
Lia sedang dalam pemeriksaan, dokter Dinda yang tengah menanganinya. Mario di depan pintu ruang UGD tidak bisa diam, mondar-mandir dengan jantung yang berdebar-debar cemas dengan keadaan Lia dan juga calon bayi mereka.
" Rio kamu yang tenang ya, sebaiknya kita berdoa semoga Meli tidak kenapa-kenapa!" ucap mama Maria
" Iya nak Rio, tenanglah!" ucap papa Sam menepuk bahu Mario memberi ketenangan walaupun sebenarnya hatinya pun merasa sangat khawatir.
" Iya mah, pah!" Mario akhirnya duduk di tuntun mama Maria
Baru saja Mario mendaratkan bokongnya dikursi tunggu dokter Dinda keluar dari ruang UGD.
Mario langsung beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri dokter Dinda diikuti oleh Mama Maria dan papa Sam.
" Bagaimana dokter keadaan isteri saya?" tanya Mario panik
" Alhamdulillah, pasien tidak mengalami sesuatu yang membahayakan, hanya kram perut mungkin faktor karena terlalu kecapean dan juga banyak pikiran. pasien harus banyak istirahat dan jangan banyak pikiran !" tutur dokter Dinda menjelaskan
" Baik dokter, terima kasih. apa boleh saya menemui isteri saya sekarang?" tanya Mario
" Tunggu sebentar ya, pasien akan dipindahkan ke ruang perawatan!" ucap dokter Dinda
" Baik kalau begitu dok, terima kasih!"
" Sama-sama, kalau begitu saya pamit permisi dulu!"
" Silahkan dokter!"
Setelah dokter Dinda pergi tidak lama Lia dipindahkan ke ruang perawatan.
" Sayang!" panggil Mario dan langsung memeluk sang isteri.
" Io!" lirih Lia
" Maafkan aku sayang, karena aku sudah membuat kamu sampai seperti ini!" ucap Mario seraya mengusap rambut Lia lembut
" Kamu tidak salah sayang, ini karena aku yang kecapean saja!" ucap Lia seraya bangun untuk duduk bersandar dan dibantu oleh Mario
" Mah, pah!" sapa Lia saat melihat mama dan papanya yang berjalan menghampirinya.
" Bagaimana keadaan kamu sayang?" tanya mama Maria cemas
" Alhamdulillah, sudah baikkan mah" jawab Lia
" Mulai sekarang kamu harus lebih hati-hati menjaga kesehatan kamu dan juga kandungan kamu sayang, jangan terlalu capek dan banyak istirahat. " pesan papa Sam
" Iya pah!"
" Rio, jaga putri dan calon cucu papa dengan baik jangan sampai kejadian ini terulang lagi!" ucap papa Sam tegas
" Iya pah!" jawab Mario
" Ya sudah, kamu istirahat ya papa pamit harus pergi ke kantor sekarang!"
" Iya, pah!" Lia mencium punggung tangan papa Sam begitu juga dengan Mario
" Mah, mau ikut atau tetap disini ?" tanya papa Sam
" Mama mau ikut papa pulang dulu saja, sekalian mau bawa baju ganti untuk Lia dan juga makanan !" ucap mama Maria
Mama Maria dan papa Sam berjalan keluar dan saat sampai di ambang pintu mereka berpapasan dengan Zaira dan Azka.
" Mah bagaimana keadaan Meli?" tanya Azka yang khawatir dengan keadaan adiknya
" Alhamdulillah, tidak apa-apa hanya kram perut akibat kelelahan!" jawab mama Maria
" Syukurlah!" Zaira merasa lega mendengarnya dan Azka sudah melesat masuk ke dalam ruangan.
" Mama sama papa mau pulang dulu ya!" pamit mama Maria
__ADS_1
" Iya mah, pah!" Zaira mengalami tangan keduanya.
Zaira masuk ke dalam ruangan Lia menyusul Azka yang sudah lebih dulu masuk.
" Mel kamu tidak apa-apa?" tanya Azka
" Tidak kak, aku dan juga calon bayi aku Alhamdulillah dalam keadaan sehat!" sahut Lia
" Syukurlah!" Azka nampak lega lalu Azka menghampiri Mario yang baru saja menutup sambungan teleponnya. karena pada saat Azka masuk bertepatan dengan ponsel Mario yang berdering mendapat panggilan dari Arta.
