
Sendy kembali ke kantor dengan wajah memberengut, pasalnya ia tidak mengetahui perihal pernikahan bos alias sahabatnya itu dan dengan seenaknya menyerahkan urusan kantor kepadanya sementara di rumah bosnya ternyata lagi bucin-bucinnya dengan sang isteri.
Sendy terpaksa datang ke kediaman Keluarga DINATA Karena ada file penting yang harus ditandatangani langsung oleh Azka.
Azka memang jarang sekali pergi ke kantor. Ia hanya akan datang bila ada hal penting saja. Azka akan datang ke kantor hanya mewakili papanya. Azka lebih tertarik profesinya sebagai guru, selain itu memang cita-citanya sewaktu kecil, Azka juga bisa menjaga dan mengawasi isterinya di sekolah.
Keterkejutan Sendy hari ini benar-benar membuatnya merasa sangat kesal dan kecewa dengan Azka. pantas akhir-akhir ini dia merasa ada yang aneh dengan bos sekaligus sahabatnya itu.
Flashback on
"Mel kalau kakak gagal memberi kamu keponakan salahkan saja dia ya!" ucap Azka menimpali. sementara Sendy yang mendengar ucapan Azka membulatkan matanya menatap Azka.
" Keponakan, Maksud loe apa Ka, jangan g*la kalian?" tanya Sendy membuat Azka tertawa dan Lia menghela napas panjang.
" Kak, kalian bicara saja lah berdua, aku mau balik ke teman-teman aku dulu!" ucap Lia yang malas ikut campur dengan urusan orang dewasa menurutnya.
" Ya sudah sana pergi, hus.. hus...!" Sendy mengibaskan tangannya ke udara mengusir Lia.
" Kak Sendy apaan sih, emangnya aku ini anak ayam huhhh?" Lia mengerucutkan bibirnya dan bertolak pinggang.
" Iya, kamu itu anak ayam yang menunggu dimangsa musang kalau tidak juga pergi!" goda Sendy ingin menerkam dan berhasil membuat Lia kabur.
Setelah Lia pergi Azka mengajak Sendy ke taman belakang, Azka menceritakan semuanya kepada Sendy dan tidak luput dengan kejadian hari ini yang sudah membuat isteri kecilnya itu sedikit terguncang.
Sendy hanya menggut-manggut mendengarkan cerita Azka, meskipun ada rasa kecewa sebagai sahabat tapi Sendy turut bahagia karena sahabatnya kini sudah mempunyai isteri walaupun isterinya itu terbilang masih kanak-kanak.
" Jadi alasan loe kemarin ingin cepat pulang dari negara tetangga itu karena isteri loe?" tanya Sendy yang diangguki Azka pelan.
" Segitu bucinnya loe sekarang sama isteri loe yang masih ABG itu dan alasan loe ninggalin Kelin juga karena isteri loe?" tanya Sendy lagi.
" Dari dulu bukannya loe tahu kalau gue sama Kelin itu gak cinta-cinta amat, dia aja yang selalu ngejar-ngejar gue." terang Azka yang berjalan menuju bangku kayu yang ada ditaman tersebut.
" Apa Kelin tahu hal ini, tentang pernikahan loe?" tanya Sendy yang ikut duduk di sebelah Azka.
" Loe aja sebagai sekretaris pribadi gue plus sahabat gue aja gak tahu, bagaimana mungkin gue bilang sama dia alasan gue putusin karena gue udah nikah, yang ada nanti dia sebar berita ini ke media dan bisa-bisa pihak sekolah tahu membahayakan sekolah Za nantinya." sahut Azka yang tidak ingin membuat isteri kecilnya itu bersedih lagi.
__ADS_1
" Iya juga sih!" Sendy manggut-manggut.
" Terus mau ngapain loe kesini?" tanya Azka yang teringat tentang kejadian tadi di kamar.
" Ah ... sial gue hampir lupa tujuan utama gue datang kesini" umpat Sendy pada dirinya sendiri. " Gue kesini itu karena ponsel loe gak aktif dan ada file penting yang harus loe tanda tangani. terpaksa gue kesini, gue kira loe itu sakit taunya lagi mau bikin adonan. sial... sial.. sial... mata gue ternodai!" tutur Sendy mendramatisir.
