
Bunda Aryani melangkahkan kakinya menghampiri pria dewasa namun bertingkah seperti anak-anak.
" Nak Azka!" panggil bunda Aryani setelah berada di dekat Azka yang duduk di pelataran dengan wajah sendu.
Azka langsung mendongak dan sedikit terkejut karena kepergok sang mertua dengan keadaan yang berantakan.
" Bunda!" lirihnya
" Bangun!" pinta bunda Aryani mengulurkan tangannya dengan seulas senyum tipis di bibirnya.
Azka dengan gontai berdiri dari duduknya.
" Bund!" ucapnya lagi.
" Ayo masuk dulu!" ajak bunda Aryani merangkul bahu sang menantu.
" Tapi bund, Za!" ucap Azka ragu
" Za sudah masuk ke kamarnya, lagi pula langit sudah gelap sebaiknya kamu masuk aja dulu yuk!" pintanya lagi.
Bunda Aryani mengajak Azka untuk masuk ke dalam rumahnya, Azka mengikutinya masuk dengan perasaan bersalah karena sudah membuat putrinya menangis.
" Duduk dulu, bunda ke dapur sebentar ya!" ucapnya dengan lembut.
Bunda Aryani pergi ke dapur dan meminta bi Minah membuatkan minuman untuk sang menantu.
Saat ini bunda Aryani dan Azka tengah duduk berhadapan di ruang keluarga. Bunda menyuruh Azka minum terlebih dahulu minuman yang sudah di suguhkan oleh bi Minah.
" Sebaiknya kamu istirahat disini saja!" ucap bunda Aryani sambil tersenyum tipis.
" Tidak usah Bun, sebaiknya Azka pulang saja. Za pasti tidak mau melihat Azka ada di sini bund" ucapnya lirih.
" Sebenarnya kalian itu kenapa sih ?" tanya bunda Aryani pelan agar menantunya ini tidak merasa tersinggung.
" Nak Azka, maaf bukannya bunda mau ikut campur tapi seperti yang nak Azka tau Za itu masih anak-anak sifatnya masih labil, bunda harap kamu memakluminya ya."pinta bunda Aryani.
"Maaf kalau Za belum bisa menjadi isteri yang baik untuk nak Azka, dia masih sangat manja dan juga masih suka ngambek" ungkap bunda Aryani lagi yang mengira hubungan mereka bermasalah karena sikap labil Zaira yang baru saja terlihat bersama seorang laki-laki yang seumuran dengannya.
" Bunda tidak perlu minta maaf karena ini semua bukan salah Za sepenuhnya kok bund, Azka yang salah karena selama ini gak pernah peka dengan perasaan Za dan selalu membuat Za menangis. Azka yang minta maaf sama bunda karena sudah mengecewakan bunda dan juga Za!" ucap Azka dengan menundukkan pandangannya.
" Tapi Azka bersumpah bund, semua yang terjadi itu cuma salah paham. Za tidak membiarkan Azka untuk ngejelasin semuanya." lanjutnya lagi.
Karena takut bunda Aryani juga salah paham nantinya akhirnya Azka menceritakan semuanya kepada bunda Aryani dari Zaira yang menangis karena Azka yang tidak sengaja membahas Kelin mantan kekasihnya dengan Lia dan juga Za yang mendengar pembicaraannya dengan Kelin di kamar serta tentang kejadian hari yang awalnya ingin memperkenalkan Zaira kepada Kelin dan memberitahu perihal pernikahannya sampai Za di makeover segala oleh kedua sahabatnya. dan tidak lupa juga penyebab kemarahan Zaira kepadanya yang tidak lain karena Kelin yang tidak mau berpisah dengannya dan malah memeluknya dengan erat.
Mendengar cerita Azka awalnya bunda sedikit kecewa karena ternyata Azka memiliki seorang kekasih walaupun dia mengatakan sudah memutuskannya tetap saja bunda Aryani merasa khawatir bisa saja Kelin bersikap egois dan berusaha merebut kembali menantunya ini. bunda Aryani menghela napasnya panjang rasanya begitu kasihan dengan nasib sang putri tercintanya.
