Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Season 2 Khanza


__ADS_3

" Lukman ini kenalin isteri gue, Miska!" ucap Roni memperkenalkan Miska pada sahabatnya


Lukman yang berdiri menyamping menoleh dan betapa terkejutnya Lukman melihat gadis yang berdiri di hadapannya saat ini.


Deg


" Mi... Miska loe Miska Maheswari kan putrinya om Suhendra?" ucap Lukman tergagap saat melihat isteri dari sahabatnya


" Iya, gue Miska. kok loe liatin gue nya kayak gitu banget sih?" risih Miska yang ditatap intens oleh Lukman


" Loe kenal sama gue?" Miska menatap bingung pada Lukman


" Woyyy... ingat isteri gue ini!" Roni mengingatkan dengan menyenggol bahu Lukman


" Iya, sorry" Lukman malu sendiri


" Gue Lukman Pradana Adijaya, loe ingat enggak sama gue, Dana?" ucap Lukman membuat Roni mengerutkan keningnya seraya menatap Lukman dan Miska bergantian


" Loe kenal isteri gue?" tanya Roni menyelidik dan Lukman mengangguk seraya tersenyum ramah pada Miska membuat Roni tidak suka dengan sikap Lukman walaupun dia adalah sahabatnya sendiri


" Dana?" Miska sejenak berpikir


" Dana anaknya om jaya?" tanya Miska memastikan


" Iya" Lukman mengangguk antusias


" Oh ya ampun sorry kalau gue enggak ngenalin loe, udah lama juga kita gak ketemu wajarlah ya kalau gue enggak ngenalin loe yang udah segede gini" ucap Miska seraya tertawa membuat Roni yang berdiri di sampingnya merasa panas dengan keakraban keduanya


" Enggak nyangka gue kalau loe ternyata sekarang udah jadi isterinya ini anak " ucap Lukman memukul bahu Roni pelan


" Iya Dan, gue juga enggak pernah menyangka sedikit pun jadi isterinya tapi ya mau bagaimana lagi kalau udah jodoh" jawab Miska yang lagi-lagi disertai kekehan


" Yaudah yuk yang kita pulang, pak sopirnya kasihan kelamaan nunggu!" ucap Roni yang tidak ingin Miska berlama-lama dekat dengan Lukman


" Iya" Miska mengangguk


" Dana, gue pamit ya, salam buat nyokap loe tante Diah" ucap Miska


" Iya, nanti gue sampein mereka pasti senang dengarnya!" jawab Lukman


" Gue pamit!" ucap Roni setelah Miska sudah masuk ke dalam taksi


" Oke, hati-hati!"


Disepanjang perjalanan Roni dan Miska saling diam, tidak ada pembicaraan antara keduanya sampai taksi berhenti tepat di kediaman keluarga Bambang Samudra pun mereka tetap tak saling bicara


Roni turun setelah membayar taksi dan membawa tas miliknya dan juga milik Miska.


Miska menatap bingung saat Roni sudah jalan lebih dulu masuk ke dalam rumah tanpa menunggunya


" Itu orang kenapa lagi sih, tiba-tiba diam gitu, enggak mungkin kan dia cemburu sama si Lukman sahabatnya sendiri?" batin Miska menatap punggung Roni yang berjalan di depannya


" Assalamualaikum!" ucap Roni masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamarnya


" Wa'alaikum salam!" jawab mommy Sarah yang baru keluar dari arah dapur lalu menatap Roni yang tengah menaiki anak tangga


" Assalamualaikum mom!" ucap Miska yang berjalan gontai menghampiri sang mertua lalu menyalami punggung tangannya


" Wa'alaikum salam!" jawab mommy Sarah


" Baru pulang?"


" Iya mom" jawab Miska sedikit lesu


" Kamu kenapa, sakit? kok pucet banget wajahnya?" tanya mommy Sarah khawatir


" Enggak apa-apa kok mom, mungkin kecapean aja" jawab Miska sedikit berbohong


" Roni keterlaluan banget sih, pulang main ngacir sendiri sampai isteri ditinggal gitu aja!" geram mommy Sarah


" Enggak apa-apa mom, lagian udah sampai juga kok, mungkin dia juga kecapean!" ucap Miska


" Kalian tadi pulang bareng?"


" Iya " Miska mengangguk


" Tadi temannya Roni si Adam nganterin motornya, memang kalian pulang naik apa?"


