Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Season 2 Khanza


__ADS_3

Khanza berpisah dari teman-temannya saat hendak menuju kantin karena ada panggilan alam. sesampainya di toilet Khanza segera menyelesaikan hajatnya.


Setelah selesai Khanza kembali menyusul teman-temannya yang mungkin sudah berada di kantin.


Dengan santai Khanza melangkahkan kakinya seraya melemparkan pandangannya ke segala arah.


Langkah Khanza terhenti saat netranya melihat sosok yang selama ini sudah banyak menguras pikirannya masuk ke sebuah ruangan


Khanza yang penasaran berjalan sedikit mengendap-endap mengikutinya lalu bersembunyi di balik tembok.


" Elo udah gila ya, sumpah ya gue gak mau melanjutkan semua ini. untung saja kejadian kemarin gagal kalau tidak gue gak tahu bagaimana hubungan gue dengannya sekarang!" keluhnya yang dapat dengan jelas Khanza dengar dan sangat hafal dengan sang pemilik suara.


" Bodoh, elo tuh bodoh. Seharusnya loe itu berhasil mendapatkan dia saat acara campingnya tersebut, setidaknya loe dapatkan dulu raganya baru hatinya!" ucap seseorang yang berada bersamanya


Khanza membulatkan matanya saat mendengar rencana buruk untuk dirinya.


" Kalau seumur hidup dia membenci gue dan gak mau memaafkan gue bagaimana?" tanyanya


" Itu bukan masalah yang penting loe bisa bersamanya bukan? lagi pula Khanza adalah anak yang polos dan mudah diatur loe bisa mengendalikan dia dengan mudah"


" Tidak mungkin dia mau menerima gue begitu saja" ucapnya sendu


" Dasar bodoh, setelah loe mendapatkan kehormatannya gue yakin dia tidak akan bisa menolak loe, dan gue yakin dia pasti akan meminta loe untuk bertanggung jawab"


Nicko laki-laki yang sedang berbicara dengan Bayu itu nampak mengusap wajahnya kasar.


" Loe coba sekali lagi dan pastikan untuk kali ini loe harus berhasil!" bujuk Bayu


Nicko menggeleng dan menghela napasnya berat " Gue gak bisa Khanza sahabat gue, sekarang aja dia seperti menjaga jarak. gue takut dia tahu semua rencana kita!"


" Loe cinta kan sama dia?" tanya Bayu tegas dan Nicko mengangguk pelan.


Khanza yang melihat pergerakan Nicko membekap mulutnya sendiri tidak percaya Nicko benar-benar menaruh hati kepadanya, dia mengira Nicko hanya bercanda dan tidak serius dengan ucapannya tapi ternyata rasa cinta Nicko sudah berubah menjadi nafsu yang terobsesi bukan karena cinta yang tulus.


" Tapi gue gak bisa lakukan ini, gue takut Khanza membenci gue" Nicko menghempaskan tubuhnya dikursi kosong yang berada di hadapan Bayu


" Gue rasa sebenarnya Khanza juga menaruh hati sama loe, hanya saja kalian tidak ada yang mau jujur pada diri sendiri" Nicko mendongak menatap Bayu lekat.


" Percaya sama gue, Khanza suka sama loe dan gue yakin dia tidak akan menolak loe!" bujuk Bayu


Khanza tidak mau berlama-lama di sana mendengar semua niat jahat Nicko dan Bayu membuatnya meradang. Khanza berbalik badan dan betapa terkejutnya Khanza saat tubuhnya menubruk dada bidang seseorang yang amat dikenalnya.


Khanza hampir berteriak jika tidak dengan cepat tangan kekar orang yang berada di hadapannya itu membungkam mulut Khanza dengan telapak tangannya.


" Jangan berteriak!" titahnya


Khanza mengangguk pasrah dan perlahan tangan itu terlepas dari mulut Khanza.


" Ikut aku!" Aldy menarik pergelangan tangan Khanza dan membawanya ke ruangan yang dulu ditempati Azka.


Ceklekk


" Masuklah!" titahnya

__ADS_1


Khanza masuk ke dalam ruangan yang nampak asing dimatanya, ia mengamati setiap sudut ruangan tersebut dan kagum dengan tata ruang yang terlihat begitu rapih.


" Duduklah!"


Khanza menurut, lalu mendudukkan dirinya di sofa besar yang ada di ruangan tersebut.


" Ini ruangan siapa?" tanya Khanza


" Ini ruangan tempat pak Bagazkara dulu sewaktu masih mengajar di sekolah ini!" jawab Aldy seraya mendudukkan dirinya di sofa yang ditempati Khanza


" Kenapa bapak membawaku ke ruangan ini?"


" Karena hanya tempat ini yang sepi dan jauh dari jangkauan orang lain" jawab Aldy santai


Khanza hanya menanggapi dengan anggukan kepala dan sedetik kemudian ia berubah menjadi termenung


" Ada apa hem? jangan bilang kalau saat ini kamu sedang memikirkan laki-laki itu? sungguh membuat ku kecewa " Aldy menghela napas panjang dan menyandarkan tubuhnya di bahu sofa.


" Maaf!" ucap Khanza pelan namun masih bisa terdengar oleh Aldy


Aldy langsung menggeser duduknya kembali tegap dan menelisik netra Khanza yang menundukkan pandangannya.


" Jadi benar kamu memikirkannya? setelah kamu tahu kalau dia itu cinta sama kamu?"


