
Mita dan Rosa pagi ini tengah bersiap-siap untuk pulang, setelah dinyatakan sehat Mita pun sudah di izinkan untuk pulang.
Sebelum pulang Mita menyempatkan diri untuk menjenguk Sahabatnya Zaira. Mita mengetahui kabar Zaira dirawat dari sang kekasih yaitu dokter Ariel yang kebetulan tidak sengaja bertemu dengan Azka sewaktu di dalam lift.
Mita sempat terkejut dengan kabar berita yang sempat beredar di sekolah. Mita juga tidak menyangka Irfan sang ketua OSIS bisa berbuat seperti itu kepada Zaira. Memang terkadang kita tidak bisa menilai seseorang dari luarannya saja, apa yang dilihat mata belum tentu seperti itu hal yang sebenarnya. seperti buah yang mulus luarnya belum tentu tak berulat. jadi sebaiknya jangan pernah menilai orang lain dari luarannya saja, yang berpenampilan baik belum tentu baik akhlaknya dan yang berpenampilan buruk belum tentu buruk pula akhlaknya.
Mita ditemani sang mama masuk ke dalam ruangan Zaira dan saat mereka masuk disuguhkan dengan kemesraan pasangan suami istri yang tengah menanti kehadiran sang buah hati ini. Azka dengan telaten tengah menyuapi Zaira makan.
Ceklekk
pintu dibuka Mita dan Rosa menyembul dari balik pintu dan pasangan suami istri yang berada di dalam ruangan pun menoleh bersamaan.
"Assalamu'alaikum!" ucap Mita dan Rosa
" Wa'alaikum salam!" jawab Zaira dan Azka bersamaan.
" Mita!" teriak Zaira senang melihat sahabatnya sudah kembali sehat.
" Za!" Mita pun bergegas menghampiri Zaira lalu mereka saling berpelukan.
" Loe gak apa-apakan Za?" tanya Mita cemas
" Gue gak apa-apa!" Zaira mengurai pelukannya
" Syukurlah Za!" Mita kembali memeluk Zaira sementara Azka dan Rosa hanya tersenyum melihat keakraban keduanya.
" Bagaimana kabar ponakan gue?" tanya Mita seraya mengusap perut Zaira yang sudah mulai terlihat membesar.
" Alhamdulillah sehat tante cantik!" jawab Zaira dengan suara dibuat seperti anak kecil.
" Syukurlah, sehat-sehat didalam ya sayang!" ucap Mita mengajak bayi yang masih berada di dalam perut Zaira berbicara.
" Iya, makasih tante cantik!" ucap Zaira menimpali.
" Terus loe sendiri bagaimana keadaannya? sudah boleh pulang?" tanya Zaira
" Alhamdulillah, sudah"
" Terus loe pulangnya naik apa?"
" Nunggu mas Ariel jemput" sahut Mita malu-malu
" Cie... mas Ariel!" ucap Zaira tersenyum menggoda membuat Mita langsung merona merah.
" Mas, calon kakak ipar!" ucap Zaira menunjuk Mita kepada Azka.
" Apaan sih Za!" Mita sudah salah tingkah
"Kenapa sih emangnya Mita, ya loe kan nanti juga bakalan jadi kakak ipar gue ini" ucap Zaira menyenggol lengan Mita lalu tertawa
" Udah deh Za jangan mulai, untung aja gak ada yang lain bisa rame gue dibully kalian" ucap Mita
" Untung gak ada siapa?" tanya Lia yang baru saja datang bersama Mario. membuat Mita dan Zaira menoleh berbarengan.
" Gak ada loe , kenapa?" sahut Mita
" Wah udah sembuh total ini sih, ibu negara udah mulai galak lagi" ucap Lia yang berjalan menghampiri Rosa dan Azka lalu menyalami keduanya yang diikuti oleh Mario.
" Kalian bolos lagi?" tanya Zaira melihat kedatangan Lia dan Mario yang masih di jam sekolah.
" Enak aja bolos, sekolahnya yang pulang cepat" protes Lia tidak terima dibilang bolos.
" Ya kirain kalian bolos lagi" timpal Zaira.
"Bye the way, bagaimana keadaan loe? sudah boleh pulang nih kayaknya" ucap Lia
" Iya pulang dong, Bosen gue disini terus setiap hari" sahut Mita
" Bosen apa bosen, kan setiap hari bisa ketemu sama babang Ariel!" goda Zaira.
