Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Ragu


__ADS_3

Di bangku belakang sekolah kini Mita dan Lia tengah duduk bersama. ada perasaan tidak enak di hati Mita karena ketahuan berbohong kepada sahabatnya itu.


" Maaf" ucap Mita lirih


" Gak usah sungkan sama gue, loe kayak sama siapa aja sih!" Lia tertawa kecil.


" Gu.. gue..!" ucap Mita sedikit gugup


" Gak usah cerita kalau loe memang belum siap untuk bercerita, gue gak akan memaksa loe untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi sama loe tapi yang gue mau bilang gue siap kapanpun untuk menjadi sandaran loe jika loe butuh kehadiran gue" ucap Lia sambil tersenyum tipis dan Mita mengangguk.


Hening


Kedua pandangan gadis itu menatap lurus ke depan tanpa ada pembicaraan, hanya hembusan angin yang menerpa wajah keduanya.


" Gu... Gue bingung Li harus bagaimana?" ucap Mita tiba-tiba membuat Lia menoleh ke arahnya.


" Bingung?" tanya Lia memperjelas dan Mita mengangguk pelan.


" Bingung kenapa?" tanya Lia yang sudah menggeser duduknya menghadap ke arah Mita.


" Gue gak tahu harus bersikap bagaimana dengan mas Ariel Li, gue jadi merasa ragu dengan perasaan gue sendiri" ucap Mita membuat Lia mengerutkan keningnya.


" Maksud loe bagaimana Mit? jujur gue gak ngerti"


" Gue meragukan mas Ariel Li, terutama tentang kehidupannya"


" Maksudnya?"


" Dulu yang gue tahu mas Ariel adalah kakak angkat Za, mereka dibesarkan bersama bahkan memiliki perasaan yang sama"


" Jadi loe masih cemburu dengan Za?" tanya Lia


Mita menggeleng " Bukan tentang Za Li, tapi kehidupan mas Ariel setelah pergi dari kehidupan keluarga Za" ucap Mita menjelaskan


" Kehidupan setelah berpisah dari keluarga Za, maksud loe bagaimana ya Mita?" tanya Lia yang sedikit berpikir dan lagi-lagi Mita mengangguk Pelan.


" Apa loe tahu tentang kehidupan dokter Ariel setelah itu?" tanya Lia yang jadi penasaran


" Gue gak yakin dan gue juga gak tau pasti soal itu"


" Maksud loe? "


" Ada seseorang yang mengirimkan ini ke gue disaat malam lamaran" ucap Mita memberikan ponselnya kepada Lia.


Lia sontak terkejut dengan apa yang dilihatnya di layar ponsel Mita. " Ini?" Lia menggelengkan kepalanya.


" Apa pendapat loe setelah melihat foto itu?" tanya Mita menunggu jawaban Lia


"Gue juga bingung Mit, jika gue percaya begitu aja sama saja gue menelan pil pahit mentah-mentah tanpa menyaringnya terlebih dahulu dan untuk tidak percaya juga di foto ini jelas terlihat begitu natural dan bahagia" tutur Lia menjelaskan apa yang dilihatnya.


" Tapi Mita loe sebaiknya jangan mudah percaya dengan apa yang loe lihat deh loe bisa tanyakan tentang foto ini kepada dokter Ariel nya langsung.!" ucap Lia memberi pendapat.


" Gue gak tau harus memulainya dari mana Li, gue takut dia marah"


" Ya terus loe mau diam aja gitu? loe menyimpulkan sendiri segala pikiran di otak loe terus loe membentengi diri loe dari sahabat-sahabat loe dan menangis sendirian seperti tadi, begitu?" ucap Lia yang sedikit kesal.


" Ya terus gue harus bagaimana Li?" tanya Mita nampak frustrasi"


" Ya bagaimanapun juga dokter Ariel harus tau soal ini Mit, loe gak bisa menutupi ini semua dari dokter Ariel. baik dan buruknya resiko yang akan loe hadapi setidaknya loe bisa menghadapinya sekarang sebelum loe benar-benar menjadi isterinya" ucap Lia menasehati.


" Mita, loe itu sahabat baik gue bahkan sudah gue anggap seperti saudara sendiri. apapun yang terjadi loe harus bisa menghadapinya karena loe gak sendiri ada gue, Za dan juga yang lainnya. kita semua ada buat loe Mita!" ucap Lia seraya tersenyum memberi kekuatan untuk Sahabatnya itu.


" Iya Li gue akan berusaha untuk bertanya kepada mas Ariel!" ucap Mita dengan perasaan yang sedikit ragu


" Loe gak usah khawatir Mita, loe itu gak sendiri . tanya baik-baik kepada dokter Ariel dan minta penjelasannya. loe harus kuat Mita jangan pernah merasa sendiri oke!" Lia menarik Mita ke dalam pelukannya.


