
Mario meletakkan Lia ke atas motornya lalu perlahan memakaikannya helm, Lia hanya bisa mengerucutkan bibirnya menatap Mario dengan tatapan kesal.
" Jangan menatap ku seperti itu, aku bisa saja khilaf melihat itu!" ucap Mario menggoda Lia dengan menunjuk bibir Lia yang sedikit di monyongkan.
Lia dekat cepat langsung menggigit bibirnya membuat Mario menahan tawanya.
Mario lalu naik ke atas motor dan menarik tangan Lia agar berpegangan kepadanya, setelah itu Mario menyalakan mesin motornya dan melaju dengan kecepatan tinggi.
Mau tidak mau Lia melingkarkan tangannya di pinggang Mario meskipun sedikit kesal karena Lia tidak mau terjatuh lalu menyium aspal jalanan.
Disepanjang perjalanan Mario dan Lia tidak ada yang berbicara sampai akhirnya motor yang mereka naiki tiba di sebuah kedai bakso tetapi bentuknya seperti sebuah cafe gaul yang cocok untuk kaum muda-mudi berkongko-kongko.
" Ayo masuk !" ajak Mario menggandeng tangan Lia.
Tatapan mata Lia berkelana menyusuri setiap sisi cafe yang ia dan Mario masuki.
" Duduklah!" pinta Mario namun pandangan mata Lia tak beralih dari dekorasi dan penataan bangku-bangku cafe tersebut yang nampak unik menerut Lia.
Cafe tersebut di lengkapi dengan bangku-bangku yang terbuat dari potongan-potongan kayu begitu juga dengan mejanya, ada beberapa pohon dan bunga-bunga sebagai pelengkap cafe yang bernuansa alam tersebut bahkan ada danau buatan juga sebagai pelengkapnya tidak jarang dari para pengunjung yang membuat tempat tersebut sebagai area spot foto yang menarik.
" Ini seperti_?" Lia nampak sedikit berpikir
" Seperti apa?" tanya Mario menarik satu alisnya ke atas
" Io, ini seperti taman yang ada di_!" ucap Lia yang langsung menangkup mulutnya dengan kedua tangannya tatkala teringat danau saksi berseminya cinta mereka.
" Kenapa?" tanya Mario dengan nada sangat lembut.
" Io... ini kok bisa_?" Lia masih berada dalam keterkejutannya.
" Bisa apa?" Mario tersenyum tipis
" Io... ini sebenarnya cafe siapa, aku baru lihat loh ada cafe seperti ini?" tanya Lia
" Siapa bilang ini cafe, ini kedai bakso. apa kamu lupa dengan kedai ini?" tanya Mario
" Kedai bakso?"
" Iya, kita pernah makan bakso disini waktu kita kehujanan"
" Ini beneran kedai bakso yang waktu itu?" tanya Lia masih tidak percaya
" Iya, itu!" tunjuk Mario kepada si mamang penjual bakso yang tengah berjalan menghampirinya dengan membawa nampan berisi bakso tersebut.
" Neng!" sapa memang penjual bakso.
" Mang!" Lia membalas sapaannya dengan tersenyum ramah.
" Ini neng bakso spesial buat neng yang spesial!" ucap si mamang.
" Ih si mamang bisa aja!" sahut Lia yang merasa sedikit merona
" Neng, terima kasih ya!" ucap si mamang.
" Terima kasih untuk apa mang?" tanya Lia yang merasa bingung kepada si mamang yang tiba-tiba mengucapkan terima kasih.
" Berkat neng cantik kedai bakso mamang jadi seperti ini!" ucap si mamang
" Maksudnya?" Lia nampak bingung lalu menatap ke arah Mario.
" ih si eneng bisa-bisanya pura-pura gak tahu" ucap si mamang sambil terkekeh
" Io?" tanya Lia pada Mario.
" Kata si Aden ganteng ini, neng cantik suka sama bakso mamang dan ingin jadiin kedai bakso mamang berbeda dari kedai bakso lainnya dan si Aden ganteng ini yang merombak kedai bakso mamang jadi seperti ini neng. bagus pisan ya neng. mamang suka banget suasananya, rame lagi neng!" ucap si mamang berseri-seri.
" Io?" tanya Lia lagi menatap lekat ke arah Mario yang tengah cengar-cengir.
" Iya... iya... nanti aku ceritain!" ucap Mario
" Yaudah kalau begitu mamang balik ke dalam lagi yang neng, den... kalau butuh apa-apa bilang aja ya sama mamang!" ucap si mamang
" Iya mang, terima kasih banyak ya mang!" ucap Lia tersenyum ramah.