" Nak Azka jujur saja bunda merasa sedikit kecewa karena tahu ternyata nak Azka masih memiliki kekasih!" ucap bunda Aryani lirih.
" Sudah tidak bunda, Azka bersumpah bund. Dia sudah bukan siapa-siapa lagi, setelah Azka memutuskan untuk menerima perjodohan ini Azka sudah mengakhiri hubungan Azka dengannya bund, hanya saja dia yang masih belum terima dan hari ini Azka memang sengaja ingin memperkenalkan Za dengan dia agar dia tidak lagi berharap bund. tapi yang terjadi malah seperti ini." ucap Azka dengan bersimpuh di kaki sang mertua.
" Bunda Azka sangat mencintai Za bund, Azka tidak mau Zaira salah paham dan membenci Za bund" Azka tak kuasa menahan sesak di dadanya dan tanpa rasa malu lagi Azka menitikkan air matanya.
Bunda Aryani terkejut melihat sosok Azka yang dikenal pendiam dan dingin bila diluar dan hanya bersikap hangat dengan keluarganya saja hari ini nampak berbeda. rela bersimpuh hanya karena seorang isteri kecilnya ya siapa lagi kalau bukan putinya.
Ah ternyata putri tercintanya kini sudah bertahta di relung hati Azka yang paling dalam pikir bunda Aryani.
Bunda Aryani meletakkan tangannya di kedua bahu Azka yang sedikit bergetar. " Bangunlah!" ucapnya pelan nan lembut. dan menepuk sofa kosong yang ada di sampingnya.
Azka duduk di samping bunda dan dengan lembut bunda menepuk bahu Azka lalu tersenyum tipis.
" Bund!" lirihnya.
" Kalian memang perlu bicara dan selesaikan masalah ini secepatnya jangan dibiarkan berlarut-larut karena kalau tidak maka akan ada celah untuk orang lain masuk di antara kalian" ucap bunda Aryani menasehati.
" Bunda akan bicara dengan Za, kamu tunggu saja di sini, semoga saja Za mau mendengarkan bunda ya!" ucap bunda Aryani beranjak dari duduknya dan pergi menuju kamar Zaira.
__ADS_1
Tokkkk.. Tokkkk.. Tokkkk...
Bunda Aryani mengetuk pintu kamar Zaira.
" Za, sayang buka pintunya nak ini bunda!" teriak bunda Aryani mengetuk pintu Zaira kembali karena belum mendapat sahutan dari dalam.
" Masuk aja bund, pintunya gak di kunci!" teriak Zaira dari dalam kamar.
Ceklekk
Bunda membuka pintu kamar Zaira dengan langkah perlahan masuk menghampiri Zaira yang tengah duduk di tengah kasur sambil memeluk bantal.
Bunda Aryani duduk di tepi tempat tidur lalu tersenyum melihat putrinya yang sedang menyembunyikan kesedihannya. Dasar Zaira tidak tahu saja kalau sebenarnya bunda sudah tahu masalahnya dengan Azka. bekas air matanya aja masih terlihat dengan jelas kalau dia habis menangis.
" Sayang kamu kenapa, habis menangis ya?" tanya bunda yang pura-pura tidak tahu apa-apa.
" Emmm... gak kenapa-napa kok bund, ini tadi habis nonton drakor aja bund" jawab Zaira berbohong.
" Kamu ini" bunda Aryani tertawa kecil lalu mengacak-acak rambut Zaira. " Kamu ini putri bunda satu-satunya sayang jadi kamu gak bisa bohong sama bunda!" ucap bunda tersenyum tipis.
" Bund!" ucap Zaira lirih
" Di bawah ada suami kamu tuh, temui sana gih!" pintanya
" Bunda, beri Za waktu ya. Za ingin sendiri dulu bund. maaf ya bunda kalau Za sudah mengecewakan bunda tapi Za mohon bund bilangin sama mas Azka untuk pulang saja kasihan juga Lia sendirian di rumah." ucap Zaira sedikit memohon.
" Za ingin nenangin diri dulu bunda bolehkan?" tanya Zaira membuat bunda Aryani menghela napasnya panjang.
