
" Apa tidak bisa satu Minggu saja?" tanya seorang wanita cantik yang kini tengah duduk di tepi tempat tidur dengan mata yang sudah berkaca-kaca menatap pria yang tengah bersiap-siap dan memakai jasnya.
" Akan aku usahakan secepatnya sayang, aku juga tidak bisa berlama-lama jauh dari dua orang yang sangat aku sayangi!" kini Mario tengah berjongkok di hadapan Lia seraya mengelus lalu mengecup perut Lia yang sedikit mulai nampak membesar.
" Tapi kamu harus janji tidak boleh macam-macam disana!" pinta Lia sambil mengelus rambut Mario yang berjongkok di hadapannya.
"Ya mana mungkin sayang, aku disana untuk bekerja dan aku akan usahakan sebisa mungkin menyelesaikan pekerjaan aku disana dengan cepat" tutur Mario
Flashback on
Ditaman sekolah
" Cepat katakan!" pinta Lia yang sedari tadi sudah tidak sabar menunggu Mario menceritakan apa yang tadi di dengarnya dari papa Alex
" Iya sayang, aku akan katakan tapi sebelumnya aku minta maaf karena tidak mengatakannya dari awal." Mario meraih tangan Lia lalu mengecup punggung tangannya.
" Iya, aku maafkan" sahut Lia
" Sebenarnya papa meminta aku untuk pergi ke Jepang dan mengurus proyek kerja sama perusahaan Alexander Atmaja dengan perusahaan Yamato Okinawa yang merupakan pengusaha ternama di Jepang." tutur Mario
" Ini adalah peluang emas untuk perusahaan papa agar bisa mengepakan sayapnya di negara tersebut oleh karena itu papa memintaku dan juga kak Arta untuk pergi ke negara tersebut" lanjutnya
" Kenapa tidak papah saja yang mengurus proyek tersebut?" tanya Lia
" Perusahaan Okinawa kini sudah di pegang oleh anaknya dan papah ingin akupun bisa belajar lebih jauh lagi dari pengusaha muda tersebut" jawab Mario
" Jangan bilang kalau anak dari pengusaha tersebut adalah seorang wanita?" tebak Lia dengan sorot mata yang menyelidik
Glek
" Itu..." Mario serasa sulit menelan salivanya karena apa yang dikatakan oleh Lia adalah benar.
" Jadi benar tebakan ku?" tanya Lia lagi
Mario menggaruk tengkuknya yang tidak gatal
" Tapi sayang walaupun pemimpin perusahaan tersebut adalah seorang wanita aku tidak akan macam-macam disana karena aku kesana hanya untuk masalah pekerjaan bukan yang lain" jawab Mario berusaha meyakinkan Lia
" Kalau begitu aku ikut!" celetuk Lia dan Mario langsung membulatkan matanya.
" Tapi sayang kondisi kamu itu tidak memungkinkan, papah dan mamah juga pasti akan melarang." Mario tidak ingin terjadi apa-apa dengan Lia dan juga kandungannya jika ikut bersamanya ke Jepang
" Aku janji sayang aku disana hanya untuk pekerjaan dan akan aku usahakan tidak sampai dua Minggu" lanjutnya lagi
Lia hanya diam lalu mengusap perutnya" Papih kamu akan pergi sayang!" ucap Lia dengan sendu menatap perutnya yang tengah ia elus.
" Sayang jangan seperti ini, bagaimana kalau ada yang melihatnya!" Mario meraih tangan Lia lalu mengecupnya.
" Yasudah aku mau kembali ke kelas!" Lia beranjak dari duduknya dan meninggalkan Mario begitu saja. Mario mengekor di belakangnya ia ingin memastikan Lia sampai di kelasnya dengan baik.
Mario berjalan di koridor sekolah dan ingin kembali ke kampusnya. Melati yang melihat keberadaan Mario dengan cepat langsung berlari menghampiri Mario.
" Kak Rio!" panggil Melati namun Mario sama sekali tidak mengindahkan panggilan tersebut.
" Kak!" panggil Melati saat dirinya kini sudah berada di dekat Mario.
" Kak tunggu dulu!" dengan tidak tahu malunya Melati meraih tangan Mario.
Dengan kasar Mario langsung menghempaskan tangan Melati yang sudah berani-beraninya menghambat jalannya jangan ditanya lagi saat ini tatapan Mario sudah menelisik tajam seakan ingin menguliti Melati hidup-hidup.
