingungan di wajah Miska Khanza pun mengerti


" Miska itu baru pulih jadi sebaiknya yang lain sajalah, Billy gue yakin loe yang cocok menjadi ketua kelompok kita" usul Khanza


" Gue?" Billy menunjuk dirinya sendiri


" Iya Billy, gue yakin loe pasti bisa" ucap Miska setuju dengan usul Khanza


" Ya udah Billy, elo aja" Hana pun ikut menyuarakan


" Berhubung suara yang terbanyak Billy, gue setuju Billy yang jadi ketua kelompok kita" ucap Nicko


" Bagaimana Bill?" tanya Khanza


" Ya udah terserah kalian aja lah, tapi kalau ada yang gue enggak bisa loe harus bantuin gue ya?" pinta Billy pada Khanza


" Iya tenang aja, namanya juga tugas kelompok ya harus dikerjakan sama-sama dong" .sahut Khanza


" Betul itu!" timpal Miska


" Udah kan ya, kantin yuk!" ajak Khanza saat bel istirahat berbunyi


" Yuk lah!" sahut Hana


" Ka, yuk!" ajak Khanza


" Iya" Miska beranjak dari tempat duduknya


Mereka kini keluar kelas bersama-sama dan berjalan menuju kantin.


Baru saja beberapa langkah dari depan kelas perut Miska seperti diaduk-aduk, rasa mualnya muncul lagi.


" Kenapa, mual lagi?" tanya Khanza yang memang berjalan paling belakang bersama Miska


" Heem!" jawab Miska seraya mengangguk


" Apa loe mau mengambil jaketnya dulu?" Miska menggeleng


" Yang ada semua mata bakalan melototin gue" jawab Miska


" Tapi loe yakin ke kantin dalam keadaan kayak gini?" Miska mengangkat bahu


" Semoga aja sampai dikantin mualnya hilang" ucap Miska


" Iya, semoga ada pawangnya di sana" seloroh Khanza


" Apaan sih loe" Miska bersemu merah


" Belom ketemu udah merah aja tuh muka" goda Khanza seraya terkekeh

__ADS_1


" Za ihhh..." Miska semakin tersipu dan Khanza tertawa terbahak


" Ada apaan sih seru banget loe berdua?" tanya Nicko menghentikan langkahnya menoleh ke arah dua calon ibu muda


" Urusan cewek mau tau aja loe" sahut Khanza


Miska hanya tersenyum tipis menahan rasa mualnya.


" Elo kenapa Ka, pucet gitu muka loe?" tanya Nicko


" Gue mabok sama bau minyak wangi loe, pakai minyak nyong-nyong kali loe ya, nyengat banget sumpah" sahut Miska yang akhirnya mengutarakan rasa tidak nyamannya dengan aroma minyak wangi yang Nicko pakai


" Ehh... sembarangan kalau ngomong, ini minyak wangi mahal oleh-oleh dari sepupu gue yang baru balik dari Paris masa dibilang minyak wangi nyong-nyong si parah loe!" cerocos Nicko tidak terima dibilang memakai minyak wangi nyong-nyong.


" Tapi please deh Ko, gue pusing dan mual mencium wangi parfum loe" jujur Miska


" Iya, gue juga pusing nih, loe pakai minyak wangi apa mandi minyak wangi sih Ko" timpal Khanza


" Kecebur minyak wangi kayaknya ni anak" Billy ikut nimbrung


" Udah sana gih jalan duluan, mual gue dekat-dekat loe" usir Miska


" Wahhh... sadis loe Ka, masa Nicko di usir parah loe" ucap Nana sedikit tak bersahabat


" Gue bukan ngusir tapi gue enggak sanggup sama wanginya" sahut Miska


" Ah lebay loe, udah kayak orang lagi ngidam aja sih !" sindir Nana


Jlep


Miska bergeming dan menyorot kesal pada Nana yang sedari tadi seperti ingin mencari gara-gara dengannya.


Miska kembali merasakan mual yang kali ini teramat sulit untuk dia tahan


" Emmmmbb..." Miska menutup mulutnya saat rasa mualnya sudah tidak tertahankan lagi.


Miska berjalan cepat menuju toilet, Khanza dan yang lainnya mengikuti dari belakang.


Sesampainya di toilet Miska memuntahkan isi perutnya.


" Uwekk... Uwekkk..." Miska merasa sangat lemas dan bersandar di dinding setelah memuntahkan semuanya.


Khanza dan teman-temannya yang tengah menunggu di depan pintu toilet merasa khawatir kecuali Nana yang justru menaruh curiga pada Miska


Miska keluar dari dalam toilet dengan wajah yang sedikit lebih baik.


Khanza dan Nana mengerutkan keningnya melihat Miska yang nampak jauh lebih segar tidak seperti saat sebelum masuk ke dalam toilet.


