Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Malaikat penolong


__ADS_3

" Loe!" pekik Lia dan teman-temannya bersamaan


"Kenapa, kaget ya?" Rara yang ternyata dalang dari semua itu tengah tertawa sinis dihadapan mereka.


"Nasib loe dulu memang masih beruntung, bisa lolos dan selamat. tapi untuk kali ini gak akan ada lagi kesempatan kedua untuk loe Farisa Meliani Dinata!" ucap Rara dengan seringai senyum liciknya.


" Apa mau loe sebenarnya hah?" bentak Lia yang sudah merasa geram dengan Rara UI.


" Mau gue? loe mau tahu apa mau gue? ha..ha..." Rara tertawa jahat


" Gue mau loe semua merasakan apa yang pernah gue rasakan, karena loe semua adalah teman-teman si gadis bodoh Alzaira" Jawab Rara dengan api amarah kebencian.


"Apa maksud loe?" tanya Mita yang ikut emosi


" Kalian ini adalah orang-orang bodoh, terutama loe Meliani, hanya karena seorang Alzaira loe sampai meminta kepada orang tua loe untuk menghancurkan keluarga gue dan juga sahabat-sahabat gue, sekarang keluarga gue sudah hancur mereka sudah membuang gue dan karena sahabat loe juga masa depan gue hancur. gue benci Zaira gue benci loe semua!" teriak Rara dengan emosi yang sudah memuncak.


" Dasar gak waras, semua terjadi karena ulah loe sendiri kenapa malah menyalahkan orang lain!" maki Mita


" Diam loe, jaga mulut loe itu kalau tidak loe akan menjadi orang pertama yang akan menjadi santapan mereka malam ini" bentak Rara membuat Mita dan yang lainnya melotot atas ucapan Rara.


" Apa maksud ucapan loe?" Lia yang kembali terpancing emosi


" Loe gak usah berlaga be*o, loe pasti tahu dengan jelas maksud dari ucapan gue barusan. atau loe yang mau menjadi orang pertama untuk mereka, gue rasa mereka sudah sangat siap tapi berhubung loe itu pandai bela diri jadi sebaiknya loe yang terakhir aja, biar loe bisa menyaksikan dengan jelas bagaimana mereka satu persatu menikmati sahabat-sahabat loe ini, hahaha...!" Rara tertawa jahat sementara Lia sudah mengepalkan tangannya kuat.


Karena tahu Lia pandai ilmu bela diri teringat para preman bayarannya yang langsung tumbang Rara memilih untuk mengikat Lia karena tidak ingin mengalami kesalahan seperti yang sudah-sudah.


Saat ini tangan Lia terikat dikursi bersama dengan Mita , karena Rara tahu Lia dan Mita terlihat lebih kuat jika dibandingkan dengan Mia, Mona dan Indah.


" Kalian tidak akan lolos kali ini, karena tidak akan ada yang tahu tentang keberadaan kalian saat ini. jadi nikmatilah waktu kebersamaan kalian sebaik mungkin karena setelah ini entah akan bagaimana nasib kalian" ucap Rara dengan seringai jahatnya.


" Cih, dasar manusia sampah!" maki Lia membuat Rara semakin murka dan langsung menampar Lia keras hingga menyisahkan darah kental di sudut bibirnya.


" Jaga mulut loe ya, gara-gara keluarga loe hidup gue hancur dan gue juga menginginkan kehancuran dari hidup kalian" Rara mencengkram dagu Lia dengan kuat membuat Lia memekik kesakitan tapi Lia tidak mau terlihat lemah di mata Rara.


Setelah merasa cukup Rara meninggalkan ruangan tersebut dan ingin segera melancarkan aksinya.


Mona, Mia dan Indah langsung menghampiri Lia dengan wajah khawatir " Lia loe gak apa-apa?" tanya Mia yang sangat khawatir di sela isak tangisnya.


" Gue gak apa-apa Mia, loe gak usah khawatir ya. loe tenang ya semua pasti akan baik-baik saja" ucap Lia mencoba setenang mungkin.


" Loe emang udah gak waras apa Li, lihat kondisi loe sekarang, muka udah lebam gitu badan diikat kayak gini masih bilang semua akan baik-baik aja, kita sudah tamat Li, Mit!" Isak tangis Mona pun pecah di ikuti oleh Mia dan juga Indah.


" Gue takut kalau mereka akan bertindak yang macam-macam, gue takut Li!" ucap Indah ketakutan.


