Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Black ghost


__ADS_3

Seorang dokter keluar dari ruangan pemeriksaan setelah memeriksa kondisi kesehatan Zaira.


Azka melihat pintu ruangan Zaira terbuka langsung menghampiri sang dokter.


" Bagaimana keadaannya dok?" tanya Azka dibalik rasa cemasnya.


" Pasien mengalami kelelahan dan juga seperti ada guncangan yang sangat mengganggu mental dan pikirannya." ucap sang dokter menjelaskan.


" Maksud dokter?"


" Maaf, apa telah terjadi sesuatu dengan pasien yang membuat pasien begitu syok dan tertekan?" tanya sang dokter


" Dia baru saja mengalami penculikan dok!"


" Astaga, pantas saja pasien nampak begitu terguncang" dokter wanita yang bernama Mela nampak prihatin dengan kondisi Zaira saat ini.


" Pasien butuh istirahat yang cukup dan dijaga pikiran serta emosionalnya. jangan sampai dia merasa stres dan tertekan. " ucap dokter Mela


" Apa anda tahu kalau sebenarnya pasien sedang dalam keadaan_?" dokter Mela menjeda ucapannya.


" Bagaimana keadaan kandungannya dokter?" tanya Azka yang sudah tahu arah pertanyaan dokter tersebut.


" Anda sudah tahu?" tanya dokter


" Tentu saja dokter, karena dia adalah istri saya" jawab Azka


" Istri? jadi pasien itu istri anda?" tanya dokter Mela seakan tidak percaya


" Iya dokter dia istri saya, kami sudah menikah sekitar 5 bulan yang lalu."


" Tapi dia seperti masih seorang pelajar?"


" Dokter bisakah anda tidak membahas yang lain, saya ingin tahu bagaimana keadaan istri dan calon anak saya dok?" ucap Azka yang sudah merasa geram dengan dokter yang ada dihadapannya yang dianggap terlalu bertele-tele menurutnya.


" Sabar bos!" ucap Sendy menenangkan


Azka menghela nafasnya kasar.


"Maafkan saya pak" dokter Mela merasa malu sendiri yang terlalu ikut campur karena dia mengira Azka adalah kakaknya Zaira.


" Keadaan istri dan calon bayi kalian Alhamdulillah sehat, kandungannya cukup kuat untuk wanita hamil seumuran istri anda saat ini. dan sebaiknya istri anda harus selalu didampingi agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, terlebih lagi jaga emosi dan pikirannya. jangan sampai stres karena itu sangat membahayakan kandungannya yang baru menginjak 7 Minggu." terang dokter Mela.


" Dan satu lagi hibur dia jangan sampai kejadian yang baru saja menimpanya menyisahkan trauma yang mendalam" tambahnya lagi.


" Terima kasih dokter, maaf atas sikap saya tadi!" ucap Azka yang merasa sedikit tidak enak kepada dokter Mela.


" Tidak apa-apa, saya juga mengerti karena anda begitu mengkhawatirkan istri dan calon bayi anda" ucap dokter Mela tersenyum tipis.


" Kalau begitu saya permisi pak, silahkan jika anda ingin menemui istri anda, tapi biarkan dia istirahat jangan diganggu dulu!" ucap dokter Mala dengan ramah.


" Baik dokter, Terim kasih"


" Sama-sama pak, saya permisi dulu!"


" Silahkan!" Azka lalu masuk ke ruangan dimana Zaira saat ini tengah dirawat. hatinya begitu sakit melihat Zaira yang terbaring lemah dengan jarum infus yang menempel di tangannya.


Azka merasa sangat bersalah karena tidak bisa menjaga dan melindungi istri dan calon bayinya, menyesal itu sudah pasti andai dia tidak mengizinkan Zaira untuk ikut mungkin kejadian ini tidak akan terjadi tapi mau bagaimana lagi jika dilarang pun istri kecilnya ini pasti akan memberontak.


Azka mengusap wajahnya kasar lalu menatap sendu wajah cantik istrinya walaupun sedikit pucat.


" Sayang maafkan mas ya!" ucap Azka menggenggam tangan Zaira dan mengecupnya. Azka tidak kuasa menitikkan air matanya rasanya begitu sakit melihat orang yang dicintai diperlukan sekejam ini.