" Eh ini anak malah ngeledek lagi" Mita mencubit pipi Zaira gemas.
" Wah ada kemajuan pesat nih jangan-jangan ada yang mau nyusul loe Za!" ucap Lia ikutan menggoda Mita
" Sepertinya sih begitu tapi kira-kira siapa duluan nih Mita apa loe duluan Li apa barengan aja deh kalian berdua!" ucap Lia membuat Mita menatap Za penuh tanya.
" Ngeliatinnya gak usah kayak gitu juga kali Mit, tuh sahabat loe kayaknya juga udah kebelet mau nyusul " terang Zaira membuat Mita terkejut
" Serius Za?" tanya memastikan
" Hemmm.. tinggal tunggu tanggal mainnya ya kan Li?" tanya Zaira menaik turunkan alisnya membuat Lia mendengus kesal.
" Ah loe mah ember Za, sejak kapan sih loe ketularan si Mona?" kesal Lia
Pada saat para cewek-cewek berbincang-bincang yang gak jelas lain hal dengan Mario dan Azka yang ternyata sudah keluar dari ruangan Zaira.
Di taman rumah sakit Azka dan Mario kini tengah duduk berdua dengan pandangan lurus ke depan dan tidak lama Sendy datang menghampiri mereka bersama dengan Yoga.
__ADS_1
" Ka!" panggil Sendy membuat keduanya menoleh.
Saat ini Azka, Mario, Sendy dan Yoga berada di sebuah cafe yang tidak jauh dari rumah sakit. awalnya mereka berbicara ditaman tersebut namun karena sepertinya pembicaraan mereka yang semakin serius akhirnya Azka mengajak mereka pindah ke cafe dekat rumah sakit.
" Sepertinya Leo ada kaitannya dengan menghilangnya Irfan" ucap Mario
" Gue sependapat dengan loe Rio!" ucap Yoga
" Maksud kalian?" tanya Azka.
" Tadi sewaktu semua murid dikumpulkan di lapangan saya melihat ada gelagat aneh pada Leo. apalagi yang kami tahu Leo itu sahabat dekat Irfan." ungkap Mario
" Bagaimana kalau kita mulai pencarian ini dari Leo?" ucap Mario mengungkapkan pendapatnya.
" Setuju!" sahut Yoga
" Iya sepertinya Siswa yang bernama Leo itu gerak geriknya sedikit mencurigakan, lihat ini!" ucap Sendy yang tiba-tiba menyodorkan layar laptopnya ke Azka, Mario dan Yoga.
Sendy sedari tadi diam karena dia tengah mengamati dengan teliti gerak gerik Leo di video cctv sekolah.
" Kalian benar, Kita mulai penyelidikan ini dari Leo" ucap Azka setelah mengamati video yang diperlihatkan oleh Sendy.
" Bagaimana kalau kita mulai dari sekarang. kita mulai dari rumah Leo!" ucap Yoga
" Hemm!" Mario mengangguk setuju
" Kami yang akan pergi mengintai Leo pak Bagaz dan bang Sendy di sini saja. tunggu kabar dari kita bagaimana?" ucap Mario
" Dan satu lagi sebaiknya kita jangan lengah aku punya pirasat gak enak dan sebaiknya kita segera kembali ke rumah sakit" lanjut Mario
Di dalam ruangan Zaira, Mita dan Lia tengah tertawa merasakan gerakan pada perut Zaira. mereka merasa takjub dan gemas sendiri.
sementara Rosa saat ini tengah pergi keluar ruangan menerima telepon yang masuk.
" Za gemes banget sih, lucu ya gerak-gerak gini jadi _" Lia menjeda ucapannya.
" Jadi kepengen ya Li" celetuk Mita membuat ketiga tertawa.
" Iya lucu kali ya kalau kita sama-sama sudah punya anak diusia kita yang terbilang muda" ucap Lia sedikit berhayal
" Kalau loe emang mau, nikah dulu makanya sana bilang sama babang Io!" ledek Mita
" Jangan salah Mit, Mario itu termasuk laki-laki gentle loh dia udah minta Lia sama papa dan mama buat jadi pendamping hidupnya Lia" ungkap Zaira membuat Lia lagi-lagi mendengus kesal dengan kakak iparnya yang sudah ketularan Mona katanya sih.
