
Deg
Deg
Deg
Jantung Lia berpacu dengan kencang, tubuhnya menegang dan air matanya pun sudah mengalir dengan deras.
" Apa aku tengah bermimpi? kenapa mimpi ini serasa nyata? andai ini hanyalah sebuah mimpi aku mohon tuhan jangan biarkan aku terjaga dari mimpiku ini" gumam Lia sebelum kesadarannya benar-benar hilang.
...☄️☄️☄️...
Lia terbangun dari tidurnya, matanya melihat kesekeliling ruangan.
" Ka... kamar gue, ini dikamar gue. bukannya tadi gue lagi di_?"
Deg
Jantung Lia memompa sangat cepat, napasnya begitu memburu dia teringat kembali dengan kejadian tadi di danau.
" Ma.. mario!" ucap Lia lirih lalu memiringkan tubuhnya dan meringkuk memeluk lututnya sendiri dan sedetik kemudian tubuh Lia pun bergetar Isak tangis pun terdengar samar-samar.
" Ja.. jadi itu benar-benar hanya ilusi, gue hanya bermimpi" gumam Lia lirih disela-sela isak tangisnya yang pecah.
" Sesakit inikah mencintaimu io, sesesak inikah melupakanmu io?" tanya Lia pada angin yang berhembus
" Kenapa tidak kau bawa saja aku bersama mu io, aku tidak sanggup hidup tanpamu disisiku" ucap Lia disela Isak tangisnya yang memburu
" Aku mencintaimu io... aku mencintaimu!" Lia semakin mengeratkan pelukannya pada lututnya tangisnya pun semakin pecah
" Aku mencintaimu io.. sangat mencintaimu!" Lia terus menerus mengulang kata-katanya.
Ceklekk
Pintu terbuka, Lia tidak sadar ada seseorang yang masuk ke dalam kamarnya, posisinya masih meringkuk seperti udang.
Tap
Tap
Tap
Derap langkah semakin berjalan mendekat ke arah kasur berukuran king size dimana Lia berada di atasnya. Lia tetap masih meringkuk seolah tidak peduli dengan keadaan di sekitarnya. hatinya terlalu sakit menerima kenyataan orang yang sangat ia cintai pergi meninggalkannya.
" Aku mencintaimu io!" ucap Lia lirih untuk yang kesekian kalinya membuat seseorang yang kini tengah duduk di sisi Lia menyunggingkan senyum manisnya.
" Aku.... aku mau menikah denganmu io, jika waktu bisa diputar kembali akan aku katakan aku bersedia menjadi ibu dari anak-anakmu walaupun aku harus seperti Za homeschooling. aku mau Io... aku mau.. hiks... hiks..!" ucap Lia sambil membenamkan wajahnya pada kedua lututnya tidak peduli dengan seseorang yang sedari tadi tersenyum mendengar ocehan Lia yang menurutnya sangat lucu.
" Aku mencintaimu io, aku mencintaimu" ucap Lia lirih
" Aku jauh lebih mencintaimu my Lily"
Deg
Deg
Deg
" Aku pasti tengah berhalusinasi lagi!" gumam Lia.
" Kenapa kamu tega Io?kau jahat. kenapa kau hadir disaat aku tertidur dan akan hilang di saat aku terjaga Io?" gumamnya lagi.
" Benarkah?" tanya orang yang kini duduk di tepi kasur dengan nada santai.
" Aku tidak akan hilang meskipun kau tengah terjaga!" ucap pria yang tak lain tak bukan adalah Mario.
Flashback on
Mario dan Lia kini tengah berada di dalam ruang bawah tanah dalam keadaan tidak sadarkan diri. melihat ketulusan cinta dua insan yang saat ia sentuh tengah berpelukan tapi dalam keadaan tidak sadarkan diri. Kelin pelan-pelan merangkak mencari celah untuk keluar namun hasilnya nihil.
Kelin menepuk-nepuk pipi Lia agar tersadar tapi hasilnya pun sama. udara yang pengap membuat Lia akhirnya merasa sesak napas dan pingsan.
" Bagaimana caranya bisa keluar dari tempat ini?" ucap Kelin dan tiba-tiba terdengar suara baku hantam bahkan suara tembakan dari arah luar.
" Apakah orang-orang Bagaz sudah datang?" gumam Kelin.
Brakk
__ADS_1
Pintu terbuka Azka dengan Sendy masuk dengan tergesa-gesa diikuti oleh beberapa polisi.
" Meli!" pekik Azka saat melihat Lia terkulai bersama Mario dilantai.