" Beraninya kau!" tegas Mario dengan tatapan tajamnya
Glek
__ADS_1
Melati bergetar melihat kemarahan dari tatapan mata Mario dia merasa tidak percaya Mario akan nampak menyeramkan seperti itu. tanpa banyak kata Mario langsung pergi meninggalkan Melati yang masih diam membeku.
Mario kini tengah berada di dalam kelasnya " Dari mana loe Rio ?" tanya salah satu teman barunya dikampus.
" Gak dari mana-mana" sahut Mario dengan malas
" Ah jangan bohong loe, gue yakin loe pasti dari sekolah sebelah kan?" tanya Brian yang tahu apa yang dilakukan Mario setiap hari setiap jam istirahat.
" Sok tahu loe!" ucap Mario dan Brian langsung tertawa mendengar jawaban Mario
" Gue tahu loe itu hampir setiap hari kesana" Brian menepuk bahu Mario
" Apa cewek loe sekolah disana?" tanya Brian
" Hem!" jawab Mario dengan singkat
" Gue juga ada gebetan disana, ceweknya cantik tapi rada jutek gitu sih. pertama kali gue melihat tuh cewek udah bikin gue penasaran tapi gue gak berani kesana sendirian. jadi kalau loe kesana lagi gue ikut ya!" pinta Brian
" Hem" jawab Mario dengan malas.
" Oke, thanks bro. semoga gue bisa ketemu sama tuh cewek dan barang kali aja berjodoh." tutur Brian penuh harap.
Mario kini tengah berada di dalam mobil menunggu Lia dan setelah beberapa menit menunggu akhirnya Lia muncul dengan bergegas Mario turun dari mobilnya dan menghampiri Lia yang tengah berjalan bersama teman-temannya.
Flashback off.
Lia mengantar Mario sampai depan pintu rumah, karena kesal Mario akan bertemu dengan seorang wanita di Jepang hatinya sungguh tidak terima tapi mau bagaimana lagi ia tidak mungkin bersikap egois dengan melarang Mario pergi.
" Aku pamit ya, jaga diri kamu dan baby kita dengan baik!" ucap Mario mengelus perut Lia dengan lembut
Lia hanya bisa mengangguk pelan rasanya lidahnya tercekat tidak bisa mengatakan apa-apa gemuruh dihatinya semakin kuat dan Lia pun tidak bisa lagi menahan tangisnya yang sedari tadi sudah ia usahakan agar tidak tumpah di hadapan Mario. bahkan Lia sampai menangis sesenggukan.
Mama Novi yang melihat menantunya menangis mengusap lembut pucuk kepala Lia.
" Sayang, sudah jangan menangis seperti itu, kita sebagai seorang isteri memang sudah resiko ditinggalkan oleh suami bekerja keluar negeri" tutur mama Novi dengan sangat lembut
" Sayang!" panggil Mario
Lia mengurai pelukannya dari mama Novi.
" Sayang, kamu harus hati-hati disana ya dan ingat cepat selesaikan pekerjaanmu jangan macam-macam karena ada seorang isteri yang tengah mengandung anak kamu menanti kamu pulang!" pesan mama Novi pada putranya karena mama tahu bagaimana rasanya jadi Lia apalagi saat ini Lia tengah mengandung pasti ingin selalu berdekatan dengan sang suami.
" Iya mah!" jawab Mario setelah itu mama Novi pergi meninggalkan sepasang suami istri yang masih saja terdiam satu sama lain dengan pikirannya masing-masing.
" Sayang!' Mario mengusap pipi Lia dengan lembut
" Aku tidak apa-apa, pergilah!" ucap Lia datar
" Sayang!" Mario terkejut dengan perubahan sikap Lia yang tiba-tiba menjadi dingin terhadapnya.
" Aku tidak apa-apa kamu tidak usah khawatir, aku baik-baik saja dan sebelum kamu pergi aku izin untuk tinggal di rumah orang tuaku!" tutur Lia
" Tapi sayang, bukannya mamah sedang ikut papah?" tanya Mario mengingatkan takut Lia lupa kalau kedua orang tuanya sedang pergi keluar kota.
"Iya aku tahu!" sahut Lia ketus.
