
Setelah selesai dengan ritual mandinya Khanza lebih memilih untuk pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan.
Sementara Aldy baru saja terjaga dari tidurnya dan saat tangannya meraba sisi tempat Khanza ternyata sudah kosong. Aldy membuka matanya dan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dan tidak menemukan keberadaan Isterinya.
Dengan langkah gontai Aldy masuk ke dalam kamar mandi untuk bersih-bersih.
Setelah 30 menit berlalu Aldy keluar dari kamar dengan pakaian yang sudah rapih. Netranya menangkap sosok isterinya yang tengah sibuk memasak di dapur.
" Sayang, masak apa?" Suara bariton yang menyeruak ke gendang telinga Khanza sedikit mengejutkannya apalagi tangan kekarnya sudah melingkar indah di pinggangnya
" Astaghfirullah mas ngagetin aja sih!" kesal Khanza
" Emmmm maaf sayang!" ucap Aldy merasa sedikit bersalah karena sudah mengejutkannya
" Mas sebaiknya minggir dulu deh sana, aku susah bergerak!" keluhnya
" Tapi mas nyaman seperti ini sayang!" Aldy semakin mengeratkan pelukannya dan meletakkan dagunya di bahu Khanza
" Mas!" kesal Khanza karena bukan melepaskan pelukannya Aldy malah semakin tidak jelas saja tingkahnya.
" Mau lepas atau aku marah beneran?" ancam Khanza sampai membuat Aldy melotot
" Iya...iya sayang, maaf aku lepas ya tapi janji jangan marah" ucap Aldy seraya mengangkat kedua tangannya dan perlahan berjalan mundur
" Tunggulah mas dimeja makan sebentar lagi juga selesai" ucap Khanza
Setelah 10 menit berlalu akhirnya Khanza selesai juga dengan aktivitasnya di dapur.
Dengan langkah perlahan Khanza berjalan menuju meja makan dengan membawa dua mangkok menu sarapan yang baru saja selesai ia masak.
Aldy ternyata sedari tadi tengah memperhatikan pergerakan isterinya yang nampak sedikit aneh ketika berjalan.
" Sayang ada apa dengan mu?" tanya Aldy tanpa berdoa
" Ada apa memangnya?" bukan menjawab Khanza malah balik bertanya
" Jalanmu kenapa aneh begitu tidak seperti biasanya!" jawab Aldy membuat Khanza kesal dan ingin sekali melempar suaminya itu ke planet mars.
" Apa perlu aku jawab?" Khanza lalu pergi ke dapur kembali dengan wajah memberengut
" Sayang!" bingung Aldy karena Khanza tidak menggubrisnya
Sedetik kemudian Aldy baru tersadar " Apa jangan-jangan itu hasil perbuatan ku semalam ya?" monolog Aldy sendiri seraya menatap punggung Khanza yang semakin hilang dari pandangan.
" Oh Astaga?" pekik Aldy saat teringat dengan sesuatu yang sudah terjadi semalam.
Aldy tersenyum tipis lalu beranjak dari duduknya dan menghampiri Khanza.
" Biar aku saja yang melakukannya" Aldy mengangkat tubuh Khanza hingga membuatnya memekik kaget.
Dengan senyum yang terus mengembang Aldy membawa Khanza ke meja makan dan mendudukkan dirinya disalah satu kursi yang sudah bergeser.
" Diam disini biar aku yang akan melanjutkannya!" Aldy langsung melesat ke dapur dan Khanza hanya bisa tercengang dengan sikap manis sang suami.
Aldy mengisi piring Khanza lalu meletakkan tepat di hadapannya. " Makanlah yang banyak supaya tenaga mu cepat pulih kembali" ucapnya
" Seharusnya aku yang melayani mas" ucap Khanza
" Kau sudah melayani ku semalam dan sekarang sudah seharusnya aku yang melayani mu" ucap Aldy membuat Khanza langsung menundukkan wajahnya menutupi rasa malunya.