" Elo enggak apa-apa?" tanya Khanza cemas


" Gue enggak apa-apa, tadi itu cuma enggak tahan aja sama bau minyak wanginya si Nicko yang menyengat banget " sahut Miska berdalih


" Tenang aja tuh anak gue udah suruh duluan ke kantin sekalian mesen makanan" ucap Billy


" Syukur deh" sahut Miska lega


" Ya untung ada penawarnya Za jadi cepat seger lagi" sahut Miska terkekeh


" Serius loe?" tanya Khanza tak percaya


" Serius lah kalau enggak mah bisa pingsan kali gue sekarang" seloroh Miska


" Penawar? apaan tuh penawarnya hebat banget?" tanya Nana kepo


" Rahasia" jawab Miska lalu berjalan bersama Khanza melanjutkan menuju kantin


" Apaan sih penawarnya?" tanya Nana pada Hana


" Ya mana gue tahu, tapi bagus kan Miska jadi kembali seger" sahut Hana


" Lagian sih teman loe tuh Billy, pakai minyak wangi sebotol abis kali ya sampai segitunya bikin Miska muntah-muntah kayak gitu!" cerocos Hana pada Billy


" Ah itu sih Miska nya aja yang lebay, masa bau minyak wangi aja sampai segitunya. kalau lagi ngidam sih wajar" rupanya Nana lupa kalau Miska dan Roni pernah melakukannya disaat acara ulang tahun Luna dan bukan bersama Bayu.


Billy seketika terdiam dan pikirannya langsung teringat akan sesuatu yang terlupakan.


" *Jangan-jangan apa yang Nana bilang benar, Miska bisa saja sedang ngidam apalagi mereka juga kan pernah melakukannya dan Roni sikapnya pun berubah 180 derajat, bagaimana mungkin seorang Roni mau datang ke kelas hanya karena ingin memberi tahu tentang mobil gue yang ada di bengkel Lukman" ucap Billy bermonolog dengan dirinya sendiri.


" Gue yakin Roni dan Miska pasti ada hubungan, enggak mungkin keluarga mereka diam aja dengan kasus yang menimpa mereka itu apalagi sewaktu di rumah sakit pun ada orang tuanya Roni*"


" Woyy, loe kenapa bengong sih Bill? tuh yang lain udah pada pergi ke kantin" tegur Hana yang melihat Billy bengong


" Ngagetin aja loe Han!" Billy terkesiap dan menoleh ke Hana


" Udah duluan aja sana, gue mau ke toilet dulu!" ucap Billy melangkah menuju toilet


" Yaudah gue duluan"


" Ya" sahut Billy melangkah masuk ke dalam toilet pria namun langkahnya tiba-tiba terhenti saat melihat sekilas bayangan seorang murid laki-laki yang baru saja keluar dari toilet wanita.


Kondisi toilet memang nampak sepi hanya ada beberapa orang saja yang berlalu lalang kebanyakan dari mereka lebih memilih langsung ke kantin terlebih dahulu.


Billy mengerutkan keningnya saat melihat orang yang baru saja keluar dari toilet wanita adalah Roni


" Roni?" beo Billy pelan


" Apa tuh anak masih suka main sama cewek, dan mereka berbuat mesum di toilet? *Parah tuh anak, gue kira udah insyaf" batin Billy


" Tapi*_ ?"


Deg


" Bukannya tadi yang baru keluar dari toilet cewek itu cuma Miska ya? jangan-jangan_?"


Billy langsung mengejar Roni yang kebetulan belum jauh dari toilet

__ADS_1


" Ron... Roni!" teriak Billy memanggil nama Roni


Roni yang merasa namanya dipanggil pun langsung menghentikan langkahnya dan berbalik badan.


" Billy, ada apa?" tanya Roni santai


" Ada apa? seharusnya gue yang nanya ada apa sama loe?" sarkas Billy


" Maksud loe apa sih?" Roni mengerutkan keningnya


" Gue yang seharusnya bertanya sama loe, ada urusan apa loe sampai masuk ke dalam toilet cewek?"


Jlep


Roni terkejut tapi sedetik kemudian dia kembali bersikap tenang


" Ya itu bukan urusan loe" jawab Roni enteng


" Jelas urusan gue karena tadi sewaktu loe berada di dalam toilet cewek cuma Miska sahabat gue yang masuk kedalam sana'


" Apa loe yakin tadi liat gue yang keluar dari toilet cewek?" tanya Roni dengan tersenyum miring


" Jelaslah, gue liat dengan jelas loe yang barusan keluar dari sana" jawab Billy yakin


" Yaudah kalau loe udah liat mah" sahut Roni


" Ya terus apa yang loe lakuin di toilet cewek jangan bilang loe berbuat mesum? atau jangan-jangan loe melecehkan Miska lagi, iya jawab?" Billy mencengkeram kerah baju Roni kuat tapi Roni masih bersikap santai dan tenang


" Lepas!" pinta Roni menarik tangan Billy dari kerah bajunya.