" Gue tahu Mia, Mona, Indah kalian semua pada takut, gue juga sama takut tapi kita berusaha untuk tenang dan berdoa siapa tahu kita bisa menemukan jalan keluarnya" ucap Lia mencoba untuk menenangkan.


" Kita gak bisa menghubungi siapa-siapa Lia!" ucap Mona membuat Lia teringat akan sesuatu yang tadinya sempat ia sepelekan tapi tidak ada salahnya jika saat ini ia coba untuk membuktikan kegunaan gelang yang dikenakannya.


Lia melirik ke arah gelang yang melingkar di pergelangan tangannya. " Untung masih gue pakai ini gelang, hampir aja tadi sempat gue mau buang saat ngeliat dia tadi sama Gladis!" batin Lia.


Lia berusaha untuk mencari tombol kecil yang terdapat di gelangnya setelah ketemu Lia langsung menekannya.


" Bismillahirrahmanirrahim" ucap Lia sebelum menekan tombol kecil yang ada di gelangnya.


" Loe kenapa Li?" tanya Mita pelan


" Semoga aja dia akan datang menolong kita" ucap Lia membuat Mita mengerutkan keningnya merasa tidak mengerti dengan penuturan Lia.


" Siapa?" tanya Mita berbisik karena mereka tahu ada penjaga yang berdiri di depan pintu ruangan tersebut.


" Malaikat penolong" sahut Lia


" Maksud loe?" tanya Mita yang semakin tidak mengerti dengan ucapan Lia


" Udah untuk saat ini loe gak usah terlalu banyak tanya yang perlu kita lakukan sekarang adalah banyak-banyak berdoa semoga saja malaikat penolong kita benar-benar datang menolong kita" sahut Lia dengan suara berbisik.


" Ada apa?" tanya Mona ingin tahu


" Kita harus banyak berdoa kata Lia semoga malaikat penolong datang menolong kita" ucap Mita

__ADS_1


" Maksudnya?" tanya Mona, Mia dan Indah bersamaan.


" Ya kita banyak-banyak berdoa saja, jangan malah banyak bertanya!" sahut Lia berusaha untuk meyakinkan dirinya kalau Mario pasti akan datang menyelamatkan mereka.


Tapi sejenak Lia berpikir ulang, apakah Mario akan menolongnya setelah kejadian tadi. ah ini benar-benar membuat Lia menjadi gelisah sendiri.


Melihat Lia yang tiba-tiba raut wajahnya berubah dan nampak gelisah tentu saja membuat teman-temannya terlihat panik pasalnya sedari awal diculik Lia lah yang paling bersikap tenang tapi kenapa tiba-tiba ia berubah gelisah.


" Li loe kenapa?" tanya Mita cemas


" Emm.. gak kenapa-napa, gue cuma kepikiran aja apa dia masih mau ya nolongin kita setelah tadi gue udah bikin dia marah?" sahut Lia yang justru di tanggapi salah paham oleh Mita.


" Maksud loe yang menjadi malaikat penolong kita itu kak Rangga?" Lia langsung melotot saat Mita menyebut nama Rangga.


" Bagaimana caranya dia bisa tahu kalau kita berada di sini? tanya Mita


" Kekuatan cinta mereka kali!" celetuk Mia.


" Kalian ngomong apa sih!" Lia menghela napas kasar.


Tiba-tiba pintu terbuka dari luar dan sedetik kemudian mereka tercengang dengan sosok laki-laki yang saat ini berdiri di ambang pintu.


" Kak Rang...ga, malaikat penolong Li, Mit..!" ucap Mona terbata-bata, bagaimana mungkin baru saja dibicarakan Rangga sudah datang dan berdiri di ambang pintu diantara para pria berotot besar.


" Kak tolong kami kak!" Rajuk Mona penuh harap.


Rangga hanya diam saja, walaupun sebenarnya dia juga khawatir takut terjadi sesuatu dengan Lia tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.


" Loe sebaiknya bereskan semuanya dengan cepat, gue juga udah bosan ingin segera kepuncak permainan ini!" ucap Rara kepada Rangga membuat Lia dan sahabat-sahabatnya tercengang.


" Apa maksud ucapan loe?" tanya Lia yang merasa sedikit heran dengan keberadaan Rangga yang tiba-tiba muncul di hadapannya


" Sayang permainan kita akan segera di mulai jadi bersiaplah!" ucap seorang gadis yang tidak lain Putri.


" Putri?" pekik Lia.


" Kenapa, apa loe kaget hem?" ledek Putri.


" Lia apa dia yang loe maksud tadi sebagai malaikat penolong?" ucap Mona pelan tapi masih terdengar oleh Lia.


