Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Season 2 Khanza


__ADS_3

Setelah keduanya sampai di apartemen, Khanza lebih memilih untuk masuk ke dalam kamar dan langsung bersih-bersih


Sementara Aldy sibuk di ruang TV memangku laptopnya memeriksa beberapa email yang masuk.


Ceklekk


Khanza sudah merampungkan kegiatannya di kamar mandi, melihat Aldy yang sibuk dengan pekerjaan kantornya yang ada di kota x Khanza memilih untuk menyibukkan dirinya didapur memasak untuk makan malam.


Aldy berkali-kali memijat pelipisnya yang terasa berdenyut, ternyata ada sedikit masalah yang cukup serius yang terjadi di kantornya yang berada di kota x dan sepertinya mengharuskan dirinya bertolak pergi ke kota tersebut.


Perusahaan peninggalan orang tua Zaira kini sudah digabung dengan anak perusahaan PT Dinata Grup yang berada di kota tersebut, yang kini sudah berkembang menjadi perusahaan yang maju pesat di kota tersebut.


Untuk sementara perusahaan tersebut di kelola oleh Azka dan Shendy, perkembangan dan kemajuan perusahaan tersebut tetap dalam pengawasan sang penguasa besar siapa lagi kalau bukan Samuel sang papa.


Ada beberapa masalah yang terjadi di dalam perusahaan tersebut dan mengharuskan Aldy bertolak ke sana untuk mengurus sedikit kekacauan yang terjadi di sana.


Aldy harus menggantikan Azka yang tidak bisa pergi kota tersebut di karenakan kondisi perusahaan pusat yang memang sangat membutuhkan keberadaannya selain itu kehamilan Zaira yang kedua pun membuat Azka tidak bisa pergi jauh-jauh dari isterinya tersebut karena sifat posesif Zaira yang mengidam ingin selalu dekat dengannya.


" Ada apa mas?" tanya Khanza seraya membawakan secangkir kopi untuk suaminya yang tengah disibukkan dengan pekerjaannya.


Aldy mendongak saat tangan lentik itu meletakkan secangkir kopi di meja yang ada di hadapannya.


" Terima kasih sayang" ucap Aldy memberikan senyum termanisnya


" Sama-sama mas!" jawab Khanza lalu mendudukkan dirinya di sofa yang berada tidak jauh dari tempat Aldy duduk


Aldy menutup laptopnya lalu meletakkannya di atas meja, ia meraih kopi yang berada di atas meja tersebut dan menyeruputnya sedikit demi sedikit.


" Apa ada masalah mas?" tanya Khanza penasaran


" Sedikit" jawab Aldy sambil menyesap kopinya


Sejenak keduanya terdiam dan sedetik kemudian Aldy pun menceritakan apa yang tengah terjadi.


" Apa mas akan pergi ?" pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibirnya


Aldy menaikkan satu alisnya menatap lekat Khanza dengan senyum yang mengembang


" Apa kamu keberatan jika mas pergi hem?"


" Tidak" jawab Khanza terus terang


" Yakin?" tanya Aldy menelisik


" Tentu saja, jika mas pergi ke kota X dan memiliki waktu luang setidaknya mas jangan lupa untuk mengunjungi mama, dia pasti sangat merindukan mas Aldy" ucap Khanza membuat Aldy terharu karena ternyata isteri kecilnya begitu peduli dengan keadaan mamanya


" Iya sayang, terima kasih sudah mengingatkan!" Aldy meletakkan kopi yang berada di tangannya ke atas meja


" Emmmm..berapa lama mas akan pergi?" tanya Khanza

__ADS_1


" Entahlah, mungkin satu Minggu bisa juga lebih"


" Apa kamu mau ikut?" Khanza tersenyum tipis lalu menggeleng


" Aku akan menunggu mas di rumah saja, lagi pula aku harus belajar untuk menghadapi ujian nanti" jawab Khanza


" Oh sayang sekali" ucap Aldy pura-pura sedih


" Berarti kita akan berpisah cukup lama sayang!"


Khanza terkekeh melihat suaminya yang pura-pura merajuk


" Pak guru seperti anak kecil saja, apa tidak malu memasang wajah seperti itu dihadapan muridnya?"


Aldy ikut terkekeh lalu bergeser duduk menghampiri Khanza.


" Kamu ini isteri ku bukan murid ku, ini di rumah sayang bukan di sekolah!" Aldy mengacak-acak rambut Khanza gemas


" Mas!" Khanza mendongak


" Hem" jawab Aldy seraya menundukkan pandangannya ke wajah sang isteri


" Ayo kita makan, aku sudah masak untuk kita makan malam mas"


" Yaudah, yuk aku juga sudah lapar...!" jawab Aldy seraya meraih tangan Khanza dan menggandeng tangannya mesra.


Keduanya kini tengah menyantap makan malam bersama, tidak ada pembicaraan diantara keduanya mereka tengah sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Aldy sibuk dengan laptop di pangkuannya dan Khanza pun sibuk dengan buku-buku tugas sekolahnya. Mereka disibukkan dengan tugas masing-masing.


Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, Khanza sesekali menutup mulutnya menguap. lalu diliriknya sang suami masih sibuk dengan laptopnya dan Khanza memilih menutup bukunya dan merapihkannya.


" Sudah selesai?" tanya Aldy yang sedari tadi tengah memperhatikan gerak gerik sang isteri yang sedang merapihkan buku-bukunya.


