
" Dokter!" Aldy langsung bergegas menghampiri dokter yang baru saja menangani Khanza
" Bagaimana keadaannya is_ maksud saya pasien dokter?" tanya Aldy yang terlihat begitu panik
" Keadaan pasien baik tidak ada yang perlu dikhawatirkan tapi saya perlu bicara dengan keluarga pasien" sahut dokter yang bername tag Dr. Dinda
" Bicara saja dengan saya dok, saya walinya!" jawab Aldy yang semakin cemas dengan keadaan Khanza
" Emmmm... apa anda keluarga pasien?" tanya dokter Dinda memastikan
" Iya dokter" jawab Aldy
" Kalau boleh tau anda ini siapa nya pasien?"
" Saya... suaminya dokter!" jawab Aldy yang akhirnya jujur
Dr. Dinda menghela napasnya, menatap wajah Aldy sekilas
" Kalau begitu anda ikut saya sekarang" dokter Dinda berjalan menuju ruangannya dan Aldy mengekor di belakangnya.
" Silahkan duduk pak!" ucap Dr. Dinda
" Terima kasih dokter!" Aldy duduk tepat di depan Dr. Dinda
" Maaf sebelumnya, nama anda_?"
" Aldiansyah, panggil saja Aldy!" sahut Aldy
" Emm, pak Aldy apa benar pasien bernama Khanza itu isteri anda?"
" Iya benar dokter"
" Apa kalian sudah lama menikah ?"
" Memangnya kenapa dokter, apa kaitannya dengan keadaan isteri saya?"
" Tentu saja ada pak, ini cukup berkaitan dengan hubungan kalian" jawab Dr Dinda sopan
" Kami menikah sudah hampir 6 bulan dokter" jawab Aldy dan Dr. Dinda mengangguk lalu tersenyum
" Apakah isteri anda itu masih seorang pelajar? Maaf sebelumnya dari seragam yang ia pakai saya yakin dia itu salah satu siswi dari sekolah SMA Darma Bangsa, benar begitu pak Aldy?"
Aldy mengangguk " Iya, benar dokter!" Dr Dinda kembali tersenyum.
" Apa anda ini seorang guru?" tanya Dr Dinda yang membuat Aldy sedikit geram karena Dr Dinda bukan membahas penyakit Khanza malah bertanya hal yang tidak penting menurutnya.
"Dokter, sebenarnya isteri saya itu sakit apa? kenapa pertanyaan anda semakin tidak jelas? " kesal Aldy
Dr Dinda tersenyum kembali lalu membuka map yang yang berisikan tentang catatan kesehatan Khanza.
" Maaf sebelumnya jika pertanyaan saya tadi kurang berkenan, tapi semua pertanyaan yang saya ajukan itu ada kaitannya dengan keadaan pasien saat ini"
"Awalnya saya cukup terkejut dan juga khawatir dengan keadaan pasien yang bisa saja mengalami syok atau stress setelah mengetahui apa yang tengah ia alami, tapi karena seperti yang tadi pak Aldy bilang kalau pasien adalah isteri anda saya sedikit lega"
Aldy mengerutkan keningnya masih menyimak penuturan dokter Dinda.
" Sebagian dari pasien yang saya tangani sebelumnya yang memiliki kondisi hampir sama dengan isteri anda, beragam reaksinya, ada yang biasa saja menyikapinya karena mungkin sudah pasrah dengan keadaan dan ada juga yang merasa senang dan gembira karena mungkin sudah merasa siap tapi ada juga sebagian yang syok lalu stress, kasus yang ini mungkin karena belum ada kesiapan di usia mereka yang terbilang masih sangat Dini."
" Dan saya berharap isteri anda termasuk wanita yang sudah siap menerima kehadirannya begitu juga dengan anda, ya walaupun isteri anda sebenarnya masih terlalu muda tapi beri ia semangat dan beri keyakinan bahwa semua pasti akan baik-baik saja"
Aldy semakin bingung dengan apa yang dituturkan oleh Dr Dinda. menerima kehadirannya? maksudnya apa? Aldy semakin tidak mengerti
__ADS_1
" Maaf dokter, jujur saja saya tidak mengerti apa maksud dari ucapan dokter ? intinya saja dokter, isteri saya sebenarnya kenapa?"
