Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Bab 9


__ADS_3

Ivy menyuapi Zena bubur yang di sediakan rumah sakit sabil melihat cartoon di Tv. Sudah dua hari sejak Ivy membolos sekolah, dan semenjak itu juga sesekali Adam juga ikut membolos untuk menemani Ivy di rumah sakit untuk menjaga Zena. Adam tahu hanya ini tempat satu-satunya bagi Ivy untuk membolos dan pergi tanpa kabar satu pun.


“aku ada kegiatan club sepulang sekolah, aku pergi dulu” ucap adam pamit.


“oh sudah mau pergi, hati-hati”


“baiklah kalian berdua jaga kesehatan, titip salam buat dokter Arvin. Oh iya kalau Ivy menyebalkan cubit aja pipinya”


“apaan sih sudah pergi sana!”


“pria yang baik, apa kau menyukainya?” goda Zena


“Apaan sih! Udah makan saja sana jangan ngelantur yang aneh-aneh!”


“cie malu-malu kucing, udah ngaku aja kali gapapa kok hahahaha”


Mereka tertawa riang sebelum sebuah ketukan pintu yang terdengar memaksa menggema di seluruh ruangan.


“tunggu sebentar” Ivy bergegas menuju kearah pintu dan membukanya. Ia sedikit terkejut melihat kehadiran seseorang itu dan ia tersenyum simpul setelahnya.


“mereka sudah tau ternyata”


.


.


.


Di arena


“baiklah karena beberapa hari belakangan ini kalian semua terlihat bosan dengan pertandingan yang biasa-biasa saja, kita kehadiran guest star yang telah lama kita tunggu-tunggu. INI LAH DIA J2 DAN KITA JUGA KEHADIRAN PENANTANG DARI AUSTRALIA INI LAH DIA DIAAZ”


Suara wasit dan penonton kembali menggema di seluruh ruangan. Tak lupa bau alkohol dan rokok yang menyengat di sana. J2 a.k.a Juan sedang melilitkan hand wrap di tangannya.


“wah-wah tumben sekali kau datang di saat seperti ini. Kenapa? Mood mu sedang buruk?”


“diam atau ku hancurkan mulutmu” Juan naik ke atas ring dan melihat datar lawan di hadapannya. Menurut rumor Diaz cukup di takuti di kelas petarung bebas, tapi baginya ini adalah pertandingan yang cukup menarik untuk melampiaskan kekesalannya.


Flyyn hanya melihat boss nya itu sambil geleng-geleng kepala. Bisa saja nanti jika keadaanya seperti ini lawannya pasti akan berakhir dengan KO dan tidak sadarkan diri, atau bahkan beberapa tulangnya pasti akan patah


“here we go”


.


.


Sekarang Ivy sedang berdiri di depan meja kerja ayahnya, juga ada kedua kakak kembarnya dan juga ibu tiri Ivy. Ivy sudah tahu pasti akan apa yang terjadi hari ini.


Hening, tidak ada yang membuka suara, Ivy hanya tersenyum lembut, dia tidak menyesali dengan apa yang telah dia lakukan.


“ kenapa ponselmu mati?” tanya Danish (si kembar tertua), berbeda dengan saudaranya Daniyal. Danish jauh lebih kejam dan tegas, mirip seperti ayahnya.


“maaf kak ponselku jatuh dan hilang”


“alasan saja, lalu kenapa kau tidak masuk sekolah? Kau tahu ayah menyekolahkanmu mahal-mahal di sana dan kau justru membolos lebih dari dua hari” Danish mulai emosi dan Daniyal di sampingnya berusaha sedikit menenangkannya.


“apa kau berada di sana untuk bersenang-senang dengan calon orang mati” kini Dira menimpali. Ivy sudah mulai geram dengan perkataan mereka yang sudah keterlaluan. Ivy terlihat mengepalkan tangannya marah.


“sudah lah kalian, tadi Juan bertanya kepada ayah, apa dua hari ini kau berada di rumah utama. Dan kau tidak ada, sudah pasti kau berada di sana. Juan meminta pernikahan kalian di undur beberapa hari lagi. Apa kau senang melihat perusahaan keluarga mu ini di ujung tanduk” ucap Dylon dengan wajah dinginnya. Keluarga? Entah dia bisa menyebutnya begitu atau tidak.


“kau sudah tahu konsekuensinya kan?”


“baik ayah, Ivy tahu” Ivy berlutut membelakangi ke empat orang itu dan membuka seragamnya yang belum ia ganti, dan hanya menggunakan tank top hitam saja. Mereka semua masing-masing sudah membawa cambuk di tangan masing-masing. Ini hukuman seperti biasannya, bahkan beberapa bekas luka di tubuhnya belum hilang sempurna.

