
Mita kini tengah duduk di taman bersama dengan sahabatnya setelah tadi dokter Ariel yang akhirnya memilih untuk mengalah dan pergi.Lia dan Mario pun sudah pergi setelah Mario mengatakan ingin istirahat karena merasa sangat lelah.
Di taman tersebut Mita dan sahabatnya yang tidak lain adalah Mia yang tadi sedang menunggu Yoga membeli minuman namun karena melihat Mita dan dokter Ariel yang nampak terlihat sedang tidak baik-baik saja terpaksa harus menguping pembicaraan mereka.
" Mita gue minta maaf kalau gue terlalu ikut campur dengan hubungan loe dan dokter Ariel. gue cuma gak mau aja kalau dokter Ariel sampai nyakitin loe" ucap Mia yang merasa tidak enak hati
" Gak apa-apa" ucap Mita tersenyum
"Gue khawatir banget karena beberapa hari ini loe itu banyak berubah dan saat tadi gue sempat mendengar tentang dokter Ariel yang belum juga bisa jujur dengan masa lalunya gue jadi emosi. maaf ya Mit kalau gue nguping" ucap Mia
" Iya gak apa-apa Mia, gue justru berterima kasih karena loe udah perhatian sama gue" ucap Mita seraya tersenyum dan tanpa mereka sadari ada seseorang yang sedari tadi tengah mendengarkan pembicaraan mereka dengan perasaan yang sulit untuk di tebak.
" Gue berharap masalah loe dan dokter Ariel cepat selesai ya dan hubungan kalian tetap berjalan baik" ucap Mia
" Entahlah Mi, gue juga gak mau terlalu banyak berharap sekarang. semua terlihat abu-abu jika berharap menjadi salah satu warna hitam ataukah putih rasanya gue belum bisa yakin untuk saat ini."
" Iya gue juga ngerti, loe yang sabar ya Mita. " ucap Mia memberi semangat kepada Mita.
" Iya Mi, makasih!"
" Loe pulang bareng gue aja ya!" usul Mia
" Gak usah Mi, gue pulang sendiri aja" tolak Mita
" Gak loe pulang sama gue dari pada gue gak bisa tidur nantinya gara-gara mikirin loe terus yang lagi galau pulang sendirian" ucap Mia
" Apaan sih loe Mi tenang aja gue gak akan berbuat hal bodoh" sahut Mita
" Ya namanya juga orang kalau lagi galau bisa aja jalan tanpa liat kiri kanan tau-tau nabrak tong sampah kan gak lucu cewek cantik bau sampah" ledek Mia membuat Mita tertawa
" Nah gitu dong ketawa" ucap Mia senang
" bisa aja loe"
"Mia gitu loh"
" Ihh dasar!"
" Udah ah yuk pulang!" ajak Mia
" Ayok deh kalau loe memaksa"
" Dih!"
" Apa?"
" Gak apa-apa"
Mereka terus mengobrol sampai ke tempat Mia memarkirkan mobilnya.
" Mi loe kok bisa ada disini, loe kesini sama siapa?" tanya Mita setelah mereka berada di dalam mobil
" Ya ampun gue lupa" teriak Mia menepuk jidatnya sendiri
" lupa apa?" tanya Mita penasaran
" Yoga" ucap Mia
" Yoga?" tanya Mita memastikan dan Mia mengangguk cepat
" Gue tadi memang janjian ketemu sama Yoga di taman terus dia tadi mau beli minuman, sumpah gue lupa" ucap Mia
" Parah loe" ucap Mita
" Ya namanya juga lupa" sahut Mia sambil cengengesan
" Udah sana telpon!" suruh Mita
" Gue lupa gak bawa ponsel" Mia nyengir
" Kebiasaan, pakai ponsel gue " ucap Mita meraih ponselnya yang ada di dalam tas.
