
Zaira dan teman-temannya kini sedang berada di kantin. pada saat mereka tengah asik menyantap bakso, Putri dan Rangga melintas di hadapan mereka dengan memperlihatkan kemesraannya, Putri sengaja bergelayut manja di lengan Rangga, ia ingin membuat Lia terbakar api cemburu. Lia melirik sekilas lalu tersenyum kecut, sementara teman-teman Lia yang lain menatap Lia iba.
" Biasa aja ngeliatinnya!" tegur Lia sambil mengaduk-aduk minuman di gelasnya.
" Li itu kak Rangga loh sama si kunbi, loe gak kenapa-napa kan Li?" tanya Mia yang merasa kasihan dengan nasib cinta Sahabatnya itu.
" Ya itu emang kak Rangga loe kira gue buta apa!" Sahut Lia
" Terus loe gak jealoes gitu ngeliat mereka kaya gitu?" kali ini Indah yang bertanya.
" Emang kak Rangga itu siapa gue, udah deh ya gak usah bahas itu orang lagi kenapa sih" kesal Lia
Mia dan Indah saling tatap " Nah itu apa namanya kalau bukan jealoes. marah gitu?" celetuk Indah
" Gue bukannya jealoes sama mereka gue cuma males membahas sesuatu yang gak penting itu aja!" ucap Lia tegas.
" Dia mau ngapain juga itu urusan mereka, kita gak usah hiraukan mereka. bisa ge'er mereka nanti" lanjut Lia.
Zaira yang mendengar penuturan Lia hanya tersenyum simpul lalu menepuk-nepuk bahu Lia. " Gue setuju dengan ucapan Lia, ngapain juga kita terpancing dengan tingkat mereka yang konyol itu. kalian tahu semakin kita memperhatikan mereka itu sudah membuat mereka merasa puas karena tujuan mereka tercapai. " ucap Zaira menambahi
" Iya juga sih, loe kadang pinter juga ya Za" sahut Mona menimpali ucapan Zaira
" Sia*an loe Mon, dari dulu juga gue emang pintar kali" ucap Zaira jumawa.
" ha..ha...!" Mona dan teman-temannya tertawa membuat Putri dan Rangga menoleh kesumber suara yang terdengar sedikit bising.
Putri yang melihat sikap Lia biasa-biasa saja padahal ia sudah berusaha untuk memanas-manasinya dengan sikap mesranya kepada Rangga nampak begitu geram, ia mengepalkan tangannya dibawah meja dan menatap sinis ke arah Rangga dan pindah ke Lia
" Ini semua gara-gara loe tau gak sih. dasar gak guna!" sarkas Putri pada Rangga yang nampak tercengang mendengar umpatan Putri kepadanya.
" Loe kok marah sama gue, emang gue udah melakukan kesalahan apa?" tanya Rangga saat Putri hendak pergi meninggalkan dirinya begitu saja.
" Loe tuh gak guna banget tau gak, gue itu mau membuat Lia marah dan cemburu ngeliat loe jalan sama gue tapi apa, tuh loe liat boro-boro dia cemburu ngelirik loe aja gak" kesal Putri membuat Rangga membulatkan matanya sempurna. Rangga tidak menyangka Putri akan mengatakan kata sepedas itu kepadanya.
" Kalau loe bisa bikin dia baper dan terus patah hati karena loe tolak cintanya maka hubungan kita tetap berlanjut tapi kalau loe gak bisa ya dengan terpaksa Sayang, hubungan kita sampai di sini saja" ucap Putri lagi dan kali ini Rangga nampak berpikir sejenak sebelum pada akhirnya Putri pergi meninggalkan dirinya begitu saja di kantin sekolah.
" Baiklah kalau itu mau loe, gue akan lakukan apapun untuk loe asal kita tetap bersama" ucap Rangga sedikit gugup pasalnya ia masih merasa ragu untuk melakukan hal tersebut.
Putri tersenyum licik " Bagus, lakukan peran loe dengan baik sayang!".
