
Zaira saat ini rasanya ingin sekali memakai pintu Doraemon untuk keluar dari situasi yang sangat memalukan baginya, yang sudah tertangkap basah oleh para sahabatnya dan juga adik iparnya. Dengan cepat ia melepaskan tangan Azka yang masih melingkar di pinggangnya ada rasa canggung dan malu tentunya yang Zaira rasakan saat berjalan menghampiri sahabat-sahabatnya.
Dengan wajah merah merona menahan rasa malunya Zaira melangkah perlahan dan meninggalkan Azka begitu saja yang masih berdiri di anak tangga, Azka bersikap biasa-biasa saja meskipun sudah kepergok muridnya sendiri. kejahilan tiba-tiba terbesit di otak Azka yang malah merasa lucu dan menggemaskan saat melihat wajah Zaira yang nampak tersipu malu.
" Kalian ada disini, sudah lama?" tanya Zaira seraya mendaratkan dirinya duduk di sofa mencoba bersikap biasa saja menyapa para sahabatnya.
" Lumayan" sahut Mona " Loe kok ada di sini Za, bukannya kata Lia loe itu_?" Mona menggantukan pertanyaannya.
Zaira hanya cengar-cengir tanpa sadar sang suami tengah duduk di sampingnya di punggung sofa yang ia duduki dengan senyum tipisnya.
Mona dan teman-temannya terkesima melihat senyum Azka yang begitu manis dan menambah ketampanan sang guru. Lia hanya bisa menepuk jidatnya sendiri melihat tingkah teman-temannya.
Azka mendaratkan tangan kekarnya di bahu sang isteri tercinta sampai Zaira terperanjat kaget.
" Ehh!" ucap Zaira terkejut lalu mendongak.
" Duh senyumnya suami gue manis banget sih bikin gue meleleh aja, padahal gue udah sering liat dia tersenyum kayak gini tetap aja jantung gue jedag jedug dweerrr" gumam Zaira dalam hati.
Zaira menoleh ke arah teman-temannya dan langsung balik menoleh ke Azka lalu mendaratkan cubitan kecil diperut sang suami.
" Awww" teriak Azka
" Sakit yang" rintihnya sambil mengusap-usap perutnya yang terkena cubitan sang isteri.
" Siapa suruh senyam-senyum kayak gitu, tuh bikin murid-murid kamu sampai tercengang begitu!" bisik Zaira menunjuk teman-temannya yang masih diam mematung dengan ekor matanya.
" Ehemmm" Azka berdehem membuat Mona, Mia dan Indah langsung tersadar dan menjadi kikuk sendiri karena Azka masih menatap mereka satu persatu dengan senyum yang masih mengembang.
" Mas jangan gitu ih liatinnya nanti mereka pada kege'eran!" bisik Zaira seraya memukul lengan Azka.
" Ha... ha .. kalian ini lucu" tawa Azka
" Gak ada yang lucu, kakak aja yang ke ge'eran. makanya kalau mau mesra-mesraan tuh di kamar aja gak usah deh pakai pamer-pamer segala disini" sargas Lia yang merasa jengah dengan pasangan yang satu ini.
" Duh nasib jomblo ya" ejek Azka membuat Lia semakin kesal lalu melemparkannya dengan bantal.
" Dih marah" goda Azka lagi.
" Udah deh jangan ngejek terus, kakak juga kalau gak dijodohin sama mama papa sama tuh jones!" balik Lia mengejek sementara teman-temannya dan juga Zaira hanya diam dan memperhatikan saja pertengkaran kakak beradik.
" Siapa bilang kakak jones kayak kamu, dulu juga kakak masih punya pacar loh ya" ucap Azka tanpa sadar.
Degg
Zaira menunduk entah kenapa hatinya merasa tercubit saat mendengar ucapan Azka.
" Masa sih, memang ada gitu yang mau sama kakak?" tanya Lia memancing.
" Ada dong, kamu lupa Kelin dulu begitu cintanya sama kakak sampai gak mau kakak putusin" Azka terus saja terpancing dengan kejahilan adiknya itu, sebenarnya Lia tahu kakaknya sudah bucin sama Zaira tapi Lia ingin tahu bagaimana dengan perasaan Zaira sendiri terhadap kakaknya. Lia hanya takut kemunculan dokter Ariel yang sepertinya begitu mengenal dekat dengan Zaira bisa saja menggoyahkan hatinya.
Zaira semakin tidak nyaman dengan pembicaraan Lia dan Azka, Mia yang diam-diam memperhatikan Zaira dapat melihat dengan jelas kecemburuan Zaira setiap kali Azka menyebut nama Kelin.
Mia menyenggol lengan Mona dan menunjuk dengan ekor matanya ke arah Zaira.
