
"Pak?" tanya seseorang yang merasa aneh dengan panggilan itu.
Azka, Zaira dan Mita menoleh ke sumber suara bersamaan.
" mama" panggil Mita saat melihat kedatangan mamanya dan mama mertua dari sahabatnya.
" Pak, kamu tadi panggil nak Bagaz pak?" tanya Rosa yang sedikit heran pasalnya wajah Azka yang tampan tidak terlihat tua-tua amat bahkan tampak jauh lebih muda dari usianya tapi kenapa putrinya memanggil Azka dengan sebutan pak.
" Iya ma, pak Bagaz ini guru olahraga Mita disekolah" terang Mita memberitahu mamanya
" Gu.. guru, jadi nak Bagaz ini guru kamu disekolah?" tanya Rosa merasa tidak percaya.
" Iya jeng putra saya ini memang guru di sekolah Mita dan Zaira" mama Maria ikut menimpali.
" Berarti nak Bagaz dan nak Zaira itu kakak beradik? pantas wajah mereka nampak mirip dan nak Bagaz terlihat begitu panik saat nak Za pingsan kemarin" ujar Rosa membuat Mama Maria tersenyum simpul.
" Za ini bukan putri saya jeng tapi dia sudah saya Anggap seperti putri kandung saya sendiri, saya sangat menyayanginya" Mama Maria berjalan mendekat ke Zaira dan mengusap pucuk kepalanya dengan lembut.
" Kalau mirip berarti jodoh tante" celetuk Azka membuat Rosa mengerutkan keningnya.
" Jodoh?" tanya Rosa
" Ma, Za ini bukan adiknya pak Bagaz melainkan isterinya pak Bagaz" ucap Mita memberitahu mamanya.
Jedarrr
" Is... te.. ri...?" ucap seseorang yang berdiri di ambang pintu bersama dengan kedua sahabatnya.
Tanpa mereka sadari ternyata Mia, Mona dan Indah sudah berdiri diambang pintu dan mendengar apa yang Mita ucapkan, membuat mereka bertiga begitu terkejut.
" Kalian!" ucap Zaira dengan terkejut.
" Za, pak Bagaz kalian_,?" ucap Mia menggantung.
" Maaf!" ucap Zaira lirih
" Sudah sayang, kamu tidak perlu merasa bersalah begitu!" ucap Azka santai
" Kalian kok gak masuk sekolah?" tanya Mita melepas ketegangan.
" kita bolos karena pingin lihat kondisi loe sama_, " ucapan Mona terhenti dan melirik ke arah Zaira.
" Gue udah gak apa-apa kok gaess, sorry ya gara-gara gue loe pada bolos semua" ucap Mita
" Gak apa-apa Mit, bete juga kalau di kelas gak ada loe, Za dan juga Lia" sahut Mia
" Dasar loe pada, bisa aja alasan" Mita geleng-geleng kepala.
" Oia, Lianya mana?" tanya Mita yang tidak melihat kedatangan Lia diantara mereka.
" Lia? bukannya tadi dia sudah berangkat lebih dulu ya, Karena dia tidak ada di kelas tadi" ucap indah yang merasa terkejut karena tidak adanya Lia.
" Nyangkut kemana lagi anak nakal itu?" gumam Mama Maria yang masih bisa didengar oleh yang lain.
__ADS_1
" Tenang saja ma, bentar juga paling Meli bakalan muncul" sahut Azka menimpali keresahan mamanya.
Tok.. tok .. tok..
Muncul seorang dokter berwajah tampan dan sangat sopan.
" Selamat pagi nona Mita!" sapa sang dokter
" Pagi dokter!" sahut Mita dengan degup jantung yang seakan tengah lomba maraton.
" Maaf, apa bisa keluar sebantar? saya ingin memeriksa pasien!" ucap sopan dokter Ariel
Akhirnya semuanya menunggu diluar hanya Mamanya saja yang menemani Mita di dalam.
" Bagaimana keadaan Putri saya dokter?" tanya Rosa penasaran
" Alhamdulillah, keadaan nona Mita sangat baik dan lukanya juga sudah sedikit mengering dan kemungkin besok atau lusa jika hasilnya semakin bagus sudah di perbolehkan pulang." tuturnya menjelaskan.
" Maafkan saya ya!" ucap sang dokter tiba-tiba
" Maaf,. maksud dokter apa? kok dokter minta maaf sama saya?" tanya Mita bingung.
" Sebelumnya perkenalkan nama saya Ariel Erlangga" ucap sang dokter memperkenalkan diri
Dokter Ariel menghela nafas panjang sebelum mengatakan sesuatu.
" Sebenarnya sayalah yang tidak sengaja menabrak kamu waktu itu sampai kamu menjadi seperti ini" lanjut dokter Ariel menceritakan kejadian sebenarnya.
" waktu itu saya tengah terburu-buru karena ada jadwal operasi secara dadakan. mungkin karena kurang hati-hati dan pikiran juga melamun jadi tanpa di sengaja saya menabrak nona Mita yang pada saat itu tengah berlari ke arah jalan" Ariel menceritakan tentang kejadian yang sebenarnya.