" Lalu untuk apa kamu kesana, sebaiknya kamu disini saja, ada mamah yang akan menjaga kamu!" ucap Mario yang merasa tidak tega pergi meninggalkan isterinya yang tengah mengandung anaknya.
" Aku hanya kangen rumah, lagi pula aku sudah biasa ditinggal mamah dan papah keluar kota ataupun keluar negeri. " sahut Lia
" Tapi sayang_!" ucapan Mario terpotong
" Baik di izinkan atau tidak aku akan tetap tinggal di rumah mamah!" ucap Lia tegas membuat Mario menghembuskan napasnya kasar.
__ADS_1
" Sayang!" panggil Mario lembut
" Sudahlah Io, sebaiknya kamu pergi sekarang sepertinya kak Arta sudah menunggumu!" Lia menatap ke arah ponsel Mario yang sedari tadi terus berdering.
" Tapi sayang, aku_!"
" Sudahlah Io, sudah aku bilang aku tidak apa-apa, kamu tidak usah khawatir aku pasti akan menjaganya dengan baik" Lia mengelus perutnya.
Mario lalu berjongkok di hadapan Lia dan memberikan kecupan diperutnya.
" Baik-baik di dalam ya sayang, jaga mamih kamu ya nak!" ucap Mario mengelus perut Lia dengan lembut.
Lia sekuat hati menahan tangisnya ia tidak ingin terlihat rapuh di hadapan Mario.
" Sayang, aku pergi ya!" pamit Mario
" Jangan menangis lagi ya, aku akan usahakan untuk menyelesaikan pekerjaan aku disana dan cepat pulang!" tutur Mario
" Hem!" jangan Lia singkat.
" Kamu jangan mikir yang macam-macam, karena hati aku hanya untuk kamu sayang!" ucap Mario seraya mengecup bibir Lia.
" Hem!" jawab Lia singkat membuat Mario menghela napasnya berat dan ingin membatalkan saja kepergiannya ke Jepang.
Mario kini sudah pergi menuju bandara sedangkan Lia didalam kamar menangis sesenggukan, dia merasa begitu kehilangan padahal Mario baru saja pergi beberapa menit yang lalu tapi dia sudah merasakan kerinduan yang begitu hebat.
Tok
Tok
Tok
" Sayang, buka pintunya!" panggil mama Novi namun tidak ada jawaban dari dalam, entah kenapa mama Novi menjadi begitu khawatir saat Lia sudah berkali-kali dipanggil tapi tidak juga membukakan pintu.
Semenjak Mario kepergian Mario, wanita yang tengah hamil anak dari Mario tersebut lebih memilih mengurung diri di dalam kamar.
Sudah hampir seharian penuh Lia tidak keluar kamar. setelah menangis pandangan Lia buram dan tidak lama dia sudah terpejam hilang kesadaran.
Mama Novi nampak sangat panik karena Lia tidak juga membukakannya pintu.
" Bi Tini!" teriak mama Novi
" Iya Bu ada apa? tanya bi Tini setelah berada di hadapan mama Novi.
" Bi tolong ambilkan kunci cadangan, saya khawatir dengan keadaan Lia " ucap mama Novi
" Baik Bu!" bi Tini dengan segera pergi mengambil kunci cadangan tersebut
" Ini Bu kuncinya!" bi Tini memberikan kunci cadangan kepada majikannya.
" Terima kasih bi!" mama Novi meraih kunci yang bi Tini berikan dan dengan segera membuka pintu kamar Lia.
" Sayang!" mata mama Novi membulat sempurna saat melihat Lia tengah tertidur pulas tapi sama sekali tidak menggubris ucapannya.
" Sayang bangun!" panggil mama Novi sedikit mengguncang tubuh Lia yang tidak merespon apa-apa dan pada saat itu pula mama Novi terkejut dengan kondisi Lia
"Sayang!" mama Novi terus memanggil nama Lia yang masih saja diam.
" Ya ampun badannya panas sekali!" tutur mama Novi yang merasakan panas pada tubuh menantu kesayangannya itu.
" Bu apa non Lia pingsan?" tanya bi Tini
Deg
__ADS_1
Novi baru tersadar jika Lia bukan sedang tidur kemungkinan besar pingsan.
" Bi!" Mama Novi menatap bi Tini dengan perasaan khawatir mendengar pertanyaan Art nya tersebut