__ADS_1


CTAK


CTAK


CTAK


Satu demi satu cambukan Ivy terima dengan tubuhnya, sambil menggigit bibir bawahnya sampai berdarah untuk menahan rasa sakit yang luar biasa sakit.


Berbeda dengan saudara dan kedua orang tuanya, Daniyal lebih memilih diam dan menatap nanar Ivy yang terlihat kesakitan. Tidak seperti biasannya, kini .Daniyal sadar hal itu tidak benar dan sudah jauh salah.


Sepuluh menit berlalu dan kini tubuh Ivy tidak bergerak, sorot matanya yang hanya terlihat tatapan kebencian.


Danish dengan kasar menyeret tubuh Ivy ke dalam sebuah ruangan dan memasukkannya ke dalam lemari, menguncinya dan membawa kunci itu bersamannya. Tempat yang sangat Ivy takuti.


Ivy bersender lemah di ruangan sempit dan gelap itu. Tidak ada seorang pun seseorang yang ia harapkan. Apa dia akan mati.


“kakek, apa aku akan mati di sini?” hanya nama kakeknya yang bisa ia sebutkan.


Tak lama kemudian terdengar sebuah langkah kaki yang mendekat.


“Ivy apa kamu masih sadar?”


“iya, kenapa kak Daniyal kemari, ayah bisa marah” jawab Ivy dengan suara lemahnya. Suara lemah yang membuat hati Daniyal semakin sakit.


“bisa ulurkan tanganmu” pinta Daniyal, di almari itu terdapat sebuah kita berukuran 5x5 cm untuk udara masuk. Ivy menurutinya, tangannya kecil dan terlihat beberapa luka merah di sana.


Daniyal menggenggam tangan Ivy dan mengelusnya lembut, dan tentu saja Ivy tidak percaya dengan apa yang terjadi, sangat aneh baginya.


“kakak minta maaf, apa kakak masih bisa mendapatkan maaf dari mu?”


“tentu saja”


Tangis Daniyal pecah ketika mendengar satu-satunya saudara perempuannya itu dengan mudah memaafkannya setelah semua yang ia lakukan.


Dulu, Daniyal sering memberi makanan kepada Ivy yang tentu saja mengandung bahan makanan yang Ivy tidak bisa makan, seperti udang, tuna dan salmon. Berkali-kali juga dokter keluarga datang untuk memeriksa Ivy dengan alasan yang sama.


“kak,bisa Ivy bertanya sesuatu?”


“hmm (mengangguk) tentu saja, apapun”


“beritahu Ivy rasanya di sayang seluruh keluarga, beritahu Ivy rasanya bisa di peluk hangat semua orang, beritahu Ivy rasanya hidup tanya banyak beban, beritahu Ivy rasanya di cintai semua orang, beritahu Ivy rasanya tidak di asing kan di keluarga sendiri. Ivy tidak tahu bagaimana rasanya”


“(semakin mengeratkan genggamannya) Kakak janji akan membuatmu tahu bagaimana rasanya, kakak janji akan menjagamu, jadi ku mohon bersabarlah”


“terimakasih”


.


.


.


Satu hari setelah kejadian itu Ivy kembali ke sekolah, namun dengan jaket dan celana hitam ketat yang ia pakai. Tapi kali ini sedikit berbeda, seulas senyum terlihat menghiasi wajahnya karena setelah satu hari Ivy beristirahat Daniyal selalu bersama Ivy dan menjaga nya, bahkan tadi Daniyal memaksa mengantarnya ke sekolah tapi Ivy dengan halus menolaknya, Karen ia tahu kakaknya pasti sedang sangat sibuk.


“IVY, AKHIRNYA MASUK JUGA, AKU KHAWATIR TAHU, ASTAGA BIBIRMU TERLUKA APA KAU JATUH!” Nina berhambur memeluk Ivy, yah walau pun badannya terasa sakit semua Ivy senang ada yang masih mengkhawatirkannya.


“iya aku udah masuk kan, aku baik-baik saja jadi tenanglah”


“apa kau tidak apa-apa” Reza, salah satu teman kelasnya khawatir. Ivy mengangguk semangat “aku sangat baik sekarang”


“jam pertama di ganti pelajarannya pak Juan, apa kau baik-baik saja?”


Juan, bisa-bisannya Ivy melupakan guru kejam satu itu. Ivy kembali tersenyum “ya, aku baik-baik saja”

__ADS_1


Bel tanda masuk berbunyi, dan sejak saat itu juga Nina terus menggenggam tangan teman sebangkunya.