" Sama-sama neng!" sahut si mamang sebelum pergi.
" io ini maksudnya apa?" tanya Lia
" Bukan apa-apa!" jawab Mario santai seraya meraih mangkok baksonya dan mengaduk-aduk isinya sebelum memakannya.
" Io maksud si mamang tadi itu apa sih ?" tanya Lia yang merasa penasaran.
" Makan dulu aja Yang nanti keburu gak enak kalau sudah dingin!" pinta Mario
" Tapi io!"
" Gak ada kata tapi-tapian nanti setelah ini aku pasti cerita kok" tegas Mario yang tidak ingin dibantah
" Baiklah!" Lia pun meraih mangkok baksonya setelah itu menyantapnya.
🌠🌠🌠🌠ðŸŒ
Sementara di rumah sakit dokter Ariel dengan telaten tengah menyuapi Mita makan, awalnya Mita menolak selain merasa tidak enak hati Mita pun merasa sedikit malu terhadap mamanya yang sedari tadi senyam-senyum melihat keduanya.
__ADS_1
" Mas biar mama aja ya yang menyuapiku makan, mas juga kan harus istirahat pasti capekkan habis menangani pasien-pasien mas!" pinta Mita
" Gak apa-apa kok Yang, aku malah senang banget keadaan kamu sekarang sudah membaik Yang" ucap dokter Ariel seraya tersenyum penuh kebahagiaan
" Aku merasa sangat bersyukur Yang, tuhan masih memberi kita kesempatan untuk bersama kembali " ucap dokter Ariel dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
" Mas!" panggil Mita lirih
" Maaf, mas hanya sedikit terbawa perasaan saja!" dokter Ariel kembali menyuapi Mita makan namun Mita mendorong kembali sendok yang disodorkan oleh dokter Ariel.
" Aku sudah kenyang mas!" tolak Mita
Dokter Ariel meletakkan nampan yang dipegangnya lalu memberikan Mita minum.
Mita menerimanya dan meneguknya hingga setengah.
Rosa datang dengan wajah sendu. Mita yang melihat raut wajah mamanya nampak sedih menjadi sedikit cemas.
" Ma!" panggil Mita saat Rosa berdiri di sisi Kirinya karena di sisi kanan ada dokter Ariel yang baru selesai menyuapi Mita makan.
Rosa tersenyum hambar lalu mengusap pucuk kepala Mita dengan lembut.
" Ada apa ma?" tanya Mita yang merasa kalau mamanya dalam keadaan tidak baik-baik saja.
Rosa menggelang lalu tersenyum. " Bagaimana keadaan kamu sayang?" tanya Rosa
" Sudah jauh lebih baik mah" Sahut Mita sambil tersenyum lalu menoleh ke arah dokter Ariel.
" Sayang!" panggil Rosa menunduk sebentar lalu menarik napas dalam-dalam.
" Ada apa ma?" tanya Mita yang semakin penasaran
" Sayang boleh mama bertanya sama kamu?" tanya Rosa takut-takut
" Tanya apa ma?"
" sayang, bagaimana perasaan kamu sekarang?"
" Perasaan, maksud mama?" Mita nampak sedikit berpikir
" Emmmm... apa kamu membenci papamu?" tanya Rosa yang sebenarnya berat sekali dia bertanya seperti itu pada putrinya.
Deg
Mita terdiam lalu menundukkan wajahnya, mendengar nama papanya disebut ingatan ku Mita seperti sebuah roll film yang kembali berputar di ingatannya. satu persatu semua perbuatan papanya terlintas dengan jelas di benak Mita dan tanpa sadar pun air mata Mita mengalir begitu saja.
" Sayang!" panggil Rosa tatkala melihat Mita hanya diam dan menitikkan air mata.
" Sayang!" kali ini dokter Ariel yang memanggilnya.
" Sayang, sudah....sudah ya, tidak apa-apa. tenang ya sayang tenangkan diri kamu ya!" pinta dokter Ariel
Rosa yang melihat reaksi Mita histeris seperti itu merasa sangat menyesal karena sudah menyebut nama seseorang yang sudah membuat putrinya itu sampai seperti itu.
