
Mona, Indah dan Mia berada di dalam ruangan Mita untuk menemaninya karena Rosa mama Mita pamit untuk pulang dulu sebentar mengambil baju ganti untuk Mita.
Lia tidak jadi datang ke rumah sakit karena tadi saat hendak membolos ia berpapasan dengan Rangga membuat niatnya yang ingin membolos lagi urung dilakukan.
Sementara Zaira kini tengah berada di dalam mobil bersama Azka. Setelah pertemuannya dengan dokter Ariel entah mengapa raut wajah Zaira berubah muram. Tidak ada pembicaraan antara keduanya hanya ada keheningan dan suara mesin mobil saja.
Azka membiarkan Zaira dengan kediamannya dan dia pun memilih untuk tidak bertanya apa-apa,dia berharap Zaira sendiri yang mengatakannya langsung tentang siapa sebenarnya dokter Ariel itu.
Sesampainya di depan rumah mereka pun tidak ada pembicaraan antara keduanya, Azka keluar lebih dulu tanpa menunggu Zaira bahkan ia menutup pintu mobil dengan sedikit keras hingga membuat Zaira yang tengah berada dalam lamunannya tersentak kaget.
Zaira menatap Azka yang terus melangkah masuk ke dalam rumah tanpa menunggunya terlebih dahulu, setelah Azka benar-benar sudah tidak nampak lagi dari pandangan mata barulah Zaira keluar dari dalam mobil dan dengan langkah gontai masuk ke dalam rumah.
Saat ini Zaira sudah berada di dalam kamar,
pandangannya melihat kesekitar namun tidak nampak keberadaan Azka, Zaira duduk di tepi tempat tidur tidak berapa lama Azka keluar dari kamar mandi dan sudah berganti baju.
Azka berjalan melewati Zaira begitu saja tanpa bicara ia langsung duduk di sofa dan mengambil laptopnya lalu membukanya.
Zaira hanya menoleh sekilas ke arah Azka yang telah sibuk dengan laptopnya. Karena tidak ingin mengganggu Zaira memilih untuk masuk ke dalam kamar mandi membersihkan diri.
Setelah 15 menit Zaira keluar dari kamar mandi, karena melihat Azka yang masih sibuk menatap layar laptopnya akhirnya Zaira lebih memilih untuk naik ke atas tempat tidur dan menarik selimutnya sampai ke bahu.
Azka hanya melirik sekilas pergerakan Zaira yang berada di atasnya tempat tidur tanpa berniat untuk mengganggunya.
Dering ponsel terdengar dari atas nakas, Zaira yang mendengar ponselnya berdering langsung meraih benda hitam nan pipih itu, ia melihat nomor tidak di kenal di layar ponselnya. karena takut nomor penting jadi tanpa ragu Zaira menggeser layar berwarna hijau di layar ponselnya.
" Assalamu'alaikum!" ucap Zaira
" wa'alaikum salam"
"Maaf ini siapa ya?"
" Alzaira!"
Deggg
" Kak Ariel?"
Jlepp
Azka terdiam mendengar nama Ariel membuatnya teringat dengan sosok pria yang tadi memeluk isteri kecilnya. Azka menatap tajam ke arah Zaira, tangannya mengepal kuat menahan gejolak amarahnya yang hampir saja meledak.
" Iya Al, ini kakak. Apa kakak mengganggumu Al?"
" Tidak kak, oh ya kak maaf ya soal tadi" ucap Zaira tanpa menyadari sepasang mata tengah memperhatikan dirinya.
" Tidak apa-apa Al, tadi juga kakak memang sedikit sibuk"
Flashback on
" Alzaira" Sapa dokter Ariel ragu-ragu
" Kak Ariel?" sahut Zaira dengan keterkejutannya. Zaira bangkit dari duduknya dan melangkah menghampiri dokter Ariel yang juga melangkah ke arahnya.
" Al ini benar kamu ?" tanya dokter Ariel merasa tidak percaya begitu juga dengan Zaira yang masih begitu terkejutnya bisa melihat kembali wajah pria yang selama ini sangat ia rindukan.
