
Pagi ini Lia tengah bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah setelah ada drama sedikit oleh sang suami yang bersikap bermalas-malasan di atas tempat tidur akibat semalam yang meminta haknya namun kejutan lagi-lagi datang tidak terduga untuk yang kesekian kalinya, Mario dengan terpaksa harus menelan pil pahit tatkala sang isteri ternyata kedatangan tamu tak diundang.
" Io, ayok cepat kita sudah hampir kesiangan loh!" ucap Lia membujuk Mario yang masih bersikap malas.
" Iya... iya..!" Mario bergegas pergi ke kamar mandi.
Setelah selesai dengan ritual mandinya dan sudah rapih dengan seragam sekolahnya Mario menghampiri Lia yang tengah menunggunya sedari tadi di sofa yang ada di dalam kamarnya.
" Ayok berangkat!" ajak Mario
Lia mendongak dan tersenyum menatap sang suami yang masih memasang mood jeleknya.
" Sudah jangan memberengut gitu, kita masih punya banyak waktu sayang." goda Lia melingkarkan tangannya di lengan Mario
" Berapa lama?" tanya Mario
" Apanya?" tanya Lia yang pura-pura tidak mengerti
" Ya itunya!" ucap Mario yang sedikit malu
" Itunya apa?" tanya Lia lagi dengan menahan tawanya
" Tau ah" kesal Mario
" Paling lama seminggu" sahut Lia yang tahu kini suaminya tengah kesal
" Seminggu ? yang benar saja, lama banget" Mario mendengus kesal.
" Kenapa kamu sekarang jadi gak sabaran gitu sih, jadi mesum tau gak" kesal Lia yang melihat perubahan Mario yang sekarang.
" Ya jelas dong sayang waktu pacaran aku tuh berusaha untuk selalu menahannya masa setelah halal aku tetap harus menahannya sih sayang" ucap Mario jujur
" Iya aku paham, tapi gak segitunya juga kali yang kita itu kan masih berstatus pelajar jadi walaupun kita sudah halal tetap harus bisa menjaga diri kita dengan baik dong yang, kalau toh nantinya kebablasan juga dan ujung-ujungnya aku hamil itu namanya bonus tersendiri. jangan terlalu terburu-buru dong sayang" ucap Lia sambil tersenyum manis.
Mario menghela napasnya kasar " Iya aku mengerti, maafkan aku sayang!"
" Gak usah minta maaf , kita ini baru melangkah mari kita melangkah bersama-sama" Lia mengulurkan tangannya dan dengan tersenyum tampannya Mario pun meraih uluran tangan Lia.
mereka pun menuruni anak tangga dengan tangan yang saling bergandengan.
" Cie... cie pengantin baru gandengan aja , kalah tuh truk gandeng!" goda Zaira saat melihat Lia dan Mario berjalan menuju meja makan sambil tangan yang saling bertautan.
" Sudah gak usah godain orang terus, kamu juga paling senang kan kalau digandeng mas?" ucap Azka menimpali ucapan Zaira
" Truk gandeng kali ah aku mas" sahut Zaira
" Kalian sudah mau masuk sekolah?" tanya papa Sam
" Iya pah sebentar lagi akan ada ujian jadi gak enak kalau kebanyakan libur" sahut Mario
dan papa Sam hanya manggut-manggut
" Kamu gak ikut homeschooling aja Mel, temani Za?" tanya mama Maria
" Nanti saja mah kalau sudah menyusul Za disini sudah ada dedek bayi baru homeschooling" sahut Lia membuat Mario menjadi salah tingkah mendengar ucapan Lia yang membahas tentang bayi.
" Memangnya kamu sudah siap?" tanya papa Sam
" Sudah dong pa, siap gak siap ya harus siap kalau sudah punya suami sih. benarkan sayang?" sahut Lia lalu meminta pendapat kepada Mario dan tentu saja Mario sudah memerah wajahnya menahan malu di hadapan kedua mertuanya.
Mario hanya tersenyum tipis mengiyakan ucapan Lia dengan wajah yang sudah memerah menahan malu.