Setelah Putri meninggalkannya, Rangga mengusap wajahnya kasar, lalu beranjak pergi.
Mona yang dari setadi tidak henti-hentinya memperhatikan Rangga, langsung menatap lekat ke arah Lia.
" Loe kenapa dari setadi ngeliatin gue kayak gitu?" tanya Lia tanpa menoleh ke arah Mona
" loe ngomong sama siapa sih Li?" tanya Indah dengan polosnya.
" Sama siapa aja yang gak ada kerjaan malah sibuk ngeliatin hidup orang" sahut Lia sedikit menyidir
" Loe nyindir gue Li?" tanya Mona
" Nyindir loe buat apaan, gak penting kali" sahut Lia enteng
" Tapi Li noh loe liat babang Rangga loe ditinggalin sama si kunbi, gak mau nyamperin gitu loe? kesempatan Loe Li buat dapetin tuh babang Rangga!" cerocos Mona mengompori Lia.
" Ngapain, kalau mau loe aja sana!" tolak Lia
Mona, Mia dan Indah mereka saling melempar pandang. Gak biasanya Lia secuek itu mengenai babang Rangga. " Li loe tumben gak seperti biasanya?" tanya Mia
" Sudah.. sudah... Mon, Mia, Indah jangan bahas itu lagi udah mau masuk nih. sebaiknya kita balik ke kelas yuk!" ajak Zaira yang tahu rasa tidak nyaman adik iparnya karena ocehan ke tiga sahabatnya itu. kalau Mita hanya tersenyum melihat teman-temannya lalu ikut beranjak pergi kembali ke kelas.
" Za tuh!" tunjuk Mona saat melihat Azka berdiri di lapangan basket bersiap-siap untuk pelajaran praktek olahraga kelas 12 tepatnya kelas Putri.
Zaira menyipitkan matanya saat melihat Putri dengan sok kecantikannya berjalan mendekati Azka niatnya untuk memanas-manasi Mario yang memang satu kelas dengannya.
Mario melihat Putri berjalan mendekati Azka hanya menarik sedikit sudut bibirnya keatas lalu pandangannya berpindah kepada sosok gadis yang sudah beberapa hari ini sudah mengganggu pikirannya tengah berjalan bersama istri rahasia guru olahraganya itu.
" Pak!" panggil Mario karena tahu Zaira sedang menatap kesal ke arah gurunya itu.
Azka menoleh dan Mario berjalan mendekatinya berpura-pura meminjam bola basket yang sedang dipegangnya.
" Saya pinjam bola basketnya pak" ucap Mario memajukan sedikit wajahnya dan berbisik
" Hati-hati pak ratu lebah marah, jangan sampai ada yang tidur di luar nanti malam" bisik Mario dengan seringai senyum tipis diwajahnya lalu mendribel bola yang sudah ditangannya.
Azka mengerutkan keningnya lalu mengikuti arah pandangan mata Mario yang mengarah kepada 6 orang gadis yang berdiri di pinggir lapangan yang salah satunya sudah menampakkan wajah cemberutnya.
__ADS_1
Azka menghela napas panjang lalu perlahan berjalan menghampiri ke enam gadis tersebut, sementara Putri mengira jika Azka pergi karena bisikan Mario yang mengancamnya.
Putri dengan tidak tahu malunya mendekat ke arah Mario tapi Mario malah melempar bolanya dengan kuat ke arah Lia seolah-olah ia tidak sengaja padahal ia ingin melihat lebih dekat wajah gadis yang belakangan ini mengusik ketenangannya.
Putri mendengus kesal saat melihat dua pria tampan incarannya malah berjalan mendekat ke arah rivalnya.
Zaira masih memasang wajah cemberut, Mita, Mia, Indah dan Mona lebih memilih untuk pergi ke kelasnya sementara Lia yang hendak pergi menyusul teman-temannya langsung di tarik tangannya oleh Zaira.