" Terima kasih ya Li!" ucap Mita membalas pelukan Lia.


" Sama-sama" sahut Lia tersenyum.


" Yaudah yuk balik kelas!" ajak Lia


" Loe aja deh Li, gue lagi pingin disini dulu" ucap Mita menolak ajakan Lia


" Yaudah gue temenin" ucap Lia yang kembali duduk


" Gak usah Li, gak apa-apa gue sendiri aja" ucap Mita lagi yang tidak ingin Sahabatnya bolos karena ulahnya.


" Loe tenang aja, gue akan temenin loe disini. gak mungkin gue ninggalin loe sendirian di tempat yang sepi kayak gini" ucap Lia melihat ke arah sekeliling.


" Iya terserah loe aja Li" Mita pasrah.


" Begitu dong" Lia tertawa kecil


" lain kali kalau sedang ada masalah sebaiknya loe bicarakan dengan baik-baik, ya loe bisa bicara langsung dengan dokter Ariel atau sama gue juga boleh bisa juga dengan yang lainnya" ucap Lia mengingatkan.


" Iya... iya!" Mita tersenyum meskipun sedikit dipaksakan.


" Ketika kita menjalani hubungan, baik ketika masih pacaran atau pun setelah menikah alangkah baiknya setiap kita sedang diuji dengan sebuah masalah kita mencari tau dulu kebenarannya baru mengambil keputusan setelah itu. jangan mengambil kesimpulan sendiri tanpa kita tahu fakta yang ada. karena bisa jadi itu akan menimbulkan sebuah kesalahpahaman yang berakibat fatal dan menyisakan penyesalan yang mendalam." tutur Lia


" Gue pernah bahkan sering bertindak gegabah dan selalu melakukan sesuatu tanpa pikir panjang dan tanpa mencari tau kebenarannya alhasil apa? yang ada hanya sebuah kesalahpahaman yang hampir saja membuat hubungan gue sama Mario hampir kandas, dan untungnya Mario selalu bersikap bijak dan tidak pernah mengambil keputusan secara mendadak. dia pasti akan mencari tahu dulu kebenarannya dan memberikan penjelasan jika terjadi sebuah kesalahpahaman. tidak main ambil keputusan tanpa tahu kebenarannya." lanjut Lia berbicara panjang lebar.


" Iya Li gue juga akan mencari tahu kebenarannya" ucap Mita seraya tersenyum.


...Bel pulang sekolah...

__ADS_1


Mita sudah pulang lebih dulu setelah dokter Ariel menyempatkan diri untuk menjemputnya, sementara Indah pulang bersama Dion.


Mona yang sempat melihat dokter Ariel menjemput Mita sedikit merasa tersentil hatinya namun seketika ia tepis sendiri sadar akan posisinya.


Sementara Mia pulang bersama Yoga karena Mona yang diajak pulang bareng lagi-lagi menolaknya dengan berbagai alasan.


" Mona loe belum pulang?" tanya Lia yang melihat Mona masih ada di parkiran mobil.


" Gue masih ada urusan" jawab Mona dan Lia hanya mengangguk pelan.


" Loe sendiri kok belum pulang, Mario mana?" tanya Mona.


" Masih di dalam, katanya sih ada rapat OSIS karena sekarang dia yang ditunjuk sementara untuk menggantikan Irfan" sahut Lia.


" Oh gitu, yaudah gue duluan ya!" ucap Mona seraya berjalan ke arah mobilnya.


" Urusan loe udah selesai?" tanya Lia


" Udah" sahut Mona sambil berjalan ke arah mobilnya setelah itu masuk ke dalam mobilnya.


Mario setengah berlari menghampiri Lia " Maaf menunggu lama ya?" tanya Mario setelah berada di depan Lia.


" Gak juga, ya lumayanlah buat cuci mata sih" sahut Lia sedikit jahil


" Maksudnya?" tanya Mario penasaran.


" Gak ada maksud apa-apa, ayok buruan pulang!" pinta Lia menarik tangan Mario


" Awas aja kalau keganjenan!" ancam Mario.


" Apaan sih, siapa juga yang ganjen" kesal Lia yang memberengut.


" Ya kamu itu tadi!" ucap Mario yang juga kesal dengan sikap Lia


" Aish, Suamiku kenapa jadi pencemburu seperti ini sih" ucap Lia menepuk jidatnya sendiri.


Awalnya hanya ingin menjahili suaminya eh malah jadi marah beneran.