Lia tidak menggubris pertanyaan Mona pikirannya saat ini masih terlalu fokus dengan keberadaan Rangga yang ada di antara putri dan Rara.


Tatapan keduanya saling bertemu Rangga menatap penuh rasa iba dan Lia menatap penuh rasa benci.


" Terima kasih sayang, kamu sudah membantu menangkap mereka semua para gadis bodoh ini!" ucap Putri dengan bergelayut manja pada lengan Rangga yang tatapan matanya terus mengarah pada Lia.


" Hebat, gue gak sangka!" ucap Lia tersenyum sinis ke arah Rangga.


" Li Rangga sudah bersekongkol dengan mereka lalu siapa yang akan menolong kita Li? Gak akan ada malaikat penolong seperti yang loe bilang tadi Li" ucap Mona membuat Rangga yang mendengar kata-katanya langsung terdiam seakan mencerna sesuatu.


Deg


Jantung Rangga berdegup kencang rasanya saat mendengar ucapan Mona " Apa tadi Mona bilang malaikat penolong? jadi Lia mengatakan kalau gue ini akan menjadi malaikat penolong Mereka" batin Rangga berperang dengan suasana.


" Sayang, kenapa kamu diam saja sih, apa kamu tidak menikmati kebersamaan kita ini?" tanya Putri


Rangga menoleh lalu tersenyum tapi senyum yang dipaksakan.


" Dia akan tahu sudah berani berhadapan dengan siapa, meskipun nanti keluarga mereka mengamuk gue gak akan takut, setidaknya gue sudah puas membuat mereka hancur bersama-sama" ucap Rara penuh dendam.


" Pengawal cepat kita mulai permainan ini, bawa mereka ke tempat yang lebih luas agar mereka satu persatu bisa melihat aksi kehebatan kalian saat menikmatinya!" titah Rara.


Jika bertanya mengapa Rara bisa memiliki orang-orang bertubuh kekar dan berotot disampingnya sementara keluarganya saja sudah bangkrut bahkan mengusir dia dari rumah jawabannya cuma satu dia membayar bos para preman tersebut bukan dengan uang melainkan dengan pelayanannya yang cukup memuaskan untuk bos mereka.


para pria berbaju hitam dan berotot besar membawa Lia dan teman-temannya ke ruangan yang lebih terbuka.


Tangan mereka semua sudah terikat, Rara menatap penuh kemenangan ke arah mereka.


" Akhirnya yang ditunggu-tunggu akan segera tiba, kalian nikmatilah malam ini bersama mereka, jadikanlah ini kenangan yang tidak akan terlupakan oleh kalian. Nikmatilah setiap sentuhan mereka, hahaha!" Rara tertawa jahat

__ADS_1


" Dasar iblis!" maki Lia penuh api amarah


" Jika berani lepasin gue, biar gue abisin loe semua!" ancam Lia membuat Rara dan putri semakin tertawa puas.


" Ngelepasin loe, jangan mimpi!" sarkas Rara


" Loe kira gue bodoh, gue gak akan membiarkan loe lolos dan kali ini loe yang akan menjadi orang pertama yang akan mereka nikmati!" ucap Rara membuat Lia yang tadinya berani sekarang sedikit menciut pasalnya dia tidak bisa berbuat apa-apa karena dengan keadaannya yang tengah terikat.


Didalam hati Lia terus berdoa memanggil nama Azka kakaknya dan juga Mario.


" Io jika loe beneran datang nolongin gue, gue janji io gue akan jujur sama perasaan gue ke elo" batin Lia yang kini tengah memejamkan mata.


" Cepat lakukan!" perintah Rara dan para preman tersebut perlahan menghampiri Lia.


Mita dan yang lainnya sudah menangis sejadi-jadinya membuat Rara dan putri semakin tertawa penuh kemenangan.


Tubuh Lia sudah gemetar, dia tidak mau terjamah oleh tangan kotor para preman tersebut. Lia memberontak ketika salah satu diantara preman tersebut menyentuhnya.


tapi sayang kekuatan mereka lebih besar sehingga Lia yang dalam keadaan terikat tidak bisa berbuat apa-apa, satu persatu pakaian yang Lia kenakan dibuka paksa.


Mita menjerit begitu juga dengan Mona, Mia dan Indah.


Mia pingsan saat melihat Lia yang sudah hampir te***Jang, sementara Rangga memalingkan wajahnya.


" Kak Rangga tolong Lia kak, dia sayang sama loe kak selama ini tapi kenapa loe tega melakukan ini ke Lia kak?" teriak Mita yang sudah tidak sanggup melihat Lia yang ingin dilecehkan.