" Pak Bagaz sama Lia kok gitu sih, gak lihat apa wajah Za yang nampak sedih gitu" bisik Mia pada Mona.
" Tau nih gak peka banget sih" Mona balik berbisik.
" Berarti kalau kakak tidak di jodohkan oleh mama dan papa, yang jadi kakak ipar aku kak Kelin dong ya" ucap Lia
" Emmmm, bisa jadi bisa juga gak" jawab Azka santai.
Zaira masih diam rasanya matanya terasa panas, kesal itulah yang Zaira rasakan. kenapa suaminya begitu tidak peka dengan dirinya.
" Kak " panggil Lia dengan menahan tawanya melihat wajah Zaira yang memberengut.
" Kenapa?" tanya Azka dan Lia menunjuk ke arah Zaira dengan dagunya.
Azka menoleh ke arah Zaira dan melihat tangan Zaira yang tengah meremas bajunya sendiri.
" Sayang kamu kenapa?" tanya Azka dengan senyum manisnya.
Zaira mendongak lalu menggeleng pelan " Aku gak kenapa-napa kok mas" Zaira memaksakan senyumnya.
" Cie pak Bagaz udah main sayang-sayangan aja manggilnya jadi iri saya" goda Mona.
" Kamu masih kecil " ucap Azka menoleh sekilas lalu kembali menatap sang isteri yang masih diam saja.
" Saya sama Zaira seumuran kalau bapak lupa" ucap Mona protes dikatakan masih kecil.
__ADS_1
" Kalau Za lain, dia ini spesial" ucap manis Azka berharap Zaira tidak diam terus tapi ternyata Zaira masih saja diam dan malah beranjak dari duduknya.
" Maaf ya gaes gue tinggal dulu, gue mau bantuin bi Sum menyiapkan makan malam, kalian belum pada makan malam kan?" tanya Zaira yang sudah beranjak dari duduknya
" Wahhh.. Za loe emang sahabat gue yang paling pengertian banget deh, tau aja kita belum pada makan. gak kayak yang itu tuh..." ucap Mona dengan semangat
" Cih, si Mona kalau masalah makan aja nomor Satu loe" sindir Mia yang hanya ditanggapi Mona dengan cengengesan.
" Kamu mau kemana sayang?" Azka menarik tangan Zaira hingga langkahnya terhenti.
" Aku mau ke dapur mas!" Jawab Zaira sedikit ketus.
" Azka hanya mendengus kesal dengan sikap Zaira yang tiba-tiba dingin dan acuh.
" Pak Bagaz gak peka banget sih, mending susul Za nya gih, Za lagi cemburu itu pak." celetuk Indah yang sedari tadi memang diam saja tapi tetap memperhatikan keadaan sekitarnya termasuk Zaira yang terlihat cemburu dengan percakapan Lia dan suaminya.
" Cemburu? kamu ini ada-ada saja" sanggah Azka merasa ucapan Indah mengada-ada.
" Dia ini terlalu bodoh kalau soal perasaan Ndah, gak nyadar kalau dari tadi dia nyebutin nama mantannya" sahut Lia lalu tertawa meremehkan. " Mangkanya jangan ngatain orang jones tuh jadi ngenes kan di cuekin" lanjutnya lagi
" Mantan, Kelin? sial!" kesal Azka baru menyadari kesalahannya dan langsung beranjak menyusul Zaira ke dapur.
Tawa Lia pecah melihat kakaknya yang panik takut sang isteri beneran marah.
sementara Mona, Mia dan indah hanya menggeleng melihat tingkah Lia yang dianggap mereka sedikit keterlaluan karena bagaimanapun Zaira adalah sahabat mereka.
" Sayang.... sayang.... !" teriak Azka seraya berjalan menuju meja makan. hatinya lega melihat Zaira yang sedang sibuk menata makanan yang bi Sum masak.
Azka perlahan mendekat dan memeluk pinggang Zaira dari belakang membuat Zaira tersentak dan menoleh. " Mas lepas, gak enak jika teman-teman aku melihat kamu kayak gini, dan di dapur juga ada bi Sum" ucap Zaira sedikit ketus lalu melepaskan tangan Azka dari pinggangnya.
" Non Za ini sayurnya mau diletakkan di mana?" tanya bi Sum yang baru datang dari dapur membawa semangkuk sup.
" Di sini saja bi!" pinta Zaira
" Semua sudah beres ya non, kalau gitu saya mau balik ke dapur lagi ya non kalau ada yang kurang tinggal bibi aja" ucap bi Sum
" Iya bi, terima kasih ya bi" ucap Zaira ramah
" Sama-sama non Za, kalau begitu saya permisi ya non Za, den Azka" pamit bi Sum.
