
Khanza yang baru keluar dari dalam mobil Aldy samar-samar netranya menangkap bayangan sahabatnya Miska yang sedang berjalan menuju pintu penghubung antar dua sekolah tersebut menuju kantin
" Miska!" teriak Khanza membuat gadis tersebut yang tengah berjalan gontai menghentikan langkahnya dan menoleh kearah sumber suara.
" Za" beo nya saat melihat Khanza berjalan mengarah kepada dirinya sedangkan Aldy masih berada di dalam mobilnya
" Elo ngapain ada di sini?" tanya Khanza pada sahabatnya itu
" Gue bareng Roni, kalau lewat depan pasti heboh seantero sekolah ngeliat gue keluar dari mobilnya"
" Nah elo sendiri ngapain?" Miska balik bertanya
" Ya kalau gue emang lewat sini setiap hari, kalau lewat depan, lebih geger siapa coba? guru bareng muridnya setiap hari, bukan heboh lagi yang ada malah" sahut Khanza terkekeh sendiri
" Iya juga sih, ya beginilah nasib nikah muda bisanya sembunyi-sembunyi"
" Betul itu, mau tidak mau ya tetap harus dijalani" ucap setuju Khanza
Miska dan Khanza berjalan bersama menuju kelas mereka dengan obrolan ringan yang mengiringi langkah keduanya.
" Ka, elo ngapain bawa jaket perasaan udara pagi ini enggak dingin-dingin amat deh, terus jaketnya kok kayak enggak asing ya?" tanya Khanza kepo karena Miska membawa jaket yang ia sampirkan di bahunya dan seperti tidak asing dimatanya
" Ah ini, Jelaslah enggak asing orang ini jaket sering dia pake!" jawab Miska santai namun sedetik kemudian
" Waduh!" Miska menepuk keningnya sendiri
" Kenapa? itu punya Roni?" Miska mengangguk cepat
" Buat apa?" tanya Khanza
" Kayak loe enggak punya jaket aja Ka, pake bawa jaket dia segala"
" Ishh... bukan gitu, dia yang nyuruh gue bawa ini jaket, katanya buat jaga-jaga kalau gue mual lagi" Khanza mengerutkan keningnya
" Gue itu kalau pagi kan suka morning sicknees tapi anehnya kalau ada dia mualnya tuh langsung berkurang" jelas Miska akan kebingungan sahabatnya itu
" Masa sih ? segitu bucinnya ya loe rupanya sama paksu " Khanza tertawa senang rasanya menggoda sahabatnya yang satu itu
" Dihhh... enak aja, itu sih kemauan anaknya ya gue mah enggak"
" Ah yang bener? iya juga enggak apa-apa kali suami sendiri ini" bisik Khanza seraya menaik turunkan alisnya meledek
Miska geleng-geleng kepala dan memutar bola matanya malas.
" Kalau bukan dia yang maksa gue juga ogah bawa-bawa beginian, dia tuh takut kalau gue mual lagi dikelas terus enggak ada dia makanya maksa banget nyuruh gue bawa ini buat jaga-jaga tapi apa pengaruhnya coba!" Miska menarik jaket yang berada di bahunya lalu dengan cepat memasukkannya ke dalam tas punggungnya.
" Kok Loe masukin tuh jaket?" tanya Khanza saat Miska memasukkan jaketnya kedalam tas
" Elo aja bisa ngenalin ini jaket apalagi cewek-ceweknya dia yang setiap harinya lengket kayak nyamuk, yang ada tuh ya mereka curiga terus ngebuli gue " jawab Miska menerawang ke depan
" Kok nyamuk sih Ka, yang ada juga lengket kayak perangko"
" Udah enggak zaman kalau itu sih, mereka mah kayak nyamuk yang datang cuma buat menghisap darah orang doang"
" Enggak liat apa loe, tuh si Luna aja yang dulu ngejar-ngejar Roni, pas tau sekarang Roni kerja di bengkel bahkan tinggal di sana langsung menjaga jarak gitu"
" Ya itu bagus dong?"
" Ya emang bagus sih tapi kalau setiap hari Roni berangkat pakai mobil lama-lama juga tuh anak bakalan tau dan balik lagi nempelin Roni"
" Cie udah mulai cemburu nih!" goda Khanza
" Dih mana ada?"
" Ya cemburu sama suami sendiri sih itu wajar"
" Za!" panggil Miska yang menghentikan langkahnya saat sudah mau sampai di depan kelas
" Kenapa?" tanya Khanza bingung
" Kok gue merasa enggak enak ya"
" Enggak enak bagaimana?" Miska menarik napasnya dalam
__ADS_1
" Nana" jawab Miska
" Nana?" Khanza balik bertanya dan Miska mengangguk lemas
" Gue yakin tuh anak pasti mengerti, lambat laun juga tuh anak pasti bisa melupakan Roni dan mendapatkan pria yang jauh lebih baik" tuturnya
" Semoga aja , tapi jujur gue merasa enggak enak aja sama tuh anak apalagi loe tahu kan bagaimana dulu gue sama hubungan mereka dan sekarang gue yang malah jadi isteri mantannya. kalau gue jadi dia jelas gue juga pasti akan sakit hati tapi sumpah gue juga enggak tahu kalau kenyataannya akan berakhir seperti ini" ucap Miska sendu
" Gue ngerti dan elo jangan terus menyalahkan diri loe sendiri, semua ini memang bukan kemauan loe tapi takdirlah yang mempersatukan kalian berdua."