" Kak tolong Lia kak!" mohon Mona dengan deraian airmata. namun Rangga seakan tuli dia diam tidak merespon apa-apa. Putri yang melihat Rangga diam saja tersenyum sinis ke arah Mona dan Mita.


" Lepaskan gue, kalau loe berani macam-macam keujung dunia sekalipun pasti gue kejar loe!" ancam Lia yang berusaha terus memberontak.


Rara tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Lia " benarkah, apa loe bisa lolos setelah ini Hem?" ejek Rara.


" Cepat lakukan!" tegas Rara.


satu persatu tangan kekar dan berotot itu sudah menjamahnya, Lia terus memberontak, bahkan sempat menggigit tangan dan bibir preman tersebut yang sudah berani menyentuhnya.


Salah satu preman berdiri tepat dihadapan Lia dengan posisi yang sudah siap ingin melakukan hal inti terhadap tubuh Lia, tubuh Lia seketika menegang airmatanya mengalir deras. " Jang .. jangan lakukan itu, gue mohon. jangan!" ucap Lia ditengah ketakutannya.


Rara semakin tertawa puas melihat wajah Lia yang ketakutan.


pria tersebut sudah memposisikan siap memberikan hujamannya Lia terus memberontak takut mahkota yang selama ini dijaganya dengan baik direbut paksa begitu saja.


" Tidak.... jangan lakukan itu...!" Lia terus menggelengkan kepalanya dan ketika preman tersebut ingin memaksa memasukinya tiba-tiba preman tersebut malah tersungkur dan jatuh menimpa tubuh Lia.


Lia membulatkan matanya saat pria tersebut menindihnya dan wajahnya disebelah wajahnya.


Teman para preman tersebut memeriksa keadaan temannya yang malah diam saja saat tubuhnya diangkat ternyata preman tersebut sudah tidak sadarkan diri.


Rara dan putri dan para preman tersebut terkejut dan mereka melihat keadaan sekitar tapi sepertinya tidak ada tanda-tanda penyusup masuk. mereka berpikir jika preman tersebut mungkin mabuk.


Sedetik kemudian mereka ingin melakukannya kembali namun belum menyentuh Lia semua preman tumbang satu persatu. Rara dan putri panik sementara Lia merasa lega tapi juga bingung begitu pula dengan Mita, Mona dan Indah karena Mia masih dalam keadaan pingsan.


Rangga menoleh ke arah Lia melihat tubuh Lia membuat jiwa kelaki-lakinya muncul, Rangga ingin menghampiri Lia namun langkahnya terhenti saat benda kecil seperti jarum menancap di lengannya.


Tubuh Rangga seketika melemas dan tatapan matanya tidak berpaling dari Lia. Putri yang melihat Rangga perlahan memberingsut ke lantai nampak panik.


Rara dan beberapa preman yang tersisa mencari sumber kejanggalannya dan terlihatlah oleh mereka pria dengan pakaian serba hitam dengan penutup wajahnya bersembunyi di balik dinding.


Para preman tersebut langsung menghampiri laki-laki tersebut dan baku hantampun tidak terelakkan.


" Sial lagi-lagi gagal awas saja kalian!" geram Rara


Pada saat pria yang tidak lain adalah Mario tengah baku hantam bahkan salah satu diantara mereka sempat melukai lengan Mario pada saat yang sama Azka dan pasukannya datang menerobos masuk.


Azka membantu Mario yang hampir saja tertusuk oleh salah satu preman tersebut. Azka yang dibantu Sendy dan pasukannya bertarung melawan para preman suruhan Rara dan putri. Sendy berhasil mengamankan dalang dari penculikan tersebut yang tidak lain adalah Rara dan putri.


Mario yang melihat tubuh Lia dalam keadaan sangat memperihatinkan langsung menghampiri Lia, membuka ikatannya dan langsung membuka jubah hitam yang dikenakannya ke tubuh Lia.


Lia yang mencium aroma parfum Mario dari tubuh pria yang menolongnya langsung saja berhambur memeluknya dengan isak tangisnya yang semakin pecah. Mario perlahan tangannya membalas pelukan Lia dan mencium mengusap lembut pucuk kepala Lia berusaha menenangkannya dan tanpa banyak bicara Mario langsung mengangkat tubuh Lia dan membawanya pergi.

__ADS_1


Sementara para sahabat Lia masih tercengang dengan apa yang dilihat di depan matanya.


" Malaikat penolong?" gumam mereka bersamaan.


__ADS_2