" Terima kasih sayang kau sudah membuat ku bersemangat hari ini walaupun sebenarnya sungguh berat bila harus meninggalkan mu sendiri di rumah" ucap Aldy menatap sendu sang isteri
" Kapan mas akan berangkat?" tanya Khanza sedikit memberanikan diri untuk menatap wajah Aldy walaupun hanya sekilas.
" Aku akan berangkat nanti jam 10 " jawab Aldy
Saat ini keduanya sudah berada di dalam mobil Khanza melempar pandangannya ke jalan sementara Aldy fokus menatap jalanan.
" Sayang!" panggil Aldy lembut
Khanza menoleh menunggu kata-kata Aldy selanjutnya
" Sayang aku akan pergi nanti jam 10, pulang sekolah sebaiknya untuk sementara waktu kamu tinggal dulu ya di rumah ibu, aku tidak tega membiarkan kamu tinggal di apartemen sendirian!" ucap Aldy
" Iya nanti akan aku pikirkan lagi bagaimana baiknya mas" sahut Khanza
" Emmm... apa masih sakit?" tanya Aldy tiba-tiba membuat wajah Khanza terasa panas dan berubah merah seperti tomat.
" Sedikit!" Jawab Khanza malu-malu
" Maafkan aku ya sayang!" Aldy meraih tangan kanan Khanza lalu mengecupnya lembut
__ADS_1
" Tidak apa-apa mas, memang ini sudah menjadi kewajiban ku" jawab Khanza
Tidak terasa mobil yang mereka tumpangi kini sudah berada di parkiran sekolah Izan tepat seperti biasanya.
Khanza turun lebih dulu setelah itu baru Aldy menyusul
" Aku duluan ya mas, maaf aku belum sempat membantu mas untuk berkemas-kemas" ucap Khanza seraya salam takzim kepada suaminya.
" Tidak apa-apa sayang, lagi pula ini juga cukup dadakan mungkin aku hanya akan membawa baju seperlunya saja, nanti aku akan pulang ke rumah mama disana masih banyak baju-baju ku" ucap Aldy lalu mendaratkan satu kecupan di kening Khanza.
" Aku pasti akan sangat merindukan mu sayang apalagi dengan yang semalam" wajah Khanza kian memerah saat Aldy lagi-lagi mengingatkan kegiatan mereka semalam.
" Mas aku turun, hati-hati di jalan!" Khanza yang salah tingkah dan malu buru-buru langsung turun dari mobil
" Aishhhh..... sungguh menggemaskan, aku pasti akan sangat merindukan mu isteri kecilku" gumam Aldy yang masih berada di dalam mobil netranya menatap punggung Khanza yang kian menjauh.
Khanza berjalan senormal mungkin memaksakan diri dan menahan rasa nyeri yang masih tersisa dibawah sana.
" Woyyy... !"
" Astaghfirullah Miska ngagetin aja sih loe!" kesal Khanza menekuk wajahnya
" Duh Ibu Gutami ada gerangan apa nih dari tadi gue perhatiin jalannya udah kayak kura-kura lambat baed dah!" ucap Miska menyelidik
" Apaan sih loe, biasa aja kali!" Khanza berjalan lebih cepat walaupun sedikit meringis meninggalkan Miska begitu saja
" Deh nih bocah main kabur aja, tapi tunggu tuh anak kenapa jalannya rasa aneh gitu ya?" gumam Miska
" Siapa yang jalannya aneh?" tanya Hana yang tiba-tiba muncul di belakang Miska
" Anak kupret ngagetin gue aja loe!" kali ini Miska yang di buat kaget.