" Sepertinya adikku yang begitu antusias nih ingin cepat-cepat memiliki momongan!" goda Azka membuat Lia mendelik tajam ke arah sang kakak.
__ADS_1
" Siapa bilang, kita itu tidak terburu-buru ingin memiliki momongan biarkan berjalan begitu saja kak, anggap saja berpacaran setelah halal kalau nanti khilaf dan sampai hamil itu namanya bonus tersendiri kak" sahut Lia santai
" Kamu ini ada-ada aja Li, hamil kok dibilang bonus" Zaira geleng-geleng kepala.
Dan yang lain pun ikut tertawa mendengar ocehan receh dari seorang Meliani.
...☄️☄️☄️☄️...
Lia saat ini sudah berada di dalam kelas, Mia, Mona, Mita dan Indah dengan antusias menyambut kedatangan temannya yang satu itu.
" Liaaaaa!" teriak Mia dan Indah nampak heboh.
"Apa-apaan sih kalian, sudah kayak gak ketemu gue seabad aja sih!" runtuk Lia membuat sahabat-sahabatnya itu tergelak.
" Ya gue itukan cuma pingin dengar cerita yang waw gitu!" ucap Indah terus terang.
" Iya, penasaran gue juga seorang Lia dibobol gawangnya" ucap Mona ikut menimpali.
" Wah parah loe pada , masa nungguin gue cuma karena pingin dengar cerita gue main bola doang" ucap Lia mendengus kesal.
" Ya kita juga butuh referensi sebelum mencobanya" ucap Indah yang langsung mendapat toyoran dari Mia dan Lia.
"Parah ini anak otaknya, mending pulang gih sana terus minta kawinin sana sama Dion" ucap Mia
" Nikah dulu woy baru kawin" protes Lia
" Lah orang ini anak udah mau dikawinin bukan dinikahin dia mah" celetuk Mia.
" Ya gak gitu juga kali Mia, kalau gue bisa tahan ya nikah dulu lah baru kawin tapi kalau udah gak tahan mah neng rela bang dikawini dulu dah" ucap indah membuat Mia dan yang lainnya melotot mendengar ocehan Indah yang gak banget menurut mereka.
" Loe udah gila ya?" ucap Mia menoyor kepala Indah
" Gak waras ini anak!" lanjut Mona
" Geser kayaknya tuh otak!" ucap Lia
" Becanda kali gaes, serius banget sih!" ucap indah sambil memegang kepalanya.
" Sudah ah jangan bahas indah lagi. gue masih penasaran nih sama loe Li!" ucap Mia menaik turunkan alisnya.
" Penasaran apaan sih?" tanya Lia pura-pura tidak paham
" Ya itu yang tadi" ucap Mia
" Yang tadi apa?" tanya Lia lagi menahan tawanya.
" Apalagi sih Lia kalau bukan malam pertam_" belum selesai bicara mulut Indah langsung di bungkam oleh Lia.
" Jangan bahas yang aneh-aneh deh, ini tuh disekolah" ucap Lia seraya melepaskan tangannya.
" Yang bilang ini di pasar itu siapa?" tanya Mona
" Ya kalian lagi bahas hal kayak gitu disini, gak lucu tau" kesal Lia
" Yang bilang lucu siapa?" kali ini Indah yang bertanya.
" Tau ah ngomong sama kalian mah gak ada kelarnya" ucap Lia yang pandangannya beralih pada Mita yang sikapnya sedikit pendiam.
Lia menunjuk ke arah Mita dengan ekor matanya seakan bertanya kenapa? tapi semuanya hanya menggidikan bahunya.
" Mona?" tanya Lia dengan alisnya yang terangkat dan Mona hanya menggelengkan kepalanya.
" Mita loe kenapa?" tanya Lia yang membuat Mita seketika terperanjat dari lamunannya.
__ADS_1
" kenapa?" ucap Mita yang malah balik bertanya dengan raut wajah yang nampak bingung
" Loe yang kenapa Mita Paramita?" tanya Lia yang sudah duduk di samping Mita.
" Gue gak Kenapa-napa" ucap Mita sedikit mengelak dan melemparkan pandangannya ke arah lain menghindari tatapan Lia.