" Maafkan mama sayang, mama tidak bermaksud untuk_!" ucapan Rosa dipotong oleh gerakan tangan dokter Ariel yang meminta untuk Rosa tidak melanjutkan kata-katanya karena dia takut Mita akan semakin histeris karena kekecewaan dan kebencian Mita terhadap papanya yang begitu besar
Dokter Ariel terus berusaha untuk menenangkan Mita, setelah dirasa Mita cukup tenang dokter Ariel lalu memberikan Mita sedikit obat penenang.
Setelah diberi obat penenang tidak lama Mita tertidur, Dokter Ariel lalu menyelimuti Mita sampai sebahu.
Dokter Ariel mengajak Rosa duduk di sofa dan mereka berbicara berdua.
" Maaf ma, saat ini mungkin Mita belum siap jika mama menyebut nama papanya. luka tubuh mungkin bisa dengan cepat diobati tapi mah yang Mita alami adalah luka hatinya, dia menyimpan kekecewaan yang teramat besar terhadap papanya, dia sedang berusaha untuk menata hatinya kembali mencoba melupakan rasa sakit hatinya. Mita memang terlihat sebagai gadis yang kuat, selalu bersikap tenang dan mandiri kita tidak pernah tahu apa dibalik sikap Mita yang sok sabar dan selalu sok bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa padahal jauh di lubuk hatinya Mita hanyalah seorang gadis yang sangat rapuh.!" ucap dokter Ariel panjang lebar.
" Mama hanya ingin mengetahui bagaimana perasaan Mita terhadap papanya nak Ariel!" ucap Rosa dengan mata yang sudah basah dengan air mata.
" Mungkin untuk saat ini Mita belum siap ma, butuh waktu untuk Mita mengobati hatinya yang terluka." Ucap dokter Ariel
" papa Mita sekarang dia.. dia..!" ucap Rosa terbata-bata.
" Ada apa ma?" tanya dokter Ariel yang melihat raut kesedihan di wajah calon mertuanya itu.
" Emmm, mas Andy papanya Mita dia.. dia _!" ucap Rosa tergagap.
" Ada apa ma?" tanya dokter Ariel yang jadi penasaran.
" Papanya Mita saat ini dalam kondisi kritis!" ucap Rosa yang walaupun sudah berkali-kali disakiti dan di khianati tetap saja selalu memaafkannya. karena kebaikan sikap Rosa yang selalu dengan mudahnya memaafkan papanya membuat Mita yang menjadi korban.
" Kritis?" tanya dokter Ariel terkejut.
Rosa mengangguk pelan. " Perusahaan papanya bangkrut dan wanita itu malah pergi meninggalkannya dengan hutang yang menumpuk pada rentenir." ucap Rosa memberitahu dan dokter Ariel mengangguk menyimak.
" Papanya Mita sangat syok mengetahui kenyataan itu apalagi istri kesayangannya itu dengan terang-terangan pergi bersama laki-laki lain. " Rosa mengghela napasnya kasar.
" Karma berlaku!" ucapnya lagi
" Ma!" dokter Ariel mencoba menghiburnya.
" Mama tidak apa-apa, dia memang pantas mendapatkan itu, tapi bagaimana pun juga dia adalah papanya Mita yang saat ini membutuhkan maaf dari putrinya. mungkin dia sudah menyesali perbuatannya!" ucap Rosa lirih.
" Iya mah aku mengerti perasaan mama tapi kita juga tidak bisa memaksakan Mita mah, saat ini hatinya tidak sedang baik-baik saja, biarkan secara perlahan Mita menerima semuanya ma termasuk papanya. aku tidak mau ma Mita sampai kembali histeris karena masa lalunya yang berat" ucap dokter Ariel
" Iya, mama mengerti!" ucap Rosa.
__ADS_1
...🖤...
Di dalam kamar seorang calon ibu muda tengah berbaring di atas tempat tidur sambil mengelus perutnya.
" Sayang, tunggu ya sebentar daddy sedang dalam perjalanan pulang !" ucap Zaira yang tengah mengajak bayi yang berada di dalam perut buncitnya berbicara.
Ya sekitar satu jam yang lalu Zaira tiba-tiba merasa ingin sekali memakan bebek goreng bumbu rujak. Azka yang pada saat itu tengah berada di kantor bersama papa Sam langsung meluncur pulang setelah menerima telepon dari sang istri tercinta.
Ting .. Tong...
Bel berbunyi, menandakan ada tamu yang datang. Zaira beranjak dari tempat tidurnya dan langsung turun untuk melihat siapa yang datang kerumahnya.
Ceklekk
Pintu terbuka.