Azka mengepalkan tangannya kuat hingga buku-buku tangannya memutih, ia sangat geram mengingat apa yang telah Rara dan Angel perbuat terhadap istrinya, untung saja dia dan Mario datang pada waktu yang tepat jika tidak entah apa yang akan terjadi tidak dapat Azka bayangkan.


karena merasa sangat lelah Azka pun merebahkan kepalanya di brankar samping Zaira yang masih setia memejamkan matanya. Azka tidur dengan tangan kanan yang masih menggenggam erat tangan Zaira.


**

__ADS_1


Di bangunan tua yang kosong, dua orang gadis tengah terkulai lemas dengan tubuh yang nampak kacau balau. Rara membuka matanya perlahan dan betapa miris nasibnya melihat kondisinya yang acak-acakan dan baju yang sudah terkoyak, dia meringis kesakitan begitu juga Angel . mereka berdua menangis meratapi nasibnya yang sudah hancur berantakan, bagaimana tidak 3 orang preman yang membawanya pergi kala itu telah menggempur mereka habis-habisan, dengan buasnya mereka bergantian memaksa Rara dan Angel bahkan mereka seperti orang yang tidak mengenal kata puas berkali-kali Mereka menggempur dua gadis remaja sampai kelelahan ditambah lagi dengan kondisi mereka yang tengah terpengaruh oleh minuman beralkohol.


" ini semua gara-gara Putri, dia yang punya rencana untuk menjebak Zaira tapi malah kita yang mendapat kesialannya" ucap Rara geram hatinya kini penuh dengan kebencian dan juga dendam.


"Aaa!" Angel meringis kesakitan ketika ingin berdiri dan pergi dari tempat yang terlaknat itu.


" Ra gue takut orang tua gue tau kalau gue udah gak_" ucap Angel terhenti dan malah menangis sejadi-jadinya .


" Kalau sampai nyokap dan bokap gue tau, abis gue Ra digantung sama bokap gue!" Angel ketakutan.


" Ya udah ini jadi rahasia kita berdua aja, jangan sampai ada yang tahu soal kejadian ini. terutama kedua orang tua kita, bagaimana?" usul Rara


" Terserah loe aja dah Ra" Angel pasrah "terus kita sekarang mau kemana Ra. kembali ke kemah kayaknya gak mungkin Ra, pak Bagaz sama Mario pasti sudah melaporkan semuanya kepada pihak sekolah dan putri juga dia pasti sudah menjadi saksi atas perbuatan kita terhadap Zaira" ucap Angel


" kita cari Viko dan Leo bagaimana?" Rara mengusulkan.


" Gue setuju aja"


" Yaudah yang terpenting kita harus keluar terlebih dahulu dari tempat ini sebelum ketiga preman itu kembali kedini" Rara beranjak dari duduknya dan berusaha untuk berjalan meskipun terseok-seok begitu juga dengan Angel yang merasa sakit dan perih ketika berdiri. dia berjalan tertatih-tatih mengikuti langkah Rara yang sudah berjalan lebih dulu meninggalkan dirinya.


**


Di dalam sebuah tenda Lia dan Mita duduk berdua sementara yang lain mungkin sudah berada di alam mimpi.


"Li Loe kenapa kok belum tidur ?" tanya Mita yang melihat Lia duduk termenung dengan tatapan sendu. Lia hanya menoleh sekilas lalu tersenyum hambar.


" Apa loe kepikiran Za?" tebak Mita, Lia menoleh sekilas lalu mengangguk pelan sebagai jawabannya.


"Apa loe gak tanya gitu sama kakak loe gimana keadaan Za sekarang?" tanya Mita lagi.


" Udah gue telpon tapi gak diangkat" sahut Lia


" Kenapa gak loe telpon aja asistennya, siapa tuh namanya?" kata Mita sambil mengingat-ingat.


" Kak Sendy?" lanjut Lia mengingatkan


" Iya, kak Sendy. kenapa loe gak tanya dia aja?" usul Mita


" Yaudah sekarang aja loe telpon lagi, siapa tahu dia udah balik!" suruh Mita.