Juan memasuki ruang kelas dengan aura dingin dan gelapnya. Sudah beberapa hari ini dia terlihat lebih kejam dan dingin. Tentu saja karena Ivy. Juan mulai mengabsen satu-persatu murid di kelas Ivy.


“Ivy Alecia Burnett”


“hadir pak”


“jadi nona Burnett bisa anda jelaskan mengapa tempo hari anda membolos kelas saya, dan anda juga tampaknya membolos selama beberapa hari ini”


“anu pak, itu, saya ada kepentingan keluarga”


“keluarga? Apa anda sudah menikah?”


Satu kelas menahan tertawa mendengar perkataan Juan.


“DIAM”


Suasana menjadi tegang kembali.


“keluar dari kelas saya, lari keliling lapangan 20 kali setelah itu bersihkan kolam renang belakang”


“maaf pak?”seisi kelas menutup mulut mereka rapat-rapat.


“apa anda tuli, kerjakan itu semua hari ini, keluar!”


Ivy berjalan keluar kelas dan menuju lapangan utama yang terlihat sedang gerimis, sekilas ia melihat Juan terus menatapnya intens. Ivy terlihat menikmati larinya karena ia sedang senang, dia juga suka hujan.


“sudah tahu bakal di hukum kan?” Adam ikut berlari bersama Ivy. Mereka terlihat mengobrol dengan senang. Tidak tahu kalau seseorang melihat mereka murka dari dalam kelas.


“DAM, DI PANGGIL BU LISA DI RUANG BK SEKARANG, BURUAN! CEPET!” teriak salah satu teman sekelas adam. Dengan terpaksa ia meninggalkan Ivy yang masih berlari dengan wajah nya yang terlihat cemberut, gemas sendiri Ivy melihatnya.


“ah, akhirnya selesai juga, lumayan capek lah ya” Ivy duduk di tempat duduk penonton. Tenggorokannya kering dan ia hendak ke kantin untuk membeli minum sebentar.


Namun, ketika berdiri tiba-tiba sesaat semuanya menjadi hitam dan pusing, hanya sesaat lalu menjadi normal kembali.


“segarnya” Ivy meminum minumannya di dekat kolam renang yang akan ia bersihkan. Sangat sepi, karena rumor angker di sekitar tempat ini.


“dari mana saja beberapa hari tidak menghubungi sama-sekali” ucap suara baritone di sampingnya (Ivy bersender di dinding).


“pak Juan, maaf saya akan segera membersihkannya kok pak tenang saja” Ivy hendak pergi namun Juan menahan tangannya dengan kuat, dan itu sakit.


“jawab pertanyaanku, kemana!”


“kenapa bapak nggak tanya ayah saja? selamat, berkat bapak saya mendapatkan harapan saya kembali”


“apa maksutmu? Harapan? Apa kau senang bisa berduaan dengan anak itu, siapa namanya ya. Adam ya, adam, apa kau senang?”


“pak,anda keterlaluan”


“KETERLALUAN, BUKANKAH KAU YANG KETERLALUAN! Kau senang, iyakan! Apa kau mau pernikahan kita di batalkan saja?” Tubuh Ivy bergetar, ia takut jika sudah di bentak seperti itu.


“apa bapak mau membunuh saya secara tidak langsung? Jika iya lakukan seperti apa yang bapak katakan, saya tidak keberatan” mood Ivy hancur.


“apa kau menantangku!”


“lakukan saja, tidak ada siapapun yang sedih jika saya mati”


BUGH


“akh” Juan mendorong tubuh Ivy sampai henghantam dinding cukup keras.


“APA KAU SENANG DENGAN PRIA ITU! JAWAB!” bersyukur tidak ada orang di sana.

__ADS_1


Ivy terjatuh dan lemas tidak bergerak, rambutnya tersibak dan menunjukkan leher jenjangnya yang penuh luka yang membiru. Ivy tersenyum. “apa bapak sudah merasa lebih baik?” ucapnya lembut. Juan mematung di tempat , dengan cepat mendudukkan Ivy dan melepas jaket yang Ivy gunakan untuk menutup lukanya. Matanya membulat sempurna, sedangkan Ivy hanya melihat Juan dengan senyum, toh dia hanya bisa pasrah karena tenaganya sudah habis.


“apa yang sudah ku lakukan, maafkan aku, maaf, maaf kan aku” ini lah yang di takutkan Juan, dia bisa saja bertindak tidak terkontrol karena sesuatu yang di cintainya, semakin besar dia marah semakin besar rasa sayangnya kepada sesuatu yang ia miliki. Juan memeluk Ivy erat. “pak, sakit” Juan terlalu erat memeluknya. Setelah mengatakan itu, Ivy kehilangan kesadarannya.


__ADS_2