" Za loe apa-apaan sih" kesal Lia karena melihat Mario yang berjalan semakin dekat ke arahnya.
" Temani gue dulu bentar, gue lagi kesal tuh sama kakak loe" sahut Zaira
" Itu sih urusan loe, udah ah gue mau cabut ke kelas" Lia melepaskan tangan Zaira dari tangannya.
Tapi baru saja melangkah Mario melempar bola tepat ke arahnya dan mau tidak mau secara refleks Lia menangkap bola tersebut.
" Loe apaan sih, lempar bola sembarangan aja" kesal Lia melempar dengan kasar bola basket yang di pegangnya ke arah Mario.
" Wuss, santai !" ucap Mario yang dengan cepat mampu menangkap bola yang di lempar oleh Lia.
Lia hanya melengos pergi begitu saja padahal dalam hatinya ia tersenyum senang dan jangan ditanya lagi dengan degup jantungnya yang sudah maraton sedari tadi.
Setelah Lia pergi menghilang di balik tembok ,Mario pun langsung berlonjat kegirangan saking senangnya membuat anak-anak yang lain menatapnya aneh, Mario yang melupakan keberadaannya di pinggir lapangan dan mendapat tatapan dari teman-teman sekelasnya langsung merubah raut wajahnya dengan datar dan dingin seperti biasa.
Sementara Azka hanya menghela napasnya berat melihat isteri kecilnya yang nampak merajuk.
" Kenapa muka ditekuk gitu?" tanya Azka saat sudah berada di hadapan Zaira
" Gak kenapa-napa!" ketus Zaira yang langsung ingin menyusul Lia namun tangannya keburu dicekal oleh Azka.
" Mau kemana?" Azka tersenyum jahil
" Maaf pak lepasin tangan saya gak enak sama murid-murid bapak tuh pada ngeliatin" ucap Zaira menunjuk dengan dagunya.
" Biarkan saja, kalau mereka banyak bicara aku bilang saja kalau kamu ini calon ibu dari anak-anakku" jawab Azka dengan menaik turunkan alisnya.
" Dasar ganjen" kesal Zaira.
" Loh kok ganjen sih yang?" Azka tertawa kecil
" Udah lepasin ih, gak enak tau jadi pusat perhatian tuh." sahut Zaira menarik-narik tangannya yang dipegang Azka.
" Tapi sekolah aku?" Zaira memberengut.
" Ya bilang aja baru tunangan" jawab Azka enteng." aku gak mau kalau sampai ada yang nyakitin kamu lagi yang" lanjutnya.
Zaira menghela napasnya panjang " yaudah terserah mas aja deh!" pasrah Zaira
" Nah gitu dong harus nurut sama suami" Azka tersenyum penuh kemenangan.
Bel berbunyi Zaira langsung pamit kembali ke kelas.
" Hati-hati, jangan pakai lari!" pesan Azka.
" Iya bawel" Zaira mengerucutkan bibirnya
" Mas antar sampai kelas ya?" tawar Azka sedikit berbisik
" Apaan sih!" Zaira refleks langsung meninju pelan lengan Azka.
" Cie... cie... pak Bagaz pacaran nih kayaknya sama Zaira?" ledek salah satu murid yang melintas di depan mereka.
" Tuh kan, udah ah aku pamit ke kelas!" Zaira langsung bergegas berjalan menuju kelasnya.
" Hati-hati, jangan lari!" teriak Azka membuat semua murid kelas 12 yang sudah bersiap olahraga menengok ke arah sang guru.
Irfan yang memang ada disitu menatap tajam ke arah Azka.
Putri yang melihat raut wajah Irfan yang merah menahan marah tersenyum miring lalu perlahan berjalan menghampirinya.
" Ternyata ada yang tengah terbakar api cemburu toh!" ejek putri membuat Irfan semakin geram lalu beranjak pergi begitu saja padahal jam pelajaran olahraga akan segera di mulai.