" Sudah ya sayang, ayok kita pulang" ucap Lia membuat Mario tersenyum sendiri.


kedekatan antara Mario dan Lia apalagi keduanya nampak romantis membuat para siswa dan siswi lainnya nampak iri melihat keromantisan mereka apalagi setahu mereka Mario itu tipe orang yang dingin, angkuh dan cuek. Mario tidak pernah memperlakukan wanita yang berstatus pacarnya dengan baik, ia juga jarang bicara hanya status pacar semata tapi tidak pernah ada yang spesial di hati Mario selain Lia seorang tentunya.


Seperti biasa Mario selalu memasangkan helm ke kepala Lia dan semua itu luput dari perhatian para siswi lainnya ada yang berteriak histeris, ada yang cuek ada yang baper ada juga yang merasa iri dan mengumpat.


Tidak ada yang tahu perihal hubungan mereka selain sahabat-sahabatnya. dan Lia kini merasa beruntung karena sudah menjadi orang yang spesial di hidup Mario diantara para cewek-cewek yang menggilainya.


Kini Mario dan Lia sudah berada di atas motor dan membelah jalan ibu kota yang cukup padat dan merayap. Beberapa kali Mario menghela napasnya kasar membuat Lia mengerutkan keningnya.


" Sayang kamu kenapa sih, kayaknya kesal gitu?" tanya Lia dari balik punggung Mario.


" Ya udah aku turun disini aja naik taksi online" ucap Lia


" Jangan, aku tidak mau kamu Kenapa-napa turun di jalan dalam keadaan macet seperti ini"


" Ya terus?"


" Kamu harus ikut aku ke kantor"


" Gak mau ah, nanti aku bisa bosan diam aja lihatin kamu kerja"


" Jadi kamu bosan melihat ku?" Lia mendengus kesal karena lagi-lagi Mario selalu sensitif.


" Bukan begitu, mana mungkin aku bosan melihat wajah suamiku yang super tampan ini" ucap Lia menggoda Mario dan tentu saja ucapan Lia mampu membuat Mario menyunggingkan senyumnya tanpa terlihat oleh Lia.


" Sejak kapan isteri ku pandai menggombal?"


" Sejak suamiku baperan" sahut Lia sambil mencubit pinggang Mario kecil membuat Mario tertawa kegelian.


" Jika kamu ikut ke kantor aku pasti tambah semangat kerjanya, mau ya!" pinta Mario dengan suara yang manja


" Iya... iya suamiku..."


" Duh semakin cinta aja nih Abang" ucap Mario sambil tertawa renyah.


" Gombal"


" kok gombal sih yang?"


" iya kamu tuh paling pandai gombal bikin aku baper aja"


" Cie baper, sama suami sendiri baper" ledek Mario membuat Lia tertawa.


" Lucu aja ya yang!" ucap Lia


" Lucu kenapa?" tanya Mario


" Kita masih berseragam putih abu-abu tapi udah berstatus suami isteri" sahut Lia


" Bagus dong yang kalau kita mau ngapa-ngapain sudah halal" ucap Mario


" Memangnya mau ngapain?" tanya Lia pura-pura lugu


" Emmmm... enaknya ngapain ya yang?" tanya Mario dengan tawa jahilnya.


" Enaknya makan bakso ya yang, sudah lama kita loh gak kesana" ucap Lia yang tiba-tiba teringat dengan kedai bakso cintanya.

__ADS_1


" Iya juga sih yang, bagaimana kalau akhir pekan kita ke sananya soalnya beberapa hari kedepan aku mungkin masih disibukkan dengan urusan kantor" ucap Mario yang tanpa terasa dia sudah sampai di depan gedung perkantoran yang menjulang tinggi.


" Sudah sampai?" tanya Lia yang diangguki oleh Mario.


Lia turun dari motornya dan tidak lupa membukakan helm di kepala Lia setelah itu membuka helmnya sendiri.


Mario memberikan kunci motornya kepada salah satu pegawainya yang bertugas berjaga di depan pintu masuk.


Semua karyawan sudah mengetahui perihal tentang Mario yang merupakan putra dari tuan Alexander, Presdir utama Alexander Grup.


Semua menunduk hormat pada saat Mario menapakkan kakinya ke dalam gedung nan megah tersebut.


Dengan langkah tegas Mario melangkah menuju ruangannya dengan tangan yang masih setia menggandeng tangan isteri tercinta yang diduga oleh para karyawan adalah kekasih sang calon CEO PT. Alexander Grup.


" Io aku malu mereka semua menatapku aneh seperti itu!" bisik Lia yang berusaha untuk melepaskan gandengan tangan Mario.


" Sutt.. Biarkan saja mereka menilai dengan pemikiran mereka masing-masing, yang terpenting buatku adalah kau temani suamimu yang butuh asupan energi untuk menghadapi tumpukan berkas yang pasti sudah menungguku diatas meja " ucap Mario sedikit berbisik.


" Baiklah, semangat sayangku!" ucap Lia dengan wajah tersenyum tipis.