"Isteri anda dalam keadaan baik-baik saja, Kram di perutnya memang biasa terjadi saat wanita mengalami perubahan hormon."
Dr. Dinda tersenyum lalu mengulurkan tangannya. Aldy semakin heran karena tiba-tiba Dr. Dinda mengulurkan tangannya.
Dr. Dinda mengguncang tangannya yang masih menggantung di udara, walaupun terasa bingung akhirnya Aldy pun menyambut uluran tangan Dr Dinda.
" Selamat ya pak Aldy karena saat ini isteri anda sedang mengandung dan usia kandungannya baru berjalan 5 Minggu!" ucap Dr Dinda yang membuat Aldy nampak syok antara percaya tidak percaya.
" Mengandung? maksud dokter isteri saya sedang hamil?" tanya Aldy yang masih terlihat gamang
" Iya pak Aldy" Dr Dinda mengangguk
" Tolong di jaga kesehatan isterinya ya pak, diusianya yang masih terbilang muda seperti ini, kehamilan mungkin sesuatu hal yang cukup berat untuk dihadapinya. apalagi dengan statusnya yang masih seorang pelajar. pasti akan ada tekanan dari pikiran-pikirannya yang menerawang jauh akan masa depannya, kesiapannya sebagai seorang calon ibu pun juga harus diperhatikan."
" Jaga tingkat stres calon ibu muda, dampingi isteri anda dan beri dukungan kalau semua bisa ia hadapi dengan baik" pesan dokter Dinda
" Baik dokter" jawab Aldy yang nampak begitu senang
" Pak Aldy jangan heran jika nantinya banyaknya perubahan yang terjadi pada isteri anda,baik tingkat emosinya yang bisa saja berubah-ubah maupun sikapnya yang terkadang membuat anda harus menekan ego dan banyak-banyak bersabar menghadapi isteri anda yang tengah hamil muda karena semua perubahan tersebut dipengaruhi oleh hormon progesteron dan hormon estrogen "
" Baik dokter terima kasih atas penjelasannya"
" Sama-sama pak Aldy"
" Emmmm... maaf dokter. apa isteri saya sudah tahu dengan keadaannya yang tengah hamil?" tanya Aldy
" Belum, karena maaf awalnya saya cukup terkejut dan mengira kalau _" dokter Dinda menggantung kata-katanya.
" Tidak apa-apa dokter, saya mengerti" sahut Aldy
" Pelan-pelan saja ya pak menyampaikannya"
" Silahkan;" ucap dokter Dinda ramah
Ceklekk
Aldy membuka ruang dimana kini Khanza tengah di rawat.
" Assalamu'alaikum,!"
" Wa'alaikum salam" jawab Miska dan Khanza bersamaan
Awalnya para sahabat Khanza mau otw melihat keadaan Khanza tapi Khanza melarangnya, apalagi masih jam sekolah.
" Miska, loe balik ke sekolah aja gih gue udah enggak apa-apa kok, lagian juga loe kan harus pengambilan nilai!" seru Khanza setelah Aldy masuk ke ruangannya.
" Tapi_!" kata-kata Miska terpotong
" Benar yang Khanza bilang, sebaiknya kamu kembali ke sekolah saja, tidak usah khawatir disini sudah ada saya yang akan menemani Khanza!" ucap Aldy yang tahu akan kecemasan sahabatnya Khanza yang satu itu
" Iya pak, tolong ya pak dijaga nih anak satu, kalau nakal marahin aja pak. udah dibilang tadi gak usah ikut lari sama bu Tika eh ngeyel ngerasa sehat padahal muka udah pucat. kayak gini nih hasilnya" cerocos Miska sudah seperti emak-emak yang memarahi anaknya.
" Iya mak ampun dah, gue ini lagi sakit malah di omelin" sahut Khanza
" Sekarang baru bilang sakit tadi kemana aja?"
"Ya pingsanlah, kan elo yang bawa gue kesini" jawab Khanza cengengesan
" Sekarang udah bisa ngejawab loe ya, dasar anak durhakim loe" Aldy hanya menghela napas panjang mendengar ocehan dua sahabat itu.