" Irfan loe mau kemana?" teriak Putri. Rangga yang melihat Putri sedari tadi berusaha mendekati Azka lalu Mario dan terakhir Irfan mengepalkan tangannya kuat.
" Loe sudah mempermainkan gue rupanya?" batinnya.
Azka dengan cueknya tetap mengajar seperti biasa walaupun ada beberapa murid yang sesekali menggodanya dan mengecenginya.
__ADS_1
Azka hanya menanggapi ucapan murid-muridnya dengan senyuman.
Setelah jam olahraga selesai Irfan dengan berani langsung menghadap gurunya tersebut.
" Apakah pantas seorang guru bersikap seperti itu terhadap muridnya disekolah?" tanya Irfan menyindir setelah berada di depan Azka
Azka tersenyum lalu mengusap bahu Irfan pelan " Sikap yang mana yang tidak pantas saya lakukan di sekolah?" Azka balik bertanya dengan sikap tegas namun santainya
" Anda adalah seorang pendidik mengapa anda bersikap tidak sopan terhadap salah satu siswi anda sendiri?" Irfan kembali bertanya dengan raut wajah merah menahan amarahnya.
" Sikap tidak sopan yang mana, apa aku sudah mencium, melecehkan salah satu siswi disini? apa kamu melihatnya?" Azka berjalan perlahan mengitari Irfan yang terdiam menelan salivanya dengan susah payah.
" Aku tidak pernah melakukan hal yang diluar batas, jika kamu melihat aku dekat dengan salah satu murid disini, apa itu salah? jika salah dimana letak kesalahannya? apa karena aku ini seorang guru dan dia seorang murid lalu kami tidak boleh bersama begitu? lalu itu semua salah kami iya? cinta datang dengan sendirinya anak muda, tidak ada yang bisa mencegah dimana ia akan berlabuh. semua tinggal tergantung bagaimana kita menyikapinya jika cinta kita bersambut maka patut cinta itu di perjuangkan tapi jika cintanya hanyalah sepihak saja sebaiknya lepaskan, biarkan cinta itu menemukan kebahagiaannya sendiri. karena jika dipaksakan cinta itu bukannya bertambah tapi malah menjadi sebuah bencana dan penyesalan yang tidak akan berguna apa-apa". tutur Azka panjang lebar agar muridnya itu tersadar akan perasaannya.
" Anda terlalu naif pak, sebagai pria sejati Anda sudah mempermainkan hati dua orang wanita sekaligus." bantah Irfan akan ucapan Azka
" Aku tidak pernah mempermainkan perasaan siapapun, dari awal aku sudah menjelaskan semuanya kepada mereka. hanya saja kakak sepupumu itu yang tidak pernah sadar jika cinta itu tidak akan pernah bisa dipaksakan. semakin dipaksa maka ia akan semakin terluka sendiri. " terang Azka menjelaskan
" Anda yang lebih dulu mengkhianati hubungan itu pak!" ucap Irfan dengan berani
" Kamu itu tidak tahu apa-apa jadi jangan sok menghakimi!" tegas Azka
" Memang itu kenyataannya" Irfan tidak mau kalah.
" Cih, dasar bocah!" decak Azka kesal
" Aku dari awal tidak pernah menyukai sepupumu Kelin. dia sendiri yang memaksa hubungan itu. aku sudah berkali-kali menolak tapi ia terus memaksa . aku sudah menjelaskan semuanya tapi ia seperti masa bodo dan terus memaksa hubungan yang memang sebenarnya tidak ada. lalu di mana letak kesalahan ku?" tanya Azka
" Jika kamu mencintai seseorang dan orang tersebut juga mencintaimu, apa kamu akan rela jika ada orang lain yang ingin merebut cinta dari kekasihmu itu.? apa kamu akan rela melepaskannya begitu saja?" tanya Azka membuat Irfan diam membisu.
" Tidak bukan? kamu pasti akan memperjuangkannya kan?" tanya Azka lagi.