" Wahh.. berita heboh ini sih. serius Li Mario udah melamar loe?" Mita jadi penasaran
" Emmmm.. ya begitulah!" ucap Lia ngasal lalu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
" Ya bukan begitu, gue juga sebenarnya awalnya juga belum yakin tapi semakin kesini Mario terus menunjukkan keseriusannya" ungkap Lia
" Papa dan mama juga sudah merestui mereka Mit, bahkan Mario sekarang memanggil papa dan mama dengan sebutan papa mama."
" seriusan loe Za?" Mita nampak tidak percaya
" Iya, ngapain juga gue bohong" sahut Zaira
Tok
tok
tok
Tiba-tiba pintu kamar inap Zaira terbuka dari luar.
Ceklekk
" Assalamu'alaikum" ucap seseorang yang masih berdiri di ambang pintu lalu perlahan berjalan masuk ke ruangan tersebut.
" Wa'alaikum salam" sahut Zaira, Lia dan Mita bersamaan.
" Hai Za bagaimana keadaan kamu?" tanya seseorang yang baru masuk ke dalam ruang perawatan Zaira
" Alhamdulillah kak baik, kakak mau menjemput Mita ya?" tanya Zaira tanpa basa-basi
" Iya, kakak mau menjemput Mita" sahut dokter Ariel
" Kemana Azka ?" Tanya dokter Ariel saat tidak melihat keberadaan Azka di ruangan Zaira.
" Oh, mas Azka sedang keluar tadi sama Mario mungkin ke kantin kali" jawab Zaira
" Oia Za, apa orang-orang yang berada di depan itu orang-orang yang diperintahkan untuk menjaga kamu?" tanya dokter Ariel
" Iya Za didepan ruangan loe ada beberapa bodyguard udah kayak pejabat-pejabat penting aja ya loe Za, keren!" ucap Mita ikut menimpali
" Bodyguard? gue malah gak tahu soal itu" sahut Zaira
" Itu semua perintah bokap gue, ya bokap gue gak mau kecolongan lagi menantu kesayangannya kenapa-napa. makanya dia kirim orang-orangnya untuk menjaga Zaira. apalagi saat ini Irfan gak tau ada di mana" sahut Lia
__ADS_1
" Apa gak terlalu berlebihan Li?" tanya Zaira
" Berlebihan bagaimana si Za? loe itu menantu kesayangan papa dan mama hal kayak gini belum seberapa. loe itu harta yang paling berharga di keluarga Dinata apalagi saat ini loe tengah hamil mengandung penerus keluarga Dinata" jawab Lia dan pada saat mereka tengah asik mengobrol tiba-tiba pintu terbuka dari luar dengan sedikit kasar.
" Sayang !" Rosa masuk dengan langkah tergesa-gesa.
" Mama ada apa, kenapa mama kelihatan panik?" tanya Mita
" Sayang para penjaga diluar sedang berkelahi sepertinya ada sesuatu yang terjadi sayang" Jawab Rosa dengan gugup
" Apa, berkelahi? wah ini gawat. " sahut Lia ikut panik
" Ada apa sebenarnya?" tanya dokter Ariel
" Ada yang mengincar Zaira, sebaiknya kita sembunyikan Zaira" sahut Lia membuat semua yang ada di ruangan tersebut terkejut termasuk Zaira.
" Tapi loe jangan khawatir Za, gue janji akan ngejagain loe meski nyawa gue taruhannya" ucap Lia yang langsung mengajak Zaira turun dari brankar.
" Dokter!" panggil Lia menunjuk selang infus yang masih menempel di tangan Zaira.
Dokter Ariel bergegas menghampirinya dan membuka jarum infus yang masih menempel di tangan Zaira.
Lia dibantu oleh Mita menyembunyikan Zaira di balik sofa besar yang berada di pojok ruangan tersebut. Zaira diminta berbaring di balik sofa tersebut agar tidak terlalu mencurigakan jika ada seseorang yang bersembunyi di balik sudut sofa tersebut karena terlihat sempit. setelah Zaira bersembunyi Lia lalu berpura-pura menjadi Zaira. ia naik ke atas brankar dan berbaring di atas kasur dengan memakai masker di wajahnya.
Dokter Ariel berpura-pura tengah memeriksa kondisi Zaira sedangkan Mita dan Rosa berpura-pura sebagai keluarga pasien.
Brakk
pintu terbuka dari luar dengan kasar Mita dan Rosa terperanjat kaget begitu juga dokter Ariel dan Lia tapi mereka semua mencoba untuk tenang.