" Seberapa lama kita pacaran seberapa besar cinta yang kita miliki jika tidak berjodoh pasti berakhir juga kan? jadi tidak usah menyalahkan keadaan karena sama artinya elo menyalahkan takdir" Miska terdiam meresapi setiap kata yang Khanza ucapkan
" Sudah enggak usah loe pikirkan, sekarang yuk ah cuz!" Khanza merangkul lengan Miska dan masuk ke dalam kelas
" Assalamualaikum temen-temen!" sapa Khanza dengan senyum yang mengembang
" Wa'alaikum salam!" jawab penghuni kelas bersamaan termasuk Hana dan Nana
Khanza dan Miska melangkah menuju kursi mereka, Hana yang sedang berdiri dan bersandar pada meja Nana langsung mengikuti langkah keduanya.
Miska dan Khanza sudah duduk di bangku mereka masing-masing
" Ka, elo beneran udah sehat?" tanya Hana perhatian
" Insyaallah, udah" jawab Miska yakin
" Syukurlah, gue senang dengarnya" Hana tersenyum dan Miska membalas senyuman Hana
" Ka elo udah masuk? bagaimana keadaan loe?" tanya Nicko yang baru datang dan langsung menghampiri Miska saat tau gadis itu sudah masuk sekolah
" Iya Ko, bosen gue di rumah mulu " jawab Miska seraya membuka tasnya demi apa Miska seketika merasa mual saat mencium wangi parfum yang Nicko pakai.
Miska sedikit menarik tangan jaket milik Roni yang ia bawa di dalam tas lalu di usapkan ke wajahnya sebentar seraya mencium dalam-dalam aroma tubuh Roni yang ada di jaket tersebut dan sungguh luar biasa rasa mual yang tadinya bergejolak seketika menjadi sedikit berkurang.
Khanza yang mengetahui apa yang Miska lakukan mengulum senyumnya.
" Bagaimana, apa sudah hilang mualnya?" bisik Khanza dan Miska mengangguk sambil *******-***** memainkan jaketnya.
" Semoga loe selalu sehat ya Ka biar enggak bolos sekolah terus!" Miska menepuk Roni dengan bukunya
" Elo udah masuk Ka!" Billy menghampiri meja Miska saat baru masuk ke dalam kelas dan melihat Nicko berada di meja gadis itu.
" Iya Bill, Loe kangen ya sama gue?" ledek Miska
" Iya gue kangen sama mulut loe yang bawel" sahut Billy
" Dih bang Billy bisa aja, bawel-bawel gini juga ngangenin!" Miska terkekeh sendiri sambil menahan sedikit mual karena Nicko masih belum beranjak dan malah duduk di kursi kosong yang ada di samping meja Miska sementara bahkan saat Miska sudah menutup hidungnya dengan jaket milik Roni pun wangi parfum Nicko masih tercium.
" Duh si Nicko bukan balik ke asal, perut gue mual ini bau parfum tuh anak!" bisik Miska pada Khanza karena rasa mualnya hampir tidak tertahankan.
Khanza yang melihat wajah pucat Miska cemas dan mengusirnya
" Nicko, Billy balik asal sana, kalian ganggu Miska aja, dia itu baru sembuh jangan diajakin ngobrol banyak-banyak dulu nanti sakit lagi aja loe mau tanggung jawab" usir Khanza secara halus
" Dih si emak cemburu gue ngobrol sama Miska?" ledek Nicko
" Cemburu, ngawur bin ngaco. ngapain juga gue cemburu sama modelan cowok macam loe!"
" Cowok modelan kayak apa Za?" tanya Billy
" Modelan kayak gitu, pas-pasan!" tawa Khanza
" Pas lagi sayang-sayangnya ditinggal ya Za, Ha...ha..!" Ledek Billy
" Ah sial*N loe!" Nicko memukul tangannya ke arah Billy membuat Khanza dan Billy tertawa semakin keras
Sementara Miska diam termenung menatap aneh pada dirinya
" Loh kok rasa mual gue hilang ya padahal bau Nicko masih menyengat banget kayak orang kecemplung di botol minyak wangi?" batin Miska
Deg
Miska seketika membulatkan bola matanya saat netranya menangkap sosok laki-laki yang seketika memporak-porandakan hatinya dan menjungkir balikan dunianya, jantung oh jantung jangan ditanya lagi degupnya seperti orang yang sedang lomba lari maraton. Miska bergeming menatap laki-laki yang entah untuk apa berjalan dengan langkah perlahan masuk ke dalam kelasnya dan mengarah semakin mendekat ke arahnya.