" Ya sudah kalau kamu maunya seperti itu tapi kamu harus ingat Za masalah itu dihadapi bukan dihindari dan satu lagi jangan lama-lama ngambeknya kalian butuh bicara berdua. ingat Za kalian ini statusnya bukan lagi sekedar pacaran yang bisa bilang putus kapan aja kalau sedang ada masalah. kalian ini sudah menikah jika ada masalah segera diselesaikan jangan dibiarkan berlarut-larut sampai akhirnya ada godaan-godaan dari luar yang bisa kapan saja masuk dan membuat masalah kalian semakin rumit lagi untuk diselesaikannya." ucap bunda Aryani panjang lebar.
" Iya bund!" sahut Zaira lesu
" Suami kamu sudah menceritakan semuanya sama bunda dan soal pelukannya dengan mantan kekasihnya itu hanya kesalahpahaman saja sayang, ya memang sih bunda akui suamimu tetap saja salah karena tidak bersikap tegas tapi bunda juga tidak mau terlalu menghakiminya bagaimana pun pernikahan kalian ini bisa dibilang masih seumur jagung jadi butuh waktu untuk menyesuaikan diri satu sama lain. saling belajar untuk saling mengerti dan memahami. belajar untuk mengalah dan menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing.
belajar untuk berdamai dengan masa lalunya dan belajar untuk saling mencintai.
" Iya bunda, tapi untuk malam ini izinkan Za untuk disini dulu ya bund, Za mau nenangin hati Za dulu bund. Za takut jika disaat seperti ini yang ada kita masih saling menguatkan ego masing-masing bund. Jujur saja bund Za masih merasa sakit bila teringat kejadian tadi di restoran. maaf Za ya bund kalau Za bertindak kekanak-kanakan" ucap Zaira dengan menitikkan air mata.
" Iya sayang bunda ngerti kok, nanti bunda sampaikan ke suami kamu untuk pulang dulu aja ya. tapi jangan lama-lama ya sayang marahnya, kasihan suami kamu pasti sedih pulang gak bawa istri!" ucap bunda Aryani mencoba untuk memahami dan tidak ingin menghakimi karena bagaimanapun juga pernikahan putrinya tidak lepas karena sebuah perjodohan.
" Makasih ya bunda!" ucap Zaira langsung memeluk bundanya
" Sama-sama sayang, sekarang mendingan kamu mandi gih" ucap bunda Aryani mengelus lembut rambut Zaira.
" Emmmm.. bau ya bund" Zaira melapas pelukannya dan mencium badannya sendiri.
Bunda Aryani tertawa melihat Zaira yang tengah mencium bau di badannya sendiri.
" Maaf bund seharian di luar jadi bau " ucap Zaira cengir kuda.
" Kamu dandan kayak gini bikin pangling tadi bunda hampir saja tidak mengenali kamu" ucap bunda Aryani menoel hidung Zaira.
" Kenapa bund, jelek ya bund?" tanya Zaira yang merasa sedikit tidak percaya diri.
" Cantik hanya saja terlihat lebih dewasa" ucap bunda Aryani jujur.
' Tua dong bund?" tanya Zaira mengerucutkan bibirnya.
" Bukan bunda loh ya yang bilang tua" ucap bunda Aryani terkekeh
" Bunda ihh" Zaira memberengut.
" Sudah jangan cemberut gitu, dah sana cepat mandi bunda mau menemui suami kamu dulu"
" Iya bund"
__ADS_1
" Yakin kamu tidak mau menemuinya dulu?" tanya bunda Aryani meyakinkan Zaira.
" Emmmm, gak dulu deh bund. biarkan kami introspeksi kesalahan kita masing-masing aja dulu bund. kalau sekarang ketemu juga percuma bund Za lagi males ngebahasnya bund" ucap Zaira menjelaskan.
" Ya sudah kalau memang itu pilihan kamu. bunda turun dulu ya!" ucap bunda Aryani setelah itu keluar dari kamar Zaira dan langsung menemui Azka yang tengah menunggunya sedari tadi.