" Siapa kalian?" tanya Mita
para pria bertubuh kekar itu tidak menjawab dan berjalan semakin mendekati brankar. pria-pria tersebut menyingkirkan dokter Ariel yang berdiri di sisi ranjang Zaira yang sudah di gantikan oleh Lia.
" Siapa kalian? kali ini gantian dokter Ariel yang bertanya dan pria-pria itu bukannya menjawab tapi malah memukul dokter Ariel hingga tersungkur.
melihat dokter Ariel tersungkur Mita langsung menghampirinya.
" Mas kamu tidak apa-apa?" tanya Mita dan dokter Ariel menggeleng.
" Pergi kalian, jangan sakiti adikku! " teriak dokter Ariel sementara Lia yang didekati oleh kedua pria bertubuh tinggi besar itu berteriak ketakutan.
" Siapa kalian, mau apa kalian? pergi!" teriak Lia dengan suara gemetar.
Kedua pria tersebut langsung menarik Lia turun dari tempat tidur dan berusaha untuk membawa Lia yang disangka Zaira. Lia berusaha memberontak tapi kedua laki-laki tersebut memaksanya dengan kasar. dokter Ariel yang hendak menolong dan sempat berkelahi dengan salah satu pria tersebut kalah ia kembali tersungkur dengan luka lebam diwajahnya.
Lia terus berusaha memberontak dan namun para pria berbadan cukup besar itu berhasil membawa Lia yang disangka Zaira itu pergi.
Dan pada saat yang sama baru saja Azka dan yang lainnya tiba di rumah sakit tersebut tiba-tiba gelang yang dipakai Mario menyala. Mario nampak panik dia tahu Lia tidak akan mungkin bermain dengan alat itu dan dengan wajah panik Mario langsung berbalik badan
" Mereka dalam bahaya " teriak Mario yang langsung berlari menuju ruang perawatan Zaira.
Azka, Sendy dan Yoga kaget dengan sikap Mario tapi mereka pun ikut berlari mengejarnya.
Sampai di depan ruangan tersebut Mario terkejut karena para bodyguard yang diperintahkan untuk berjaga-jaga tengah terkapar di lantai dengan wajah babak belur. Mario langsung masuk kedalam dan Melihat ruangan yang nampak berantakan.
" Dimana Lia dan Zaira?" tanya Mario dan disusul dengan Azka yang panik karena tidak melihat isterinya diatas brankar.
" Dimana isteriku?" teriak Azka
" Mas aku disini! " Teriak Zaira dengan suara terdengar samar-samar
" Kamu dimana sayang?" tanya Azka panik
" Dia ada di balik sofa itu !" ucap Mita menunjuk ke arah sofa.
Azka langsung bergegas menghampiri Zaira dan membantunya keluar dari balik sofa tersebut. Azka langsung memeluk Zaira dan Zaira pun menangis di pelukan sang suami dengan tubuh gemetar karena ketakutan.
Dengan perlahan Azka membantu Zaira untuk kembali tiduran di tempat tidurnya.
" Apa sebenarnya yang terjadi?" tanya Azka
" Mas Lia mas" ucap Zaira cemas dengan keadaan Lia
" Meli, dimana dia?" tanya Azka saat netranya tidak melihat sosok yang dicari.
" Lia dibawa orang-orang tadi !" sahut dokter Ariel yang tengah dibantu Sendy dan Mita berdiri.
" Apa?" Azka kaget dan saat ingin berbicara pada Mario ternyata anak itu sudah menghilang.
" Dimana Mario?" tanya Azka
" Sepertinya dia mengejar Lia, dia memberikan ponselnya dan ini lihat!" sahut Yoga yang memperlihatkan lampu merah yang berada di layar terus bergerak menjauh dari lokasi mereka berada.
" Mario anak yang cerdas, sekarang kita ikuti sinyal ini!" ucap Sendy
" Benar dia sangat cerdas dan sepertinya Meli sengaja menjadi umpan agar kita tahu siapa dibalik ini semua" ucap Azka menimpali.
__ADS_1
Azka akhirnya memutuskan untuk membawa Zaira pulang ke kediaman orangtuanya dan meminta tim medis untuk ikut serta dengannya. dia takut meninggalkan Zaira sendirian di rumah sakit setelah kejadian yang menimpa isterinya.
Sementara itu Mita tidak jadi pulang dia membantu dokter Ariel memeriksakan luka-lukanya.