" Siapa yang loe bilang jalannya aneh?" tanya Hana
" Tuh loe lihat!" Miska menunjuk ke arah Khanza dengan dagunya
" Lah iya itu, kenapa rada ngegang ya udah kayak habis_" Hana menjeda ucapannya membuat Miska seketika mengerutkan keningnya
" Maksud loe Khanza kayak orang habis di pake gitu?" tanya Miska dengan membulatkan kedua matanya
Hana mengangguk " Kayak nya sih begitu, gue pernah lihat kakak ipar gue saat habis malam pertama mereka jalannya seperti Khanza sekarang" sahut Hana
" Gila otak gue traveling kemana-mana nih pagi-pagi" lanjutnya
" Loe aja yang omes itu sih!" Hana menoyor kepala Miska
" Ah sialan loe!' Miska mengerucutkan bibirnya
" Udah ah yuk cus kejar tuh anak!" Miska dan Hana langsung setengah berlari mengejar Khanza
" Khanza woy tunggu!" teriak Hana dan Miska
Hana tidak menghiraukan dua sahabatnya itu dia ingin cepat-cepat sampai di kelas.
" Ehhh.... ada anak bu kantin" Ucap seseorang yang tengah menghalangi langkah Khanza
" Minggir gue mau lewat !" ucap Khanza yang malas meladeni gadis sombong seperti Luna
" Wihhh.... serem juga kalau lagi marah ya tapi sayangnya gue gak takut!" ucap Luna seraya mendekatkan wajahnya ke wajah Khanza membuat Khanza mundur seketika
" Mau loe apa sih, kita tuh gak ada urusan ya. minggir loe!" bentak Khanza
" Wah kayaknya Khanza dalam masalah tuh, yuk ah cepat!" Miska menarik tangan Hana
Khanza dengan kasar mendorong tubuh Luna yang menghalangi jalannya hingga Luna terhuyung dan hampir terjatuh ke lantai jika tidak ada Bayu yang meraih tubuhnya.
Khanza dengan acuh meninggalkan mereka begitu saja hingga akhirnya suara bariton menghentikan langkahnya.
" Ada apa dengan jalan loe? habis di pake loe?" pertanyaan Bayu begitu menohok membuat Khanza menggeram dan mengepalkan tangannya kuat.
" Berapa tarif loe sekali pakai, bagaimana kalau malam ini loe gue booking!" ucap Bayu seraya berjalan mendekati Khanza
Khanza masih posisi membelakanginya sampai pada akhirnya dia berbalik badan saat kalimat Bayu yang semakin memancing emosinya
" Ternyata selama ini loe hanya pura-pura lugu dan sok suci"
" Dasar wanita murah_!"
Plakkk
Satu tamparan keras tepat mendarat di pipi Bayu.
__ADS_1
Semua yang berada di koridor sekolah terkejut dengan aksi Khanza yang biasa terkenal diam, ramah dan baik tiba-tiba berani menampar ketua OSIS yang terkenal cukup banyak digandrungi oleh cewek-cewek.
" Loe!" geram Bayu dengan tangan yang memegangi pipinya yang terasa panas
" Loe enggak tahu apa-apa tentang gue, jadi jangan seolah-olah loe paling tahu siapa gue. meskipun loe ketua OSIS dan anak orang paling kaya di sekolah ini loe gak berhak sedikitpun menilai tentang pribadi gue dan juga kehidupan gue. Jangan coba-coba untuk mengusik kehidupan gue kalau loe gak mau perbuatan buruk loe gue adukan kepada kepala yayasan langsung!" ancam Khanza
" Apa loe pikir gue takut dengan ancaman murahan loe!" sarkas Bayu
Khanza tersenyum miring sementara Luna yang awalnya ingin menggertak Khanza lebih memilih diam
" Terserah loe, tapi gue peringatkan loe. sebagai seorang ketua OSIS sebaiknya mulut loe itu di ajari sopan santun terlebih dahulu. malu dengan jabatan yang sungguh tidak cocok untuk Loe pegang!"
Bayu mengepalkan tangannya, kata-kata Khanza membuatnya kian meradang
Khanza lalu berjalan menuju kelasnya dan tidak mempedulikan Bayu dan Luna yang masih diselimuti kabut amarah.