" Gue bisa jelasin ke elo tapi apa loe bisa gue percaya? karena kalau loe bocor maka yang akan terkena imbasnya bukan gue aja tapi Miska dan gue enggak mau hal itu terjadi karena itulah gue berusaha untuk melindunginya sebisa gue dan juga menjaganya dari jauh" ucap Roni


" Miska adalah sahabat gue, mana mungkin gue mencelakai sahabat gue sendiri" jawab Billy


" Baguslah, gue percaya sama loe tapi kalau loe berani buka mulut dan sampai terjadi apa-apa sama Miska gue habisin loe!" ancam Roni


" Apa loe beneran serius sama Miska?" tanya Billy


" Gue rela mengorbankan nyawa gue sekalipun demi melindunginya" jawab Roni tegas


" Ya gue percaya sama loe dan gue harap loe juga pegang ucapan loe, kalau loe sampai menyakiti Miska gue juga enggak akan melepaskan loe!" ucap Billy balik mengancam Roni


" Miska adalah nyawa gue dan mana mungkin gue menyakiti diri gue sendiri" jawab Roni


" Gue pegang kata-kata loe!"


" Ya loe bisa pegang ucapan gue karena Miska sekarang adalah satu-satunya wanita yang harus gue lindungi segenap jiwa dan raga gue apalagi saat ini dia sedang _"


" Hamil?" tebak Billy memotong ucapan Roni


"Dari mana loe tau?" tanya Roni terkejut


" Sebenarnya gue belum yakin tapi melihat gelagat Miska yang nampak aneh beberapa hari ini ditambah lagi tadi dia yang selalu mual jika mencium parfum yang Nicko pakai"


" Ya karena itulah tadi pas gue lewat kelas kalian dan melihat Miska yang nampak tidak nyaman dengan wajah yang sedikit pucat gue tahu kalau dia pasti sedang menahan mualnya karena beberapa hari ini dia memang sering mengalami morning sicknees apalagi kalau dia sedang berjauhan dengan gue!" terang Roni membuat Billy menaikkan satu alisnya


" Maksudnya?" tanya Billy bingung


" Miska tidak bisa jauh-jauh dari gue, kalau jauh dia terkadang bisa mual-mual, makanya tadi gue masuk ke dalam kelas loe untung aja tadi Lukman menelepon dan ponsel loe udah membantu gue hari ini " jawab Roni


" Apa sampai segitunya?" Roni mengangguk


" Karena itulah tadi saat gue melihat Miska sedang menahan mualnya gue menyuruhnya segera ke toilet dan gue terpaksa menunggunya di dalam toilet cewek." terang Roni


" Pantas saja Miska tadi bilang untung ada penawarnya" ucap Roni


" Benarkah, jadi tadi Miska bilang seperti itu?" jawab Roni berbinar


" Iya, saat Khanza bertanya tentang wajahnya yang nampak lebih segar ternyata loe penawarnya"


" Iya, ternyata anak gue yang berada di dalam perutnya sangat mendukung papinya untuk selalu bersama maminya" ucap Roni dengan bangga


" Cihh, mami papih ingat loe masih sekolah?"


" Memangnya kenapa, wajar dong kami suami isteri panggil mami papih !" sahut Roni santai


" Suami isteri?" beo Billy


" Kalian sudah menikah?" lanjutnya


" Sudah dan jauh sebelum terjadi insiden itu, kami sudah menikah saat melakukannya."


" Tidak mungkin?" Billy bergeming rasanya sungguh sulit untuk dipercaya


"Kami dijodohkan, dan Miska sudah berhasil menjungkirbalikkan hidup seorang Roni Aryandra putra Bambang Samudera"


" Di jodohkan?" Billy terkejut


" Ya, gue sama Miska ternyata memang sudah dijodohkan dari kecil, kami menikah beberapa bulan yang lalu, dan kejadian itu pun terjadi setelah status gue dan dia sah sebagai suami isteri, hanya saja waktu itu Miska salah paham menyangka kalau Bayu yang sudah merenggut kehormatannya karena setelah kejadian itu dia pingsan di dalam kamar mandi" jawab Roni


" Lalu bagaimana dengan cewek-cewek loe?" tanya Billy


" Gue udah putusin semua setelah gue merasa nyaman bersama Miska, cuma dia satu-satunya wanita yang bisa membuat hidup gue jauh lebih bermakna, mungkin jika kedua orang tua gue tidak menjodohkan gue sama Miska, hidup gue sekarang pasti masih amburadul dan bere**S*k" tutur Roni


" Ya syukurlah kalau loe memang sudah bisa menghargai seorang wanita, jaga dan cintai Miska dengan baik gue akan mendukung dan melindungi hubungan kalian selama elo benar-benar tulus mencintai dan menyayangi Miska dan jika loe berani menyakitinya gue adalah orang pertama yang akan menghancurkan hidup loe"


" Terima kasih Billy, gue enggak menyangka loe sampai sebegitu pedulinya dengan Miska. Terima kasih"


" Hem, dan ada satu lagi jaga dan lindungi dengan baik calon keponakan gue !" pesan Billy seraya menepuk bahu Roni sebelum beranjak pergi


" Itu pasti!"


" Sekarang pergilah ke kantin, temui Miska takutnya calon anak loe pingin dekat-dekat dengan papinya!" goda Billy


" Iya, gue nanti nyusul, loe duluan aja!"

__ADS_1


Billy akhirnya pergi menyusul teman-temannya yang sudah lebih dulu pergi ke kantin sementara Roni memilih mengirimkan Miska pesan dan menanyakan keadaannya.


__ADS_2