" Yahhh.. Mi sorry, batrenya lowbat" ucap Mita cengir kuda
" Ya sama juga bohong"
" Ya maaf" Mita ketawa
" Yaudah biarin aja deh dia nyariin"
" Wah raja tega ini anak" Mita geleng-geleng kepala
" Ratu dong kan gue cewek!" Mia tertawa
__ADS_1
" Serah deh" Mita memutar bola matanya malas
" Ha..ha.." Mia malah ketawa
" oiya Mi, ngomong-ngomong loe sama Yoga udah jadian ya?" tanya Mita menaik turunkan alisnya
" Ngaco aja deh loe!" ucap Mia
" Kok ngaco?" tanya Mita
" Ya iyalah ngaco, kan loe tahu sendiri kalau Yoga itu cinta banget sama Mona"
" Tapi akhir-akhir ini kalian_?"
" Gue sama Yoga cuma berteman, dia sering curhat tentang Mona. awalnya gue juga malas dengerin dia curhat tapi gue gak tega soalnya sahabatnya kan sekarang tinggal Mario dan loe tahu sendiri Mario sibuknya bukan main sekarang" ucap Mia
" Iya juga sih"
" Yoga itu masih berharap sama Mona cuma gak tau tuh anak sikapnya dingin banget sama Yoga, kasihan tuh anak" Mita manggut-manggut mendengarkan cerita Mia
" Ya mau bagaimana lagi, mungkin itu cara Mona biar gak memberikan Yoga sebuah harapan kosong"
" Iya juga sih" timpal Mia
" Loe sendiri sebenarnya bagaimana, apa loe gak ada rasa gitu sama Yoga?" tanya Mita
" Gue? ya gaklah" elak Mia
" Emm.. masa sih?" selidik Mita
" Iyalah, gue sama Yoga cuma teman gak lebih"
" Iya gue percaya, tapi kalau loe seandainya memang suka sama Yoga loe bisa perjuangkan Mi" saran Mita
" Apaan sih loe, ya enggaklah" Elak Mia
" Ya namanya juga seandainya" ucap Mita
" Terus loe sendiri bagaimana, jika seandainya apa yang loe takuti ternyata benar?" Mia kini balik bertanya membuat Mita nampak sedikit berpikir
" Gue juga gak tau Mi, gue bisa apa enggak menerima kenyataan jika seandainya gue dan mas Ariel memang tidak berjodoh" ucap Mita sendu.
" Gue sih yakin loe bisa Mit, loe itu cewek paling kuat dan tegar diantara kita-kita. loe gak boleh menyerah sebelum dokter Ariel sendiri yang mengatakannya" ucap Mia
" Gue gak tau Mi, apakah gue masih bisa percaya setelah foto itu muncul?" ucap Mita membuat Mia mengerutkan keningnya
" Gue gak bisa kasih tau loe ponsel gue mati" sahut Mita
" Emangnya foto apa?" tanya Mia yang selalu penasaran
" Foto mas Ariel bersama dua anak kecil dan seorang wanita yang tengah hamil. mereka terlihat seperti keluarga bahagia" ucap Mita lirih
" Apa? semacam foto keluarga gitu maksud loe?" tanya Mia yang nampak terkejut
" Ya bisa dibilang semacam itulah" sahut Mita
" Loe dapat foto itu dari mana?" tanya Mia
" Ada yang mengirimkannya dengan nomor tidak dikenal" Mia nampak berpikir
" Apa dokter Ariel sudah tahu soal itu?"