Azka melihat ke arah Kelin dengan tatapan membunuh. " Kau apakan adikku hah?" tanya Azka tegas
" Aku tidak apa-apakan dia, mungkin udara yang pengap membuatnya jatuh sakit terlebih lagi si laki-laki itu sepertinya terluka tusukan sehingga tubuhnya sempat demam" ucap Kelin namun tetap saja Kelin lah dalang dari penculikan tersebut walaupun pada akhirnya dia juga yang menjadi korban.
Kelin di bawa kekantor polisi untuk mempertanggung jawabkan atas perbuatannya begitu juga dengan Nia yang dihatinya penuh dengan penyesalan namun semua itu sudah tiada berguna.
Sementara Leo keadaannya sungguh sangat mengenaskan setelah timah panas bersarang di dada kirinya karena Leo sempat melakukan perlawanan dan berusaha untuk melarikan diri ia pun akhirnya menghembuskan napas terakhirnya sebelum sempat di bawa ke rumah sakit.
Sedangkan Azka nampak panik karena Lia dan Mario tidak juga merespon panggilannya. Azka dibantu oleh Sendy membawa Lia dan Mario keluar dari ruangan tersebut. Azka membawa Lia dan Mario kerumah sakit Dinata's hospital. tapi setelah Alex tahu penyebab putranya terluka, Mario langsung dibawa oleh Alex keluar dari rumah sakit tersebut dan memindahkannya ke rumah sakit lain.
Alex orang tua Mario merasa tidak suka dengan kedekatan Lia dengan putranya Mario. karena sejak menjalin hubungan dengan Lia hidup Mario semakin menegangkan dan berkali-kali hampir membuatnya terbunuh, Alex tidak ingin terjadi sesuatu pada Mario.
Alex akhirnya membawa Mario berobat keluar negeri.
Awalnya papa Sam tidak setuju jika mario dibawa oleh Alex berobat keluar negeri tapi sebagai orang tua papa Sam juga mengerti dengan posisi Alex, akhirnya papa Sam hanya bisa pasrah melihat Alex membawa Mario pergi dan semua itu demi kebaikan mereka berdua
Sudah dua bulan Mario menjalani pengobatan disana. meskipun kondisinya sudah sehat Mario tetap dilarang kembali ke tanah air apalagi sampai bertemu dengan Lia. Mario sempat memberontak namun Alex mengancam Mario akan mengurungnya dan tidak akan membiarkannya keluar sedikitpun.
Papa Sam memang sengaja tidak memberitahu Lia kalau Mario sebenarnya pergi keluar negeri untuk melakukan pengobatan dan akan melanjutkan sekolahnya di sana. papa Sam tidak ingin Lia tersiksa karena cintanya yang terhalang restu orang tua Mario dan papa Sam Juga ingin Lia melupakan Mario dan hidup kembali ceria seperti Lia yang dulu.
Tapi setelah dua bulan terakhir papa Sam
Melihat kondisi Lia yang semakin lama kian terpuruk, Lia yang ceria berubah menjadi lebih banyak diam membuat papa Sam merasa sedih terlebih lagi mama Maria. Karena tidak tega dengan keadaan putrinya yang selalu nampak murung mama Maria terus membujuk papa Sam untuk menemui Alex dan meminta Alex merestui anak-anak mereka.
Papa Sam yang tidak tega melihat kesedihan diwajah orang-orang yang sangat ia sayangi, akhirnya papa Sam memutuskan untuk pergi ke Jerman dan meminta langsung kepada Alex agar mengizinkan Mario kembali ke Indonesia untuk menemui putri kesayangannya.
Awalnya Alex tidak setuju tapi karena yang meminta langsung adalah papa Sam dan terlebih melihat kondisi Mario yang juga tidak jauh berbeda dengan Lia, begitu menyedihkan akhirnya Alex mau tidak mau mengizinkannya. selain itu papa Sam juga menjanjikan sebuah kerjasama yang sangat menguntungkan bagi perusahaan Alex mau tidak mau Alex pun luluh.
Mario merasa sangat senang saat melihat papa Sam datang apalagi setelah Alex menyuruhnya untuk ikut dengan papa Sam kembali ke tanah air.
Mario terasa tak percaya setelah sekian lama tidak bertemu dengan pujaan hatinya akhirnya tuhan mengizinkan mereka untuk kembali bertemu.
Mario dan papa Sam sudah berada di tanah air dan papa Sam langsung membawa Mario ke kediamannya namun saat sampai di rumah papa Sam tidak menemukan keberadaan putrinya.
papa Sam ingin memberi Lia kejutan dengan tidak memberitahu tentang kedatangan Mario. namun ternyata Lia malah belum pulang ke rumah, papa Sam mencoba menghubungi nomor ponsel Lia tapi ternyata tidak aktif, akhirnya papa Sam menelpon mang Ujang dan belum sempat terangkat papa Sam mendengar suara deru mobil dari arah luar. papa Sam berjalan keluar mengira putrinya sudah pulang namun saat sampai di depan papa Sam nampak bingung karena mang Ujang pulang hanya seorang diri.