" Naik taksi mom" jawab Miska


" Oh bagus deh, enggak baik juga hamil muda naik motor" mommy Sarah tersenyum lalu mengusap perut Miska yang masih rata.


" Yaudah sekarang istirahat dulu gih, nanti mommy panggil buat makan malam bareng!" ucap mommy Sarah seraya membelai pucuk kepala Miska lembut


" Iya mom!"


Miska dengan langkah perlahan menaiki satu persatu anak tangga, entah kenapa rasanya begitu lama dan tinggi tidak seperti biasanya. mungkin karena rasa lelah dan terlalu banyak pikiran membuat tangga yang tidak terlalu tinggi terasa sangat tinggi.


Ceklek


Miska membuka pintu kamarnya dan tidak mendapati keberadaan Roni, karena merasa terlalu lelah hari ini dan kepalanya pun masih terasa berdenyut nyeri Miska memilih untuk merebahkan tubuhnya dengan perlahan lalu lama-kelamaan ia pun memejamkan matanya


Roni keluar dari kamar mandi hanya melirik sekilas Miska yang tengah terpejam di atas tempat tidur, Roni lalu mengganti pakaiannya dan setelah selesai ia berjalan menuju meja belajarnya, membuka laptop dan memeriksa beberapa email yang masuk.


Cukup lama Roni berkutat dengan layar laptopnya tanpa menyadari Miska yang sudah terbangun dari tidurnya dan duduk di tepi tempat tidur sambil mengamati Roni yang sedang serius memainkan jari jemarinya di atas keyboard


Miska menghela napasnya kasar karena sedari pulang dari bengkel tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir Roni.


" Ekhem!" Miska berdehem mencari perhatian Roni namun lagi-lagi Roni bersikap acuh


Miska kembali berdehem dan Roni hanya meliriknya sekilas tanpa ada niat untuk menyapanya.


Lama-lama karena terus diabaikan Miska merasa jengah sendiri ia lalu beranjak dari duduknya menghampiri Roni yang masih berlagak sibuk dengan laptopnya

__ADS_1


" Kenapa dari tadi diam?" tanya Miska yang sudah berdiri disampingnya


Roni bergeming dan masih bersikap cuek


" Enggak usah berlaga sibuk, kalau emang mau cuek dan terus diam kayak gini terus silahkan aja, buat apa gue disini mending gue pulang ke rumah mamah!" Miska langsung berbalik badan dengan emosi yang meluap, ia pun hendak melangkah keluar dari kamar namun baru saja satu langkah Roni langsung menarik tangannya


" Lepas!" sentak Miska kasar


" Mau kemana?" tanya Roni datar


" Bukan urusan loe, gue muak dengan tampang dingin loe yang seakan tengah menghakimi gue" ketus Miska


" Aku minta maaf!" ucap Roni lirih


Miska membuang pandangannya ke sembarang arah, Roni berdiri dan meraih kedua tangan Miska lalu mengecupnya lama.


Tidak ada pergerakan pada Miska, sedetik kemudian Miska dibuat membelo saat tangannya terasa basah. Miska menoleh dan terlihat Roni sedang menangis.


" Maafkan aku" sayup-sayup Miska mendengar Roni meminta maaf disela isak tangisnya


" Berhenti menangis, kamu pikir dengan kamu menangis seperti itu aku akan luluh!" Miska menarik tangannya kasar


" Aku benar-benar tidak mengerti apa mau kamu sebenarnya, sebentar bersikap dingin, sebentar begitu lembut dan hangat tapi sebentar-sebentar kamu juga bersikap cuek dan acuh bahkan sekarang kamu menangis seperti ini" Miska menghela nafasnya panjang


" Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa seperti ini, tapi jujur saja saat ini aku merasa takut sangat takut" ucap Roni sendu


" Takut? takut apa? kamu ini laki-laki" ejek Miska


" Aku tidak takut jika harus menghadapi para preman sekalipun, aku juga tidak takut jika fasilitas aku dicabut oleh daddy, aku tidak takut bila dimarahi Daddy ataupun dipikuli papamu, aku tidak takut bertarung walaupun harus mempertaruhkan nyawa tapi aku takut jika suatu hari nanti kamu meninggalkan aku dan pergi bersama laki-laki yang mungkin menurut mu jauh lebih baik dari aku yang hanya seorang baji**aN" ucap Roni yang langsung memberingsut ke lantai


Miska diam, lidahnya seakan tercekat dia tidak menyangka Roni akan berbicara seperti itu.