" iya bi" bi Sum pun berlalu pergi sementara di meja makan Azka hanya diam memperhatikan Zaira yang tengah menata piring dan sendok di atas meja.
Zaira enggan berbicara dengan suaminya yang terang-terangan membicarakan mantan kekasihnya tanpa menghiraukan perasaannya.
" Mas makanlah duluan, aku mau panggil yang lain" ucap Zaira setelah menyendokkan nasi dan lauk pauk diatas piring suaminya.
Zaira baru hendak melangkah menuju ruang TV dimana teman-temannya saat ini berada namun langkahnya terhenti saat suara bariton yang tak lain milik Azka terdengar ditelinga Zaira.
" Apa kamu mengabaikan aku hanya untuk menemui teman-temanmu?" tanya Azka seraya menarik tangan Zaira
Zaira menoleh dan menatap tangannya yang dipegang oleh Azka. " Apa mas mengabaikan perasaanku saat bernostalgia mengingat mantan kekasih mas?" tanya balik Zaira yang langsung membuat Azka terdiam.
Deg
" Jadi dia marah karena cemburu dan yang dikatakan Indah benar aku tidak peka, kenapa bisa aku mengabaikan perasaan istriku sendiri? dasar bodoh... bodoh .. bodoh.." gumam Azka merutuki kebodohannya sendiri yang tidak peka.
Saat hendak menjawab ternyata Zaira sudah tidak ada ditempat, dia sudah pergi memanggil teman-temannya untuk ikut makan malam bersama.
Azka hanya bisa menghela nafas panjang setelah itu mengacak-acak rambutnya dengan kasar. " Ishhh... sial!" runtuk Azka kesal pada dirinya sendiri.
Zaira menghampiri para sahabatnya yang berada di ruang TV.
" Lia , semuanya yuk kita makan!" ajak Zaira
" Ayuk ah !" sahut Mona yang beranjak dari duduknya.
" Uhhh dasar si Mona urusan makan aja cepat banget loe" kesal Mia yang mengekor di belakang Mona diikuti pula oleh Indah berjalan menuju meja makan sementara Lia dan Zaira jalan belakangan.
" Za tunggu!" panggil Lia saat Zaira hendak melangkah pergi.
Zaira menoleh dan menunggu Lia mengatakan sesuatu kepada dirinya.
" Za, sorry soal yang tadi" ucap Lia
" Soal apa?" tanya Zaira yang seakan tidak mengerti dari ucapan adik iparnya.
" Gue tadi cuma ya iseng aja godain kak Azka, loe jangan salah paham ya Za!" terang Lia menjelaskan.
Zaira hanya menundukkan kepalanya dan diam tanpa berkomentar apa-apa. " Za, ngomong dong!" Lia jadi merasa cemas sendiri.
__ADS_1
" Za!" lirih Lia merasa bersalah kepada Zaira.
" Za, loe gak marahkan? loe maukan maafin gue?" tanya Lia yang merasa bersalah sudah membuat Zaira marah kepada Azka kakaknya.
" Sudahlah Lia, ayo cepat kita makan malam bersama nanti keburu dingin makanannya.?" ajak Zaira
" Tapi loe_" Lia tidak melanjutkan kata-katanya
" Lupain aja, gue udah maafin loe kok jauh sebelum loe minta maaf sama gue. " tutur Zaira dengan tersenyum tipis.
" Thanks Za loe emang yang terbaik. pantas mama sama papa memilih loe jadi kakak ipar gue. mereka memang tidak salah pilih. loe yang terbaik Za buat kakak gue!" tutur Lia yang merasa beruntung dan bahagia Zaira tidak marah kepada dirinya.
" Lebay tau gak sih loe!" sahut Zaira saat Lia memeluk dirinya.
" Biarin gue lebay juga" Lia cengengesan " loe harus tau Za kak Azka itu ternyata udah cinta mati sama loe, gak pernah gue lihat kak Azka sebucin ini sama cewek-ceweknya" ucap Lia menuturkan
Zaira tidak berkomentar dia hanya memberikan senyum manisnya saja lalu menarik tangan Lia ikut pergi ke meja makan.
Dimeja makan Azka memilih untuk menunggu isteri kecilnya, Mona, Indah dan Mia sudah duduk setelah Azka mempersilahkan mereka duduk tentunya.
Lia berjalan lebih dulu lalu duduk di sebelah kiri Azka sementara Zaira sempat mengambil ponselnya terlebih dahulu di sofa yang tadi ia duduki.
Saat Zaira melangkah menuju meja makan tepatnya saat sudah berdiri dibelakang Azka bertepatan dengan suara ponsel Azka yang berdering.
