Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Berusaha Ikhlas


__ADS_3

Dengan gemuruh dihatinya dan perasaan sedih yang kembali memuncak Zaira dibantu oleh Azka dan mama Maria berjalan perlahan melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.


Semua pandangan mata tertuju kepada sosok Zaira yang nampak pucat dengan airmata yang sudah meluncur tanpa bisa dicegah. Rasa iba dan prihatin begitu dalam pada siapa saja yang melihat keadaan Zaira saat ini.


Kaki Zaira seolah tidak mampu lagi menopang berat tubuhnya yang hampir saja terjerabah kelantai jika tidak dengan cepat Azka meraih tubuh mungilnya.


Karena waktu semakin sore papa Sam lalu mengintruksikan untuk prosesi pemakaman untuk segera dilaksanakan karena kasihan jika terus ditunda-tunda.


Zaira yang sempat jatuh pingsan pun berusaha untuk kuat dan terus berada di rengkuhan sang suami.


Semua teman-teman sekolah dan juga staf guru hadir dalam prosesi pemakaman bunda Aryani mereka merasa kasihan dan turut sedih dengan musibah yang telah menimpa Zaira.


" Bunda... Hiks... Hiks.... maafkan Za bunda!" ucap Zaira disela Isak tangisnya saat jenazah bunda Aryani telah dikebumikan.


" Sayang, ikhlaskan bunda ya, kasihan bunda jika kamu terus menangisinya. bunda akan berat disana sayang!" ucap Azka seraya masih dengan merengkuh tubuh Zaira yang lemas.


Zaira mengangguk lalu mengusap air matanya yang masih menetes dan mencoba untuk tersenyum walaupun sulit.


Kini semua orang sudah meninggalkan area pemakaman yang tersisa hanya Keluarga dan para sahabat terdekat.


Kakek dan nenek Zaira tidak bisa hadir di acara pemakaman tersebut karena sang kakek yang syok mendengar putrinya meninggal dunia dan kembali jatuh sakit.


" Za, gue tahu ini berat. mungkin gue hanya bisa bicara dan seandainya gue di posisi loe juga gue belum tentu setegar loe saat ini Za. Gue berharap loe bisa mengikhlaskan kepergian bunda Za biar bunda bisa tenang dan damai di syurga. Bunda Aryani pasti akan bangga sama loe Za, loe harus bisa tegar, kuat dan sabar demi cucu bunda yang sangat disayanginya. baby Zia yang sekarang harus jauh lebih loe perhatikan daripada loe sibuk dengan kesedihan loe dan melupakan baby Zia. bunda pasti akan sedih di alam sana Za!" tutur Mita yang kini tengah berjongkok di sisi kiri Zaira yang walaupun sudah berusaha untuk tidak menangis tetap saja berat.


" Terima kasih ya Mit, iya gue harus kuat demi baby Zia demi cucu kesayangannya bunda!" ucap Zaira yang hendak beranjak berdiri.


" Kita pulang ya sayang!" ajak Azka lembut


" Iya Za kita pulang ya, baby Zia pasti sudah kangen banget dengan mamanya." ucap Mita yang membantu Zaira berdiri.


Zaira kini sudah berada di rumah bunda Aryani, mama Maria dibantu Mita dan para sahabat-sahabatnya sibuk untuk menyiapkan acara tahlilan. sementara Zaira yang sudah dibantu Azka membersihkan diri kini tengah berada di dalam kamar bersama dengan baby Zia.


Zaira tidak henti-hentinya memberi kecupan di wajah sang putri kecil, meskipun airmatanya tak bisa dibendung tapi lengkungan dibibir Zaira tetap nampak di hadapan sang putri.


" Sayang, maafkan mama ya, mama sudah mengabaikan kamu nak. mama merasa sangat bersalah!" ucap Zaira dan baby Zia yang belum mengerti dengan ucapan mamanya hanya menanggapi ucapan Zaira dengan tertawa gemas.


" Maafkan aku ya mas!" ucap Zaira yang menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.


" Gak perlu minta maaf sayang, kamu gak salah kok. apa yang terjadi sama kamu itu sudah naluri sayang. semua orang pasti akan bersikap hal yang sama!" ucap Azka begitu lembut lalu mendaratkan kecupan sayang di kening Zaira.


" Terima kasih ya mas" Zaira tersenyum tipis

__ADS_1


menjeda ucapannya " Terima kasih karena mas selalu ada di sisi aku disaat aku berada di titik terendah seperti sekarang ini. mas yang selalu menjadi kekuatan ku dan mas pula yang selalu menjadi kaki aku disaat aku tak dapat menopang tubuhku. mas aku mencintaimu mas. terima kasih ya mas!" ucap Zaira membuat Azka merasa tak kuasa untuk memeluknya penuh cinta.


" Mas juga mencintai mu sayang, bahkan sangat .. sangat.... sangat... mencintaimu. jadi tetaplah menjadi wanita yang tegar dan kuat sayang. demi buah hati kita yang sangat cantik ini!" ucap Azka yang langsung meraih baby Zia dari gendongan Zaira lalu mendaratkan kecupan di pipi gembul sang baby


Tok...


Tok


Tok


Mendengar suara pintu diketuk Azka kembali menyerahkan baby Zia kepada Zaira sedangkan dirinya memberingsut turun dari tempat tidur.


" Sebentar ya sayang, mas buka pintunya dulu!" ucap Azka lalu beranjak menuju pintu yang diketuk.