" Iya, tapi gue gak menunjukkan foto itu sama dia gue ingin dia sendiri yang menjelaskan semuanya" Mita nampak membuang napasnya kasar
" Lalu apa rencana loe sekarang?" tanya Mia yang merasa iba terhadap Sahabatnya itu
" Gue ingin sendiri dulu sampai dia benar-benar mengatakan yang sebenarnya"
" Gue setuju itu" ucap Mia
" Kenapa dokter Ariel tidak jujur aja sih?" kesal Mia
" Mungkin dia butuh waktu" jawab Mita
" Butuh waktu untuk apa? mencari alasan begitu?" Mia nampak emosi sendiri
" Ya gue juga enggak tahu, tapi gue akan mempersiapkan pahit dan getirnya kenyataan yang mungkin akan gue terima Mi" Mita tersenyum getir
" Itu namanya dokter Ariel egois Mit, kalau memang dia sudah menikah dan memiliki keluarga buat apa dia memberikan loe janji dan mimpi-mimpi indah, untung saja loe sama dia gak langsung menikah waktu itu" ucap Mia
" Iya, karena foto itu terkirim pada saat hari dimana mas Ariel melamar gue"
" Ya ampun Mit, kalau gue yang berada di posisi loe udah pasti gue tolak hari itu juga Mit" ucap Mia membuat Mita tersenyum hambar
__ADS_1
" Loe itu benar-benar terlalu baik apa bodoh sih?" tanya Mia yang tidak habis pikir dengan jalan pikiran sahabatnya itu.
" Mungkin bodoh kali ya tepatnya?" tanya balik Mita sambil terkekeh
" Iya loe memang bodoh" kesal Mia dan Mita hanya tersenyum tipis
" Pokoknya kalau loe ada apa-apa jangan pernah loe pendam sendiri, buat apa loe punya sahabat kalau loe gak mau berbagi dengan kami, kecuali kalau loe memang sudah tidak menganggap gue dan juga yang lainnya itu ada" ucap Mia
" Kita itu sahabat loe apapun yang terjadi mari kita lewati semuanya bersama-sama" lanjut Mia
" Iya, terima kasih Mi." Mita merasa lega setidaknya Mia bisa membuat hatinya sedikit terhibur " Maaf kalau akhir-akhir ini gue bikin kesal kalian semua" ucap Mita yang merasa sedikit tidak enak hati
" Gak usah diambil pusing, santai aja" ucap Mia dan tanpa terasa mobil Mia kini sudah sampai di depan rumah Mita.
" Wah sudah sampai aja ya, gak berasa" ucap Mia
" Iya ya" Mita tertawa kecil
" Yaudah loe sekarang istirahat, ingat jangan mikirin yang macam-macam. Mita sahabat gue itu cewek hebat dan kuat. jangan diambil pusing buat hidup loe bahagia. besok loe harus masuk ke sekolah gak ada ya alasan gak masuk karena malu mata bengkak akibat nangis-nangis Bombay." goda Mia
" Iya bawel" ucap Mita tertawa renyah
" Yaudah gue masuk ya, loe harus hati-hati bawa mobilnya.!" ucap Mita setelah turun dari mobil Mia
" Iya, udah sana masuk!"
" Loe aja sana yang pergi!"
" Iya gue pergi, sampai jumpa besok disekolah!" ucap Mia sebelum pergi
" Siap bos" ucap Mita terkekeh
" Bye!"
" Bye... bye..!" ucap Mita
Kini Mita sudah masuk ke dalam rumahnya dan Mia pun sudah melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah Mita.
Mita menghempaskan tubuhnya di atas kasur empuknya, pandangannya lurus ke atas menatap langit-langit kamarnya.
Mita memejamkan matanya dan teringat kembali dengan perkataan yang dokter Ariel ucapkan di taman tadi.
Mita juga tidak habis pikir kenapa dokter Ariel tidak jujur saja langsung kepadanya dari pada Mita terus dihantui dengan perasaan praduga tak bersalah. rasanya terlalu menyakitkan.
Ingin Mita mengakhiri saja hubungannya dengan dokter Ariel namun mengingat pengorbanannya selama dia sakit membuat Mita berpikir berkali-kali. tapi Mita juga tidak ingin berbuat egois yang ujung-ujungnya menyakiti orang lain. Mita tidak akan setega itu. jika memang dia yang harus mengalah Mita akan mempersiapkan diri dari sekarang setidaknya jika waktu itu tiba Mita sudah siap menghadapinya.
Mita tersenyum ketika teringat semua ucapan Mia sewaktu mereka berada di dalam mobil.