Jlepp


Khanza mendongak dan menatap lekat wajah Aldy yang nampak memerah menahan marah.


" Apa kamu juga suka sama anak itu?" tanya Aldy menyelidik


" Diam mu aku anggap iya" ucap Aldy ketus lalu beranjak dari duduknya dengan tatapan yang sulit di artikan.


" Apa bapak marah?" tanya Khanza seperti tanpa dosa


Aldy menghela napasnya panjang lalu menatap lekat wajah sang isteri yang juga tengah menatapnya.


" Aku bukan bapak mu jadi berhentilah memanggil ku bapak disaat kita sedang berdua seperti ini!" pintanya dengan raut wajah datar


" Tapi ini disekolah" jawab Khanza


" Sudahlah, terserah mu!" ucap Aldy kesal


" Kenapa bapak marah sama saya?" Aldy mengusap wajahnya kasar mendengar pertanyaan Khanza


" Aku jelas marah jika ternyata istriku juga menaruh hati kepada laki-laki lain" jawab Aldy ketus dengan aura yang dingin.


" Bapak cemburu?" dengan santainya Khanza bertanya seolah tanpa beban


Aldy menatap Khanza yang tengah tersenyum tipis dengan alis yang mengkerut keatas menunggu jawaban dari Gutami


" Apa salah jika suami cemburu dengan istrinya sendiri!" tanya Aldy dengan seringai licik diwajahnya


" Bapak mau apa? awas jangan macam-macam ya!" Khanza melangkah mundur namun Aldy masih saja terus melangkah mendekatinya.

__ADS_1


" Cemburu ya cemburu aja tapi jangan macam-macam!" kesal Khanza seraya berjalan mundur yang pada akhirnya langkahnya terhenti karena membentur tembok.


" Tapi kamu belum menjawab pertanyaan ku?" Aldy membelai pipi Khanza membuat Khanza merinding dan memalingkan wajahnya.


Khanza merasa tidak nyaman berada terlalu dekat dengan Aldy, meskipun sudah sah menjadi suami isteri tapi jika untuk berduaan dengan jarak yang terlalu dekat membuat Khanza risih sendiri.


Jangan ditanya lagi keadaan jantung Khanza yang saat ini seperti balapan maraton berdegup begitu kencang.


" Pak bisa enggak geseran sedikit?" tanya Khanza seraya mendorong dada bidang Khanza dengan kedua tangannya.


Aldy sama sekali tidak bergeser dari tempatnya berdiri, ia malah tersenyum melihat wajah Khanza yang sudah semerah kepiting rebus.


"Jangan menatapku seperti itu, risih tau!" kesal Khanza


" Ya sudah kalau begitu cepat jawab pertanyaan ku!" titah Aldy


" Pertanyaan yang mana?" Khanza pura-pura tidak tahu


Aldy mengusap wajahnya kasar dengan wajah yang serius membuat Khanza langsung terdiam seketika.


" Nicko adalah sahabat baikku, wajar kan kalau aku merasa kecewa dan sedih. Kami sudah kenal cukup lama dan selama kami bersama Nicko tidak pernah berbuat yang aneh-aneh" ungkap Khanza.


" Kalau bapak bertanya saya suka atau tidak pada Nicko jujur iya!"


Jlepp


Sakit sungguh rasanya sakit sekali mendengar kejujuran sang isteri. Aldy memandang wajah Khanza begitu lekat menatap manik matanya mencari sebuah kebohongan yang ternyata tidak ada.


" Jadi kamu juga suka sama dia?" tanya Aldy memastikan


" Maaf" Khanza tertunduk enggan menatap lelaki yang berstatus suaminya itu.


" Tidak perlu minta maaf!" Aldy bergeser dan melangkah menjauh dari Khanza


" Maaf, aku sungguh tidak mau menyakiti perasaan bapak jika aku berkata bohong dan bapak justru tahunya dari orang lain. Aku berkata jujur karena bapak yang bertanya." ungkap Khanza


" Suka, jujur aku memang suka dengan Nicko karena yang aku tahu dia itu laki-laki yang baik tapi rasa suka aku dengan Nicko tidak lebih dari sahabat karena semenjak seseorang mengucapkan ijab qobul dihadapan pak penghulu. Disaat itu pula seorang Khanza Az-Zahra tidak pernah lagi berharap kepada pria lain" lanjutnya


Aldy menatap lekat wajah Khanza yang nampak tersipu malu itu, wajahnya yang tadi diliputi rasa kecewa kini berubah sumringah.


" Apa yang kamu katakan itu benar?" tanya Aldy memastikan


Khanza mengangguk pelan dan sedetik kemudian Aldy langsung menarik tangan Khanza dan membawanya ke dalam pelukannya.


" Terima kasih sayang terima kasih isteri ku! Aldy menghujami Khanza dengan kecupan di kening dan seluruh wajahnya.


Khanza terkejut bukan main saat Aldy mengecup bibirnya dan ********* sebentar


" Ish kebiasaan banget sih!" kesal Khanza membuat Aldy tergelak


" Jangan cemberut gitu kamu harus terbiasa dengan hal macam itu!" ucap Aldy membuat Khanza semakin menekuk wajahnya.


Tring...

__ADS_1


" Oh ya ampun aku lupa!" Khanza menepuk keningnya sendiri saat membaca chat yang masuk.


__ADS_2