" Mama, Bunda!" ucap Zaira dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
" Assalamu'alaikum!" ucap sang mama
" Wa'alaikum salam, masuk mah, bund!" Zaira mempersilahkan dua wanita yang sangat berarti dalam hidupnya.
" Mama sama bunda kok gak bilang-bilang sih kalau mau kesini?" tanya Zaira yang sudah mengajak bunda dan mama Maria duduk di sofa ruang keluarga.
" Kejutan dong sayang!" jawab bunda Aryani
" mbok maaf ya minta tolong buatin mama sama bunda minum ya!" pinta Zaira sopan pada saat melihat mbok Iyem yang baru saja melintas.
" Mbok, apa kabar?" sapa mama Maria kepada mbok Iyem.
" Alhamdulillah, baik Nyonya" jawab mbok Iyem
" Syukurlah kalau begitu!" Mama Maria tersenyum ramah.
" Kalau begitu saya pamit permisi dulu nyonya mau membuatkan minum!" pamit mbok Iyem yang diangguki oleh Mama Maria dengan senyum ramahnya.
" Za dimana suami kamu?" tanya bunda Aryani sambil melihat ke sekeliling.
" mas Azka sedang di kantor papa bund, sebentar lagi juga pulang!" jawab Zaira
" kamu sudah makan sayang?" tanya mama Maria lembut
" Emm... belum mah lagi kepingin makan bebek goreng bumbu rujak, kayaknya enak banget deh mah!" ucap Zaira yang membayangkan makanan tersebut.
" Bebek goreng bumbu rujak?" tanya mama dan bunda Aryani bersamaan.
Zaira mengangguk pelan merasa bingung dengan reaksi dua wanita paruh baya yang ada di hadapannya saat ini " mama sama bunda kenapa sih?" tanya Zaira yang nampak bingung dan mama dan bunda Aryani bukan menjawab keduanya malah tertawa.
" Kamu bilang kamu ini pingin makan bebek goreng bumbu rujak iyakan?" tanya bunda Aryani
" Iya!" Jawab Zaira.
" Kalau begitu ayok kita langsung saja menyantapnya!" ucap Mama Maria seraya beranjak dari duduknya dan diikuti oleh bunda Aryani dengan semangat 45 menggandeng si ibu hamil.
" Kita mau kemana ma, bund?" tanya Zaira yang terlihat bingung.
" Ya makan ini!" bunda mengangkat kantong yang dibawanya ke atas
" Itu apa bund?"
" Yang sedang kamu pingin sayang" sahut mama Maria
" Be.. benarkah?" Zaira nampak berbinar
" Iya sayang!" bunda Aryani mengelus rambut Zaira lembut.
" bunda, mama kita makannya di taman belakang aja ya biar lebih nikmat!" pinta Zaira
" Oke!" ucap mama Maria.
" Mbok!" teriak Zaira
" Gak usah teriak-teriak, sudah sana kamu sama mama kamu ke taman duluan nanti bunda aja yang memanggil mbok Iyem dan menyiapkan bebeknya" ucap bunda Aryani
" Tapi bund!"
" udah sana, Mar!" ucap bunda Aryani seraya melirik ke arah mama Maria.
" Ayok sayang!" ajak Mama Maria
Zaira tengah berada di taman belakang bersama mama Maria dan tidak lama dari itu bunda Aryani dan mbok Iyem membawa bebek goreng bumbu rujak keinginan Zaira
Mereka bertiga menikmati makanannya sambil bercerita tentang seputar kehamilan, para orang tua itu rupanya tengah membekali putri kesayangan mereka sebuah wejangan agar kehamilan sampai proses melahirkan berjalan dengan lancar.
Sementara Azka setelah izin kepada sang papa kini tengah mendengus kesal akibat apa yang diinginkan isterinya belum juga ia dapatkan.
Azka berjalan menyusuri jalan ibu kota yang cukup ramai namun sudah lelah kakinya melangkah bebek goreng bumbu rujak yang dicari belum juga ia dapati.
Karena sudah merasa sangat lelah akhirnya Azka menyerah, dan memutuskan untuk pulang saja. biarlah nanti dia akan membujuk istrinya bila merajuk karena makanan yang diinginkannya tidak dapat ia jumpai.
Azka melangkahkan kakinya denga gontai menuju mobilnya yang terparkir cukup jauh.
"Bagaz!" panggil seseorang dari belakang membuat langkah Azka pun terhenti.
__ADS_1
" Kau?"