" Loh mang Meli nya mana, bukannya mang Ujang bertugas untuk menjemput Meli?" tanya papa Sam
" Apa ke danau? mang Ujang bagaimana sih. membiarkan Lia sendirian di danau tersebut. jika Meli kenapa-napa gimana mang?" omel papa Sam
" Maafkan saya tuan" ucap mang Ujang ketakutan.
" Pah!" panggil Mario
papa Sam menoleh " Pah, izinkan saya pergi untuk menemui Lily !" pinta Mario pada papa Sam.
" Baiklah, bawa Meli pulang dengan selamat ya!" pinta papa Sam
" Iya pah!" sahut Mario.
Tidak butuh waktu lama Mario sudah tiba di danau tersebut dengan meminjam mobil papa Sam dong tentunya, kan Mario pulangnya bersama papa Sam dan langsung ke kediamannya jadi belum sempat mengambil motornya di rumah.
Hati Mario seperti teriris melihat kondisi Lia yang menampakkan senyum dibibirnya namun airmatanya tidak bisa ia tutupi yang meluncur begitu saja tanpa aba-aba.
Perlahan Mario berjalan menghampiri Lia yang tengah membentangkan tangannya merasakan tetesan air hujan yang turun, namun lama-kelamaan hujan turun semakin deras tapi Lia tidak beranjak dari tempatnya. Lia malah terlihat memberingsut turun ke tanah menangis sejadi-jadinya. Mario yang melihat Lia seperti itu pun tidak kuasa lagi menahan sesak di dadanya dan langsung menghampiri Lia.
Lia menangis pilu, dibawah guyuran air hujan yang turun dengan derasnya. airmata yang menetes menjadi satu dengan derasnya air hujan menambah pilunya hati Lia.
" Aku ingin bersamamu Io, aku merindukanmu Io. aku ingin menikah dengan mu io aku_" ucap Lia terdengar begitu lirih membuat siapapun yang mendengarnya pasti akan merasa pilu.
Mario dengan langkah perlahan kini tengah berdiri di hadapan Lia hingga membuatnya diam membeku sampai pada akhirnya pingsan.
Flashback off
Lia merasa tidak asing lagi dengan suara itu, perlahan Lia menggeser tubuhnya dan netranya menangkap sosok seseorang yang sangat ia rindukan. Lia memejamkan matanya sejenak lalu kembali menatap pria yang kini tengah duduk di sampingnya.
" Kenapa kau hadir seakan nyata sekali Io, kau membuatku semakin sulit untuk bernafas. sesak ini sungguh menyesakkan Io" ucap Lia terdengar begitu lirih.
" Kau bilang kau sangat mencintaiku Io tapi kenapa kau tega membiarkan aku terus menerus merindukan mu. kenapa Io, kenapa kau tinggalkan aku sendiri?" tangis Lia pun kembali pecah Lia masih menganggap Mario hanyalah halusinasinya belaka.
" Jangan tersenyum seperti itu, aku benci senyummu aku benci!" pinta Lia dengan wajah yang kini berubah jutek karena merasa halusinasinya belum juga hilang.
" Sudahlah, jangan tersenyum seperti itu lagi Io, aku semakin sulit untuk melepaskan mu jika kau tersenyum seperti itu terus" ucap Lia membuat Mario tergelak dan sepersekian detik Lia melotot karena halusinasinya belum juga hilang dari pandangan matanya.
__ADS_1
" Inikan halusinasi ku saja tapi kenapa dia nampak seperti nyata?" gumam Lia membuat Mario akhirnya melayangkan satu sentilan kecil mengenai hidung mancung Lia.
Pletakk.
" Aww, sakit!" ucap Lia saat Mario menyentil hidungnya.
" Sakit, jadi apa masih berpikir kalau aku ini halusinasi kamu, hemm?" kali ini bukan sentilan yang mendarat di hidung Lia tapi cubitan kecil yang mencapit hidung Lia
" Io?" panggil Lia dengan rasa masih tidak percaya
" Ada apa, hemm?" tanya Mario dengan suara sangat lembut dan Lia bukannya menjawab tapi langsung mendaratkan pelukannya kepada Mario.
" Io!" panggil Lia dibalik Isak tangisnya yang kini tengah memeluk laki-laki yang sudah dua bulan terakhir membuat hidupnya porak poranda.
" Maafkan aku sayang, maaf!" ucap Mario mengusap punggung Lia menenangkannya.
" Maaf karena dua bulan ini aku menghilang" ucap Mario membuat Lia melepaskan pelukannya.
" Kau jahat Io, jahat!" teriak Lia merasa kecewa.