Dokter Ariel langsung menarik Zaira ke dalam pelukannya dan tanpa sadar Zaira membalas pelukan pria yang beberapa tahun ini menghilang dari kehidupannya begitu saja tanpa kabar bak ditelan bumi.
" Al kakak sangat merindukanmu Al" ucap dokter Ariel
" Al juga kak" ucap Zaira lirih yang tanpa sadar ia melupakan keberadaan Azka yang tidak lain adalah suaminya.
Azka hanya bisa mengepalkan tangannya menahan rasa cemburunya. Ia tidak ingin bersikap gegabah yang nantinya hanya akan merusak keadaan. Ia lebih memilih untuk diam dan menunggu Zaira sadar akan keberadaannya dan juga statusnya.
Sahabat-sahabat Zaira yang melihat Zaira memeluk dokter tampan dihadapan mereka hanya tertegun menahan rasa penasarannya.
" Al, bagaimana kabar kamu?" tanya dokter Ariel
" Alhamdulillah baik kak" jawab Zaira berbinar
" Kakak sendiri bagaimana kabarnya?" tanya Zaira balik
" Alhamdulillah, kabar kakak juga baik" jawab dokter Ariel tersenyum bahagia. " Kamu sekarang terlihat tambah cantik Al" pujinya.
__ADS_1
" Kakak juga semakin tampan" puji Zaira balik yang tanpa sadar membuat Azka semakin geram.
" Oia, Al ada apa kamu disini?" tanyanya lagi
" Aku sedang menjenguk sahabat aku kak, namanya Mita" jawab Zaira
" Mita sahabat kamu Al?"
" Iya kak,"
" Kebetulan, dia pasien kakak Al"
" Hebat ya sekarang kakak sudah menjadi dokter, akhirnya cita-cita kakak terwujud" Zaira nampak turut senang melihat pria yang dulu pernah mengisi hari-harinya sudah berhasil.
" Oia Al, maaf ya kakak masih ada pasien sekarang, bisa tidak kakak meminta nomor kamu?" tanya dokter Ariel.
" Iya kak" Zaira meraih ponsel dokter Ariel yang disodorkan kearahnya lalu mengetik nomor ponselnya.
" Oke, Al nanti kakak telpon ya" ucap dokter Ariel setelah Zaira mengembalikan ponsel miliknya.
" Iya kak, aku tunggu " sahut Zaira yang lagi-lagi melupakan keberadaan Azka. Entah apa yang terjadi dengan Zaira kenapa dia bisa bersikap seperti itu setelah bertemu kembali dengan dokter Ariel yang merupakan seseorang yang memang pernah mengisi hari-harinya dimasa lalu.
Dan disaat dokter Ariel ingin kembali memeluk Zaira suara bariton dari belakang Zaira membuatnya terhenti.
" Za!" suara dingin nan tegas membuat bulu kuduk siapapun yang mendengarnya terasa merinding.
Zaira menoleh kebelakang dan seketika wajah Zaira berubah pucat, ia merutuki dirinya sendiri yang sampai melupakan keberadaan Azka yang tengah berstatus suaminya. Zaira dapat melihat dengan jelas api amarah di dalam bola mata Azka. namun Ia tidak berani menatapnya ada rasa bersalah yang mencuat begitu saja kepermukaan hingga membuat Zaira diam seketika.
" Al, Dia?" sebuah tanda tanya besar bagi dokter Ariel dengan pria yang kini tengah berada di hadapannya dan dengan tatapan tajam penuh dengan api amarah.
" Za kita pulang sekarang!" ucap Azka dingin tanpa ingin dibantah dan langsung menarik tangan Zaira dan membawanya pergi.
" Al tunggu!" teriak dokter Ariel saat Zaira ditarik paksa oleh Azka.
" Dokter!" panggil seorang suster yang sudah menunggunya sedari tadi.
Dokter Ariel menoleh " Dok, anda sudah ditunggu di ruangan melati nomor 211" ucap suster tersebut dan mau tidak mau dokter Ariel pun pergi bersama suster tersebut. sementara Zaira sudah dibawa pergi oleh Azka.