" Aku pun akan melakukan hal yang sama, aku tidak akan membiarkan siapapun merebut cinta yang aku miliki, aku akan terus mempertahankannya dan menjaganya dengan segenap jiwa dan raga. Dan jika cinta yang aku miliki hanya sebelah saja, maka dengan rela aku pasti akan melepaskannya. itu aku lakukan demi kebahagiaan orang yang aku cintai. karena memaksakan hati yang ada malah membuat cintaku semakin layu dan mati." ucap Azka lagi lalu menepuk-nepuk punggung Irfan. Mario yang melihat keduanya dari balik dinding hanya diam tanpa ekspresi apa-apa.
Setelah selesai bicara panjang lebar Azka kembali ke ruangannya karena jam mengajar pun sudah selesai.
Azka dengan sengaja langsung menghampiri Zaira ke kelasnya. menunggu Zaira di depan pintu. Azka dengan santainya cuek menghadapi ocehan dan tatapan miring para murid-murid yang melihatnya saat melintas di depan kelas Zaira.
Ada yang berpandangan miring dan mencemooh tapi ada pula yang menyukai hubungan keduanya jika memang itu yang terjadi menurut mereka.
Zaira yang tengah sibuk dengan buku dan peralatan tulisnya langsung di tepak tangannya oleh Mona yang duduk di depan nya.
" Apa sih loe Mon, ngagetin gue aja!" kesal Zaira yang masih melanjutkan memasukkan buku dan peralatan tulisnya ke dalam tas.
" Udah di tungguin tuh!" tunjuk Mona memberitahu Zaira.
Zaira langsung melotot melihat Azka berdiri di depan kelasnya dengan tidak tahu malunya.
" Lia tuh liat kelakuan kakak loe, gimana ini Li. ?" ucap Zaira kepada Lia.
" Yaudah sih kenapa memangnya, dia itu gak mau loe kenapa-napa kali Za" Sahut Lia enteng membuat Zaira mendengus kesal.
" Widih ada yang lagi ditungguin nih!" goda Indah
" Diam loe dah!" semprot Zaira
" Dih ngapa tuh anak, sewot gitu?" tanya Indah terkekeh.
" Malu dia Indah, belum siap hubungannya go publik" celetuk Mita
" Owh, gitu toh!" Indah manggut-manggut
" Yaudah sih Za kenapa sih emang kalau semua tahu, lagi pula ini juga sekolah punya mertua loe ini" cerocos Mia.
" Huss, diam loe. Berisik tau gak sih!" ketus Zaira.
" Udah Za santai aja kenapa sih, kak Azka pasti punya alasan kenapa dia kayak gitu. udah gak usah dipikirin kasihan tau gak keponakan gue dari kemarin emaknya tegang mulu." keluh Lia membuat Zaira sedikit berpikir.
" Tenang aja udah, kak Azka gak mungkin bersikap ceroboh kalau gak ada alasannya. bagus ia sekarang banyak yang tahu hubungan loe sama kakak gue biar gampang ngawasin loe yang rada telmi" ucap Lia lagi
" Sia*an loe!" kesal Zaira memukul lengan Lia dan membuat Lia dan yang lainnya tertawa melihat raut wajah Zaira yang super tegang.
Saat ini Zaira dan Azka tengah berjalan menuju parkiran mobil, banyak pasang mata yang tertuju ke arah mereka. Zaira berjalan menunduk merasa risih dengan tatapan mata yang mengarah kepada dirinya.
Azka yang melihat Zaira gelisah dan risih ditatap oleh murid satu sekolah dengan santai malah menggandeng tangan Zaira yang terasa dingin.
Zaira menoleh ke Azka dan berusaha melepaskan tangannya namun Azka malah semakin kuat menggenggam tangannya.
__ADS_1
" Sudah diam aja, jangan banyak protes!" pinta Azka.
Zaira akhirnya pasrah dan terus berjalan dengan tangan yang saling bertautan. Irfan yang melihat tingkah mereka mengepalkan tangannya.