" Iya gue coba deh!" Lia pun mencoba menghubungi nomor Sendy tapi alhasil nomor Sendy tidak bisa dihubungi. Lia pun sudah mencoba berulang-ulang nomor Sendy tetap tidak bisa di hubungi.


" Gimana?" tanya Mita dan Lia menggeleng sebagai jawaban.


" Batrenya lowbet kali!" sahut Lia santai lalu beranjak dari duduknya.


" lah loe mau kemana Li malam-malam begini?"


" Gue mau mencari udara segar dulu, jernihin pikiran !" ucap Lia seraya membuka pintu tenda.


" Ini udah malam Li, bahaya kalau loe keluar sendirian." ucap Mita mengingatkan


" Gue cuma disekitar sini doang kok, bentaran aja gak lama. tenang ajalah diluar juga pasti masih ramai dengan anak-anak yang bertugas jaga malam ini!" ucap Lia dengan santainya lalu keluar dari dalam tenda.


" yaudah hati-hati loe diluar, kalau ada apa-apa bilang gue aja oke!"Pesan Mita yang di langsung ditanggapi oleh Lia dengan membuat huruf O. " Oke!" ucap Lia lalu menghilang dari balik tenda.


Lia menghirup udara malam yang terbilang cukup dingin. Dengan santai kakinya terus melangkah karena tidak ingin terlalu jauh dari area tendanya Lia memutuskan untuk duduk di potongan kayu besar yang tidak jauh dari tendanya berdiri.


Lia menghela napas panjang dan menatap ke langit malam yang gelap namun terlihat indah karena banyak dihiasi oleh bintang-bintang yang bertaburan.


" Za loe gimana kabarnya, gue harap loe baik-baik aja?" gumam Lia.


" Za loe gak boleh kenapa-napa ya. gue khawatir banget Za sama loe!" ucap Lia lirih masih menatap ke arah langit dan tanpa terasa Lia menitikkan air mata.


" Maafin gue Za!" Isak Lia menundukkan kepalanya.


" Segitu khawatirnya loe sama dia?" tanya seorang laki-laki yang turun dari atas pohon yang tidak jauh dari Lia duduk.

__ADS_1


" Astaghfirullah haladzim" ucap Lia saking kagetnya.


" Loe pikir gue setan?" ucap laki-laki itu dengan datar dan langsung duduk di bangku kayu yang ada di hadapan Lia.


" Iya loe biangnya malah. malam-malam turun dari atas pohon apa namanya kalau bukan setan?" ketus Lia.


" Serah, lagian ngapain juga loe malam-malam keluar sendirian, gak takut loe diculik setan?" sarkas laki-laki yang tidak lain adalah Mario.


" Iya loe setannya!" ucap Lia jutek lalu beranjak dari duduknya dan berjalan meninggalkan Mario yang tengah tersenyum tipis.


Lia berjalan ke sembarang arah demi menghindari Mario yang menurutnya sangat menyebalkan dan mengesalkan.


Namun setelah berjalan cukup jauh Lia baru tersadar kalau dia sudah berjalan cukup jauh dari tempat tendanya berdiri.


" Duh gue kok malah kesini sih. inikan wilayah anak kelas 12?" gumam Lia. karena merasa malam sudah semakin larut dan udara juga terasa dingin Lia memutuskan untuk kembali ke tenda tapi saat ia berbalik badan betapa terkejutnya Lia karena sosok yang dia hindari malah dengan santainya berdiri dihadapannya dengan tangan yang dilipat didada.


" Astaghfirullah haladzim, loe lagi?" kesal Lia


" Hai nona apa loe gak sadar ini dimana atau mungkin loe sengaja jalan kesini supaya bisa bertemu gue lagi, benarkan?" tanya Mario dengan tatapan mata yang sulit diartikan.


" Cihh, anda terlalu percaya diri bung!" ucap Lia yang tidak terima dengan tuduhan Mario.


Lia mengabaikan Mario karena malas berdebat ditengah rasa dingin yang semakin menusuk hingga ke tulang, Lia berjalan melewati Mario begitu saja dengan angkuhnya.