" Jadi yang menabrak putri saya itu dokter?" tanya Rosa terkejut.
" Iya nyonya, maafkan kesalahan saya, karena kurangnya kehati-hatian jadi membuat Mita celaka, sekali lagi saya minta maaf" ucap Ariel menyesal.
" Sudahlah dokter tidak apa-apa, saya juga turut bersalah karena tidak memperhatikan jalan" ucap Mita yang sadar karena dia juga salah berlari tanpa menghiraukan keadaan sekitar.
" Tidak perlu lagi saling menyalahkan, ini sudah menjadi takdir Allah" Rosa menengahi.
" Kalau begitu boleh kita berteman?" tanya dokter Ariel mengulurkan tangannya. Mita tercengang dan menatap tangan dokter Ariel yang terulur. " Bagaimana?" tanya dokter Ariel membuat Mita terkesiap.
" Ah iya, berteman" sahut Mita menyambut uluran tangan dokter Ariel.
" Terima kasih" dokter Ariel tersenyum. Ah manis sekali senyumnya membuat Mita terpesona dan tidak bisa berkata-kata.
Mita tersenyum tipis dan berusaha menyembunyikan perasaannya yang menjadi sedikit salah tingkah. Duh ada apa dengan Mita jantungnya berdegup kencang rasanya ruangan yang ber-AC dan dingin berubah panas.
" Kalau begitu nona Mita_"
" Mita saja dok" Potong Mita
" Iya Mita, apa masih ada keluhan yang dirasakan?" tanya dokter Ariel
" Ada dokter jantung saya rasanya mau copot melihat senyum dokter yang duh manisnya" gumam Mita dalam hati.
__ADS_1
" Mit.. Mita!" dokter Ariel melambaikan tangannya ke depan wajah Mita.
" Iya dokter" ucap Mita saat sadar dalam lamunannya.
" Apa keluhannya?" dokter Ariel menunggu Jawaban Mita.
" Keluhan? Emm... hanya masih terasa lemas saja dok" sahut Mita yang nampak gerogi.
" Kalau begitu kamu harus banyak makan dan jangan lupa minum obatnya ya" tutur dokter Ariel. " Sekarang saya permisi dulu nanti siang saya akan kembali lagi untuk pemeriksaan selanjutnya" tambahnya.
" I..iya dokter, terima kasih" Mita jadi salah tingkah melihat senyum dokter Ariel.
" Istirahat yang cukup ya!" pesannya pada Mita yang hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh Mita.
" Saya permisi nyonya, sekali lagi saya minta maaf" ucap dokter Ariel kepada Rosa.
" Tante saja" protes Rosa " Dokter kan sudah berteman dengan anak saya" lanjutnya lagi.
" Ah iya, tante"
" Dan dokter jangan terus meminta maaf, karena ini sudah takdir Allah"
" Iya tante" dokter Ariel lagi-lagi tersenyum tipis.
" Baiklah tante, kalau begitu saya permisi dulu masih harus memeriksa pasien yang lain" pamitnya sopan.
" Silahkan dokter dan terima kasih"
" Sama-sama tante"
Dokter Ariel lalu keluar dari ruangan Mita dan didepan kamar tersebut Sahabat-sahabatnya masih setia menunggu disana.
Dokter Ariel melemparkan senyum ramahnya menyapa kerabat pasien menurutnya. diapun melangkah pergi namun saat melihat sosok gadis cantik yang menurutnya tidak asing dokter Ariel berhenti melangkah dan memperhatikan seksama gadis yang tengah menatap layar ponselnya.
" Alzaira?" panggil dokter Ariel dengan sedikit ragu-ragu takut salah orang.
Zaira yang merasa namanya dipanggil pun langsung mendongak dan menatap lurus ke depan tertuju pada sosok pria tegap berjubah putih yang tersenyum manis kepadanya.
Zaira terkesiap melihat sosok dokter Ariel yang menurutnya sangat tampan ya walaupun masih tampan suaminya.
" Emmmm... Kak Ariel?" terka Zaira yang merasa terkejut dengan kemunculan seseorang yang sangat dikenalnya.
Dokter Ariel melangkah menghampiri Zaira ia tidak menyadari sosok pria tampan yang berada di samping Zaira tengah menatapnya tajam.
Zaira bangkit dari duduknya dan nampak begitu bahagia bisa melihat sosok pria yang selama ini sangat ia rindukan yang menghilang begitu saja bak ditelan bumi.
" Siapa dia, kenapa bisa mengenal Zaira?" gumam Azka dalam hati.
Sementara Mona, Mia dan Indah tidak kalah terkejutnya karena Zaira bisa mengenal dokter setampan Ariel.
Kalau mama Maria kebetulan sudah tidak ada disana karena papa Sam menelponnya dan memintanya untuk menemuinya di kantor.
Azka mengepalkan tangannya kuat menahan amarahnya tatkala melihat Zaira dipeluk oleh dokter Ariel ditambah lagi saat Zaira menangis dalam pelukannya.
__ADS_1