" Aku tahu pernikahan kita hanya karena sebuah perjodohan, dan kamu hamil pun hanya karena sebuah insiden bukan karena hubungan atas suka sama suka. aku tahu kamu memaksakan diri untuk merasa nyaman berada di sisiku dan apapun yang kamu lakukan semua hanya karena kedua orang tua kita dan juga bayi yang ada di dalam sana. kita bersama bukan karena sama-sama cinta, benarkan?" Roni menarik napasnya dalam-dalam.


" Melihat mu yang begitu akrab dengan Lukman bahkan tawamu yang begitu lepas bersamanya seakan menyadarkan aku yang bukan siapa-siapa di hatimu karena setiap kali kita bersama kita hanya bertengkar dan saling diam. kamu tidak pernah tertawa selepas seperti saat kamu berbicara dengan Lukman padahal kalian baru saja bertemu" lirihnya


Miska tidak menanggapi ucapan Roni, dia membiarkan Roni mengungkapkan keluh kesahnya.


" Aku... aku sangat mencintaimu Miska, perasaan ini tidak pernah aku rasakan sebelumnya. rasanya begitu sesak saat melihat mu tersenyum dan tertawa dengan laki-laki lain walaupun dia sahabat aku sendiri, rasanya sungguh tidak rela" ungkap nya


" Aku ingin marah, dan menarikmu kedalam dekapan ku tapi aku takut kau menolakku"


" Aku bisa apa jika kamu lebih merasa nyaman dengan orang lain dibandingkan dengan ku!" Miska menarik napasnya panjang menatap Roni yang nampak sayu dan sendu


" Dasar pria bodoh, aku pikir kamu itu bisa bersikap dewasa" cibir Miska


" Kamu pikir aku ini wanita macam apa hahh,?"


" Jadi dari tadi kamu bersikap dingin dan cuek itu karena cemburu? jadi kamu cemburu sama Dana maksud aku Lukman sahabat kamu sendiri?" tanya Miska dan Roni mengangguk pelan


" Oh ya ampun Roni... Roni, Dana maksud aku Lukman itukan sahabat kamu dan dia juga teman aku ya lebih tepatnya tetangga aku dulu sewaktu kami masih kecil" terang Miska menjelaskan


" Setelah sekian lama aku pindah rumah dan pindah sekolah, baru tadi aku dan Dana maksudnya Lukman bisa bertemu kembali" lanjutnya


" Apa kalian pernah ada hubungan?" pertanyaan bodoh itu keluar begitu saja dari bibir Roni


Miska tertawa sebelum menjawab " Bagaimana mungkin anak kelas 3 SD berpacaran" Roni mengerutkan keningnya


" Aku dan Lukman itu hanya bertetangga dan dia juga teman SD aku " lanjutnya


" Ja...jadi kamu pernah satu sekolah dengan Lukman?" tanya Roni terkejut dan Miska mengangguk pelan


" SD Putra Bangsa?" Miska mengangguk


Deg


Roni tercekat memorinya seakan kembali berputar kebeberapa tahun yang lalu


" Apa jangan-jangan benar dugaan ku dia adalah gadis kecil itu, wajahnya mirip? batin Roni


" Dari mana kamu tahu? apa Lukman pernah cerita kalau dia juga sekolah di SD Putra Bangsa?" Roni menggeleng


" Lalu?" tanya Miska


" Aku juga pernah sekolah di sana"


Deg


Kali ini Miska yang terkejut dibuatnya " Kamu pernah sekolah di SD Putra Bangsa ?" tanya Miska dan Roni mengangguk


" Benarkah?" Roni mengangguk yakin


" Tapi aku kok enggak pernah merasa punya teman sekolah bernama Roni ya?" Miska nampak berpikir


" Roni Aryandra guru memanggil aku dengan nama Arya"


" Aku tidak ingat" jawab Miska


" Aku juga tidak ingat punya teman SD bernama Miska Maheswari tapi bagaimana bisa kita mengenal Lukman sebagai teman SD kita?" Miska dan Roni nampak berpikir sendiri namun sedetik kemudian


" Jika kamu enggak mengenal aku begitu juga aku yang tidak pernah merasa satu SD sama kamu, jangan-jangan kamu ini gadis kecil yang berkepang dua yang memakai jepitan bunga matahari yang menangis di bawah pohon mangga?" tanya Roni mengingat-ingat


" Kamu_?" Miska berusaha mengingat


" Kamu mungkin tidak ingat karena pertemuan kita yang terlalu singkat, waktu itu aku adalah murid pindahan dari sekolah SD di kota x dan kamu sendiri justru akan pindah dari sekolah tersebut, benar tidak?"