Khanza menoleh dengan tangan yang masih sibuk mengemas barang-barangnya masuk ke dalam tas.


" Iya mas sudah ngantuk" jawab Khanza jujur


Aldy menutup laptopnya lalu beranjak dari duduknya mendekati Khanza.


" Ya sudah kalau begitu kita tidur sekarang!" Aldy mengulurkan tangannya.


Khanza terdiam menatap tangan Aldy yang terulur dan beberapa detik kemudian ia tersenyum lalu menyambut uluran tangan tersebut.


Keduanya masuk ke dalam kamar dengan tangan yang saling bertautan.


Aldy dan Khanza keduanya kini tengah duduk di tepi tempat tidur, keduanya nampak gugup dan terlihat tidak seperti biasanya ada rasa canggung yang menyelimuti sepasang suami istri tersebut.


Aldy menatap Khanza lekat namun yang ditatap malah menundukkan pandangannya. Khanza meremas ujung bajunya rasanya begitu gugup berdekatan dengan seorang laki-laki walaupun sudah berstatus suami.

__ADS_1


Khanza teringat kembali dengan kejadian tadi sewaktu di rumah ibunya seketika pikirannya traveling kemana-mana, sungguh dia belum siap sepenuhnya untuk hal yang satu itu tapi menolak pun ia takut berdosa. Ah ini merupakan dilema untuk Khanza, degup jantungnya sudah berdetak tidak karuan.


Jika boleh ia ingin sekali menghindar dan menghilang dari situasi seperti ini tapi apalah daya pintu Doraemon tidak dimilikinya jadi dengan debaran jantung yang sudah beraturan Khanza tetap harus bisa menghadapinya.


Aldy menangkap kegugupan di wajah sang isteri dan sebisa mungkin Aldy pun yang juga tidak kalah gugupnya berusaha bersikap setenang mungkin.


Dengan lembut ia meraih tangan Khanza yang terasa begitu dingin dan berkeringat lalu dibawanya untuk di kecup.


" Apa kamu gugup?" tanya Aldy


Ingin rasanya Khanza mendorong tubuh suaminya yang dengan santainya menanyakan hal itu. tentu saja dia merasa gugup karena ini adalah pengalaman kali pertama untuknya.


" Apa boleh aku meminta melanjutkan yang tadi?" pertanyaan Aldy seketika membuat Khanza diam mematung sungguh apa yang ia takutkan kini tengah berada di hadapannya.


Khanza semakin gugup dan tidak bisa berkata apa-apa, sungguh situasi yang menyudutkan dirinya.


" Apa kamu masih belum siap?" Khanza mendongak dan netra mereka pun bertemu


" Jika memang kamu belum siap tidak apa-apa kita bisa melakukannya dilain waktu saja!" ucap Aldy dengan netra yang tidak beranjak menatapnya lekat


" Baik nanti atau pun sekarang akan sama saja bukan? siap tidak siap kau pasti akan meminta hak mu!" sahut Khanza


" Jika memang mas menginginkannya lakukanlah, tapi maafkan aku mas jika tidak bisa memberimu pelayanan yang memuaskan. jujur aku sangat takut ini adalah hal yang pertama untuk ku!" ucap Khanza dengan wajah yang sudah bersemu merah


" Aku akan melakukannya dengan sangat hati-hati dan jika kau merasa tidak nyaman katakanlah aku akan berhenti." Aldy mengusap punggung tangan Khanza dengan lembut.


" Tapi...." Khanza menjeda ucapannya


" Tapi apa hem?" Aldy menarik dagu Khanza pelan hingga menghadap wajahnya


" Itu akan terasa sangat menyakitkan bukan?" tanya Khanza yang Sedetik kemudian menundukkan wajahnya kembali karena rasa malu yang sudah mendominasi hatinya


Aldy mengulum senyumnya pertanyaan yang sungguh membuat hatinya begitu berbunga, bagaimana tidak itu menunjukkan kalau sang isteri benar-benar awam soal yang satu itu.


Aldy tidak menjawab tapi tangannya lebih cepat memberikan respon atas pertanyaan Khanza.


Dengan cepat Aldy bergerak dan menjatuhkan Khanza diatas tempat tidur dan mengukungnya.


" Dari pada banyak bertanya lebih baik kita buktikan saja bagaimana menurut mu Hem?" bisik Aldy tepat di telinga Khanza hingga hawa panas begitu terasa jelas mengenai tengkuk lehernya.


" Aku!" belum sempat memberi jawaban Aldy sudah lebih dulu melancarkan aksinya hingga membuat Khanza tersentak kaget dan membulatkan matanya.


Aldy terus memberikan sentuhan lembut kepada Khanza hingga membuat Khanza yang awalnya menolak dan ragu akhirnya memilih untuk pasrah dan menikmatinya sampai tiada terasa sang fajar sudah menyapa keduanya.


Khanza terkejut bukan main saat terjaga dari tidurnya ada tangan kekar yang melingkar indah diperutnya.


" Ini_" Beberapa detik kemudian memori Khanza baru terkumpul semuanya.


Oh sungguh malu saat ini Khanza melihat pantulan dirinya sendiri melalui cermin yang ada di dalam kamar tersebut.

__ADS_1


Khanza lalu memilih untuk beranjak dari atas tempat tidur dengan sangat hati-hati kemudian melesat pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri walaupun mengharuskan dirinya berjalan sedikit tertatih-tatih.


__ADS_2