" Za loe enggak apa-apa kan?" tanya Miska yang sudah berada di sampingnya
" Gue enggak apa-apa!" jawab Khanza dengan seulas senyum diwajahnya
" Benar-benar ya tuh anak punya mulut gak di filter dulu kalau ngomong" geram Miska
" Yaudah biarkan saja, orang macam dia itu hanya berani karena punya kekuasaan kalau bapaknya jatuh miskin juga paling berubah jadi anak ayam... pok..pok...pok pekokk!" ucap Hana membuat Miska dan Khanza langsung tergelak
" Lagian sih loe Za habis unboxing pakai masuk sekolah!" ucap Miska keceplosan dan membuat langkah Khanza seketika berhenti
Miska menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangannya
" Maaf keceplosan!" ucap Miska merasa sedikit bersalah
" Memangnya ketara ya?" pertanyaan itu tiba-tiba meluncur begitu saja dari bibir Khanza membuat kedua sahabatnya melongo
" Jadi loe beneran habis unboxing sama pak Gutami?" tanya Miska yang begitu penasaran
Khanza menghela napasnya panjang lalu sedetik kemudian mengangguk
" Astaga....!" kedua sahabat Khanza menutup mulutnya sendiri karena terkejut kalau dugaannya ternyata benar
" Kapan?" tanya Miska yang kepo akut
" Emmmm semalam!" jawab Khanza dengan wajah yang memerah
" Pantes jalan loe aneh gitu"
" Kenapa loe pakai acara sekolah segala sih, kedua makhluk astral tadi pasti berpikiran buruk soal loe yang jalan seperti itu!" ucap Hana
" Ya gue kan gak mau ketinggalan pelajaran lah!" sahut Khanza
" Ya makanya kalau mau tuh dihari libur bisa puas-puasin deh loe bersama pak Gutami!" ucap Miska
" Nanti doi mau pergi ke kota x ada sedikit masalah yang terjadi di kantornya entah berapa hari disana!" ucap Khanza
" Apa? jadi loe ditinggal pergi dong? jadi ceritanya loe ngasih mood booster gitu!" goda Miska
" Apaan sih loe, gue itu ngelakuin ya karena teringat kata-kata loe aja tempo hari!" ucap Khanza
mereka kini sudah berada di kelas dan Hana tengah duduk di bangkunya bersama Nana
" Emangnya gue pernah ngomong apa?" tanya Miska
" Tau ah, udah deh jangan bahas itu lagi!" Khanza malu jika terus membahas hal macam itu.
Sebelum berangkat Aldy mengirim pesan kepada Khanza untuk menemuinya sebentar. kebetulan jam pelajaran kosong
Khanza berjalan menuju ruangan Aldy namun tiba-tiba langkahnya terhenti saat netranya melihat Luna yang berjalan menuju ruangan suaminya
Ceklekk
pintu ruangan Aldy terbuka namun betapa terkejutnya Aldy saat yang masuk ke dalam ruangannya bukanlah isterinya.
" Kamu? mau apa kamu datang ke ruangan saya?" tanya Aldy menatap tidak suka
" Saya mau bertanya tentang soal nomor 4 pak ada yang tidak saya mengerti!" ucap Luna dengan suara manja dan berjalan mendekati Aldy
" Sebaiknya sekarang kamu kembali ke kelas nanti akan saya bahas bersama dengan yang lainnya" ucap Aldy merasa tidak nyaman dengan keberadaan Luna apalagi tadi dia menyuruh isterinya datang ke ruangannya bisa salah paham jika dia melihatnya.
" Luna sebaiknya kamu pergi dari ruangan saya, nanti saya akan ke kelas mu!" titah Aldy namun nampaknya Luna tidak menghiraukan ucapan Aldy dia berjalan semakin mendekat dan tiba-tiba duduk di pangkuan Aldy membuat Aldy refleks berdiri hingga membuat Luna terjungkal ke lantai dan hal itu bertepatan dengan pintu ruangan yang terbuka
Ceklekk
Netra keduanya membulat sempurna tatkala melihat sosok yang tengah berdiri di ambang pintu.
__ADS_1