__ADS_1
Deg
Deg
Deg
Jantung Miska semakin berdegup kencang saat Roni laki-laki yang dilihatnya semakin berjalan mengarah ke arahnya.
" Mau apa sih dia kesini? ah cari mati nih orang" kesal Miska dalam hati
Nicko dan Billy tidak melihat kedatangan Roni karena posisi mereka yang kini berdiri membelakanginya sedangkan Miska dan Khanza menatap bingung dengan kemunculan laki-laki itu yang seketika membuat heboh seisi kelas.
Nana menatap nanar saat Roni melangkahkan kakinya berjalan ke arah Miska
Miska nampak gugup dan salah tingkah saat Roni semakin mendekat ke arahnya.
" Roni!" teriak beberapa cewek yang berada di dalam kelas memanggil namanya
Roni bergeming tidak mempedulikan sapaan cewek-cewek yang menyerukan namanya, baginya sekarang hanya ada satu wanita yang paling berharga dan dia akan menjaga perasaan wanitanya itu dengan mengacuhkan wanita manapun yang berusaha mendekatinya.
Nicko dan Billy seketika berbalik badan saat mendengar nama Roni disebut-sebut
Jlep
Nicko menatap tak bersahabat saat Roni berjalan ke arah mereka berada.
Roni kini berdiri tepat di hadapan Miska, gadis itu bergeming menatap tegang dan salah tingkah.
" Billy!"
Miska dan yang lainnya nampak bingung saat Roni memanggil nama Billy begitu juga yang dipanggil namanya menatap heran ke arah Roni
" Loe cari gue?" tanya Billy seraya mengerutkan keningnya
" Iya!" jawab Roni tegas dan sesekali melirik ke arah Billy
" Ada urusan apa loe nyari Billy?" bukan Billy yang bertanya tapi Nicko yang tentunya tidak mengharapkan kehadiran laki-laki itu diantara mereka
" Gue ada urusan sama loe Bill, bisa?" jawab Roni datar mengacuhkan pertanyaan Nicko.
Miska menatap canggung dan hal itu tidak luput dari tatapan mata Nicko dan Nana tentunya.
" Elo bukannya mencari gue Ron?" teriak Nana dari kursinya
Roni hanya menoleh sekilas ke arah Nana tanpa respon.
Nana mengepalkan tangannya kuat karena merasa di acuhkan, Roni menurutnya benar-benar sudah berubah bukan lagi Roni yang dikenalnya. jika dulu Roni pasti akan merespon baik dirinya walaupun Roni sedang berjalan dengan kekasih lainnya.
Roni memang terkenal playboy dan bahkan disekolah pun dia bukan hanya memacari satu wanita tapi beberapa, ada yang sekelas dengannya, ada yang di kelas sebelah, ada adik kelas bahkan pernah juga ia memacari kakak kelasnya.
Wajah Roni yang memang tampan ditambah dengan postur tubuhnya yang tinggi dan tegap membuat para cewek rela menjadi yang kedua, ketiga dan seterusnya. Ditambah lagi Roni adalah putra dari pengusaha ternama yang merupakan salah satu donatur tetap di sekolah tersebut siapa yang tidak ingin menjadi pacarnya.
Sikap Roni yang royal pada pacar-pacarnya dan juga kegombalannya membuat para kekasihnya sering kali tidak terima jika diputuskan oleh Roni dan hal itulah yang Miska hindari takut mantan-mantan Roni yang tidak terima diputuskan olehnya melabrak dirinya jika tau hubungannya dengan Roni.
Roni bergeser mendekati meja Miska dan meletakkan tangannya di samping tas Miska
" Apa elo kemarin pergi ke bengkel Lucky yang ada di jalan xx ?" tanya Roni datar
" Iya betul, kok loe tau?" bingung Billy
" Ponsel loe enggak aktif, pemilik bengkel menghubungi gue barusan ada yang mau dia tanyai ke elo, kalau bisa secepatnya loe hubungi dia balik" sahut Roni seraya tangannya semakin bergeser di bawah tas
Glek
Miska yang awalnya menunduk spontan langsung mendongak melotot ke arah Roni yang bersikap tenang tanpa ekspresi.
Miska yang tangannya berada di atas meja dan juga tertutup dengan jaket yang dipegangnya terkejut bukan main saat merasakan sentuhan hangat tangan kekar yang ada di bawah tas miliknya.
Miska ingin menarik tangannya yang digenggam erat oleh Roni namun urung karena jika ia menarik tangannya bisa saja ada pergerakan yang membuat curiga teman-temannya.
Miska bergeming dengan perasaan campur aduk, ada rasa lega karena rasa mualnya kini telah menguap begitu saja akan tetapi ada rasa gelisah karena takut aksi mereka tertangkap oleh teman-temannya.
Miska lebih memilih diam saja dengan wajah tertunduk.
__ADS_1
Sementara Nicko merasa lega karena Miska nampak cuek dan acuh pada Roni.