Mita yang sempat menangis langsung buru-buru menghapus air matanya karena dia tidak ingin matanya bengkak dan besok tidak bisa masuk sekolah. Mita sudah berjanji pada Mia . Mita beranjak dari tempat tidur lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci wajahnya. setelah itu ia pergi tidur.
...☄️☄️☄️☄️...
Lia dan Mario kini tengah berada di rumah orang tua Mario.
kesal itulah yang Lia rasakan pasalnya Mario tidak bilang terlebih dahulu jika mereka akan pulang ke kediaman Alexander Atmaja.
" Kenapa cemberut gitu sih, gak suka apa datang ke sini?" tanya Mario yang melihat Lia sedari tadi nampak memberengut.
" Bukannya gak suka tapi kenapa gak bilang dari tadi aja sih, besok kita itu kan sekolah. bagaimana dengan seragam sekolah aku?" ucap kesal.
" Kalau soal baju seragam kamu itu sih gak masalah di dalam lemari sudah banyak seragam sekolah kamu. dan soal tas dan buku pelajaran tentang aja besok pagi-pagi pasti sudah ada kok sayang" ucap Mario yang langsung naik ke atas tempat tidur.
Lia hanya menoleh sekilas Mario yang ternyata sudah memejamkan matanya.
" Kamu kayaknya benar-benar capek banget ya?" gumam Lia menatap wajah Mario yang sudah memejamkan mata.
Lia perlahan merangkak naik ke atas tempat tidur dan berusaha untuk memejamkan mata namun tiba-tiba Lia dikejutkan oleh Mario yang memeluknya dari belakang.
" Sudah tidur, jangan berpikir yang macam-macam, tenang saja aku masih bisa mengontrol si ucrit supaya tenang karena dia juga tahu kamu masih lampu merah tapi kalau sudah lampu hijau jangan salahkan ucrit yang akan langsung tancap gas pol" ucap Mario masih sambil memejamkan mata dan sontak saja ucapan Mario mampu membuat seorang Lia menegang seketika.
" Io!" ucap Lia lirih.
" Sudah tidur jangan banyak bergerak nanti bisa bahaya" ucap Mario membuat Lia Langsung terdiam dan berusaha memejamkan matanya.
Sudah hampir jam 2 pagi Lia masih belum juga bisa tidur dengan nyenyak selain posisinya yang masih berada di dalam pelukan sang suami Lia juga kepikiran dengan apa yang dilihatnya hari ini dan pertengkaran yang terjadi antara Mita dan dokter Ariel.
" Kenapa belum tidur?" suara bariton terdengar jelas di Indra pendengaran Lia.
Lia mendongak dan menatap wajah tampan suaminya yang berbicara tapi matanya masih terpejam membuat Lia menahan tawanya.
" Sudah tidur, besok kita harus bangun pagi dan sekolah" ucap Mario
Lia tidak menjawab apa-apa tapi langsung mengeratkan pelukannya pada Mario dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang Mario yang terasa begitu nyaman untuk Lia
__ADS_1
" Jangan terlalu dipikirkan, Mita pasti bisa mengatasi masalahnya dengan baik. Mita itu wanita yang kuat jadi jangan terlalu memikirkannya. aku sudah meminta bantuan kepada kak Arta untuk mencari tahu tentang dokter itu jadi sekarang tidurlah!" ucap Mario yang seakan tahu dengan benar apa yang tengah Lia khawatirkan.
Akhirnya Lia lama-lama tertidur juga setelah mendengar ucapan Mario, Lia setidaknya merasa sedikit lega, semoga saja Arta bisa mendapatkan informasi tentang dokter Ariel dan juga orang-orang yang berada di dalam foto tersebut. Lia tidak ingin Mita merasakan kekecewaan lagi setelah papanya yang sempat menyakiti keluarganya bahkan sampai membuat Mita koma. Lia tidak ingin Mita menelan kekecewaan kembali dari seseorang yang sudah dia beri kepercayaan sepenuhnya. walaupun Lia tahu Mita adalah gadis yang kuat dan tegar tapi Lia juga bisa merasakan sisi rapuh dari seorang Mita .