__ADS_1
" Sudah... sudah... sebaiknya kamu kembali ke sekolah sekarang biar enggak ketinggalan kelas!" usir Aldy secara halus
" Iya pak guru,siap laksanakan" Sahut Miska
" Za gue pamit, jaga kesehatan loe cepat sembuh ya!" Miska berpamitan kepada Khanza seraya berpelukan.
Setelah kepergian Miska dengan jantung yang berdegup kencang Aldy duduk di tepi tempat tidur.
" Sayang bagaimana keadaan kamu sekarang, hem?" tanya Aldy dengan suara yang sangat lembut
" Apa masih ada yang terasa sakit?" Aldy mengulurkan tangannya menyentuh pelan perut Khanza dan di dalam hati melafalkan berbagai doa kebaikan untuk calon bayi yang ada di dalam perut Khanza dan juga doa untuk calon ibu muda tentunya
" Mas, aku sudah tidak apa-apa kok, perutku memang tadi sempat sakit pake banget lagi tapi sekarang aku sudah jauh lebih baik kok mas!" Khanza menumpuk tangannya pada tangan Aldy yang masih bertengger di perutnya.
Bukan menggubris ucapan sang isteri Khanza malah di buat terkejut dengan tubuh Aldy yang terlihat bergetar seraya tangan yang masih setia mengelus dengan lembut perut Khanza
" Mas kamu kenapa kok nangis?" Khanza menarik wajah Aldy yang menunduk menatap lekat perut Khanza
" Maafkan mas ya sayang, mas lagi-lagi gagal menjaga dan melindungi kamu!" ucap Aldy sendu
" Mas ini ngomong apa sih, Za ini baik-baik saja mas!" Khanza menghapus sisa jejak airmata Aldy dengan ibu jarinya
" Mas kenapa menangis, kan sudah Za bilang Za ini tidak apa-apa mas" Aldy hanya tersenyum dan menatap lekat wajah sang isteri
" Sayang, maafkan mas" ucap Aldy lirih
" Kenapa mas minta maaf, apa sakit Za begitu parah mas?" tanya Khanza penasaran dan Aldy menggeleng pelan
" Kamu baik-baik saja sayang, tapi_"
" Tapi apa mas?"
" Sayang, terkadang apa yang terjadi di dalam hidup kita berjalan tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan namun kita tetap harus percaya dan yakin apapun yang terjadi di dalam kehidupan kita semua itu tidak lepas dari takdir yang sudah menjadi ketentuan Allah SWT, kita manusia hanya bisa merancang dan berusaha namun semua akan terjadi jika Allah memang sudah menghendakinya"
" Mas mau nikah lagi?" tiba-tiba pertanyaan itu meluncur begitu saja membuat Aldy membulatkan matanya sempurna.
" Ngawur, kalau ngomong itu dipikir dulu jangan asal bicara. ingat ucapan itu doa!"
" Ih amit... amit.. kalau mas sampai nikah lagi mah!" dengus Khanza
" Ya makanya jangan asal bicara"
" Iya maaf, habis mas bicaranya kemana-mana bikin Za penasaran"
" Sayang, seandainya tuhan menitipkan sesuatu yang sangat berharga sama kamu, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Aldy hati-hati takut penyampaiannya salah dan berubah menjadi masalah.
" Ya akan Za jaga dong mas" jawab Khanza tulus
" Apa kamu akan menjaga dan menyayanginya dengan tulus dan ikhlas!" tanya Aldy dengan lembut
" Tentu saja mas, kenapa sih mas bertanya seperti itu?" tanya khanza penasaran
" Sayang, sebenarnya Allah telah menitipkan sesuatu yang sangat berharga kepada kita dan mas berharap kita bisa menjaga dan merawatnya penuh cinta dan kasih sayang" Aldy mengelus lembut perut Khanza membuat Khanza langsung menatap lekat wajah Aldy yang tengah tersenyum bahagia.
" Apa maksud ucapan mu mas, Za enggak ngerti?" tanya Khanza datar
" Sayang saat ini kamu tengah mengandung buah cinta kita, kamu hamil sayang" jawab Aldy
Jegwwweeeeerrrr
Khanza diam mematung dengan pikiran yang tiba-tiba ngeblank
__ADS_1
" Ha... hamil? aku hamil?" beo Khanza dengan bulir bening yang meluncur begitu saja di pipi mulusnya.