" Iya, aku memang pindah sekolah saat kelas 3 SD ke kota x"


" Jadi benar anak perempuan berkepang dua itu kamu?" tanya Roni memastikan


"Sepertinya iya tapi kok aku tidak ingat pernah bertemu dengan mu ya" Miska terus mengingat-ingat


" Waktu itu adalah hari pertama aku masuk sekolah aku pindahan dari kota x . saat daddy dan mommy sedang berbicara dengan kepala sekolah aku berjalan di sekitar sekolah SD ku yang baru"

__ADS_1


" Tanpa sengaja aku melihat ada seorang anak kecil yang sedang menangis di bawah pohon yang ada di samping sekolah dengan rambut berkepang dua dan memakai jepit rambut bunga matahari. anak kecil itu sepertinya enggan untuk pindah dari sekolahnya tapi kedua orang tuanya terus memaksa anak itu untuk pergi bersamanya sehingga anak kecil tersebut lari lalu bersembunyi di bawah pohon mangga yang cukup besar dan rindang."


Tiba-tiba Miska mulai teringat dengan masa kecilnya dan Roni kembali bercerita.


" Aku mendekati anak perempuan itu tapi yang ada anak itu malah marah-marah dan mendorong aku dengan kasar, hingga aku terjatuh. dia juga mengatai aku anak gendut yang jelek sangat jelek" Miska membekap mulutnya sendiri saat ingatan itu perlahan muncul dalam memory nya.


" A.... aku!" Miska merasa sakit mendengarnya


" Anak itu mengusirku sambil menangis dan tidak henti-hentinya mengatai aku si gendut jelek bahkan dia sempat bilang tidak akan ada yang mau dekat-dekat denganku dan juga tidak akan ada yang mau jadi pacar aku yang gendut dan jelek"


Roni tersenyum kecut mengingat betapa bodohnya ia dulu saat SD menjadi bahan ejekan dan bulian teman-temannya


" Jadi kamu itu si gendut jelek yang tiba-tiba datang dan sok akrab itu?" Miska tidak menyangka dunia akan sesempit ini


Roni beranjak dari duduknya lalu berjalan ke arah lemari, membuka laci dan mengambil sesuatu dari laci tersebut


Roni kembali menghampiri Miska duduk di hadapannya lalu memberikan kotak kecil yang entah apa isi di dalamnya


" Bukalah!" titah Roni


Miska mengamati kotak kecil tersebut sebelum membukanya


" Ini apa?" tanya Miska


" Kamu akan tahu isinya setelah membuka kotak tersebut" jawab Roni


Dengan tangan yang sedikit gemetar Miska membuka kotak kecil tersebut dan seketika matanya membola


" I... ini" Miska mengambil isi kotak tersebut dengan mata yang berkaca-kaca


" Ba... bagaimana bisa benda ini ada padamu?" tanya Miska bergetar


" Benda itulah yang membuat aku selalu ingat pada gadis kecil itu, yang mengatai aku gendut jelek dan tidak akan punya pacar"


" Aku marah dan benci saat kau mengatai aku seperti itu sehingga saat kamu ditarik paksa pergi oleh ayahmu hingga benda itu terlepas dan terjatuh aku langsung mengambilnya lalu menyimpannya tanpa ingin mengembalikannya pada mu"


" Kau jahat" kesal Miska


" Kau yang lebih jahat, mengataiku seenaknya"


" Tapi ini adalah jepitan kesayangan ku, hadiah dari nenekku sebelum beliau meninggal aku mencarinya kemana-mana ternyata benda ini ada padamu"


" Mana aku tahu, yang aku tahu saat itu aku marah dan membencimu karena terus mengataiku si gendut jelek"


" Kau tahu setiap kali aku melihat benda ini membuat aku teringat kata-kata mu dan karena hal itulah yang membuat aku ingin memiliki banyak pacar untuk membuktikan kepadamu kalau si gendut jelek ini bisa punya pacar, bahkan banyak"