Mario lagi-lagi hanya tersenyum tipis menatap punggung Lia " menarik!" batin Mario


Lia terus melangkah di gelapnya malam dan ditengah dinginnya udara malam yang menusuk hingga ke tulang.


" Kenapa gue bisa jalan sejauh ini sih, dingin banget lagi. sial banget sih gue gara-gara menghindari tuh black ghost gue jadi apes gini. ya ampun pake acara dingin banget sih ni malam!" gumam Lia sambil jalan dengan tangan yang memeluk tubuhnya sendiri.


" Awas aja kalau sampai ketemu lagi sama tuh black ghost, gue bakalan_"


Blusshh..


Jlepp


" Pakai ini, gak usah kebanyakan ngedumel. tenda loe masih cukup jauh tuh." ucap Mario yang tiba-tiba langsung memakaikan Lia jaketnya dari belakang. Sontak dong Lia kaget bukan main karena saat mendongak tatapan mata mereka bertemu dan dengan cepat Lia langsung membuang pandangannya ke sembarang arah.


" Dasar black ghost!" batin Lia


" Woyyy jangan salah paham dulu loe" ucap Mario lalu menyentil kening Lia karena melihat Lia yang malah diam tanpa ekspresi.


" Awww, loe!" tunjuk Lia ke wajah Mario lalu mengusap keningnya yang berdenyut akibat ulah Mario.


" Gue pikir loe kesambet, diam gitu.!" ucap Mario mendorong kening Lia dengan jari telunjuknya.


" Hai nona ini sudah semakin larut, cepat kembali ke tenda sebelum setan-setan disini masuk ke tubuh loe!" ucap Mario menakuti.


" iya setannya loe!" ketus Lia lalu berjalan meninggalkan Mario tanpa membuka jaket yang dipakainya.


Mario hanya memperhatikan Lia dari kejauhan yang berjalan melewati tenda-tenda yang lainnya sampai menuju tendanya sendiri.


Lia masuk ke dalam tenda lalu langsung merebahkan diri di samping Mona yang sudah berada di alam mimpi.


Lia berusaha memejamkan matanya rasa dingin kini sudah mulai berkurang karena jaket yang dipakainya ternyata sangat nyaman saking nyamannya bahkan Lia sampai tertidur dengan nyenyak.


**


Pagi menyapa semua murid dikumpulkan diarea yang cukup luas. Bapak kepala sekolah terpaksa menggeledah seluruh tenda dan memberitahukan kepada seluruh murid untuk memberitahu kepada pihak sekolah jika ada yang melihat keberadaan Rara dan Juga Angel.


Dan pihak sekolah juga menghentikan kegiatan acara camping tersebut dikarenakan adanya insiden yang tidak mengenakkan yang terjadi pada Zaira. pagi-pagi sekali Azka sudah memberitahu pihak sekolah mengenai kejadian yang menimpa Zaira dan kepala sekolah juga sudah melakukan sidang kepada Putri perihal hilangnya Zaira yang membuat resah semua orang.


Apalagi Azka juga sudah menceritakan kejahatan Rara yang berniat ingin merusak masa depan Zaira. tentu saja pernyataan itu tidak begitu saja bisa diterima oleh Azka saat mengetahui hal itu dari Putri. Azka ingin pihak sekolah mengambil langkah tegas kepada ketiga siswi yang sudah bertindak di luar batas. ini sudah masuk tindakan kriminal.


oleh karena itu pihak sekolah memutuskan untuk menghentikan kegiatan camping tersebut dan mencari keberadaan Rara dan Angel yang masih belum ada kabarnya.


Viko dan Loe yang merupakan bukan dari sekolah mereka ikut menjadi tersangka dalam tindak kejahatan Rara dan Angel.

__ADS_1


Putri kali ini masih aman karena dia masih mau bekerja sama dengan pihak sekolah untuk memberi informasi mengenai keberadaan Viko dan Leo. jadi pihak sekolah menyerahkan kasus Putri kepada Zaira sendiri nantinya karena Zaira yang tahu dengan betul kejadian yang sebenarnya.


Tapi demi kebaikan istri dan calon bayinya Azka tidak ingin melibatkan Zaira terlalu jauh. karena Azka takut Zaira trauma dan syok jika mengingat kejadian malam itu.


__ADS_2