Azka melihat kedatangan bunda Aryani langsung berdiri.
Bunda Aryani tersenyum lalu duduk dan Azka pun kembali duduk.
" Maaf ya nak Azka nunggu lama" ucap bunda Aryani
" Tidak apa-apa bund" sahut Azka yang sebenarnya sudah tidak sabar menunggu jawaban dari Zaira.
" Sebaiknya nak Azka pulang dulu aja, bunda tadi sudah bilang sama Za tapi sepertinya Za butuh waktu untuk menenangkan diri katanya." ucap bunda Aryani dengan lembut.
" Iya bund Azka paham, yaudah kalau gitu Azka pamit pulang dulu ya bund!" pamit Azka dengan perasaan hampa karena tidak bisa membujuk istri kecilnya itu.
" Hati-hati dijalan nak Azka!" ucap bunda Aryani saat Azka sudah berada di dalam mobil
" Assalamu'alaikum!" ucap Azka sebelum pergi
" Wa'alaikum salam!" sahut Bunda Aryani.
*
*
*
Di dalam rumah yang terbilang cukup besar seorang gadis tengah mondar-mandir di depan televisi, entah kenapa perasaannya saat ini tidak tenang rasanya ada yang mengganjal pikirannya selalu ke Zaira sahabatnya. pasalnya sudah berkali-kali ia menghubungi Zaira tapi tidak juga ada jawaban.
Sepulangnya Mona, indah dan Mia ke rumah masing-masing membuat Lia merasa kesepian dan tiba-tiba saja jadi kepikiran Zaira sahabatnya yang sudah hampir larut malam pergi dengan kakaknya tapi belum juga kembali dan saat di telpon juga tidak ada jawaban dari keduanya.
Ceklekk
Lia yang mendengar pintu utama dibuka dengan cepat Lia Langsung melangkah menuju ruang utama dan betapa terkejutnya lia saat melihat Azka pulang seorang diri tanpa adanya Zaira.
" Kak!" panggil Lia dengan tatapan penuh tanya.
" Sudah ya Mel, kakak capek mau istirahat!" ucap Azka seraya melewati Lia begitu saja.
" Mana Za?" tanya Lia membuat langkah Azka terhenti. Azka menoleh sedikit kepalanya dan dengan gontai Azka kembali melanjutkan langkahnya.
" Kak dimana Zaira?" kali ini Lia bertanya dengan tegas
Azka menoleh " Za pulang ke rumahnya, bunda Aryani sudah pulang. Za ingin menginap di sana!" ucap Azka dengan sendu.
" Bunda Aryani sudah pulang? kakak tidak lagi bohong kan?" tanya Lia curiga.
Azka hanya tersenyum miris lalu kembali melangkah menaiki anak tangga.
" Kak, aku harap kak Azka gak bohong sama aku, awas saja kalau kak Azka membuat Za sedih lagi, aku tidak akan memaafkan kakak" ancam Lia kepada Azka.
" Terserah kamu saja!" ucap Azka pasrah
Dengan langkah gontai Azka menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Hatinya begitu perih melihat kamarnya begitu sepi tanpa adanya senyuman dari isteri kecilnya yang selalu menyambut kedatangannya setiap kali masuk ke dalam kamar.
" Sayang semoga marahnya gak pake lama ya, aku kesepian yang kalau gak ada kamu disini" ucap Azka lirih dan menjatuhkan kasar dirinya di atas kasur.
" Maafkan aku sayang!" gumamnya. karena merasa lelah akhirnya Azka tertidur pulas tanpa mandi terlebih dahulu, jangankan untuk mandi hanya sekedar mengganti baju saja Azka nampak enggan karena tidak ada isteri tercintanya yang selalu menyiapkan baju untuknya membuatnya malas dan tidak bersemangat.
Sementara di lantai bawah Lia masih di Landa kecemasan. " Gue yakin ini sih pasti ada yang gak beres." ucap Lia pada dirinya sendiri.
__ADS_1
" Awas saja kak Azka kalau sampai membuat Za menangis lagi, aku tidak akan tinggal diam Kak!" geram Lia.