" Li, bagaimana keadaan loe?" kali ini Zaira yang bertanya berjalan seraya mendekati brankar Lia
" Sudah jauh lebih baik!" sahut Lia
" Syukurlah tapi loe sebaiknya bedrest Li" ucap Zaira
" Iya Za" sahut Lia dan Za tersenyum lalu sedetik kemudian Zaira terdiam dengan wajah murung
" Loe kenapa Za?" tanya Lia melihat raut wajah Zaira yang seperti biasanya
" Gue gak Kenapa-napa kok!" elak Zaira
" Ya ampun Za, loe kayak sama siapa aja. gue itu tahu loe Za, jadi gue bisa lihat dengan jelas mana yang kenapa-napa dan mana yang gak Kenapa-napa!" tutur Lia terkekeh
" Gue juga gak tahu Li!" ucap Zaira sedikit sendu
" Apa loe lagi ada masalah dengan kak Azka?" tanya Lia
" Sebenarnya sih gak ada yang perlu dipermasalahkan, ya menurut gue sih begitu!" tutur Zaira
" Lalu?" Lia menautkan alisnya
" Mas Azka terlalu pencemburu dan itu membuat gue merasa tidak nyaman kalau apa-apa ngambek padahal jelas-jelas gue gak ngapa-ngapain. ya itu orangnya aja yang rese kenapa malah marahnya ke gue coba!" ucap Zaira sedikit kesal membayangkan sikap Azka yang tiba-tiba bersikap dingin dengannya.
" Ya ampun Za sampai segitunya!" Lia terkekeh
" Nah tuh loe tau sendiri, bagaimana gue coba yang dari tadi dicuekin gara-gara tuh guru rese manggil gue tadi di koridor rumah sakit!" Zaira menghela napasnya panjang
" Pak Aldy yang loe maksud?" tanya Lia
" Ya siapa lagi, dunia kenapa terasa sempit banget sih pakai acara ketemu tuh orang disituasi kayak gini!" keluh Zaira
" Sabar Za, seru juga tapi Za!" Zaira langsung mengerutkan keningnya mendengar ucapan Lia yang nampak membingungkan
" Seru bagaimana maksud loe?" tanya Zaira
" Seru aja bisa melihat orang yang kita sayang itu cemburu sama kita, dari pada gue yang ada banyakkan gue yang cemburunya" sahut Lia
" Ha ..ha.... karena gak ada yang suka sama loe ya jadi gak ada yang membuat Mario cemburu?" ledek Zaira
" Eh.. sialan loe, dasar sahabat gak ada akhlak" Zaira tertawa melihat wajah Lia yang mengerucut
" Terus kenapa tuh dokter ada di sini?" tanya Lia
dan Zaira menggeleng
" Gue juga gak tau dan lebih tepatnya lagi gak mau tahu juga!" sahut Zaira
"Tapi sebenarnya sih tuh guru lumayan ganteng cuma_!" belum selesai menjawab Mario sudah lebih dulu memotong ucapan Lia
" Eh?" Lia terkejut dengan kemunculan Mario teguh tiba-tiba
" Gak ada!" elak Lia
" Cuma apa?" tanya Mario lagi membuat Zaira menahan tawanya melihat Lia yang nampak seperti kepergok oleh Mario tengah berselingkuh
" Za loe kok malah ketawa sih!" kesal Lia
__ADS_1
" Ternyata nasib loe gak jauh beda sama gue punya suami yang sama-sama posesif" tutur Zaira.
" Iya loe betul Za!" Lia pun ikut tertawa
" Eh ditanya cuma apa malah ketawa!" ucap Mario mendengus kesal
" Cuma sayang salah suka sama orang!" sahut Lia melirik ke arah Zaira dan seketika Mario pun mengikuti lirikan Lia yang membuat Zaira menepuk jidatnya.