" Iya loe ganggu gue bikin adonan, gagal deh sekarang" kesal Azka
" Sudah, mana file yang harus gue tanda tangani sekarang?" tanya Azka yang tidak ingin Sendy berlama-lama di rumahnya.
" Sabar bos!" sahut Sendy lalu mengeluarkan file yang dibawanya.
" Ini!" Sendy menyerahkan filenya kepada Azka.
Setelah Azka memeriksa dan membaca isi file tersebut Azka langsung membubuhinya dengan tanda tangannya.
" Sudah gue tanda tangani, sekarang sebaiknya loe pergi deh sana balik kantor!" titah Azka
" Loe ngusir gue ? parah loe Ka muntang-muntang sudah punya isteri!" Ucap Sendy pura-pura sedih.
" Si*lan loe !" umpat Sendy. " Nikah juga tujuannya sama ajakan buat kawin-kawin juga" lanjutnya lagi.
" Beda rasanya kawin sesudah nikah sama sebelum nikah, pasti lebih indah sesudah nikah. ahh .. loe mah gak bakal paham kalau gak ngerasain sendiri!" ucap Azka lalu beranjak dari duduknya.
" Lah loe kemana bos?" tanya Sendy saat Azka bangun dari duduknya dan beranjak pergi.
" Gue mau lanjut bikin adonan, jadi jangan ganggu gue lagi mending balik gih sana ke kantor!" usir Azka secara halus berlalu pergi
" Woyyy, ingat bini loe masih sekolah!" teriak Sendy
Azka tidak menghiraukan teriakan Sendy, ia terus melangkah masuk ke dalam bergegas menuju kamarnya.
Setelah mendapat tanda tangan Azka Sendy pun langsung pulang dengan wajah memberengut, pasalnya lagi-lagi dia yang harus mengurus urusan kantor dan dengan seenaknya Azka bersantai dan bermesraan dengan isterinya di rumah.
Flashback off
__ADS_1
*
*
*
Azka berjalan menuju kamarnya saat menaiki anak tangga ia berpapasan dengan Zaira yang hendak turun mengambil air minum.
" Sayang kamu mau kemana?" tanya Azka membuat langkah Zaira terhenti.
" Mau mengambil air minum mas, kosong!" Zaira menunjukkan teko yang dipegangnya ke Azka.
" Biar mas saja yang ambil air minumnya!" Azka mengambil teko yang di pegang Zaira.
" Gak usah mas aku saja!" Zaira hendak mengambil kembali tekonya namun Azka melarangnya.
" Sudah kamu kembali saja sana ke kamar!" Azka mendorong bahu Zaira pelan menyuruhnya kembali ke kamar.
Azka pergi ke dapur untuk mengambil air minum setelah itu kembali lagi ke kamarnya.
Sampai di dalam kamar Azka dikejutkan dengan keadaan Zaira yang tengah menangis sesenggukan.
Melihat sang isteri menangis Azka dengan cepat melangkah menghampirinya dan meletakkan air minum yang dibawanya ke atas nakas.
" Sayang, kamu kenapa menangis?" tanya Azka cemas namun bukannya menjawab pertanyaan Azka, Zaira malah semakin terisak membuat Azka kebingungan dan tanpa banyak tanya lagi Azka langsung membawa Zaira ke dalam pelukannya. Mengusap punggung Zaira dengan lembut dan membiarkannya menangis sampai merasa lebih tenang.
Setelah sekian lama Zaira menangis dan sudah merasa lebih tenang, Azka sedikit mengurai pelukannya dan menghapus air mata Zaira yang masih mengalir dengan ibu jarinya.
" Sudah lebih tenang?" tanya Azka lembut dan Zaira mengangguk Pelan.
" Sekarang cerita ada apa sebenarnya, kenapa kamu menangis?" tanya Azka sambil mengusap kepala Zaira.
" Li.. Lia baru saja menelpon, ka.. katanya Mit.. Mita kecelakaan" jawab Zaira dengan terbata dan air matanya kembali menetes.
Azka tak kuasa melihat Zaira kembali menangis, ia turut merasakan kesedihan yang kini tengah Zaira rasakan. Azka merengkuh tubuh Zaira kedalam pelukannya.
__ADS_1