" Apa aku sejahat itu!" sesal Miska


" Ya, kau jahat sangat jahat!" ucap Roni seraya menahan tawanya karena melihat wajah Miska yang masih terlihat tidak percaya


" Jadi kamu selama ini menjadi seorang playboy gara-gara aku?" ucapnya merasa bersalah


" Eh?" Roni melongo sendiri


" Gara-gara aku banyak cewek yang sakit hati dan menangis dipermainkan kamu yang sebenarnya ingin membalas kejahatan ku, gara-gara aku mereka patah hati dan sekarang aku yang malah merebut kamu dari mereka sehingga mereka tidak bisa lagi bersama kamu"


Deg


Roni terkejut akan reaksi Miska yang tidak pernah terpikir sampai ke arah sana


" Aku memang jahat sangat jahat, mengatai orang sampai orang itu nekat menyakiti orang lain karena kata-kata aku yang sangat menyakitkan!" Roni menggelengkan kepalanya


" Tidak... bukan seperti itu sayang!" Roni sudah bergeser dan kini mengikis jarak antar keduanya.


Roni menangkup wajah Miska dengan kedua tangannya " Dengarkan aku, itu hanyalah masa lalu. kamu masih kelas 3 SD dan belum paham apa yang kamu ucapkan sayang, kamu mengatai aku gendut dan jelek karena memang itu fakta" Roni berusaha menenangkan Miska yang tiba-tiba sudah sesenggukan


" Maafkan aku ya, aku cuma bercanda kamu itu baik sangat baik"


" Bohong! kamu bohong, aku memang jahat sangat jahat!" sanggah Miska mendorong dada Roni hingga Roni jatuh terjengkang


" Sayang, maafkan aku!" Roni kembali mendekati Miska


" Aku tadi enggak serius bicara seperti itu, justru karena kata-kata mu itulah yang membuat aku terdorong untuk menjaga pola makan aku dan menguruskan badan." jawab Roni


" Jika tidak mungkin aku tidak setampan ini, dan mana mau kau menikah dengan pria gendut dan jelek ini" seloroh Roni


" Tapi aku_"


Roni meletakkan tangannya di bibir Miska


" Dengarkan aku, karenamu aku berusaha untuk selalu hidup sehat dan karena mu juga aku menjadi setampan ini" ucapnya bangga


" Aku tuh sebenernya sudah lama memperhatikan mu apalagi saat pertama kali berinteraksi yaitu saat bertengkar. disitu aku sempat kembali teringat dengan gadis kecil itu sampai ingin membuat kamu marah dengan aku memacari Nana bahkan sampai ingin merusaknya. rasanya aku ingin membuktikannya padamu si gendut jelek ini banyak yang mendekati bahkan mereka dengan suka rela aku jamah" jujur Roni membuat Miska melotot seakan tak percaya dengan ucapan Roni


" Kamu?"


" Aku memang membenci gadis itu tapi dibalik kebencian itu ada rasa ingin memiliki, aku sengaja membuatmu selalu marah karena saat marah kamu semakin terlihat menggemaskan"


" Sampai akhirnya daddy miminta aku menikah dengan mu, awalnya aku memang menolak tapi setelah aku berpikir lagi akhirnya aku setuju dan pura-pura menolak di hadapan mu!" jawab Roni mencurahkan semuanya.


"Aku mencintaimu Miska Maheswari, dari dulu hingga sekarang hanya saja caraku yang salah selama ini" ungkap Roni


" Percayalah, Aku mencintaimu sangat mencintaimu. aku mohon jangan membuat aku panas lagi dengan kamu berdekatan dengan laki-laki lain, aku sangat cemburu sayang" Roni mengecup kening Miska


" Tapi aku_!"


" Jangan bicara apa-apa lagi, jika kamu belum bisa mencintai ku tidak masalah tapi aku mohon jangan pernah berpaling dari ku dan jangan pernah berniat meninggalkan aku" potong Roni


Miska kembali menitikkan air matanya dan Roni dengan cepat merengkuh tubuhnya ke dalam pelukannya.


" Aku.... aku mencintaimu suamiku!"


Blusss......

__ADS_1


Roni mematung mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Miska


" Aku mencintaimu Roni Aryandra!" Miska mengulang kata-katanya karena Roni bergeming mempertajam indra pendengarannya takut salah mendengar dan juga takut ini hanyalah sekedar mimpi.


__ADS_2