" Siapa suka sama siapa?" tanya Mario dengan tatapan tajam
" Yang jelas bukan sama aku sayang!" jawab Lia menunjuk Zaira dengan dagunya
" Owh pantas saja!" ucap Mario
" Pantas saja apa?" kali ini Lia yang bertanya kepada Mario
" Pantas saja tuh lihat!" Mario menunjuk ke arah Azka dengan ekor matanya dan Lia yang mengikuti arah pandang Lia ingin tertawa melihat kakaknya yang tengah memejamkan mata seraya memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.
" Za tuh kakak gue loe apain?"Lia menoel lengan Zaira
" Biarin aja, salah sendiri punya pemikiran cetek banget" ucap Zaira masa bodo
" Ya udah aku mau ajak kak Azka ke kantin dulu ya. mungkin dia butuh kopi dan juga sarapan tadi pasti belum sempatkan!" tutur Mario
" Iya, ajak aja dia ke kantin Rio, siapa tahu setelah sarapan dan minum kopi pikirannya jadi jernih" ucap Zaira
" Kalian mau dibawain apa?" tanya Mario
" Apa sajalah!" jawab Lia dan juga Zaira
" Yaudah aku pergi ya!" pamit Mario
Azka yang diajak pergi ke kantin oleh Mario beranjak dari duduknya dan sebelum pergi sempat menoleh ke arah Zaira sekilas.
" Tuh apa gak bikin orang kesal Li!" Zaira mendudukkan dirinya di kursi samping Lia dengan kasar.
" Sudah punya anak juga!" Zaira menggerutu
" Sabar Za, nanti juga baik sendiri. mungkin kak Azka cuma kurang kopi aja kali jadi gak bisa mengontrol emosinya" Lia mencoba menenangkan Zaira
" Mungkin" Zaira membuang napasnya kasar
" Padahal baru kemarin dia bilang sama gue jangan menelan mentah-mentah apa yang gue lihat eh malah dia sendiri yang kayak gitu, semalam sudah minta maaf gara-gara ulah tuh guru juga yang gak tahu dapat nomor gue dari mana tuh orang tiba-tiba WhatsApp gue dan tepat mas Azka yang baca!" tutur Zaira menceritakan penyebab pertengkaran mereka akhir-akhir ini.
" Seriusan loe tuh guru berani WhatsApp loe?" tanya Lia yang nampak terkejut
Zaira mengangguk " Gue juga awalnya gak tahu kalau tuh guru WhatsApp gue, tahu-tahu mas Azka marah dan ngediamin gue gitu aja, sikapnya yang biasa hangat berubah dingin. ya gue merasa kesal dong gak tahu salah apa digituin jadi gue diamin balik baru deh dia kelabakan dan semalam diam-diam dia nangis gitu takut gue ninggalin dia katanya." tutur Zaira menceritakan tentang kakak dari sahabatnya itu.
" Apa kak Azka nangis?" Zaira mengangguk
" Benar-benar ya Za loe sudah menjungkir balikkan kak Azka!" Lia menepuk bangga dengan Zaira yang sudah membuat kakaknya bucin akut
" Gue yakin Mario juga sama, iyakan?" Zaira menaikkan satu alisnya
" Iya juga sih!" jawab Lia dan mereka pun tertawa bersama.
Sementara di kantin Mario sudah memesankan Azka secangkir kopi dan juga roti bakar untuk mereka sarapan.
" Kak diminum kopinya!" ucap Mario
" Iya terima kasih!" Azka pun meraih cangkir kopi miliknya lalu menyeruputnya dengan perlahan.
Mario pun sama ia meminum kopi miliknya setelah itu menyantap roti bakar selai kacang miliknya.
Mereka sarapan dalam diam, sibuk dengan ponselnya masing-masing. Mario sibuk membalas chat dari Arta sedangkan Azka sedang membalas chat dari Sendy.
Sesekali mereka menyeruput kopi masing-masing dan tiba-tiba terdengar suara bariton yang cukup membuat Azka seketika menarik napas dalam-dalam sebelum mendongak dan menatap wajah laki-laki yang sudah berdiri di hadapannya dengan senyum yang mengembang.
__ADS_1
" Boleh gabung?" tanya laki-laki yang membuat Azka memutar bola matanya malas sebelum akhirnya mengangguk pelan