" Loe jangan bohong Mit, mulut loe bisa bilang gak Kenapa-napa tapi muka loe bilang ada sesuatu yang loe sedang tutup-tutupi" ucap Lia
Deg
Mita memutar bola matanya mencari alasan yang dapat Lia percaya walaupun sebenarnya dia yakin Lia tidak semudah itu bisa dibohongi.
" Gue beneran gak Kenapa-napa kok, gue cuma sedang memikirkan tentang bokap gue, iya bokap gue yang tinggal bersama mas Ariel" ucap Mita berdo'a semoga Lia percaya.
" Oiya bokap loe sekarang tinggal dengan dokter Ariel ya Mita?" tanya Indah yang ikut nimbrung
" I.. Iya" ucap Mita yang tertangkap oleh pengamatan Lia Mita nampak sedikit gugup.
" Bagaimana kabar bokap loe Mit?" tanya Lia yang berusaha untuk mengalihkan perhatian Mita yang dia yakin Mita sedang berdalih.
" Bokap gue dia baik-baik aja, gue juga sudah lama gak bertemu dengannya" ucap Mita
" Kenapa?" tanya Lia seakan tengah menyelidiki sesuatu.
" Gak Kenapa-napa, gue sedikit sibuk aja!" ucap Mita yang menurut kacamata penglihatan Lia, Mita nampak sedikit gugup dan salah tingkah.
Dreettt.....
Dreettt.....
Ponsel Mita tiba-tiba berbunyi dan sekilas Lia melihat nama dokter Ariel yang tertera di layar ponsel Mita. Merasa enggan untuk menerima telepon dari dokter Ariel Mita berkali-kali mengabaikan sambungan telepon tersebut.
" Kenapa gak diangkat Mit telponnya?" tanya Mia yang kali ini bertanya kepada Mita sementara Lia masih terus memperhatikan gerak gerik Mita yang menurut Lia sedikit berbeda.
" Oh ini telpon gak penting, cuma orang iseng doang" ucap Mita berbohong dan jelas saja Lia menaikkan satu alisnya merasa ada yang aneh dengan Mita.
" Orang iseng? hari gini masih ada aja orang iseng ya?" ucap Lia membuat Mita tersenyum hambar.
" I.. iya, telpon iseng gue udah matiin tetap aja ngeyel nelponin terus" sahut Mita.
" Ini anak kenapa sih jelas-jelas dokter Ariel yang nelpon kenapa dia bilang orang iseng sih, ini pasti ada yang gak beres" batin Lia
" Oiya, bagaimana kabar dokter Ariel Mit?" tanya Lia membuat Mita terlihat jelas enggan membahas nama yang disebutkan oleh Lia bahkan malah memilih diam dan sedetik kemudian.
" Aduh,. gue mau ke toilet dulu ya panggilan alam nih" ucap Mita yang tiba-tiba beranjak dari duduknya dan langsung pergi begitu saja.
" Dasar si Mita," ucap Mia geleng-geleng kepala melihat Mita yang langsung ngacir ke toilet.
" Gue juga mau ke toilet dulu ya!" ucap Lia seraya beranjak dari duduknya.
" iya, jangan lupa Li yang bersih!" goda Mia
" Si**an loe!" ucap Lia memanyunkan bibirnya.
Lia langsung berjalan dengan cepat mengikuti langkah Mita dari belakang dan dugaannya benar Mita bukan pergi ke toilet tapi pergi ke belakang sekolah.
Mita duduk di bangku yang ada belakang sokalah tersebut tepatnya di bawah pohon mangga, wajah Mita tertunduk dan lama-kelamaan tubuhnya sedikit bergetar. Lia yang melihat Mita merasa ikut sedih perlahan Lia melangkahkan kakinya mendekat ke arah Mita.
Lia duduk di samping Mita membuat Mita tersentak kaget lalu menoleh ke sampingnya melihat siapa yang duduk di sebelahnya.
" Li.. Lia!" ucap Mita lirih
Lia tersenyum tipis dan menepuk bahu Mita pelan seakan mengatakan semua pasti akan baik-baik saja.
__ADS_1