Flashback off.
Azka masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintu dengan sangat keras dan hal itu membuat Zaira tersentak kaget dan sadar apa yang dilakukannya saat ini pasti sudah membuat Azka sangat marah kepadanya.
Zaira kenapa sebegitu tega dan bodohnya bisa-bisanya bernostalgia dengan masa lalunya sampai lupa dengan masa depannya yang jelas-jelas sedang memendam gejolak api cemburu yang siap meledak kapan saja. Sungguh gadis yang polos lupa statusnya yang sudah menyandang gelar Nyonya Bagazkara Afraza Dinata.
Lama Zaira terdiam memandangi pintu kamar mandi yang ditutup Azka dengan sangat keras. " Al... Al ..!" panggil dokter Ariel dari sambungan telepon yang masih menyambung.
Zaira terkesiap dan sadar " Ah, iya kak maaf!" sahut Zaira yang merasa kacau hatinya saat ini
Tokkkk... tokkkk... tokkkk...
Terdengar suara ketukan pintu dan suara Mama Maria memanggil dari luar.
" Ka.... Za... ! " suara Mama Maria memanggil.
" Mama?" gumam Zaira dalam hati.
merasa bingung dengan keberadaan Mama di rumahnya.
" Kak, maaf ya kak lain kali kita telponan lagi, aku dipanggil mama!" ucap Zaira yang sebenarnya merasa tidak enak.
" Tapi Al_"
" Assalamu'alaikum!" ucap Zaira lalu memutuskan sambungan teleponnya.
Sementara di seberang sana dokter bingung mendengar Al menyebut kata mama" Mama? Sejak kapan Al memanggil Bunda dengan panggilan mama ?" gumam dokter Ariel.
" Ka... Za...!" panggil Mama lagi saat belum mendengar jawaban dari anak dan menantunya.
Ceklekk
Zaira membuka pintunya " Ma?" ucapnya
" Sayang, maaf ya tadi mama pulang duluan!" Mama Maria mengusap pipi Zaira lembut."Tadi papa kamu rekan bisnisnya datang dan membawa istrinya jadi papa meminta mama untuk menemaninya" terang Mama Maria menjelaskan perihal kepergiannya tadi yang begitu mendadak.
__ADS_1
" Tidak apa-apa kok ma" Zaira tersenyum tipis merasa senang yang sebegitu diperhatikan oleh Mama Maria.
" Mama kapan datang?" tanya Zaira yang merasa terkejut dengan keberadaan Mama Maria di rumahnya.
" Sudah hampir satu jam yang lalu" sahut mama Maria.
" Kok gak bilang kalau mama mau kesini?"
" Tadi mama sekalian lewat sama papa jadi ya mampir deh, papa juga khawatir sama kamu jadi pingin ngeliat kamu katanya" mama melihat ke dalam kamar Zaira. " Oia, di mana suami kamu sayang?" tanya mama yang tidak melihat putranya.
" Lagi di kamar mandi ma" sahut Zaira.
" Ya sudah, kamu pasti belum makan siang kan?" yang dijawab Zaira dengan gelengan kepala. " Kalau begitu ajak suami kamu untuk turun ya, kita makan siang bersama. Mama sudah menyiapkan makan siang, mama tunggu di bawah ya sayang!" Mama Maria lalu turun menuju ruang makan sementara Zaira kembali masuk ke dalam kamarnya dan melihat Azka yang tengah mengeringkan rambutnya di depan cermin.
Zaira memberanikan diri untuk melangkah mendekat ke arah suaminya.
" Mas!" panggil Zaira pelan namun mampu membuat Azka menghentikan tangannya yang sedang mengeringkan rambut dengan handuk kecil.
Azka terdiam dan menghela napas panjang sebelum memilih melanjutkan kegiatannya.
" Mas, mama menyuruh kita untuk makan siang" ucap Zaira dengan kegugupannya. melihat aura dingin dari suaminya yang tentu saja ini baru pertama kali Zaira lihat dari sosok suaminya yang biasanya begitu hangat dan perhatian.