Ceklekk


" Mel, ada apa?" tanya Azka saat melihat Lia yang sudah berdiri di hadapannya


Azka yang melihat Lia menunduk dengan mata yang sudah berkaca-kaca langsung menarik sang adik kedalam pelukannya.


" Kenapa hem?" tanya Azka setelah mengurai pelukannya dan melirik Mario yang tengah berdiri di belakang Lia dan menggidikan bahunya.


" Jika kamu mau bertemu dengan Za, hapus dulu ya airmatanya. tersenyumlah dek!" ucap Azka yang tidak ingin isterinya kembali sedih melihat keadaan Lia yang terbilang hampir sama dengan Zaira, begitu sedih kehilangan bunda Aryani.


" Iya kak, maafin Meli?" ucap calon ibu tersebut


" Gak usah minta maaf sayang, kamu gak salah!" ucap Azka.


" Ya sudah ayok masuk!" ajak Azka merangkul sang adik.


" Siapa mas?" tanya Zaira yang sedetik kemudian ia langsung beranjak dari tempat tidur dan hendak menghampiri Lia.


" Sayang, sudah diam saja disitu!" perintah Azka yang langsung membuat Zaira menghentikan gerakannya.


Zaira merasa senang melihat Lia karena sedari dia pulang dia tidak melihat keberadaan Lia dan saat bertanya kepada Mona dia mengatakan Lia berada di kamar tamu setelah tadi sempat di periksa oleh dokter Dinda yang memang datang melihat bunda Aryani untuk yang terakhir kalinya.


Sikap bunda Aryani yang lembut dan begitu keibuan membuat siapa saja yang dekat dengannya pasti merasa seperti sedang bersama ibunya sendiri. pergantian dan kasih sayang bunda Aryani begitu tulus kepada siapa saja yang dekat dengannya terutama sahabat putrinya.


" Za!" Lia langsung memeluknya dan baby Zia berada di gendongan Mario karena baby Zia yang sudah merentangkan tangannya saat melihat uncle tampannya itu


" Bagaimana kondisi kesehatan loe dan juga baby disini?" tanya Zaira saat keduanya tengah duduk di atas kasur sementara Azka pamit turun kebawah untuk membantu apa saja yang bisa ia lakukan sedangkan Mario dan baby Zia sudah turun lebih dulu.

__ADS_1


" Alhamdulillah sehat, hanya tadi sempat kram perut dan sekarang sudah baikkan" ucap Lia seraya tersenyum.


" Syukurlah kalau baik-baik saja" ucap Zaira lega.


" Jaga kesehatan loe dan juga kandungan loe dengan baik Li. gue tahu loe begitu karena loe terlalu sedih, iyakan?" ucap Zaira dengan senyumnya.


" Loe harus mengutamakan kesehatan dan keselamatan baby loe, karena bunda juga pasti sedih melihat wajah pucat loe sekarang!" ucap Zaira yang tengah berusaha untuk bersikap tenang dan kuat


Zaira tahu kesedihan yang dirasakan Lia karena belakangan ini memang Lia begitu dekat dengan bundanya. mama Maria sering ikut sang suami keluar kota jadi Lia lebih berani meminta dan bercerita apa saja dengan bunda Aryani.


" Gu... Gue!" ucap Lia yang sudah berkaca-kaca. dan Zaira yang hampir terbawa suasana berusaha untuk mengendalikan dirinya sendiri. ia tidak ingin kesedihannya membuat orang-orang disekitarnya ikut sedih jadi Zaira kini tengah berusaha untuk tersenyum walaupun sebenarnya hatinya menangis.


" Li udah ya jangan menangis. kita harus kuat agar bunda juga tenang dan ingat ini!" Zaira mengusap-usap perut Lia yang terlihat membuncit.


Lia berusaha untuk tersenyum " Iya Za maafin gue ya!" ucap Lia sendu


" Minta maaf untuk apa?" ucap Zaira yang masih mengelus lembut perut Lia


" Maaf karena gue sudah bikin loe sedih lagi!"


" Loe ini ngomong apa sih Li, siapa yang sedih ih!" ucap Zaira yang langsung menghapus air matanya yang lolos tanpa permisi.


Ceklekk


Zaira dan Lia menoleh ke arah pintu yang terbuka.


" Za, Lia!" teriak Mona, Mita, Indah dan Mia bersamaan saat menyembul dari balik pintu.


" Kalian!" ucap Zaira dan Lia bersamaan


Mereka langsung berhambur berpelukan, Zaira sedikit tertawa melihat Mona dan Indah yang berebutan untuk memeluk Zaira. mereka saling dorong dan saling mengejek yang Zaira tahu itu adalah trik mereka untuk menghiburnya.


Suasana kamar Zaira sedikit menghangat dengan keberadaan para sahabatnya.


mereka berusaha keras untuk menghibur Zaira dan juga Lia. walaupun mereka merasakan kesedihan yang Zaira rasakan tapi mereka akan berusaha untuk tetap tegar agar bisa menjadi penghibur Zaira dan juga Lia.


Suasana semakin menghangat ketika Mario mengantarkan baby Zia kepada Zaira. baby Zia yang lucu dan menggemaskan membuat Zaira tidak bisa menahan tawanya dan untuk sejenak dia bisa melupakan kesedihannya.


Azka yang berdiri di balik pintu tersenyum lega karena bisa melihat tawa yang terbit di bibir Zaira.


" Semoga kamu bisa terus kuat sayang dan tidak larut dalam kesedihan mu lagi!" gumam Azka lalu perlahan menutup pintu kamar tersebut.

__ADS_1


__ADS_2