" Terima kasih My Lily"


Setelah berada di dalam ruangannya Mario langsung dihadapkan pada pekerjaan yang menumpuk di atas meja dan tidak lama Arta masuk sebelumnya dia sudah mengetuk pintu terlebih dahulu.


" Hai Li!" sapa Arta kepada Lia


" Hai kak!" sapa balik Lia.


" Tumben ikut?" tanya Arta basa basi


" Aku butuh energi tambahan kak, melihat berkas segini banyak aku rasanya sudah mau muntah saja" jawab Mario mewakili Lia.


" Kau ini, ingat meskipun kalian sudah menikah tetap saja status kalian itu masih pelajar. jadi jangan aneh-aneh" nasihat Arta yang usianya 5 tahun lebih tua dari Mario. Arta adalah saudara sepupu Mario ibu Arta adalah adik dari mamanya Mario dan kedua orang tua Arta sudah meninggal sejak Arta berusia 12 tahun dan sejak itu Arta diasuh oleh keluarga Alexander.


" Apa yang aneh sih kak, ditemani isteri kok dibilang aneh!" protes Mario.


" Iya ditemani nya sih gak aneh yang aneh itu permintaan kamu kalau udah lagi berduaan" sahut Arta.


" Cihh, kayak sudah berpengalaman aja?" cibir Mario


" Jelas dong kakak mu ini sudah jauh berpengalaman" sahut Arta


" Jadi kakak sudah menikah?" tanya Lia dengan polosnya


" Menikah? mana mau dia memiliki hubungan yang terikat macam kita ini, ingat kak dosa pacaran tanpa dihalalin mending seperti kita dong meskipun masih pelajar tetapi sudah halal" Mario yang menjawab.


" Kakak hanya merasa belum ada yang cocok saja!" sahut Arta.


" Memangnya tipe cewek yang cocok untuk kak Arta itu seperti apa?" tanya Lia yang langsung mendapat pelototan dari Mario.


" Kamu kenapa tanya-tanya hal itu sih yang?" kesal Mario


" Ya cuma nanya aja, Kenapa sih yang, jangan bilang kalau kamu cemburu sama kak Arta?" selidik Lia


" Kalau iya kenapa?"


" Ya ampun yang kak Arta itu kakak kamu loh"


" Kakak sepupu "


" Iya tahu ta_" ucapan Lia langsung di potong oleh Arta.


" Huss dasar anak kecil pada, masih labil tapi udah nikah gara-gara gitu doang malah pada ribut berisik tau, udah tuh kerjain pekerjaan kamu Rio, kakak balik ke ruangan kakak dulu. nanti sore jam 4 akan ada meeting dengan Dinata Grup" ucap Arta mengingatkan Mario.


" Siap kak" sahut Mario


" Rapat sama kak Azka ya?" tanya Lia


" Iya" sahut Mario.


" Kalau ada yang ingin ditanyakan, datang aja ke ruangan kakak ya!" pinta Arta


" Iya kak, terima kasih kak" ucap Mario


" Sama-sama" Arta keluar dari ruangan Mario


" Sesibuk itu ya?" tanya Lia saat Mario tengah sibuk dengan tumpukan berkas yang ada di atas mejanya.


" Iya sayang, maaf ya!" ucap Mario menoleh sekilas


" Gak apa-apa, aku pesan makanan ya kita kan belum makan siang" usul Lia


" Boleh" ucap Mario


" Kamu mau pesan apa?" tanya Lia


" Apa sajalah!" sahut Mario yang masih fokus dengan berkasnya.


Tidak lama pesanan pun datang, Lia dan Mario menyantap makan siangnya terpaksa di dalam ruang kerja Mario.


Setelah makan siang selesai Mario kembali berkutat dengan pekerjaannya sesekali ia keluar pergi ke ruangan Arta saat ada yang masih belum ia mengerti. Lia hanya geleng-geleng kepala melihat sisi berbeda dari kekasih halalnya itu. Mario nampak jauh terlihat lebih dewasa dan sangat bertanggung jawab dengan beban yang diberikan oleh papanya. ada rasa bangga yang menjalar pada hati Lia senyum pun terus mengembang saat melihat Mario yang sesekali melirik ke arahnya disela kesibukan padatnya.


Mario benar-benar menjadi sosok suami yang begitu di idam-idamkan, meskipun statusnya masih seorang pelajar tapi melihat keseriusan dan kegigihannya menggantikan sang papa dalam mengurus perusahaan menambah points tersendiri terhadap sosok seorang Mario yang dulu terkenal sebagai pembuat masalah dan biang onar.


" Kau memang my Io, malaikat penolong ku" gumam Lia menatap wajah lelah sang suami dengan senyum manisnya.

__ADS_1


__ADS_2