Azka meraih benda pipih berwarna hitam yang tergeletak di atas meja makan, Lia sempat melirik sekilas dan betapa terkejutnya Lia saat melihat nama yang tertera di ponsel tersebut dan betapa lebih terkejutnya lagi dia ketika melihat Zaira berdiri mematung melihat ke arah ponsel Azka yang kini sudah berada di tangannya.
Mata Zaira membola saat melihat nama yang begitu dikenalnya tertera di layar ponsel suaminya bahkan tanpa Azka tahu dirinya yang berada dibelakang suaminya mengepalkan tangannya dengan kuat.
Rasanya sungguh menyesakkan belum lama ia mendengar suami dan adik iparnya membahas tentang orang itu dan begitu kebetulankah orang yang mereka bicarakan tiba-tiba menghubungi suaminya atau mungkin selama ini diam-diam suaminya masih menjalin hubungan dengan wanita itu. Akhhh.. Zaira menjerit di dalam hatinya ingin rasanya ia menjerit sekeras-kerasnya namun ingatan tentang pesan ayahnya membuat Zaira berusaha untuk menahan diri dan berusaha bersikap setenang mungkin.
Lia menelan salivanya dengan susah payah takut kakak dan sahabatnya ini bertengkar karena ulah kekonyolannya.
" Za!" panggil Lia membuat Azka tersentak dan menoleh kebelakang.
" Sa.. sayang!" panggil Azka dengan sedikit gugup.
Zaira hanya melempar senyum manisnya lalu melangkah menuju kursinya bersikap seolah biasa saja. " Loh kok kalian belum pada makan sih?" tanya Zaira yang melihat para sahabatnya bukannya makan tetapi malah diam dan menatap lekat kepadanya.
" Kalian ini kenapa? ayo dong dimakan makanannya. Mona, Mia, indah ayok dimakan!" seru Zaira seraya mengisi piringnya sendiri dengan makanan yang ada di atas meja sementara Azka yang tengah memakan makanannya pandangannya tidak lepas dari Zaira.
" Iya kita makan, tapi loe gak apa-apakan Za?" tanya Mona sebelum mengisi piringnya.
" Gue, emangnya gue kenapa?" tanya Zaira balik dengan tawa kecilnya " Gue gak kenapa-napa Mona. tenang aja gue kan bukan jones !" sahut Zaira santai namun membuat Azka dan Lia seketika tersedak bersamaan.
Zaira langsung memberi minum kepada Azka dan Mona kepada Lia. " kalian ini kenapa sampai tersedak aja kompak banget?" tanya Zaira sambil tertawa pelan. "Makanya kalau makan itu pelan-pelan aja, tenang aja bi Sum masaknya banyak kok jadi gak akan kehabisan" lanjutnya lagi
Azka dan Lia hanya saling melempar pandangannya.
Makan malam pun sudah selesai Lia memberitahu Azka dan Zaira kalau malam ini Mona, Mia dan Indah akan menginap. Zaira yang mendengar hal itu tentu saja merasa sangat senang tapi tidak halnya dengan Azka ia malah mendengus kesal. Azka tahu isterinya pasti akan merengek untuk tidur bersama dengan para sahabatnya malam ini.
Lia mengajak Mona, Mia dan Indah ke kamarnya sementara Zaira masih sibuk di dapur membantu bi Sum beberes sisa makan malam.
" Non Za sebaiknya pergi saja, ini biar bibi saja yang membereskan!" pinta bi Sum yang merasa tidak enak dengan menantu majikannya.
" Gak apa-apa bi, lagi pula ini sudah malam kalau berdua ngerjainnya akan cepat selesainya dan bibi juga bisa cepat istirahatnya." sahut Zaira menolak dengan sopan.
" Tapi Non, den Azka pasti sudah menunggu Non Za" Bi Sum takut Zaira malah bertengkar nantinya dengan Azka.
" Biarkan saja bi, sudah bibi jangan bicara terus ayok kita lanjutkan!" perintah Zaira
Sementara di dalam kamar Azka tengah menerima telepon dari Kelin yang sedari tadi terus saja menghubunginya. walaupun sudah berkali-kali Azka mengabaikannya Kelin masih saja mengganggunya. Akhirnya Azka memilih untuk menerima panggilan tersebut berharap setelah itu Kelin tidak akan menghubungi dirinya lagi takut jika Zaira akan salah paham terhadap dirinya kelak.
Azka
[ Ya, hallo ada apa Kelin? sudah berapa kali aku bilang aku tidak bisa]
[.....]
Azka
[ Apa menemuimu, itu tidak mungkin Kelin]
[.....]
Azka
[ Baiklah Kelin besok kita bertemu di tempat biasa ]
Gumprangggg....
__ADS_1
Azka menoleh dan seketika matanya membulat sempurna tatkala melihat seseorang berdiri mematung di ambang pintu.