Azka tidak menjawab, ia memilih untuk pergi begitu saja melewati Zaira yang masih berdiri mematung.
Azka keluar dari kamar dan pergi menuju meja makan yang sudah ada mama dan papanya.
" Ma .. Pa...!" sapa Azka
" Ka, loh kok kamu sendiri, Za mana ?" tanya Mama Maria yang tidak melihat Azka datang bersama Zaira.
" Masih di atas ma!" jawab Azka santai.
Tidak berapa lama Zaira datang " Ma... pa... !" sapa Zaira " Maaf menunggu lama" Zaira lalu duduk di samping Azka.
" Za bagaimana keadaan kamu sekarang?" tanya papa Sam.
" Alhamdulillah pa, sudah baikkan" jawab Zaira yang sesekali melirik Azka yang sibuk dengan ponselnya.
" Kamu harus jaga kesehatan dan ingat jangan lupa minum obatnya ya!" pesan papa Sam penuh perhatian.
" Iya pa" Zaira tersenyum bahagia ia teringat dengan almarhum ayahnya yang begitu perhatian kepadanya.
Seperti biasa Zaira mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk Azka setelah itu untuk dirinya sendiri.
" Terima kasih" ucap Azka tanpa melihat Zaira
Mama Maria dapat melihat ada kejanggalan dengan sikap dari putranya yang tidak biasanya hangat terhadap isterinya.
Hanya ada keheningan saat makan siang kali ini, selesai makan mama Maria mengantar papa Sam yang hendak berangkat kembali ke kantor, sementara Azka langsung pergi ke kamarnya tanpa berkata apa-apa kepada Zaira.
Zaira menghela napasnya berat, ia menyadari kesalahannya namun untuk saat ini ia masih bingung bagaimana cara bicaranya dengan Azka.
Sampai akhirnya suara Mama Maria mengejutkannya. " Ada apa sayang, apa kalian sedang ada masalah?" tanya mama Maria membuat Zaira yang sedang membereskan piring bersama mbok Iyem menoleh.
Mbok Iyem kembali ke dapur dan mama Maria menyuruh Zaira duduk.
" Duduk sayang!" titah mama Maria.
" Iya ma" Zaira pun duduk di samping mama Maria yang sudah duduk lebih dulu.
" Mau cerita?" tanya mama Maria lembut
Zaira menunduk dan menarik napas panjang sebelum mendongak dan menatap mama Maria.
" Emmmm... ma, maafkan Za ya ma!" ucap Zaira membuat mama Maria tersenyum tipis lalu mengusap kepala Zaira penuh kelembutan.
" Minta maaf untuk apa sayang?" tanyanya
Zaira menceritakan semuanya kepada mama Maria tentang pertemuannya dengan dokter Ariel di rumah sakit dan juga tadi sewaktu ia menerima telepon dari dokter Ariel sampai membuat suaminya menutup kamar mandi dengan sangat keras. Zaira juga tidak lupa menceritakan siapa sebenarnya dokter Ariel itu kepada mama Maria.
Mama Maria yang mendengar cerita Zaira hanya mampu menghela napas panjang dan sedetik kemudian tersenyum tipis. Ia tahu menantunya ini anak ABG yang pastinya masih sangat labil. Ia tidak ingin menuntut terlalu keras kepada Zaira yang memaksakan untuk mengerti statusnya saat ini. Tapi dengan perlahan mama Maria memberi nasihat dan juga mengingatkan Zaira yang kini sudah berstatus isteri dari Bagazkara Afraza Dinata putranya dengan pelan dan lembut.
Zaira memeluk mama Maria merasa begitu lega rasanya setelah bercerita kepada wanita paruh baya yang notabene adalah mertuanya.
__ADS_1
Mama Maria memang sengaja tidak ingin memberi jarak antara anak dan menantu, ia lebih suka bersikap seperti teman agar anak-anaknya bercerita kepadanya dengan leluasa tanpa merasa tertekan.