Mario menarik kembali Lia ke dalam pelukannya lalu menceritakan semua yang terjadi dari awal mereka terpisah sampai hari dimana mereka bisa kembali bersama.
" Lalu bagaimana sayang, apa aku boleh menagih janji yang kamu ucapkan didanau tadi?" tanya Mario Seraya meraih tangan Lia lalu menggenggamnya mesra.
" Janji! janji yang mana ?" tanya Lia, yang tengah lupa dengan ucapannya sendiri.
" Ah, sudahlah mendingan aku pergi saja, toh kamu sudah lupa dengan ucapanmu itu" ucap Mario membuat Lia memberengut kesal
" Loh kok kamu ngomongnya kayak gitu sih yang?" tanya Lia yang mencoba mengingat-ingat kata-katanya waktu itu.
" Habisnya kamu sudah melupakan janji kamu" ucap Mario pura-pura merajuk
" Janji yang mana sih sayang?" ucap Lia merangkul lengan Mario. " Aku minta maaf jika aku lupa" tambahnya membuat Mario merasa gemas sendiri dengan tingkah Lia.
" Kamu tuh ya pandai banget merayu aku!" ucap Mario membuat Lia terkekeh.
" Siapa yang merayu kamu, ge'er" Lia melepaskan tangannya yang melingkar di lengan Mario.
" My Lily!" panggil Mario dengan suara yang sudah sedikit serius.
" Iya!" jawab Lia menatap lekat wajah Mario yang sudah dua bulan ini sangat ia rindukan.
" Apa benar kau bersedia menikah dengan ku dan menjadi ibu dari anak-anakku?" tanya Mario dengan tatapan mata teduh. Lia yang melihat sorot mata akan keseriusan Mario terhadap dirinya hanya mengangguk pelan.
Melihat Lia yang mengangguk pelan membuat Mario langsung menarik Lia kedalam pelukannya.
" Kamu seriuskan sayang?" tanya Mario lagi yang seakan tidak percaya dengan jawaban yang Lia berikan.
" Iya aku bersedia Io, kehilangan dirimu selama dua bulan sudah sangat menyiksaku Io, aku ingin menua bersama mu dan memiliki anak-anak yang lucu " tutur Lia membuat Mario semakin mengeratkan pelukannya
" Aku mencintaimu io!" ucap Lia dengan sedikit malu-malu dan membenamkan wajahnya di dada bidang Mario.
" Ohh menggemaskannya gadisku ini, membuat aku merasa tidak sabar ingin segera halalin kamu" ucap Mario gemas
" Yaudah, buruan makanya halalin!" goda Lia dengan senyum manisnya
" oh rupanya kamu juga sudah tidak sabar ya sayang?" Mario kembali menggoda Lia
" Siapa, enak saja" elak Lia sambil tertawa dan Mario pun ikut tertawa menimpali.
" Minggu depan kalian menikah!" Suara bariton yang bersumber dari arah pintu membuat keduanya terkejut dan langsung melepaskan pelukan mereka masing-masing
" Pa.. papah!" ucap Lia dan Mario bersamaan. mereka menjadi gugup dan salah tingkah apalagi mendapat tatapan tajam dari papa Sam yang dibelakangnya sudah ada mama Maria, Zaira dan juga Azka.
" Udah gak galau lagi dong, kan mau di sah kan" goda Zaira menaik turunkan alisnya membuat Lia semakin merona dibuatnya.
" Galau sampai badan kurus begini!" omel papa Sam membuat Lia cengengesan.
" Rio jaga putri papa dengan baik, papa percaya kamu bisa membuat Putri papa yang super cerewet dan bawel yang sempat mogok ini kembali seperti semula" ucap papa Sam.
"Gak usah khawatir pah, Rio pasti bisa pah tuh liat Lia sekarang wajah sudah gak seperti mayat hidup lagi" bukan Mario yang menjawab tapi Zaira membuat Azka hanya geleng-geleng kepala.
"Syukurlah kau kembali Mario, jika tidak entah bagaimana keadaan tuh anak" ucap Azka ekor matanya melirik ke arah Lia.
"Iya pak saya juga merasakan hal yang sama dengan Lily, terpisah darinya membuat terasa sangat tersiksa." sahut Mario
" Kalian memang harus segera dinikahkan agar kalian bisa menyusul!" ucap Zaira sambil mengusap perutnya yang sudah nampak besar.
__ADS_1
" Iya, mama cepat punya cucu dua sekaligus ya!" ucap mama Maria menimpali
" Wah kalau soal itu sih siap mah, Za!" ucap Mario membuat Lia mendelik tajam dan Mario dengan cepat menutup mulutnya dan sontak saja hal itu membuat semua yang ada di kamar tersebut tertawa.